Menikah Mestinya Untuk Cinta; Pertanyaan Retoris Buat Lajang Saat Liburan

Bukankah menikah mestinya untuk tujuan cinta? Bukan sekedar untuk menyenangkan orangtua, hanya untuk memuaskan pasangan atau hanya untuk punya anak

Apa sebenarnya tujuan menikah? menikah mestinya untuk tujuan cinta, tapi tidak untuk pengalaman banyak orang, terutama untuk yang lajang.

Setiap liburan atau hari raya, seperti menjadi sesuatu yang menakutkan bagi perempuan lajang, perempuan yang sedang bercerai atau perempuan yang tidak memiliki anak atau single mother

Seperti curhatan seorang teman yang sedang dalam proses pengajuan perceraian. Dia takut untuk ketemu orang tuanya saat libur hari raya karena orangtuanya belum mengetahui kalau dia sudah memasukkan gugatan perceraian. Dan saat ini anak-anaknya justru dibawa suaminya ke rumah mertuanya.

Sedangkan teman saya yang lain yang sudah menikah sepuluh tahun, belum memiliki anak, juga mengalami hal yang sama, ia takut untuk pulang ke rumah dan ditanya: mengapa ia belum juga punya anak?

Apalagi suaminya ada keturunan darah biru. Keluarga besar suaminya mendorong agar mereka segera memiliki anak. Terlebih ketika ada sinyal agar suaminya memiliki istri baru agar memiliki anak dan bisa meneruskan nama keluarga besar mereka.

Lain lagi cerita seorang teman. Lisa namanya. Ketika bersilahturami ke rumah Budhenya, ia juga ditanya: kapan menikah?. Katanya, perempuan itu harus menikah agar memiliki sejarah. Ini seperti dilema bagi Lisa yang belum menikah.

Begitu pula yang terjadi dengan Tina. Tina adalah pengusaha perempuan yang sukses, ia bisa membelikan rumah untuk Ibunya dan tantenya, tetapi tetap saja ia menjadi bahan gunjingan dalam keluarga karena dalam usia yang sudah empat puluh lima tahun, ia tetap saja melajang.

Di Indonesia, tujuan dari perkawinan atau pernikahan sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang (UU) Perkawinan yaitu untuk membentuk sebuah keluarga yang bisa memiliki keturunan dan harus beragama yang sama.  Jadi perkawinan bukan dilihat sebagai ikatan cinta antara dua manusia yang setara. Disinilah menurut saya problemnya

Dalam undang-undang perkawinan ataupun pernikahan (akad nikah) misalnya jelas tertulis bahwa kedudukan perempuan ada di bawah laki-laki atau tidak setara. Seperti dalam Pasal 4 ayat (2) UU Perkawinan mengatur sejumlah pra-kondisi yang memberikan kesempatan kepada suami untuk mengajukan permohonan menikah lagi ke pengadilan.

Kondisi-kondisi yang dipersyaratkan tersebut adalah: suami boleh menikah lagi jika istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri; juga istri yang mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan; serta istri yang tidak dapat melahirkan keturunan.

Kondisi ini yang berlaku, apabila salah satu dari ketiga kondisi ini terpenuhi, maka pengadilan dapat mengabulkan permohonan menikah lagi yang diajukan oleh laki-laki.

Bagaimana jika kondisinya adalah sebaliknya, yaitu laki-laki yang mengalami kondisi tersebut?. Bila istri yang melakukan gugutan cerai kepada suami, maka sanksi sosial justru akan diterima sang istri. Perempuan tersebut akan mendapat stigma yang negatif. Dianggap istri yang durhaka, istri yang tidak setia dan istri yang tidak baik atau lain-lain. Belum lagi stigma janda yang akan disandangnya.

Perceraian selalu dianggap sebagai kesalahan perempuan. Semua beban psikologis seolah harus ditanggung oleh perempuan. Masyarakat tidak peduli apa yang terjadi dalam rumah tangga tersebut. Apakah dia bahagia atau tidak? Apakah dia mengalami kekerasan atau tidak? Apakah dia diperlakukan dengan baik atau tidak? Karena perempuan dalam masyarakat dianggap milik laki-laki, bukan milik dirinya sendiri. Seperti ungkapan atau idiom di Jawa yang mengatakan bahwa istri itu suwargo nunut neroko katut atau istri itu ikut kemanapun suami menuju

Menjadi perempuan di negara yang masih sangat kental nilai patriakhi dengan nilai keagamaan yang kuat memang tidaklah mudah. Ketika perempuan memutuskan untuk tidak menikah, selalu ada tuntutan untuk segera menikah agar memiliki sejarah baru dalam hidupnya, yaitu anak. perempuan seakan-akan baru bernilai bila mereka sudah menikah, memiliki anak dan bisa melayani suami, berbakti dan sempurna hidupnya menurut tradisi dan agama.

Perempuan bukan dinilai dari seberapa besar karya atau capaian yang telah dia hasilkan. Meskipun dia telah sukses atau telah menghasilkan ratusan karya hebat, tetap dianggap belum berhasil bila belum menikah dan memiliki anak. Menikah seakan-akan hanya bertujuan untuk beranak pinak, bukan untuk berbagai cinta kasih, suka dan duka, sehat maupun sakit, kaya ataupun miskin.

Menikah bukan untuk berbagi, baik itu tugas rumah tangga, atau tugas membesarkan anak, tetapi, justru seperti penguasaan dan penaklukan perempuan. Bahkan laki-laki yang ingin berbagi tugas dengan istri akan mendapatkan stigma sebagai laki-laki yang lemah, laki-laki yang takut dengan istri.

Menikah bukan lagi untuk cinta, tetapi untuk pemenuhan tuntutan keluarga dan masyarakat dan seolah perempuan harus genap hidupnya ketika ia menikah. Jika tak menikah atau tak punya pasangan, seolah ganjil hidupnya. Padahal menikah harusnya untuk cinta.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Poedjiati Tan

Psikolog, aktivis perempuan dan manager sosial media www.Konde.co. Pernah menjadi representative ILGA ASIA dan ILGA World Board. Penulis buku “Mengenal Perbedaan Orientasi Seksual Remaja Putri.”

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email