Ada sebuah tren baru telah mencuri perhatian publik.
Trend ini memicu kecemasan kolektif yang begitu dalam di kalangan perempuan.
Belakangan, banyak perempuan yang membagikan isi chat dengan pacar mereka yang suka minta uang.
“Sayang, aku belum makan dari tadi.”
“Kan baru gajian kemarin? Kamu beli skin game 300 ribu loh.”
“Udah habis buat kebutuhan. Pinjem 400 buat makan sama bensin sekalian dong.”
“Ya udah kalau nggak mau, aku tidur aja deh biar nggak laper.”
Seperti itu isi salah satu videonya dengan tagar chat mokondo.
Fenomena “Mokondo” (akronim vulgar yang merujuk pada laki-laki yang hanya bermodal alat kelamin tanpa modal finansial atau usaha) di Indonesia adalah produk mutasi dari patriarki.
Mereka ingin tetap memegang kendali dan dilayani bak raja, namun tidak memberi kontribusi apa-apa. Tidak dipungkiri, istilah ini juga lahir dari harapan perempuan akan fungsi tradisional laki-laki sebagai pencari nafkah utama.
Memberi nama pada sesuatu adalah tindakan politis. Perempuan yang menikah dengan lelaki kaya demi keamanan finansial dicap sebagai gold digger. Padahal laki-laki yang mengejar perempuan muda dan cantik, tidak diberi sebutan apa-apa.
Pada tahun 1933, Hollywood merilis Gold Diggers of 1933, sebuah film musikal yang menampilkan perempuan-perempuan yang mencari pasangan kaya. Meskipun judulnya merendahkan, film tersebut paradoksnya justru menampilkan perempuan-perempuan yang cerdas dan adaptif dalam bertahan hidup di tengah Depresi Besar saat ekonomi dunia sedang hancur pada tahun 1930an. Sebuah konteks sosial-ekonomi yang hampir selalu diabaikan ketika orang membicarakan moralitas perilaku gold digger.
Baca juga: Dikriminalisasi Karena Posting Chat Perselingkuhan Suami Di Medsos, Apa Yang Harus Dilakukan?
Di Indonesia sendiri, ada lagu populer tahun 90-an yang berjudul Cewek Matre oleh Black Skin. Begini potongan liriknya:
Cewe matre cewe matre ngga ada otaknye
Cewe matre cewe matre
Cewe matre ngandelin cowoknye
Cewe matre cewe matre ke laut aje
Istilah gold digger atau cewek matre ini diciptakan untuk menghukum perempuan yang terlalu jelas bermain dengan aturan ekonomi patriarki. Padahal laki-laki yang menciptakan aturan ini dengan gagah; laki-lakilah yang memposisikan diri sebagai satu-satunya pemegang modal dan akses, sehingga mereka bisa memilih perempuan manapun yang mereka inginkan.
Tapi ketika perempuan mengikuti aturan itu, kelompok laki-laki yang tidak punya uang untuk ditawarkan menjadi marah. Kini muncul istilah mokondo, hasil dari kejengkelan terhadap laki-laki yang bergantung secara finansial kepada perempuan, namun tidak berkontribusi apa-apa.
Ketika Laki-Laki Gagal Beradaptasi
Apakah salah jika perempuan memberi uang kepada pasangannya? Tidak ada yang salah dengan itu.
Tapi yang menjadi masalah adalah: apakah pemberian itu lahir dari kerelaan atau dari rasa takut? Apakah ia timbal balik atau satu arah? Apakah si penerima berupaya memperbaiki kondisinya, atau menjadikan kondisinya sebagai instrumen permanen untuk mendapatkan lebih banyak?
Taktik “Aku tidur saja deh biar tidak lapar” atau “Kalau aku tidak membalas pesan, berarti aku tidak punya kuota” adalah cara laki-laki dewasa bertransformasi menjadi bayi gede.
Mereka tahu bahwa perempuan telah dikonstruksi secara sosial selama berabad-abad untuk memiliki insting “merawat” dan “kasihan.” Dari dialog tersebut terlihat laki-laki memaksa perempuan masuk ke dalam peran ibu yang harus membujuk anak yang merajuk.
