Kamu Jadi Target Stalking? Cermati Langkah Berikut!

Lagi ramai di media sosial soal stalker, bahkan dilakukan sampai bertahun. Kalau kamu jadi sasaran stalking, berikut langkah yang perlu kamu ambil.

Konde.co dan Koran Tempo punya rubrik ‘Klinik Hukum Perempuan’ yang tayang setiap Kamis secara dwimingguan. Bekerja sama dengan  LBH APIK Jakarta, Kolektif Advokat untuk Keadilan Gender,  Perempuan Mahardhika, dan JALA PRT. Di klinik ini akan ada tanya jawab persoalan hukum perempuan.

Tanya:

Halo, Saya A. Belakangan, sedang ramai kasus stalking 10 tahun. Sebenarnya, saya juga mengalami hal tersebut meskipun tidak separah kasus tersebut yang berlangsung selama 10 tahun. Stalking yang saya alami baru terjadi sekitar 6 bulan terakhir. Saya  bingung apa yang harus saya lakukan agar situasi ini berakhir. Pasalnya sampai saat ini saya tidak mengetahui pelakunya siapa karena ia selalu berganti nomor whatsapp dan akun Instagram. Dia bilang melihat saya di pasar, di kost dan di banyak tempat. Saya takut karena sedang kuliah di perantauan. Apa yang harus saya lakukan?

Jawab:

Halo A. Terima kasih telah berkonsultasi dengan klinik hukum perempuan. Kami turut prihatin atas kekerasan yang terjadi. Iya, stalking atau penguntitan yang kamu alami adalah bentuk kekerasan yang menyerang diri dan data pribadi. Ini yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi stalker:

Beri Tahu Keluarga dan Orang Terdekat

Langkah pertama, sebaiknya penting untuk tetap memberitahu keluarga dan orang terdekat yang kamu percaya bahwa ada stalker di sekitarmu. Sekalipun kamu jauh di perantauan. Apalagi jika keluarga dan orang terdekat dalam kehidupan sehari-hari merupakan tipe yang selaku mendukung kamu.

Tujuannya agar bisa saling jaga dan meningkatkan kewaspadaan karena langkah pelaku bisa jadi sulit ditebak. Kadang pelaku akan meneror secara digital tapi bisa tiba-tiba muncul dihadapan begitu saja.

Jika keluarga dan orang terdekat sudah mengetahui situasi ini, diharapkan mereka akan dapat segera memberikan bantuan. Atau menghubungkan ke layanan bantuan terdekat seperti rumah sakit atau kantor polisi apabila terjadi hal buruk.

Identifikasi Siapa Pelaku

Selanjutnya, komunikasi dengan stalker bukanlah perkara mudah, dilansir dari American Journal of Psychiatry, stalker terbagi dalam lima kategori. Yaitu: (1) orang yang merasa ditolak dan tidak bisa menerima penolakan. (2) Orang yang ingin mencari hubungan yang lebih intim dengan korban. (3) Orang yang tidak bisa membaca situasi dan kultur sosial. (4) Orang yang ingin membalas dendam; dan (5) orang yang bersifat predator atau menyerang korban secara fisik dan seksual. Namun, meskipun terbagi dalam lima kategori, motif pelaku tentu sangat beragam dan sulit diidentifikasi.

Dalam kasusmu, sampai sekarang kamu belum tahu siapa sebenarnya yang selama 6 bulan ini sudah meresahkan karena terus-terusan stalking kamu. Ingat, siapapun bisa jadi Stalker. Pelaku bisa orang yang kamu kenal bahkan dekat tapi berlindung dibalik anonimitas atau justru tidak kamu kenal sama sekali.

Keduanya, sama-sama berbahaya. Namun, jika pelaku adalah orang yang kamu kenal mungkin kamu akan lebih mudah untuk mengambil tindakan yang diperlukan. Sambil tetap mengutamakan keamanan serta keselamatanmu.

Identifikasi Darimana Pelaku Mendapat Data dan Informasi

Ingat, pelaku penguntitan (stalker) tidak akan pernah tinggal diam. Pelaku secara sengaja membuat kamu tahu bahwa ia stalking karena ini adalah bagian dari teror yang diinginkan.

Pelaku akan membombardir kamu dengan mengirimkan foto atau informasi apapun yang dimiliki tentang kamu. Ini bertujuan agar kamu merasa takut dan terancam, dengan harapan pada akhirnya, kamu akan menuruti keinginan pelaku.

