Tak Mudah Hidup Menjadi Perempuan Tionghoa

Imlek di tahun 2021 ini membuat saya merenung: tak mudah memang hidup sebagai perempuan Tionghoa. Di zaman orde baru, kami dianjurkan menikah dengan pribumi agar bisa hidup dengan aman, padahal banyak dari kami yang sebenarnya tidak tahu nenek moyang kami dari daratan Cina sebelah mana? Kami hanya tahu Indonesia.

Serba ketakutan, itu yang dulu sangat kami rasakan. Mengurus KTP sulit, pengin sekolah negeri sulit, mencari pekerjaan juga sulit.  

Banyaknya persoalan atas nama agama dan etnis ini, juga pernah menghantui hidup para perempuan Tionghoa. Beberapa orang bahkan masih mengalami ketakutan dan trauma.

Sebagai perempuan Tionghoa, sayapun mengalaminya. Saya masih ingat bagaimana di zaman orde baru, perempuan keturunan Tionghoa dianjurkan untuk menikah dengan pribumi agar bisa tetap hidup dengan aman di Indonesia, padahal banyak dari kami sebenarnya tidak tahu nenek moyang kami dari daratan Cina sebelah mana?. Kami hanya tahu Indonesia, karena kami lahir dan besar disini bersama saudara kami yang lain

Perempuan keturunan Tionghoa memang lalu mengalami double minoritas, apalagi perempuan Tionghoa yang beragama bukan Islam, minoritasnyapun menjadi bertambah.

Pada masa 1998 misalnya, perempuan keturunan Tionghoa sering mengalami pelecehan, entah itu secara verbal dengan panggilan atau makian:

“Hei, amoy!”

“Dasar China!”

Atau bisa juga dari gesture dan cat calling. Pelecehan terparah juga pernah dialami perempuan keturunan Tionghoa ketika terjadi kerusuhan Mei 1998. Banyak perempuan Tionghoa yang menjadi korban perkosaan bahkan kehilangan nyawanya.

Padahal penyelesaian dari peristiwa itu tidak pernah terjadi, para pelaku tidak pernah terungkap, apalagi tertangkap. Bahkan kejadian perkosaan itu seperti dianggap tidak ada dan disangkal. Teror ketakutan itu terus dipelihara, setiap kali ada kejadian gesekan etnis, para perempuan Tionghoa diminta untuk waspada dan mempersiapkan diri.

Kisah tentang perkosaan yang terjadi pada Mei 98 juga tak banyak dibicarakan ketika orang kembali membicarakan tragedi Mei 98. Padahal ada lebih dari 152 perempuan yang menjadi korban perkosaan kala itu. Data menunjukkan, perkosaan besar-besaran ini tersebar di sejumlah wilayah Indonesia seperti di Palembang, Solo, Surabaya, Lampung, Medan, Tangerang dan Jakarta.

Setiap ada demonstrasi, selalu ada peringatan agar kami berhati-hati. Saya sering bertanya, kenapa keturunan Tionghoa kemudian banyak dijadikan sasaran?. Menjadi kambing hitam yang siap dijagal. Bagaimana rasa kebencian atas dasar ras, suku pada keturunan Tionghoa seperti diturunkan dari generasi ke generasi.

Kita seperti tidak pernah mengajarkan pada anak-anak kita untuk menghargai perbedaan, menghapuskan stigma terhadap etnis lain.

Padahal, keturunan Tionghoa sama saja dengan keturuan Arab atau keturunan India atau keturunan Pakistan atau Eropa dan Amerika yang tinggal di Indonesia. Sebagian dari keturunan Tionghoa ini bahkan sudah tidak tahu silsilah keluarga dari negeri asalnya. Mereka lahir dan besar, beranak pinak di Indonesia, bahkan mereka tidak bisa berbicara dengan Bahasa Mandarin. Mereka bekerja dan bahkan berprestasi untuk bangsa

Seandainya semua orang sadar bahwa kita tidak bisa memilih ingin dilahirkan sebagai etnis apa, ras apa atau suku apa? Kita memang tak pernah bisa memilih untuk dilahirkan dari etnis apa, namun kita bisa memilih akan menjadi manusia yang seperti apa?

(Foto/ ilustrasi: Wikipedia)

Poedjiati Tan

Psikolog, aktivis perempuan dan manager sosial media www.Konde.co. Pernah menjadi representative ILGA ASIA dan ILGA World Board. Penulis buku “Mengenal Perbedaan Orientasi Seksual Remaja Putri.”

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email