Menyemai Damai Tentena Lewat Kebun Perdamaian

Wuri beragama Kristen. Timang beragama Islam. Keduanya adalah warga Tentena yang pernah jadi korban konflik Poso. Timang dan Wuri bertemu kembali di kebun perdamaian.

Perjuangan untuk merajut kembali toleransi yang terkoyak terjadi di pelosok Nusantara. Konde.co bersama The Asian Muslim Action Network (AMAN Indonesia) dan didukung UN Women mengangkat kisah perjuangan itu dalam edisi khusus #Memperjuangkantoleransi dalam Peace Innovation Academy. Tulisan ini akan tayang selama sepekan pada 28 April- 4 Mei 2022

Satu pagi di Tentena. Saat itu konflik Poso sedang panas-panasnya.  Warga Desa Sangele, Tentena, Sulawesi Tengah belum sepenuhnya bergeliat. Piring-piring sisa hajatan semalam masih teronggok. Belum sempat dicuci. Pun dengan besek-besek makanan. Berserak di sana.

Jarum jam menunjuk sekitar pukul 08.00 waktu Indonesia tengah (WITA). Beberapa orang masih sarapan. Ada juga yang sedang buang air besar. Tak berapa lama, tiba-tiba segerombolan orang berpenutup kepala datang. Tak ada yang tahu, siapa dan dari mana orang-orang itu berasal.

“Seperti orang di film-film India. Tidak jelas,” kata Timang, 52 tahun.

Gerombolan orang berpenutup kepala itu menghalau orang-orang di jalanan. Mereka menghambur dan mulai membakar belasan rumah warga muslim di sekitar Pasar Tentena.

Para pemilik rumah berlarian menyelamatkan diri. Ada yang hanya bersarung, Tak sedikit pula yang hanya membawa sandal jepit. Ada yang sempat mengepak pakaian di tas sekenanya.

Timang tak ingat detail tarikh waktunya. Dia hanya bisa menduga. “Mungkin tahun 2000, atau akhir 1999. Pokoknya, pas panas-panasnya [konflik]” ujar Timang saat  mengisahkan kembali peristiwa itu kepada saya melalui sambungan telepon pada akhir Maret 2022.

Salah satu rumah yang dibakar gerombolan orang berpenutup kepala itu merupakan rumahnya. Rumah itu ditinggali ibu dan ayahnya. Untungnya ibu dan ayah Timang lebih cepat pergi sebelum massa merangsek.

Timang bercerita, kedua orang tuanya bisa pergi terlebih dahulu karena mendapat informasi dari seorang pendeta. Dengan menumpang mobil bak terbuka, ayah dan ibu Timang menuju ke arah selatan, ke Makassar. Mereka mengungsi ke tempat di mana Timang dan suaminya tinggal.

“Tiba-tiba ada telepon. Bapak minta dijemput di terminal,” ucap dia.

Tak lama mengungsi di Makassar, orang tua Timang memutuskan pindah ke Jakarta. Penyebabnya, mereka khawatir konflik horisontal ini bakal menyebar hingga Makassar. 

Timang bercerita, selama 2,5 tahun orang tuanya tinggal di Jakarta. Di Ibu Kota, sang ibu meninggal dunia. Tak lama sepeninggal istrinya, ayah Timang memutuskan kembali ke Tentena

Suatu hari, sekira dua pekan Timang pindah dari Makassar ke Tentena, ia pergi berbelanja ke pasar tak jauh dari tempat tinggalnya. Ia dipandangi dengan pandangan penuh selidik. Para pedagang dan pengunjung pasar mengamatinya dari atas hingga bawah, terutama  jilbab yang dikenakan Timang.

“Siapa itu?” demikian Timang ditegur.

Belum sempat Timang menjawab, seseorang perempuan menyahut. “Dia temanku,” kata Timang menirukan perempuan itu. Ternyata dia teman SMP Timang. 

Dari situ Timang merasa tidak sendiri. Ia merasa seolah mendapat teman, apalagi belakangan setelah ia bergabung dengan Sekolah Perempuan yang diselenggarakan The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia. Trauma yang dialami Timang akibat konflik horizontal yang pernah melanda sejumlah kota di Sulawesi Tengah sedikit demi sedikit tergerus.    

