‘Glo, Kau Cahaya’ Jatuh Bangun Kehidupan Perempuan Atlet Renang 

Gloria Simbiak, seorang atlet renang tiba-tiba mengalami kelumpuhan dari punggung hingga kaki. Gloria sangat ingin bangkit dari keterpurukan dan depresinya. Ia kemudian menjadi atlet difabel dan mengikuti pertandingan renang di ajang Peparnas 2021 di Papua.

Betapa senangnya hati Gloria Simbiak (Tatyana Akman) ketika Ia mendapatkan pengumuman diterima kuliah di UGM Yogya. Kabar gembira lainnya, Ia diterima kuliah karena bakat olahraga renangnya yang punya banyak prestasi. 

“Kamu sudah tahu kabar terbaruku? Aku akan kuliah di Yogya,” kata Gloria (Glo) mengabarkan pada Julvri, kawan dekatnya.

Gloria adalah perempuan atlet renang di Papua. Bakat renangnya diasah disana Glo yang selalu didampingi oleh neneknya (Ratna Riantiarno), pasca mama dan papanya meninggal. Hal lain, kondisi Papua mendukungnya, banyak pantai disana yang membuatnya leluasa untuk berlatih. 

Ia senang akan kuliah di Yogya, dan diceritakanlah semuanya ini pada teman dan saudaranya, diantaranya sahabat-sahabatnya, Julvri, Idho dan Eliza.

“Ini bisa membawa nama baik Papua bisa diterima di UGM,” kata salah satu teman dan mama-mama Papua.

Julvri, cowok yang dekat dengan Gloria kemudian “merayakannya” dengan  mengajak Gloria naik paralayang, padahal Gloria trauma dengan ketinggian. Glo pernah mengalami kecelakaan pesawat. Tapi Ia tak bisa menolak ajakan. Jadilah ia naik paralayang.

“Saya takut terpeleset dan jatuh, ketika saya dekat kolam renang.”

Takut dan terpeleset di kolam renang akhirnya menjadi cerita pahit dalam hidup Glo. Cerita terpeleset ini terjadi ketika Ia stres karena sejumlah temannya sering mengejeknya sebagai anak manja nenek.

“Ini anak manja nenek, kemana-mana harus diikuti nenek,” kata sejumlah teman renang yang membully nya.

Stres dibully, Gloria berlari dan jatuh. Ia tak pernah tahu jika akibat jatuh di kolam renang itu telah menyebabkan sakit di kaki yang kemudian akan mengubah jalan hidupnya. Sejak itu Gloria sering memijat kakinya yang kesakitan.

“Boleh Glo ikut pertandingan nasional dan internasional ya, nek?,” kata Gloria suatu hari. 

Neneknya mengiyakan. Semangatnya selalu menggebu-gebu, apalagi Ia bisa membuktikan jika Ia diterima kuliah karena prestasinya. Gloria percaya bahwa renang akan mengantarkannya ke masa depannya.

Ketika akan berangkat kuliah ke Yogya, saat itulah Glo tiba-tiba terduduk dan tidak bisa berjalan lagi. Dokter yang mengoperasinya bilang, Glo terkena patah tulang belakang dalam posisi duduk. Kondisi tulangnya patah dan Gloria harus segera dioperasi.

Film yang disutradarai Ani Ema Susanti dan Produser Eksekutif Hamka Handaru ini mengajak publik untuk merasakan apa yang dialami para difabel, terlebih atlet difabel karena bercerita tentang jatuh bangunnya Gloria Simbiak yang mewakili atlet difabel Indonesia

Kuliah ke jogja merupakan mimpi Glo, karena almarhum papa dan mamanya dulu juga kuliah disana. Namun sejak Ia lumpuh, memakai kursi roda dan tidak bisa berjalan, Ia harus berjuang keluar dari labirin depresinya setelah kehilangan fungsi kaki. Bagi perenang, kondisi ini seperti kehilangan nyawa. 

Sejak itulah Glo jalan dengan kursi roda. Syaraf Glo sudah kena, keterlambatan penanganan yang membuat kelumpuhan total. 

Sebagai atlet renang, kondisi inilah yang sangat ditakutkan Gloria dan menambah traumanya.

“Apa gunanya kaki Glo ini nek. Saya sudah tidak bisa berenang lagi,” kata Gloria ketika Ia mencoba berjalan dan gagal.

Hari-hari dipenuhi kesedihan dan luka mendalam. Gloria merasa kemenangan yang semula sudah diraih dan berada digenggaman, menjadi atlet peraih medali emas di olimpiade renang, menjadi sesuatu yang tidak berguna. 

Gloria lalu mencoba melewati hari-harinya yang tidak akan pernah sama, melanjutkan hidup atau berhenti dan menyesalinya bersama neneknya, hanya ini yang ada di kepala Glo. 

Dalam cerita ini, melalui karakter Gloria, kita akan lebih memahami sebuah cerita mengenai keberanian, penerimaan, perjuangan perempuan dan refleksi orang-orang di sekitarnya tentang dirinya. Maka cerita ini akan lebih dekat menggambarkan bagaimana cinta seorang nenek atau keluarga, sahabat, orang yang menyayanginya dalam menyembuhkan saat Gloria tersesat dalam labirin depresinya. Juga Ia harus berjuang melawan pelecehan seksual yang dia alami yang mengusik ketenangannya untuk terus maju menatap masa depan untuk menjadi juara bagi dirinya sendiri.

Gloria adalah entitas yang dialami perempuan difabel dan potret pemberdayaan dari remaja perempuan yang akan resonate baik di kalangan remaja atau kita pada umumnya yang sering memandang hidup dan menjalaninya dengan “take it for granted”, dan menciptakan banyak pertanyaan dalam hidup kita, seperti sudahkah kita begitu mengenal diri kita, kemenangan apa yang bisa kita capai hari ini, dan apakah kita layak mendapat sebutan sang juara dan pemenang untuk setiap langkah di hidup kita?

Glo kemudian mencoba berkompetisi pada Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) di Papua, disini Ia belajar mengenal esensi kemenangan yang sesungguhnya.

Gloria kembali kehilangan kepercayaan terhadap dirinya karena neneknya yang kritis di saat – saat menjelang pertandingan besar tersebut dan menemukan arti kemenangan yang sesungguhnya

Kemenangan, medali dan segala macam hasil kejuaraan adalah bentuk keunggulan dari seseorang. Namun, bagaimana kemenangan itu bisa dilihat lebih personal lagi, karena label juara bagi setiap manusia itu berbeda-beda, manusia bisa menjadi juara kapan saja dan di mana saja, bahkan karena dia melakukan hal kebaikan kecil baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain bisa kita sebut juara.

Melalui cerita mengenai difabel yang disebabkan kecelakaan ini, kita akan mengikuti kesulitan seorang manusia yang harus menghadapi dunianya yang sangat berbeda jauh dari sebelumnya

(Sumber Gambar: Bhuana Art Sinema)

Luviana

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas

Let's share!