Cerita PRT: Aku Harus Berhemat Agar Anakku Bisa Kuliah

Aku adalah orang tua tunggal dari seorang anak perempuan yang saat ini masih duduk di bangku kuliah. Aku bersyukur, dari gajiku sebagai Pekerja Rumah Tangga/ PRT yang tidak terlalu besar, aku akhirnya bisa menguliahkan anakku.

Kisah ini aku tulis di Semarang, pada 6 November 2021. Namaku Ngapini, saat ini berusia 51 tahun. Aku adalah orang tua tunggal dari seorang anak perempuan yang saat ini masih duduk di bangku kuliah.

Meski untuk uang kuliah dia mendapatkan bantuan atau beasiswa dari Pemerintah, aku tetap harus mengeluarkan biaya untuk kebutuhan lainnya. Ini bukan beban yang ringan bagiku, tapi aku berusaha memberikan yang terbaik untuk anakku yang sudah ditinggal ayahnya sejak masih balita.

Aku bekerja menjadi pekerja rumah tangga (PRT) sejak usia 12 tahun hingga sekarang. Ya, aku sudah 39 tahun bekerja menjadi PRT. Waktu yang tak sebentar. Waktu pertama kali bekerja menjadi PRT di Jakarta aku digaji Rp 25 ribu sebulan.

Jumlah yang cukup memadai bagiku saat itu, apalagi semua kebutuhan disediakan oleh majikan. Aku betah bekerja di tempat itu, dan bertahan selama hampir 10 tahun. Aku menikah di usia 30 tahun.

Lantas pada tahun 2011 aku memilih pulang dan tetap bekerja sebagai PRT di Semarang. Meski penghasilan lebih kecil yaitu Rp 800 ribu sebulan, jumlah ini lebih mencukupi kebutuhanku ketimbang bekerja di Jakarta. Apalagi aku tak harus mengeluarkan uang untuk mengontrak tempat tinggal.

Sehingga gaji kuterima saat itu bisa mencukupi kebutuhan keluarga, meskipun harus benar benar berhemat dan disiplin dalam mengeluarkan uang. Apalagi saat ini anakku sudah kuliah yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Pandemi Covid-19

Sebelum pandemi aku bekerja di dua majikan yang berbeda, dengan total pengasilan Rp 1,6 juta per bulan. Aku telah bekerja di majikan pertama selama 4 tahun, sedangkan di  majikan kedua baru bekerja 1 tahun ini.  Untuk masing-maisng majikan aku bekerja selama 3-5 jam sehari dengan tugas membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika.

Pandemi Covid-19 mengakibatkan salah satu majikanku memutuskan memberhentikan aku. Sehingga, saat ini aku hanya bekerja di satu majikan saja. Ini berarti pendapatanku juga berkurang hingga setengahnya. Cukup berat juga untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai kuliah anakku. 

Beruntung aku bergabung dengan Serikat PRT, sehingga aku bisa membagi beban hidupku dengan sesama teman-teman PRT. Aku mulai bergabung dengan Serikat PRT Merdeka pada tahun 2019.

Waktu itu aku diajak pertemuan di rumah salah satu teman PRT yang sedang ada kegiatan sekolah PRT.  Aku langsung tertarik untuk bergabung dan aktif di berbagai kegiatan yang diadakan oleh organisasi hingga sekarang. Berbagai hal kami pelajari selama bergabung dengan SPRT. Tak hanya belajar berorganisasi dan hak-hak pekerja, di SPRT kami juga belajar berbagai ketrampilan dan berusaha.

Untuk bisa mengikuti sekolah PRT di kampung sebelah, aku harus berjalan kaki kurang lebih 20 menit. Tapi berjalan kaki merupakan aktifitasku sehari-hari untuk berangkat ke tempat kerja. Biasanya aku berjalan kaki dari rumah ke halte bus, jarak itu bisa ditempuh dalam waktu 60 menit berjalan kaki.

Baca : Peran PRT Mendukung Ekonomi Jutaan Keluarga di Indonesia

Karena cukup aktif, akhirnya aku dipilih menjadi pengurus OPERATA (Organisasi Pekerja Rumah Tangga) wilayah Tlogo, Semarang. Tidak mudah mengajak teman untuk bergabung organisasi harus dilakukan terus menerus.

Aku senang ikut organisasi, bisa mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan baru. Waktu pertemuan juga bisa tukar pengalaman antara sesama teman PRT, sehingga bisa menambah semangat dalam bekerja.

Aku juga mulai berani bicara sama majikan soal pekerjaan misalnya negosiasi soal gaji, soal libur di hari Minggu dan tanggal merah, dan hak-hak pekerja lainnya. Saat ini aku bersama teman-teman PRT di seluruh Indonesia sedang memperjuangkan disahkannya Rancangan Undang-undang (RUU) Perlindungan PRT.

Kami berharap, agar pengesahan RUU Perlindungan PRT bisa menjadi payung hukum dan melindungi hak-hak PRT sebagai pekerja. Selama ini kami belum diakui sebagai pekerja dan bekerja tanpa ada jaminan sosial. Ketika kami sakit atau mengalami kecelakaan, taka da jaminan yang bisa kami sandarkan. Semua bergantung pada itikad baik para majikan, apakah mereka mau membantu atau tidak.

Tidak sedikit kawan-kawan saya yang diPHK saat sakit ataupun mengalami kecelakaan. Jadi, aku merasakan banyak manfaat dengan bergabung dengan SPRT.

KEDIP atau Konde Literasi Digital Perempuan”, adalah program untuk mengajak perempuan dan kelompok minoritas menuangkan gagasan melalui pendidikan literasi digital dan tulisanTulisan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) merupakan kerjasama www.Konde.co yang mendapat dukungan dari Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT)

Ngapini

Pekerja rumah tangga, aktif di SPRT Semarang.

Let's share!