Untungnya, di Tentena keluarga Timang masih memiliki aset rumah yang tak ditinggali. Dan di rumah itu yang hingga saat ini menjadi tempat tinggal Timang dan keluarganya. Di rumah inilah Timang lalu mengurusi ayahnya yang menua dan sakit-sakitan, juga suaminya yang sakit. Sekaligus ketiga anaknya.

Kini, Timang masih berjuang untuk menghidupi anak bungsunya. Suaminya kemudian meninggal tujuh tahun lalu. Dan empat bulan lalu sang ayah juga menyusul.

Saat Timang kembali lagi ke desa tempat kelahirannya, kondisi masyarakat sudah berubah. Sisa konflik masih kental terasa. Orang masih saling curiga.

Trauma pada Suara Tiang Listrik yang Dipukul

Teng! Teng! Teng!

Suara tiang listrik yang dipukul mengingatkan Pendeta Roswin Wuri, kini berusia 58 tahun, pada masa-masa sulit yang dialaminya bertahun silam. Ia masih ingat betul arti suara itu. Saat berbincang dengan saya pada 23 Maret 2022 lalu, ia mengisahkan suara dari tiang listrik yang dipukuli warga itu merupakan peringatan tanda bahaya. Bahwa akan ada serangan mendadak ke lingkungan tempat tinggalnya. 

Perasaan Wuri semakin cemas saat sebuah pesan singkat (SMS) masuk ke ponselnya. Pesan itu memberi informasi mengenai adanya pergerakan massa menuju tempat tinggalnya.

“[Massa] sudah dekat ke Tentena,” kata Wuri saat mengisahkan kembali pengalamannya.

Mendengar tanda bahaya ini, rasa khawatir dan ketakutan menjangkiti perasaan seluruh warga desa. Wuri menyebut rentetan konflik Poso ini sebagai “Ada aksi dan reaksi.”

Tentena yang terletak 58,5 kilometer arah selatan pusat Kota Poso, menjadi salah satu dari beberapa kota kecil di Sulawesi Tengah yang juga merasakan dampak Konflik Poso di sepanjang kurun 1998 hingga akhir 2001. 

Human Right Watch (HRW) mencatat tiga fase permulaan konflik Poso yaitu fase Desember 1998, fase April 16-3 Mei 2000, fase peristiwa pembalasan 23 Mei 2000, serta fase pemindahan dan penghancuran Juli-Desember 2001.

Sejak pertengahan tahun hingga akhir 2001 pengeboman pertama saat konflik di Poso terjadi. Tepatnya pada 25 Juli 2001. Bom itu diletakkan di Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Sulteng.

Pada 3 Desember 2001, empat bom meledak di Poso. Bahkan setelah perjanjian Malino I rentetan aksi kekerasan masih terjadi. Salah satu yang melekat yaitu pengeboman gereja Pantekosta, gereja Advent, dan gereja Protestan. Di tahun yang sama, 5 Juni 2002 sebuah bom meledak di dalam bus rute Palu-Poso-Tentena. Berselang sebulan 12 Juli 2002, bom lain meledak di bus wisata dari Palu ke Tentena. 

Masih dalam catatan itu, Juli 2002 menjadi hari-hari paling mencekam. Lima penembakan misterius berada di tengah teror bom. Rangkaian teror ini menjadi trauma tersendiri bagi Wuri dan warga lain yang tinggal di Desa Sawidago, Pamona Puselemba, Tentena, Kabupaten Poso. 

“Tetangga saya ikut jadi korban. Menakutkan! Dan semoga tak terulang,” kata Wuri, sambil tak lupa menyelipkan kata amin di akhir kalimatnya sebagai ungkapan harapannya agar damai senantiasa melingkupi kotanya.

Konflik Mereda, Perempuan Berupaya Merajut Damai

Meski konflik mereda, upaya untuk merajut damai di Tentena tak mudah. Bahkan hingga 2013 atau hampir 12 tahun setelah konflik mereda, rasa curiga dan ketakutan masih muncul. Data yang dihimpun She Build Peace menyebut, saat proses pemulihan itu, Wuri sempat mengajak para perempuan Muslim untuk hadir dalam perayaan Natal.

