‘Membenci Tubuh dan Menggunduli Rambut’: Orangtua Memaksaku Pakai Jilbab

Dipaksa memakai jilbab telah membuat sejumlah perempuan menjadi ketakutan bahkan trauma. Ini juga dialami Indah. Orang tua Indah mendidiknya secara keras agar Indah menjalankan ibadah dan memakai jilbab.

Seorang perempuan berusia jelang 40 tahun, Indah (bukan nama sebenarnya), masih belum bisa melupakan kisah trauma yang terjadi pada masa kanak-kanaknya hingga remaja. Indah dipaksa memakai jilbab. 

Orang tua Indah mendidiknya secara keras agar Indah menjalankan ibadah dan memakai jilbab. Namun bukannya kedamaian yang Indah dapatkan, melainkan justru perasaan terpaksa hingga menimbulkan luka. 

Selepas kakek Indah meninggal, keluarganya memang menjadi penerus untuk mengurus masjid setempat. Masjid itu cukup besar, bahkan menjadi salah satu nama jalan di daerah itu. Tak elak, keluarga Indah menjadi cukup dikenal dan dihormati di lingkungan sosialnya. Inilah yang jadi salah satu beban tersendiri bagi Indah, tekanan demi tekanan mendera mentalnya. 

Saat usia Indah genap 8 tahun, dirinya mulai dipaksa menjalankan pendidikan agama yang ‘ketat’ seperti menghafal kitab suci hingga shalat wajib secara tepat waktu. Orang tua Indah seringkali menggunakan cara-cara yang bisa dibilang keras. 

“Untuk membangunkan ibadah shalat subuh, saya dan kakak saya disiram air, orangtua saya membawa air satu ember dan menyiram dengan menggunakan gayung, hampir setiap hari kasur yang saya tiduri basah akibat saya dan kakak saya kerap kesiangan untuk shalat subuh,” cerita Indah kepada Konde.co, Jumat (16/12).

Indah tak mengerti, apa yang dipikirkan orang tuanya saat itu. Hanya rasa takut sebagai anak-anak karena anggapan tidak menjalankan agama dengan tidak baik, yang dirasakan Indah. 

Tak hanya urusan ibadah wajib tepat waktu, Indah sebagai anak perempuan satu-satunya di keluarga juga dipaksa harus menggunakan jilbab. Indah ingat, orang tuanya pernah mengancam jika dia tak memakai jilbab maka ini artinya Indah ingin kedua orang tuanya masuk neraka. 

Saat mulai masuk SMP, Indah kembali menghadapi tekanan lanjutan dari kedua orangtuanya. Indah yang terbilang pintar di sekolah dasar (SD), mendapat kabar bahwa dirinya diterima di SMP favorit, bahkan Indah mendapatkan nilai rata-rata yang cukup tinggi. Namun, orang tua Indah tidak setuju karena seharusnya Indah masuk pesantren. 

”Bukannya bangga, orang tua saya justru memaksa saya masuk pesantren, kata orangtua saya, di SMP negeri banyak yang tidak berjilbab, nanti saya terpengaruh,” kata dia.

Indah merasa pilihannya tidak dihargai untuk masuk SMP. Namun, dia tak bisa berbuat banyak. Dia akhirnya menuruti kemauan orang tua untuk masuk pesantren. Meski, nyatanya Indah tidak kuat. 

“Selang 7 hari, saya kabur dari Pesantren dan pulang ke rumah karena saya sangat tidak ingin masuk pesantren, akhirnya saya mencoba berdamai dengan keinginan orangtua yang memaksa saya masuk MTs, dengan terpaksa saya belajar dengan perasaan marah,” kata Indah.

Ketika mengikuti kemauan orang tuanya masuk MTs itu, Indah ternyata juga tak bisa sepenuh hati. Dia kerap kabur dari rumah. Dia menjadi pengamen jalanan. Indah hanya ingin hidup bebas. 

Meski begitu, Indah tetap berusaha melanjutkan pendidikan MTsnya. Sehingga selepas lulus, dia bisa masuk SMA sebagai sekolah negeri yang dia inginkan.  

”Saya menyelesaikan MTs dengan tujuan ingin dapat Nilai tinggi supaya bisa masuk SMA Favorit,” katanya.

Tujuan indah masuk SMA favorit akhirnya tercapai, hanya saja orang tua Indah justru tidak pernah mendukung Indah masuk sekolah favorit. Orang tua Indah pun tidak pernah datang untuk mengambil raportnya ke sekolah.

Indah yang suka dengan sastra, kerap menjuarai perlombaan menulis dan membaca puisi. Namun, orang tua Indah juga tak pernah mendukung bahkan mengucapkan Indah sebagai ‘kafir’ karena menganggap syair itu haram. 

”Pernah saya bawa piala juara satu lomba baca puisi, orang tua saya bilang itu kafir, syair itu haram. Padahal mereka belum pernah melihat isi puisi saya, kembali saya dibuat semakin benci dengan ajaran Islam,” katanya.

Seiring apa yang terjadi dengan Indah, logikanya sebagai anak remaja saat itu memang instant. Dirinya sengaja berbuat “kenakalan” yang tak henti-hentinya, bahkan kerap membantah guru dan menolak ikut pelajaran Agama Islam padahal dirinya berjilbab. 

