Konser ‘UNiTE’, Kampanyekan Stop Kekerasan Terhadap Perempuan Lewat Seni

Dalam rangka Hari HAM Internasional sekaligus menutup rangkaian kampanye internasional 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP), UN Women menggelar festival seni 'UNiTE' di M Bloc, Jakarta Selatan.

Tanggal 10 Desember diperingati sebagai Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional. Ini juga menjadi hari terakhir kampanye global 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP). Di tahun 2023, pada usianya yang ke-75, Hari HAM Internasional mengusung tema ‘Freedom, Equality, and Justice for All’.

Pengesahan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 10 Desember 1948, menjadi awal mula Hari HAM Internasional. Bagi Indonesia sendiri, Hari HAM mesti menjadi momen untuk refleksi diri dan menengok kembali berbagai upaya penegakan hak asasi manusia selama ini. Termasuk dalam hal pemenuhan hak-hak perempuan dan menghentikan kekerasan berbasis gender.

Dalam rangka Hari HAM Internasional sekaligus menutup kampanye 16 HAKTP 2023, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Institut Français Indonesia (IFI) menggelar konser ‘UNiTE’ di M Bloc, Jakarta Selatan pada Minggu (10/12/2023). ‘UNiTE’ menyajikan pertunjukan musik, teater, dan puisi.

UNiTE’ juga menghadirkan diskusi mengenai pemenuhan hak-hak asasi manusia dan upaya mengakhiri kekerasan terhadap perempuan. Festival seni ini bertujuan memperkuat solidaritas terhadap korban dan penyintas kekerasan, serta mendorong upaya kolaboratif untuk mengatasi isu tersebut.

Hari HAM Internasional: Rekor Buruk Penegakan HAM di Indonesia

Catatan Hari HAM 2023 KontraS menyajikan tujuh pokok bahasan terkait situasi HAM di Indonesia. Beberapa di antaranya, gagalnya penuntasan pelanggaran HAM berat, berbagai bentuk pelanggaran terhadap hak fundamental dan represi terhadap kebebasan sipil, serta pendekatan pembangunan yang merugikan masyarakat.

KontraS pun menyoroti situasi HAM di Tanah Papua, berbagai kasus serangan terhadap Pembela HAM, mandeknya reformasi sektor keamanan serta peran pemerintah Indonesia dalam isu HAM pada kancah internasional. Indonesia masih punya banyak pekerjaan rumah. Termasuk perihal kegagalan penanganan kasus pelanggaran HAM berat hingga pembungkaman pembela HAM dan masyarakat sipil.

SETARA Institute dan INFID juga menyatakan bahwa indeks HAM Indonesia turun di tahun 2023. Melansir VoA Indonesia, peneliti hukum dan konstitusi SETARA Institute Sayyidatul Insiyah menyebut, skor indikator kebebasan berekspresi menunjukkan terjadinya ruang-ruang sipil yang mengecil secara massif. Ini terlihat dari upaya penyampaian pendapat secara terbuka yang kerap mengalami hambatan.

Baca Juga: Maraknya KBGO dari AI: Pentingnya Semangat 16 HAKTP Terus Digerakkan
UNiTE’, Akhiri Kekerasan Terhadap Perempuan dengan Seni

Bicara tentang Hari HAM tentu tidak bisa lepas dari pembahasan mengenai hak-hak perempuan dan kelompok minoritas. Hingga saat ini, kekerasan berbasis gender masih sangat marak terjadi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, satu dari tiga perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan setidaknya sekali dalam hidup mereka. Penelitian lebih lanjut dari UNODC dan UN Women juga menunjukkan, 55% dari semua pembunuhan terhadap perempuan dilakukan oleh anggota keluarga atau pasangan intim.

Isu tersebut kemudian melandasi digelarnya ‘UNiTE’ oleh sejumlah pihak. Yakni Kedutaan Besar Prancis, IFI, PBB di Indonesia – Badan PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women), Dana Kependudukan PBB (UNFPA), dan Program Pembangunan PBB (UNDP) bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Komnas Perempuan dan Yayasan Pulih.

UNiTE’ memberikan ‘panggung terbuka (open stage)’ untuk para pendaftar terpilih. Dalam acara tersebut, ada lima penampil dari universitas di Jakarta, Surabaya, hingga Jayapura. Kelima penampil tersebut adalah Alin Syurah, Basmah, Indah Kholifah, Seaflower, dan Teman Seperjuangan Film (TSF). Mereka menampilkan pembacaan puisi, tari tradisional, hingga musik dan teater.

Penampilan Seaflower di acara 'UNiTE' M Bloc, Jakarta Selatan, Minggu (10/12/2023).
Penampilan teatrikal Seaflower di acara ‘UNiTE’ M Bloc, Jakarta Selatan, Minggu (10/12/2023).

Selain itu, ada sesi talkshow bersama UNFPA Champion, Ayu Saraswati. Ayu membagikan pandangannya mengenai situasi kekerasan terhadap perempuan saat ini dan berdiskusi dengan penonton.

“Kita harus mengakhiri budaya permisif yang menormalisasi kekerasan terhadap perempuan,” kata Ayu.