“Kami buat skenario, kelompok Muslim itu datang sebelum ibadah dimulai. Para ibu hanya melihat di dekat pintu. Di situ terjadi interaksi, di mana kedua belah pihak saling memberikan rasa aman jika ingin saling berkunjung,” ucap dia.

Upaya itu untuk membangun keyakinan di antara perempuan dari kelompok Islam dan Kristen. Wuri mengatakan, meski rasa takut masih mencekam, kepercayaan sekitar 500 orang ibu-ibu dari kedua kelompok mulai tumbuh.

“Mulai dari sana, relasinya sudah cair dan aman,” kata dia.

Proses perdamaian antara kelompok Islam dan Kristen makin intensif dengan adanya Sekolah Perempuan yang dibangun AMAN Indonesia pada 2010.  Wuri dan Timang mengikuti sekolah itu pada 2014. Di sana, para perempuan itu belajar bersama materi mengenai keamanan dan perdamaian.

Bagi Timang, Sekolah Perempuan membuka jalan baginya untuk bertemu dengan pemeluk agama lain. Dengan bergabung ke Sekolah Perempuan dia bisa berbicara mengenai kebiasaan umat Islam yang belum diketahui anggota lainnya.

Sebaliknya warga non Muslim juga membagi ceritanya kepada warga Muslim. Dengan proses ini, maka kelompok yang berbeda itu perlahan bisa saling mengenal dan kemudian saling memahami dan menghormati. Dari sini diharapkan terbangun toleransi.

“Walaupun hasilnya tidak langsung 100 persen, kita bisa membaur dan berdialog dengan umat Kristiani,” ucap Timang. 

Meski ruang dialog itu terbuka, Timang tetap menyimpan kehati-hatian. Salah satu topik yang dipandangnya sensitif dan perlu disikapi dengan penuh kehatian-hatian adalah pemanfaatan pengeras suara gereja. Meski pernah diadakan dialog lintas iman yang mempertemukan pendeta dan imam, peristiwa serupa kembali terulang.

“Tapi kita tinggal menyesuaikan diri saja. Kita harus punya tenggang rasa,” kata Wuri. 

Dari sisi Wuri, pengalaman mengikuti Sekolah Perempuan mampu meluruhkan rasa curiganya pada perempuan Muslim. Wuri juga tak perlu lagi khawatir saat bersama perempuan muslim. 

Di Sekolah Perempuan, rasa segan pada perempuan muslim dan sebaliknya bisa dijembatani. Pemahaman antara kedua kelompok agama yang berbeda ini selanjutnya mampu menghapus stigma yang disematkan oleh kedua belah pihak. 

“Bahkan kalau diundang acara di hotel, sekarang bisa satu selimut,” kata Ketua Yayasan Pengembangan Masyarakat Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah itu.

Sementara bagi Timang, Sekolah Perempuan juga menjadi langkah efektif dalam menahan berkembangnya paham ekstrimisme dan intoleransi. Menurutnya, semua itu bisa dimulai dari lingkungan terkecil yakni dari dalam keluarga. 

“Paling tidak anak-anak bisa melihat ibunya melakukan hal tersebut dengan antara kelompok agama yang berbeda. Ibu ini memiliki pengaruh anggota keluarga yang lainnya,” ucap dia.

Kebun Perdamaian: Organic Green Fresh

Dari Sekolah Perempuan itu lantas lahir kebun perdamaian yang diberi nama Organic Green Fresh. Kegiatan kebun perdamaian ini memanfaatkan lahan tidur milik warga, baik yang beragama Islam maupun Kristiani. Beberapa pemiliknya ada yang tinggal di Desa Sawidago, ada pula lahan milik desa. 

Wuri menyebut, total lahan yang digunakan untuk kegiatan ini seluas 1 hektare atau sekitar 10.000 meter persegi. Kebun ini menjadi bagian penting dari proses perdamaian dari Konflik Poso.

“Perdamaian harus dipahami secara utuh tidak hanya membangun relasi yang baik sesama manusia. Damai itu juga menyangkut damai diri sendiri dan alam,” kata Wuri.