Laki-laki dalam narasi ini menginginkan manfaat dari memiliki pasangan yang mandiri secara finansial (yaitu uangnya), tetapi ia bersikeras mempertahankan dinamika hubungan tradisional di mana ia tetap menjadi pusat perhatian yang harus dilayani, tidak boleh dikritik, dan harus dituruti keinginannya.
Apa yang sebenarnya kita takutkan ketika melihat laki-laki yang bergantung secara finansial kepada perempuan?
Ketakutan yang kini menghantui banyak perempuan bukan sekadar takut kehilangan materi, melainkan ketakutan melihat masa depan di mana laki-laki gagal beradaptasi. Perempuan telah membuktikan kemampuan luar biasa untuk berevolusi. Sanggup memikul beban ganda, menjadi pekerja, sekaligus melakukan pekerjaan domestik di dalam rumah. Meskipun masih dibatasi oleh hambatan di sana sini.
Sementara itu, banyak laki-laki tampak kesulitan melepaskan ekspektasi lama sebagai provider sekaligus enggan mengambil peran domestik yang selama ini dianggap pekerjaan perempuan. Ketakutan perempuan bukan semata karena ditipu, melainkan melihat pasangannya tidak mau atau tidak mampu bertransformasi.
Laki-Laki Tidak Mencari Nafkah dan Juga Mengabaikan Pekerjaan Domestik
Sebelum TikTok ada, fenomena yang serupa sudah bisa ditemukan di Indonesia.
Pemandangan yang biasa melihat suami-suami yang tidak bekerja sedang memancing, sabung ayam, nongkrong berlama-lama di warung kopi, atau kedai tuak. Sementara anak-anak dititip di neneknya atau day care.
Menurut laporan Human Rights Watch berjudul Terabaikannya Krisis KDRT di Dunia Kerja, perempuan pekerja garmen di Sukabumi dan sekitarnya menjadi tulang punggung keluarga yang menghidupi suami-suami mereka, namun justru menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Pemicunya didorong oleh kemarahan karena para istri dianggap telah mengabaikan peran gender dengan menjadi pencari nafkah. Sudah dinafkahi, melakukan KDRT pula.
Hasil survei BPS tahun 2024 menyebutkan, ada 14,37 persen dari pekerja Indonesia merupakan female breadwinners (pencari nafkah utama dalam keluarga). Artinya, dari setiap 10 orang pekerja di Indonesia, 1 orang perempuan memikul tanggung jawab penuh sebagai tulang punggung keluarganya. Padahal akses mereka terbatas.
Sebanyak 55,84% female breadwinners hanya menamatkan pendidikan dasar. Bahkan, sebanyak 17,91 persen dari perempuan pencari nafkah utama berusia 60 tahun ke atas, yang menunjukkan bahwa banyak ibu-ibu lansia yang masih terpaksa bekerja keras demi keluarga.
Tidak hanya terjadi di Indonesia, di India juga lazim terjadi fenomena seperti ini. Sosiolog Craig Jeffrey, dalam bukunya Timepass: Youth, Class, and the Politics of Waiting in India, memetakan kehidupan laki-laki muda di India, yang terjebak dalam kondisi pengangguran kronis. Jeffrey menggunakan istilah “Timepass” untuk menggambarkan kegiatan laki-laki muda yang menghabiskan hari-hari mereka dengan nongkrong di kedai teh, merokok, dan membicarakan politik tanpa tujuan yang jelas.
Baca juga: Menjadi Bapak Rumah Tangga, Siapa Takut?
Laki-laki ini, yang umumnya berasal dari kelas menengah (Jat), memiliki akses pendidikan namun gagal mendapatkan pekerjaan kantoran yang mereka impikan. Mereka memilih-milih pekerjaan, menolak bekerja dengan upah rendah seperti menjadi petani dan memilih menunggu pekerjaan dari pemerintah. Menganggur dengan gaya (nongkrong dan berpakaian rapi) jauh lebih terhormat daripada bekerja kasar. Orangtua mereka juga menoleransi hal tersebut, bahwa wajar laki-laki muda nongkrong dan menjalin pertemanan.