Bombardir informasi ini sebenarnya dapat dilihat sebagai langkah awal untuk mengidentifikasi pelaku. Langkah pertama, lihat darimana sumber data dan informasi seperti foto, video atau keseharianmu. Apakah dari media sosialmu dan keluarga/orang terdekat atau justru pelaku stalking secara langsung?

1. Jika bersumber dari unggahan media sosial

    Batasi. Iya batasi unggahan media sosial. Dari sekian banyak pengikut di media sosial, sebaiknya tidak mengunggah apapun yang justru menambah informasi yang dimiliki pelaku tentang kamu. Kamu juga bisa menyampaikan hal ini pada keluarga/orang terdekatmu untuk membatasi unggahan. Karena tidak menutup kemungkinan pelaku juga akan stalking keluarga/orang terdekatmu.

    2. Jika bersumber dari hasil penguntitan langsung pelaku

    Kamu sudah membatasi unggahan media sosial, tapi pelaku tetap tahu banyak informasi tentangmu? Maka langkah yang perlu kamu ambil adalah mengubah kebiasaanmu dan meningkatkan keamananmu. Ini bertujuan agar pelau tidak dapat mengetahui apapun tentang kamu. Misal pindah kos ke tempat yang lebih aman dan mengubah cara berpakaian untuk mengelabui. Selanjutnya menghindari tempat-tempat atau mengubah rute keseharian yang biasa kamu datangi seperti tempat makan atau lainnya.

    Dokumentasikan Semua

    Pada kesempatan pertama, biasanya yang ingin kamu lakukan adalah memblokir pelaku atau memutus komunikasi dengan pelaku. Kami memahami hal tersebut, pastilah kamu dalam keadaan tidak aman, takut dan frustasi atas apa yang dilakukan pelaku. Namun, sebaiknya kamu mendokumentasikan akun media sosial yang digunakan pelaku berserta semua percakapan, foto dan video yang dikirimkan pelaku.

    Ini penting, sebagai bukti untuk melihat bentuk kekerasan apa saja yang terjadi dan upaya apa saja yang telah kamu lakukan. Kenapa harus mendokumentasikan upaya yang sudah dilakukan? karena pada kasus seperti ini rentan terjadi victim blaming atau budaya menyalahkan korban. Yakni korban dianggap tidak melakukan upaya yang cukup untuk menghentikan situasi ini.

    Cari Bantuan Sesuai Kondisi dan Kebutuhan Korban

    Dalam situasi yang berat menghadapi stalker, kamu bisa sangat membutuhkan bantuan untuk dirimu. Kamu perlu fokus pada dirimu. Kamu berhak mendapat bantuan sesuai kondisi dan kebutuhanmu sebagai berikut:

    Psikologis: Berurusan dengan stalker bisa sangat menguras energi, membuat frustasi dan terus menerus merasa ketakutan. Kamu dapat mengakses layanan bantuan psikologis jika diperlukan untuk mengelola emosi yang muncul dalam situasi ini.

    Keamanan Digital: Stalker bisa menerormu tanpa henti melalui kanal media sosial atau komunikasi yang kamu punya. Untuk mencegah kemungkinan serangan digital, kamu bisa minta bantuan lembaga yang punya panduan keamanan digital agar dapat meningkatkan keamanan digital. Termasuk upaya yang harus dilakukan agar pelaku tidak dapat mengakses kontakmu.

    BACA JUGA: Bagaimana Jika Korban Kekerasan Seksual Yang Berupaya Membela Diri Dikriminalisasi?

    Hukum: Setelah kamu mendokumentasikan semua teror, percakapan dan hal lainnya yang dilakukan stalker, kamu bisa melaporkannya secara hukum. Namun biasanya pihak kepolisian akan bertanya siapa pelakunya. Ini akan menyulitkan Korban ditambah perspektif tentang beragam kekerasan belum merata di kalangan aparat penegak hukum.

    Kami sarankan jika akan menempuh penyelesaian secara hukum carilah layanan bantuan hukum yang berperspektif korban. Serta sensitif terhadap gender sehingga mereka mampu memahami situasimu.

    Ingat, kamu adalah subjek data pribadi dan semua data pribadi yang kamu miliki masuk dalam pelindungan hak asasi manusia. Jangan ragu mencari bantuan karena kamu tidak sendirian.

    Jika kamu mau berkonsultasi hukum perempuan secara pro bono, kamu bisa menghubungi Tim Kolektif Advokat Keadilan Gender (KAKG) melalui bit.ly/FormAduanKAKG atau email: konsultasi@advokatgender.org.

    Tutut Tarida

    Kolektif Advokat untuk Keadilan Gender (KAKG)
    Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

    Creative Commons License

    1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

    2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

    Let's share!