‘Ini Ceritaku Dulu dan Kini’: Kisah Kehidupan Pekerja Rumah Tangga di Indonesia

Sebuah buku yang berisi kehidupan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) di Indonesia “Ini Ceritaku Dulu dan Kini” diluncurkan. Dalam buku ini ditemukan ada pola ketertindasan yang berulang dan hampir rata dialami oleh pekerja rumah tangga di Indonesia.

“Ini Ceritaku Dulu dan Kini” adalah buku yang merupakan kumpulan tulisan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang pernah dimuat di Konde.co sepanjang tahun 2021. Buku diterbitkan Konde.co bersama JALA PRT dan didukung oleh Penerbit Kolaboraksi Pijar Nusantara

Bercerita dan menulis. Dua kata sakti inilah yang mempertemukan  tim Konde.co yang tiap hari bekerja di pabrik jurnalistik tulis-menulis, dan para perempuan Pekerja Rumah Tangga (PRT) anggota berbagai Serikat PRT, yang bekerja di rumah-rumah majikan

Buku ini diluncurkan pada 21 November 2021 kemarin sebagai upaya merekam sisi kehidupan para PRT di Indonesia. Ada PRT yang lulus SMP dan tidak tahu harus kemana, merantau ke kota dan menjadi PRT.

Ada yang menjadi single parent dan menghadapi kerasnya hidup di Jakarta, ini juga dialami Dora Herta Lisna. Hidup yang serba sulit juga membuat Mila Sari harus makan dari memunguti sisa-sisa sayur-sayuran di pasar Kebayoran, Jakarta yang ia kumpulkan dan kemudian dimasak esok harinya untuk anak-anaknya

Menggaungkan suara PRT bukan pekerjaan mudah disaat kerja-kerja perawatan seperti PRT hingga hari ini belum mendapat pengakuan dan penghargaan sebagaimana mestinya, tak heran jika kerja-kerja yang dilakukan perempuan pekerja rumah tangga (PRT) dianggap bukan pekerjaan esensial.

Istilah sesatnya, bias gender, bias kelas, unskilled labour, pekerja yang bekerja di ranah domestic dianggap tidak memiliki ketrampilan  sehingga pantas dibayar dengan upah murah dan tanpa jaminan perlindungan.

Sebanyak 20 PRT dari berbagai Serikat PRT yang diorganisir JALA PRT mencoba berbagi kisah perjalanan hidup mereka selama bekerja. Menulis menjadi medium perlawanan para PRT dengan merebut ruang yang selama ini didominasi narasi-narasi yang menihilkan kontribusi mereka.

Dengan menulis, mereka memperlihatkan wajah, mengeluarkan suara, dan menegaskan eksistensi mereka. Melalui tulisan, para PRT mencurahkan semua cerita suka duka kehidupan di tengah sistem masyarakat yang menganggap keberadaan mereka seolah tidak ada.

Ketika membaca tulisan-tulisan yang ditulis langsung oleh para PRT di buku ini, Konde.co kemudian juga membuat pemetaan kehidupan PRT yang terangkum dalam buku ini.

Konde.co menemukan ada pola ketertindasan yang berulang dan hampir rata dialami oleh pekerja rumah tangga.

“Upah murah, jam kerja panjang, kekerasan seksual, pekerja anak, kecelakaan kerja, PHK, penistaan profesi,” kata Marina Nasution dari Konde.co

Tak hanya cerita pedih, ada juga cerita sukacita yang dialami PRT. Berhasil membeli rumah, membuka usaha, menyekolahkan anak hingga pendidikan tinggi, punya pengalaman banyak di luar negeri, dan segudang pencapaian lainnya membuka semangat pekerja untuk tetap bertahan hidup. Kisah-kisah yang mereka ceritakan mendorong Konde.co membuat sebuah visualisasi data sederhana dan menghimpun top of mind (puncak pikiran) yang terkandung dalam tulisan-tulisan PRT.

Tulisan PRT ini merupakan bagian dari hasil karya para PRT yang telah mengikuti sekolah menulis PRT yang digagas dan diadakan oleh JALA PRT.  

JALA PRT, Rumpun Tjoet Njak Dien dan SPRT Tunas Mulia melakukan pengorganisasian PRT sejak 1994 dan  memprakarsai Sekolah untuk PRT yang sudah dimulai di Yogyakarta dan dimulai pada tahun 2003. Sekolah ini merupakan kegiatan dalam mereplikasi sekolah PRT (Sekolah Wawasan) di DKI Jakarta dan 6 wilayah lainnya yang kemudian hingga sekarang diadakan oleh JALA PRT setiap 2 minggu sekali, menulis merupakan bagian dari sekolah PRT ini  sebagai bagian tradisi dan salah satu metode perjuangan.

“Data menunjukkan, banyak PRT yang tak lulus sekolah, padahal PRT harus bekerja sebagai tulang punggung keluarga, maka pendidikan alternatif merupakan jalan untuk menyelesaikan persoalan ini: menghadapi dunia kerja yang dihadapi PRT,” kata Koordinator JALA PRT, Lita Anggraeni

Hal lain, kurangnya pengakuan pada PRT dalam bekerja, kondisi kerja tidak layak: upah rendah, upah tertunda, jam kerja panjang, tidak cukup istirahat, tidak ada jaminan sosial, tidak punya akses berserikat, pelanggaran hak, pelecehan membuat PRT harus mendapatkan pendidikan alternatif untuk menyelesaikan persoalan.

Jadi pendidikan ini bukan hanya sekedar pendidikan formal, namun juga pendidikan advokasi dalam melakukan perjuangan di dunia kerja. Jala PRT kemudian mewujudkannya dalam sekolah PRT yang kegiatannya adalah: sekolah ketrampilan, sekolah advokasi, sekolah menulis, dll

Poedjiati Tan

Psikolog, aktivis perempuan dan manager sosial media www.Konde.co. Pernah menjadi representative ILGA ASIA dan ILGA World Board. Penulis buku “Mengenal Perbedaan Orientasi Seksual Remaja Putri.”

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email