Dalam perjalanannya, kebun perdamaian ini lebih banyak melibatkan para perempuan. Laki-laki bukan tidak pernah dilibatkan. Saat membuka lahan tidur, para laki-laki dilibatkan, tapi kemudian intensitas keterlibatan mereka perlahan memudar karena mereka tidak sabar dengan proses bertani organik. 

“Ribet, kata peserta laki-laki. Rumput [liar] kan tidak boleh disemprot, laki-laki maunya disemprot agar selesai,” kata dia.

Bagi Wuri kebun perdamaian ini menjadi titik awal. Sebab, menurut dia, dalam ajaran Islam dan Kristen tanah merupakan aspek penting asal manusia. “Berarti tanah itu ‘saudara’ kita, dong,” ucap dia.

Dengan menganggap tanah sebagai saudara, Wuri dan kelompok taninya memanfaatkan metode pertanian organik sebagai proses tanam. Metode pertanian organik dikenal sebagai cara bertani ramah lingkungan yang tak menggunakan bahan kimia sebagai pupuknya. Artinya, tidak ada penggunaan pestisida dan insektisida dalam proses bertani ini.

“Kasihan kan saudara kita diracuni terus,” ujar dia.

Untuk pengairannya, Wuri dan kelompoknya menggunakan air dari PDAM. Meski hanya membayar Rp10 ribu sebulan, mereka harus bergantian dengan anggota lain untuk pemakaiannya.

Aktivitas berkebun itu juga disambut sukacita oleh Timang. Meski berjarak 6 kilometer dari rumahnya, Timang tetap setia berkunjung ke kebun perdamaian. Dia berangkat ke ladang itu sepekan sekali. Biasanya dia berangkat ke ladang pukul 15.00 WITA. Jam itu dipilih karena dia perlu menyelesaikan masakan untuk anak-anaknya dan beberes rumah.

“Sudah bisa gantian juga jaga kios dengan anak ketiga,” ucap Timang.

Hanya saja, jalan menanjak menuju lahan menjadi soal. “Saya takut bawa motor menanjak. Jadi kadang nunggu teman atau pakai ojek,” ujar dia.

Tak hanya sendiri. Sekali waktu, dia ke kebun perdamaian bersama lima orang lain menggunakan mobil. Tapi, ada kejadian lucu yang membuatnya rindu aktivitas di ladang tersebut. Selewat maghrib, rombongan ini hendak pulang. Tapi, mobil Avanza yang ditumpangi mogok. “Akhirnya kami nunggu mobil dari perkebunan yang lewat,” kata dia tertawa.

Menuju pemukiman yang mayoritas Kristen, bukan lagi persoalan bagi Timang. Dia tetap berjilbab. Untuk selfie-selfie di ladang, kata dia berkelakar. “Untuk menutupi panas juga. Hahaha,” ujar dia.

Timang bercerita, melalui kebun perdamaian ini dia bisa bertemu dengan para perempuan yang beragama Kristen. Meski dia menjadi minoritas di kelompok itu, rasa toleransi kerap dirasakannya. Salah satu contohnya yaitu saat dia diingatkan menjalani sholat lima waktu.

“Mereka justru menghargai, kadang juga saya diingatkan. Kalau sedang tidak shalat saya memberitahu bahwa sedang halangan,” ucap Timang.

Dari kebun perdamaian itu, kata Timang, dia juga kerap menceritakan ajaran agama Islam. Dia pernah menjelaskan alasannya menjalani shalat lima waktu hingga mengapa harus mengonsumi makanan yang halal. Sebaliknya, dari kebun perdamaian ini Timang juga mengenal ritual dan ajaran agama Kristen. 

“Kita jelaskan semuanya,” kata dia.

Rasa gotong royong dan kegembiraan menjalani aktivitas di ladang  juga kerap muncul. Sebelum pandemi Covid-19, para anggota kelompok tani organik ini bersama-sama menyiapkan lahan hingga merawat tanaman berupa sawi, cabai, tomat, oyong, dan pakcoy. Tak lupa, kegiatan menyemai bibit juga digarap bergotong royong.

“Kami juga membuat pupuk bersama-sama,” kata Wuri. 

Melalui kegiatan membuat pupuk bersama, masing-masing anggota mendapat tugas membawa tanaman untuk diuraikan. Ada yang membawa pelepah pisang. Ada pula yang membawa jerami. Semua mendapat tugas.

