Jualan Buku Vagina di Market Place Dianggap Tabu; Padahal Apa Yang Dilanggar?

Jualan buku dengan judul 'vagina' di market place masuk dalam kategori pelanggaran karena menggunakan kata vagina. Padahal apa yang dilanggar dengan kata vagina?

Apa yang kamu pikirkan saat mendengar atau membaca satu kata yang sebenarnya tidak asing: vagina? Fantasi pertama yang terbersit biasanya adalah organ seksual atau sesuatu yang tabu dibicarakan.

Saya memutuskan untuk menulis tentang vagina ini, karena belum lama saya mengalami hal yang lucu sekaligus tragis.

Saya seorang penjual buku yang menjual buku melalui media sosial dan loka pasar (market place). Salah satu buku yang saya jual adalah buku terjemahan karya Naomi Wolf, seorang jurnalis dan penulis feminis asal Amerika yang berjudul Vagina: Kuasa dan Kesadaran.

Pada saat saya menuliskan keterangan atau deskripsi buku di halaman produk market place- saya tuliskan kata: vagina. Tapi saya dikejutkan oleh pemberitahuan otomatis dari sistem di website bahwa produk yang saya jual yaitu buku berjudul Vagina ini masuk dalam pelanggaran dan diminta untuk menunggu beberapa saat lagi untuk diperiksa.

Solusi yang mereka tawarkan adalah saya harus merevisi kata vagina. Setelah kata itu saya ganti dengan v*g”n*, produk tersebut ternyata langsung disetujui. Nah, ini bukti bahwa betapa kata vagina menjadi begitu tabu dan menjadi momok di pasaran sehingga masuk dalam kategori pelanggaran.

Jadi orang yang menjual buku tentang vagina, sekalipun yang dijual adalah buku tentang vagina dalam perspektif perempuan, tetap saja dianggap momok bagi pasar penjualan buku dan tabu bagi konsumen

Padahal vagina adalah salah satu organ reproduksi perempuan bagian dalam yang melekat pada tubuh perempuan. Selain vagina, ada rahim, ovarium, dan tuba falopi, yang memiliki fungsi selain sebagai media dalam berhubungan seksual, namun yang lebih penting lagi adalah sebagai tempat mengalirnya darah menstruasi serta saluran keluarnya bayi.

Barangkali selama ini kita terkecoh dengan organ reproduksi perempuan bagian luar yang memang bisa terlihat dan sangat sensitif terhadap sentuhan atau rangsangan.

Kata vagina (Latin) dalam KBBI sendiri artinya adalah: vagina/va·gi·na/ n saluran antara leher rahim dan alat kelamin perempuan; liang sanggama pada perempuan. Jadi kata vagina sendiri adalah legal dan tertulis, kenapa bisa menjadi momok atau sesuatu yang ditakuti?

Nah, selama ini pemahaman kita terhadap vagina adalah sebatas liang senggama dan kelamin milik perempuan. Padahal sebenarnya kelamin perempuan sebenarnya merupakan organ reproduksi perempuan bagian luar, yang disebut vulva (Latin), dan terdiri dari mons pubis, labia mayora dan minora, klitoris, serta orificium vagina (lubang bukaan). Kata ‘kelamin perempuan’ inilah yang menyebabkan vagina dikonotasikan sebagai tabu.

Kata vulva (Latin) dalam KBBI artinya adalah: vulva/vul·va/ n alat kelamin perempuan bagian luar. Dan ternyata vagina berbeda dengan vulva. Vagina terletak di bagian dalam tubuh perempuan, dan kita tidak bisa melihatnya sedangkan vulva adalah alat kelamin perempuan yang bisa kita lihat. Di sinilah letak kerancuannya sehingga vagina yang selalu ditabukan.

Padahal untuk apa kita menabukan vagina atau bahkan memasukkan dalam kategori pelanggaran? Tujuan mempelajarinya adalah agar fungsi vagina dan vulva tidak selalu dikonotasikan sebagai hal yang tabu, sehingga perempuan dan laki-laki bisa menghargai organ tubuh perempuan dan menolak kekerasan seksual

Selain itu, perempuan sebagai pemilik vagina, harus punya kuasa atau otonomi atas tubuhnya sendiri serta kekuatan untuk melindungi dirinya. Perempuan punya kesadaran dan kekuasaan penuh atas tubuhnya, karena perempuan adalah subjek bebas yang bertanggungjawab

Saya adalah makhluk hidup yang telah mengalami proses evolusi, sehingga telah menjadi  manusia berkelamin perempuan, si empunya vagina, yang sadar akan hak-hak saya. Saya sadar bahwa perempuan punya hak untuk berpendapat demi kebenaran, bahkan perempuan layak mengkritisi sesuatu yang salah. Seperti dalam Buku The Second Sex yang ditulis Simone de Beauvoir yang menyatakan jika perempuan diminta patuh dan diam oleh nilai-nilai patriarki, perempuan selamanya akan dianggap kelas dua dan vaginanya akan diperlakukan sebagai objek seksual oleh nilai-nilai patriarki

Yang harus dilakukan adalah mengubah pola pikir (mindset) patriaki, bahwa vagina bukanlah objek yang tabu, namun sesuatu yang harus dihargai,  karena dari vagina semua manusia baru, baik perempuan maupun laki-laki, dilahirkan.

Saya senang dengan kutipan Minke dalam buku “Jejak Langkah” karya Sastrawan ternama Pramodeya Ananta Toer “tanpa perempuan takkan ada bangsa manusia. Tanpa bangsa manusia takkan ada yang memuji kebesaranMu. Semua puji-pujian untukMu dimungkinkan hanya oleh titik darah, keringat dan erang kesakitan wanita yang sobek bagian badannya karena melahirkan kehidupan.”

Kembali ke soal penjualan buku di market place yang dilarang menggunakan kata vagina, saya tidak akan menyerah. Saya tetap akan menuliskannya secara kritis dan memberitahu ke semua orang bahwa mari kita kritik sama-sama karena menuliskan kata vagina bukanlah sebuah pelanggaran. Sebagai penjual buku, konsumen, dan pembaca buku, kritik ini saya anggap penting agar pasar dan industri buku mulai memahami bahwa pelarangan seperti ini akan semakin menyuburkan nilai-nilai patriarki yang menabukan sesuatu secara salah

Jika ini pelanggaran, coba tunjukkan dimana? Karena buku-buku tentang vagina ini adalah buku penting untuk menunjukkan otonomi tubuh perempuan

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Nia Gautama

Biasa menulis dengan nama pena Khara, adalah pekerja seni yang berkarya dan bekerja di Bandung. Ia seorang penikmat kopi yang suka membaca, dan menulis. Karena kecewa berkarir sebagai dosen, maka sehari-harinya selain berkarya dan mulai aktif menulis, juga menjadi penjual buku online

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email