Berkebalikan dengan yang terjadi di Indonesia dan India, tren stay-at-home boyfriend di Amerika Serikat justru menunjukkan kemungkinan adaptasi peran dalam hubungan yang lebih sehat. Semakin banyak perempuan yang menjadi tulang punggung ekonomi rumah tangga karena laki-laki keluar dari pasar kerja dalam jumlah besar, sehingga laki-laki dengan sukarela mengambil peran mengurus rumah tangga seperti memasak, membersihkan, dan mendukung karier pasangannya.
Padahal studi SMERU (2025) menemukan bahwa 92% laki-laki Indonesia menganggap wajar jika mereka ikut melakukan kerja perawatan. Namun, 80,43% dari mereka yang memiliki pandangan progresif ini belum mempraktikkannya. Norma gender tradisional masih sangat kuat, sehingga meskipun laki-laki menganggap wajar jika mereka terlibat, mereka belum merasa memiliki tanggung jawab untuk melakukannya.
Kecemasan Kolektif dan Cinta di Era Kapitalisme
Terdapat sebuah kecemasan kolektif di kalangan perempuan modern.
Ada ketakutan diporotin atau dimanfaatkan sebagai ATM berjalan oleh pasangan bahkan sejak masih pacaran. Perempuan masa kini semakin sadar bahwa mereka dididik untuk mandiri, berkarir, dan menghasilkan uang. Namun, mereka juga menyadari bahwa banyak laki-laki yang tidak bersedia menyesuaikan diri dengan realitas baru ini.
Perempuan diharapkan untuk menjadi mitra yang setara dalam hal finansial (bahkan sering diharapkan untuk menanggung lebih banyak), tetapi dalam hal dinamika kekuasaan, mereka masih diharapkan untuk bersikap subordinat, mengalah, dan tidak banyak menuntut.
Perempuan punya uang, tapi tetap laki-laki yang berkuasa. Beberapa isi chat mokondo yang beredar bahkan menyuruh sang perempuan untuk berhutang kepada teman atau pinjol demi memberi uang kepada laki-laki.
Sosiolog Eva Illouz dalam bukunya Why Love Hurts menunjukkan bagaimana cinta romantis di era kapitalisme modern adalah konstruksi budaya yang terhubung erat dengan konsumerisme dan pasar. Memisahkan cinta dari kalkulasi ekonomi adalah hal yang hampir tidak mungkin. Setiap orang yang mencari pasangan melakukan semacam evaluasi yang mencakup material, stabilitas, keamanan, selain pencarian emosional. Artinya, tiap individu dituntut kontribusinya dalam hubungan jika ingin hubungan itu berhasil.
Baca juga: Kasih Sayang Artificial: Punya Hubungan Romantis dengan Chatbot AI, Mungkinkah?
Memberi uang kepada pasangan yang sedang jatuh dan berjuang adalah tindakan yang mulia. Tetapi memberi uang kepada laki-laki yang menghamburkan uang untuk hiburan, menolak bekerja, menolak mengerjakan pekerjaan rumah, dan memanipulasi perasaanmu dengan rasa bersalah, apakah sepadan dengan kebutuhanmu akan dicintai?
Jika laki-laki ingin menikmati buah dari modernitas yaitu, memiliki pasangan yang kuat dan berpenghasilan, mereka harus bersedia menanam benih kesetaraan di dalam hubungan. Laki-laki tidak bisa atau tidak mau menjadi pencari nafkah, harus turun tangan mengambil alih beban domestik dan mendukung karier perempuan.
Menolak untuk beradaptasi di kedua ranah tersebut artinya laki-laki akan terus menjadi parasit dan membebani pihak lain seperti orangtua dan pasangan.
Jika laki-laki tidak mau beradaptasi dalam kerja domestik, maka kelas perempuan pekerja Indonesia akan terus menjalani beban yang berlipat ganda.
(Editor: Luviana Ariyanti)