Wuri mengatakan sebagian pupuk digunakan untuk proses budidaya. Sisanya, dijual untuk umum. “Jadi semuanya berperan,” ujar dia.

Wuri mengatakan tak terlalu berpikir mengenai hasil produksi pertanian yang melimpah. Menurutnya proses yang dijalani menjadi tujuan besarnya. “Sama-sama bekerja sehingga mempererat rasa persaudaraan,” ucap Wuri.

Kebun perdamaian turut membuka ruang dialog hingga ke rumah-rumah anggotanya. Timang bercerita, dia kerap mendapat hantaran berupa sayuran hasil panen di kebun perdamaian.

“Jadi silaturahmi kan kalau mengantar sayuran,” kata Timang.

Tak hanya membangun toleransi, kebun organik ini juga berhasil menggerakkan ekonomi masyarakat setempat dan ini mendapatkan apresiasi. Kelompok petani organik ini kerap menggelar pasar sayur organik sekali dalam sepekan. Hasil panen sayur organik itu juga kerap dititipkan ke kantor-kantor untuk dijual.

Harga sayur organik yang dibudidayakan dihargai Rp5.000 per 250 gram, lebih mahal dibanding sayuran bukan organik Rp3.000 per 250 gram. 

Wuri menyebut sayuran organik ini membawa manfaat yang besar bagi kesehatan. Promosi sayuran organik terus dikerjakan hingga akhirnya dia dijuluki Ibu Sayur. Baginya, harga jual itu tidak seberapa dibanding manfaatnya.

Sayuran organik hasil kelompok ini tidak hanya diperjualbelikan. Sesekali, sayuran ini juga dibagi ke warga sekitar. Salah satu yang mendapat ‘jatah’ sayuran itu adalah Omad, seorang ikan. Wuri kerap memesan ikan kepada Omad untuk acara keagamaan. 

Wuri percaya pada Omad meski tinggal puluhan kilo di Kampung Malei, sebuah desa pesisir di Kecamatan Lage, Poso. Dia merupakan salah satu pelanggan setia Kebun Perdamaian. Tak jarang, Wuri membagikan hasil panen sayur organik ke Omad. 

Sebagai gantinya, Omad membagikan ikan. Karena keakraban ini, keluarga Omad dan Wuri kerap saling berkunjung saat Idul Fitri dan Natal atau Tahun Baru. Tak hanya keluarga inti, mereka saling mengunjungi keluarga yang lain. Sebaliknya, pada tahun baru Omad mengajak tetangganya ke Tentena. 

Tapi, kata Wuri, rombongan keluarga Omad awalnya masih takut membuka identitas. Beberapa perempuan Muslim enggan memakai kerudung. Setelah Wuri memberi penjelasan, barulah beberapa perempuan muslim akhirnya mau memakai kerudung.

“Tahun baru 2022 lalu malah ada yang memakai cadar,” ucap Wuri.

Wuri bersyukur, komunikasi semacam ini perlahan mampu mengikis ‘jarak’ antara komunitas Islam dan Kristen pasca konflik Poso.

“Saya bersyukur sekali gap yang sempat tercipta pascakonflik bisa terjembatani sehingga kita tidak takut ke tempat yang mayoritas Islam dan sebaliknya,” kata dia.

Komunitas perempuan yang bekerja di kebun perdamaian juga membuka perspektif baru mengenai perdamaian. Saat merawat tanaman organik tersebut, perbedaan pandangan tidak lagi jadi halangan. Lunturnya sekat dan pandangan itu juga muncul saat menggelar kegiatan keagamaan, baik Natal maupun Lebaran. Wuri melihat, beberapa orang sudah melihat orang yang berbeda agama bukan lagi ancaman.

“Justru menjadi kekayaan untuk membangun kehidupan,” kata dia.

Ingatan masa kecil

Kisah ini mengembalikan pengalaman toleransi yang sejatinya dulu pernah ada di Tentena.  Saat Timang dan Wuri masih kanak-kanak,  kehidupan umat beragama di Tentena sangat harmonis dan rukun-rukun saja.