Acara ‘UNiTE‘ dibuka oleh Hippotopia dan ditutup dengan penampilan Danilla Riyadi. Ia membawakan beberapa lagu, termasuk lagu terbaru berjudul ‘Sarwa‘. Menurut Danilla, melalui lagu itu, ia hendak menyampaikan bahwa kita boleh menangis saat dibutuhkan. Di pengujung acara, Danilla berpesan agar semua orang menjaga perdamaian dan stop tindak kekerasan kepada siapa pun.

Urgensi Kekerasan Terhadap Perempuan

Menurut CATAHU 2023 Komnas Perempuan, hampir 61% kasus kekerasan berbasis gender yang dilaporkan ke Komnas Perempuan pada tahun 2022 terjadi di ranah personal. Perempuan masih mengalami kekerasan dalam pacaran (KDP), kekerasan terhadap istri (KTI), dan kekerasan terhadap anak perempuan (KTAP). Komnas Perempuan juga mencatat kasus KDP dan kekerasan berbasis gender lainnya yang terjadi secara online.

Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani menyoroti tingginya lonjakan angka kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO). Ia mengkhawatirkan akan semakin banyaknya kekerasan di ruang online dalam waktu mendatang.

Selain KBGO, Andy juga melihat peningkatan tren kasus kekerasan terhadap perempuan dalam konflik sumber daya alam.

“Juga ada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang terkait langsung dengan konflik,” jelas Andy Yentriyani, dalam acara ‘UNiTE’. “Termasuk konflik sumber daya alam. Atau pun bahkan dalam pelaksanaan Proyek Strategis Nasional yang belum tersosialisasikan dengan baik di masyarakatnya.”

UNFPA Champion, Ayu Saraswati, juga berbagi pandangannya. Menurutnya, perlu ada advokasi berkelanjutan untuk mencapai tujuan pengentasan kekerasan terhadap perempuan. Oleh karena itu, perubahan harus didorong di semua tingkatan.

“Setiap dari kita memainkan peran penting dalam mengeliminasi kekerasan terhadap perempuan,” ujar Ayu.

Sedangkan bagi Danilla, kekerasan terhadap perempuan berkaitan dengan peran gender sejak masa lampau. Peran perempuan yang meramu dan laki-laki yang berburu, membuat kekerasan terhadap perempuan kerap dinormalisasi.

“Bagi saya, tidak ada kekerasan yang baik,” kata Danilla.

Mengakhiri Kekerasan Terhadap Perempuan
Basmah membacakan puisi di acara 'UNiTE' M Bloc, Jakarta Selatan, Minggu (10/12/2023).
Basmah membacakan puisi di acara ‘UNiTE’ M Bloc, Jakarta Selatan, Minggu (10/12/2023).

16 HAKTP adalah upaya meningkatkan kesadaran akan kekerasan terhadap perempuan, serta dorongan untuk mengakhiri tindakan tersebut. Penegakan hak-hak perempuan harus terus dilakukan dan jangan sampai berhenti sebatas pada kampanye saja.

Menurut Konselor Kerja Sama dan Kebudayaan Kedutaan Besar Perancis, Jules Irrmann, kekerasan terhadap perempuan adalah masalah dunia. Perjuangan harus dilakukan bersama-sama.

“Katakan tidak pada segala bentuk kekerasan, stop normalisasi kekerasan, dan hancurkan keheningan,” tegas Jules Irrmann yang juga menjabat sebagai direktur IFI itu. “Kita harus bersuara dan mendukung korban.”

Komnas Perempuan mendapati peningkatan angka pelaporan kasus di tahun ini. Hal tersebut membuat Andy Yentriyani yakin, korban kini lebih percaya diri untuk melapor dan bisa mengakses haknya.

“Jangan sia-siakan kepercayaan korban. Mari gerak bersama, kita pastikan korban dapat menikmati haknya,” ujar Andy. “Menjadikan pengalaman korban sebagai pembelajaran untuk meneguhkan upaya mencegah kejadian serupa berulang.”

Sementara Danilla menyebut, ia menganggap semua perempuan sebagai ibu. Pemikiran seperti itu mestinya dapat menghentikan tindak kekerasan terhadap perempuan.

“Buat saya pribadi, saya merasa semua wanita adalah ibu. Itu akan membuat kalian berhenti untuk melakukan kekerasan terhadap wanita,” kata Danilla.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga, turut berbicara dalam konser ‘UNiTE’. Bintang menyampaikan pentingnya investasi dalam perlindungan hak perempuan dan anak perempuan di Indonesia. Dengan demikian, perempuan dan anak perempuan bisa bebas dari kekerasan.

Bintang berharap, kampanye 16 HAKTP tidak berhenti pada peringatan tahunan saja. 16 HAKTP mestinya jadi ‘alarm’ panggilan agar semua pihak mengupayakan penegakan hak-hak perempuan, serta menghentikan kekerasan berbasis gender dalam berbagai bentuk.

“Kampanye ini bukan hanya peringatan,” kata Bintang. “Tetapi juga sebuah panggilan untuk bersama-sama mengakhiri segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan di seluruh lapisan masyarakat.”

Salsabila Putri Pertiwi

Redaktur Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!