“Motor vespa guru agama Islam saya, saya tusuk paku, karena akhirnya saya juga membenci guru agama itu, dan misi membuat orangtua saya datang ke sekolah tercapai, berulang kali orangtua saya akhirnya ke sekolah karena perbuatan nakal saya, bukan ingin mendengar prestasi saya di sekolah,” ungkapnya.

Membenci Diri dan Tubuh Karena Pemaksaan Jilbab

Pemaksaan orang tua Indah agar dirinya harus memakai jilbab, tiba pada satu titik, Indah jadi membenci dirinya sendiri. Dia tidak nyaman memakai jilbab dan menjadi tidak suka dengan diri dan tubuhnya sendiri. 

Indah mulai melukai diri dan menggunduli rambutnya. 

”Saya berpikir, apa salah rambut ini hingga harus disembunyikan? Saya mulai membenci rambut saya, saya menggunduli rambut dibalik tertutupnya nya hijab,” katanya sambil berlinang air mata.

Masuk perguruan tinggi, orangtua Indah makin tidak peduli lagi karena Indah dianggap “anak durhaka” yang kerap melawan dan bertanya tiada henti.

”Orangtua saya bilang, kalau kamu Islam, kamu harus mendengar dan kamu harus patuh! Hal itu semakin membuat saya berontak, kenapa saya tidak boleh bertanya, saya bukan robot, saya berlogika dan punya perasaan. Mengapa islam menjadi kobaran api kebencian di benak saya? Apalagi ini dijalankan oleh keluarga saya,” ujarnya.

Indah menjadi semakin memberontak. Dia tak mau lagi menuruti ucapan orang tuanya, Indah lantas menulis surat tepat ketika usia nya 17 tahun. Dalam surat itu saya minta saya tidak lagi dikekang.

“Saya punya cara sendiri untuk hidup, saya izin untuk membuka hijab dan cari uang sendiri untuk membayar kuliah,” begitu Indah menuliskan suratnya. 

Indah kemudian keluar dari rumah dan memberanikan diri untuk ngekos di dekat kampusnya dan tidak lagi memakai hijab. Di situ, Indah bilang merasa lebih tenang ketika ngekos. Dirinya juga jadi lebih fokus belajar. 

“Saya juga lebih nyaman tidak berjilbab, dan lagi-lagi saya menjadi benci dengan pelajaran agama Islam,” kata dia.

Kebencian Indah akan pengekangan di masa lalunya, juga jadi mengantarkannya membenci ibadah. Dirinya bahkan sempat memilih untuk tidak beragama. 

Indah mulai terobsesi pada kebebasan, indah tak mau diatur. Dia menjadi semakin bebas untuk bergaul dengan teman laki-lakinya. Di situlah, Indah juga melakukan hubungan seks di luar pernikahan. Namun saat itu, Indah belum sepenuhnya mengerti betul apa itu consent (persetujuan) dalam hubungan seksual.  

”Saya tidak menghargai tubuh saya, saya membiarkan tubuh saya digerayangi oleh kawan-kawan laki-laki saya tanpa menganggap bahwa itu pelecehan seksual, saya anggap tubuh saya butuh kebebasan,” ujarnya.

Hingga suatu waktu, Indah mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh laki-laki yang dia tidak Ia kenal dan tidak Ia cintai. 

”Saya hamil dan terpaksa menikah dengan pelaku kekerasan seksual, kehidupan rumah tangga saya sempat bahagia sebentar, tapi akhirnya suami saya berselingkuh dan rumah tangga kami berakhir dengan perceraian,” kata Indah.

Indah yang mentalnya hancur akibat perceraian, kembali ke rumah dengan luka batin yang teramat dalam.

”Ketika saya pulang ke rumah, orangtua saya sudah tua, saya mulai merasa kasihan dan mulai ingin menyayangi mereka, mereka butuh bantuan saya, saya juga mengaku bahwa saya sudah bercerai, keluarga saya mungkin sadar akhirnya mereka memeluk saya, saya kembali ke rumah dengan perasaan hancur,” katanya.

“Meski tak pernah ada permintaan maaf dari orangtua, saya berupaya berpikir lebih dewasa, orangtua saya sudah lansia, bukan saatnya lagi menuntut mereka minta maaf, saat saya yang memaafkan, agar hati saya lega,” imbuhnya. 

Indah mulai menerima kondisi dan keadaannya. Dia terus berupaya menyembuhkan trauma yang dialaminya. Seiring itu, Indah juga mencoba membuka komunikasi dengan orang tuanya. 

Indah mengungkapkan bahwa Ia ingin orang tuanya bisa lembut dalam mendidik anak-anaknya. Termasuk soal pendidikan agama. Janganlah ada paksaan, yang justru malah bisa menimbulkan luka hingga trauma yang berkepanjangan. 

”Agama yang saya pahami adalah sebuah keyakinan, jika cara menerapkan keyakinan dengan cara paksaan tanpa kesadaran, maka agama bukan lagi sebuah keyakinan hanya sebuah ritual,” pungkasnya.

Devi P. Wiharjo

Beberapa tahun jadi jurnalis, sempat menyerah jadi manusia kantoran, dan kembali menjadi jurnalis karena sadar menulis adalah separuh napas. Belajar isu perempuan karena selama ini jadi perempuan yang asing pada dunia perempuan, eksistensialis yang hobi melihat gerimis di sore hari.

Let's share!