Saat Lebaran, umat Kristen datang membawa kue. Begitu pula ketika Natal tiba, warga yang beragama Islam balik mengunjungi warga Kristiani. Sebagai keturunan Bugis, Timang dan keluarga kerap membawa panganan khasnya.

“Ada buras, lalampa, atau kue-kue lain,” ucap anggota Majelis Taklim nurul Cholby tersebut.

Timang tak habis pikir, mengapa konflik antaragama bisa pecah di Poso. Namun menurut penelitian berjudul Overcoming Violent Conflict: Peace Development Analysis in Central Sulawesi yang digarap Graham Brown, Yukhi Tajima, dan Suprayoga Hadi, konflik antaragama  di Poso muncul dari karena dua faktor. Yaitu faktor pendukung dan struktural.

Dari sudut faktor struktural ada empat kondisi yang melatarbelakangi. Pertama, ada ketimpangan sosio-ekonomi antara kelompok Islam dan Kristen; kedua, intensitas persaingan akibat migrasi; ketiga, lemahnya sistem hukum yang berlaku; serta keempat kebijakan penanganan konflik dengan pendekatan brutal warisan Orde Baru. 

Sementara itu dua faktor pendukung yang membuat bara api semakin besar yaitu krisis ekonomi dan proses desentralisasi dan demokratisasi yang belum tuntas.

Sensus penduduk 1990 menunjukkan jurang kesejahteraan bukan saja berdasar agama, tapi juga antara warga perkotaan dan desa. Di kawasan pedesaan, misalnya warga beragama Kristen memiliki lahan pertanian yang lebih luas ketimbang warga Islam.

“Tapi disparitas yang lebih tajam terlihat antara kelompok pendatang dan non-pendatang,” tulis penelitian tersebut.

Untuk itu, salah satu kesimpulan dan saran dalam penelitian tersebut yaitu memunculkan asosiasi usaha kecil yang dapat menengahi kesenjangan ekonomi komunitas Kristen dan Islam. Misalnya, asosiasi pedagang ikan yang bekerja lintas wilayah yang dapat mencegah potensi konflik karena persaingan antara pedagang Muslim dan Kristen.

“Proyek pembangunan ekonomi, proyek-proyek pembangunan, terutama di sektor pertanian dan perdagangan informal, dapat menjadi penengah kesenjangan antara kedua komunitas Kristen dan Islam.”

Rata-rata Kepemilikan Tanah Pertani Menurut Agama dan Status Migrasi, Sulawesi Tengah, 1990 (BPS)
 Bukan PendatangPendatangTotal
Muslim0.9751.1780.995
Kristiani1.0121.1471.023
Total0.9821.1721.000

Nation Project Director Peace Through Development Bappenas-UNDP 2014-2015, Suprayoga Hadi mengatakan, pendekatan kesejahteraan seperti yang digagas Wuri dan kelompoknya merupakan salah satu cara efisien untuk membangun kedamaian. Kegiatan bertani merupakan jawaban atas persoalan krisis pangan yang kerap muncul pascakonflik.

“Meski butuh waktu, kegiatan bersama yang mengarah ke ekonomi produktif, misalnya berupa pertanian, kerajinan, keterampilan, bisa efektif membangun perdamaian,” kata Suprayoga, saat dihubungi 31 Maret 2022.

Meski begitu, kata Suprayoga, model pendekatan pertanian sebagai jalan rekonsiliasi juga perlu hati-hati. Dia mengingatkan status tanah atau lahan yang dipakai untuk kegiatan pertanian bersama bisa memicu munculnya konflik lahan.

“Konteks tanah harus jelas. Apakah tanah adat, ulayat, atau hak atas tanah, atau sewa,” ucap dia meneruskan,”kemudian batas kepemilikan lahan, apakah hanya mengolah atau bersifat kepemilikan individual saja.”

Model collective business, kata Suprayoga, juga menjawab kondisi perdamaian pascakonflik. Mengingat, dampak konflik horizontal semacam ini menyisakan kerugian ekonomi yang besar. Salah satu model collective business yang pernah dia lakukan ada di Gunung Nona, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon. Di sana warga diajak membentuk kegiatan pemilahan sampah. Kegiatan yang dilakukan mengambil peran serta ibu-ibu dan para pemuda.

“Dengan mengerjakan bersama, tidak ada segregasi Muslim dan non-Muslim,” kata dia.

Selain model pendekatan itu, Suprayoga juga memberi penegasan pada peran perempuan sebagai garda depan perdamaian. Menurut dia, karakter perempuan umumnya lebih bijak menerima keadaan dan mudah berkomunikasi tidak hanya dalam kontek sosial tapi ekonomi.

“Perempuan itu guyub. Budaya kita kan begitu. Dalam arisan misalnya, mereka bisa berkomunikasi yang sifatnya terbuka,” ujar dia.

Aktivitas Yang Banyak Terhenti Karena Pandemi 

Maret 2020. Kasus pertama Covid-19 masuk ke Sulawesi Tengah. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) membuat pergerakan masyarakat terbatasi.

Wuri bercerita pertemuan ibu-ibu sekolah perempuan menjadi terbatas. Tak bisa seperti dahulu. Aktivitas berkebun pun untuk sementara hanya bisa dikerjakan warga yang tinggal tak jauh dari ladang. 

“Aktivitas reguler, sebulan dua kali belum aktif lagi. Aktivitas di ladang juga terganggu,” kata Wuri.

Pandemi ini juga membuat Timang menjaga jarak. Praktis aktivitasnya hanya di rumah. Menjaga warung kelontong dan sesekali menengok kebun pribadinya.

Timang menyebut pandemi membuatnya harus ekstra hati-hati. Mengingat, kala itu ayahnya yang sudah tua kerap menderita sakit. “Takut menularkan [Covid-19] kan,” kata dia.

Meski begitu, sesekali mereka masih saling menyapa. Meski dari kejauhan.

Selama tidak ada kegiatan tersebut, Timang dan Wuri praktis hanya berbincang melalui ponsel. Mereka, beruntung memiliki ponsel pintar, bisa saling bertukar pesan melalui WhatsApp atau Facebook Massenger. Bagi anggota yang tidak memiliki ponsel, komunikasi pun terhambat.

Upaya membuka ruang dialog itu tetap harus dijalin. Suprayoga menyebut, selama ini proses perdamaian kita selalu muncul dari pertemuan dan dialog dalam satu forum. Di tengah kondisi pandemi yang sangat khusus (lex specialis) perlu langkah taktis agar social cohesion tak kembali merenggang. “Karena proses perdamaian nanti bisa terkendala,” ucap Suprayoga.

Suprayoga berharap masyarakat tetap memanfaatkan teknologi yang ada untuk berkomunikasi. Sembari berharap pandemi berubah menjadi endemi. “Sehingga interaksi sosial di dalam ruang [pertemuan] bisa dilakukan,” kata dia.

Wuri pun punya harapan serupa. Sempat terhuyung-huyung akibat pandemi, dia bisa membuka kembali Kebun Sayur Green Fresh dengan nama baru. Dia ingin mengumpulkan anggota yang masih sepaham dengannya mengenai pertanian organik.

“Kami akan mengganti Kebun Sayur Green Fresh dengan Kebun Sayur Perempuan Mangkudena,” ucap Wuri.

Tak hanya di level komunitas desa, Wuri juga ingin menerapkan kebun serupa di lahan tidur yang dimiliki gereja tempatnya mengabdi.

Hampir dua tahun proses menjaga jarak karena pandemi terjadi. Seiring dengan menurunnya angka penularan, Timang dan Wuri, serta anggota lain bisa kembali berkomunikasi. Tidak hanya menyapa dengan jarak, kini Wuri bisa singgah ke rumah Timang.

Saat Lebaran tiba nanti, Timang berharap bisa berbagi kebahagiaan dengan Wuri, dan teman-teman Kristennya. Merayakan damai dan lunturnya sekat yang dulu sempat terbangun.

“Begitu juga sebaliknya, saat Natal semoga bisa berkunjung,” timpal Timang.

(Pandangan yang disampaikan dalam karya artikel yang ditampilkan di Peace Innovation Academy adalah milik peserta dan tidak mewakili pandangan dari UN Women, Perserikatan Bangsa-Bangsa, atau organisasi yang terafiliasi dengannya)

Maulana Kautsar

Pekerja Media, Tinggal di Jakarta

Let's share!