Beauty bullying

Sudah Waktunya Bicara Beauty Bullying, Ketika Kecantikan Jadi ‘Pedang Bermata Dua’

Kecantikan itu istimewa. Bukan hanya tentang rupa; kecantikan juga bisa menjadi pedang bermata dua ketika digunakan untuk merundung. Kita mengenalnya dengan istilah ‘beauty bullying’.

Nisya (bukan nama sebenarnya) berasal dari Tidore, Maluku Utara. Di usia mudanya, Nisya pindah ke sebuah Sekolah Dasar (SD) di Jawa Barat. Warna kulitnya yang lebih gelap dibanding mayoritas teman sekelasnya, membuatnya kerap diejek dan dijuluki ‘hitam’. Nisya pun jadi merasa terisolasi dan sulit berteman. Hal yang dialami Nisya hanya satu dari begitu banyak contoh beauty bullying.

Kecantikan itu istimewa. Ada berbagai dimensi kecantikan yang kerap menjadi topik perbincangan hangat di media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya tentang rupa; kecantikan juga bisa menjadi pedang bermata dua ketika digunakan untuk merundung. Kita lalu mengenalnya dengan istilah ‘beauty bullying’, perundungan karena penampilan yang tidak sesuai dengan standar kecantikan masyarakat.

Beauty bullying, seperti halnya bentuk-bentuk perundungan lainnya, membawa dampak dan bahaya yang harus diwaspadai. Lantas, mengapa kecantikan itu istimewa dan bisa menjelma jadi beauty bullying yang berbahaya?

Kompleksitas Kecantikan dan Beauty Bullying: Ancaman di Balik Keindahan

Menurutmu, bagaimana mendefinisikan ‘kecantikan’ dan ‘keindahan’? Apakah ia hanya tentang rupa dan bentuk?

Kecantikan tidak hanya mencakup aspek fisik, tetapi juga melibatkan karakter, kepribadian, dan cara seseorang membawa dirinya. Kecantikan yang sejati adalah kecantikan yang mencerminkan keunikan dan individualitas setiap orang. Hal ini penting untuk diakui dan dihargai karena setiap individu memiliki ciri khas yang membuat mereka unik dan istimewa.

Tentu seharusnya kecantikan bisa menjadi sumber kebanggaan dan kepercayaan diri. Namun, sayangnya, hal ini juga bisa menjadi sasaran perundungan. Kita mungkin familier dengan beberapa bentuk perundungan karena ‘kecantikan’ dan ‘keindahan’, seperti beauty bullying dan body shaming.

Beauty bullying atau body shaming merujuk pada perilaku intimidasi atau pelecehan yang menyoroti penampilan fisik seseorang. Seperti berat badan, warna kulit, bentuk tubuh, atau gaya berpakaian. Di era digital, perundungan seperti ini tidak terbatas pada ruang publik saja, tetapi juga dapat berlanjut ke media sosial. Standar kecantikan yang tidak realistis seringkali diperkuat oleh selebritas, influencer, dan iklan komersial di media.

Fenomena beauty bullying, body shaming, dan perundungan penampilan lainnya dapat terjadi di mana saja. Di sekolah, misalnya, murid sering menjadi korban ejekan atau penghinaan terkait penampilan fisik mereka. Baik dari teman sekelas maupun dari kelompok yang lebih besar. 

Perilaku Perundungan di Sekolah

Banyak anak dan remaja menghadapi perundungan penampilan di sekolah. Ini merupakan masalah serius. Tekanan untuk menyesuaikan diri dengan standar kecantikan yang tidak realistis dapat memicu perundungan. Color skin shaming atau perendahan individu berdasarkan warna kulit mereka, adalah salah satu contoh bentuk umum dari beauty bullying yang kerap terjadi di sekolah.

Pengalaman seorang murid Sekolah Dasar (SD) yang kita sebut dengan nama Nisya (nama samaran), memberikan gambaran yang jelas tentang hal ini. Perbedaan fisik ternyata dapat memicu perilaku beauty bullying di lingkungan sekolah.

Baca Juga: Beauty Privilage Itu Cuma Mitos, Tapi Nyata di Sekitar Kita

Nisya adalah seorang anak yang pindah dari Tidore ke sebuah SD Negeri di Jawa Barat. Ia memiliki warna kulit yang lebih gelap dibandingkan dengan kebanyakan teman sekelasnya. Perbedaan ini membuatnya menjadi sasaran ejekan yang terus-menerus; ia sering dipanggil “hitam”. Akibatnya, Nisya merasa terisolasi dan mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan pertemanan. 

Insiden-insiden ini menyoroti betapa standar kecantikan itu sempit dan diskriminatif. Hal ini pun sering diperkuat oleh norma sosial dan representasi media. Pada tahap lebih lanjut, beauty bullying dapat menyebabkan pengalaman yang menyakitkan dan berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis anak-anak.

Faktor Pendorong Perilaku Perundungan

Kenapa perundungan terjadi? Bukan hanya beauty bullying, berbagai jenis kasus perundungan kerap ditemukan di lingkungan sekitar. Mirisnya, hal ini juga marak terjadi di lingkungan sekolah, tempat yang seharusnya menjadi ruang belajar yang aman bagi anak-anak. Jika ditelaah, ada sejumlah faktor yang bisa jadi merupakan pendorong perilaku perundungan.

Dari aspek individu, misalnya, perundungan dilakukan oleh orang yang kurang berempati dan memiliki harga diri rendah. Orang seperti ini juga mungkin tidak mampu mengatasi konflik, sehingga hal yang dilakukannya justru merundung orang lain.

Namun perundungan bisa atau bisa tidak terjadi, tergantung lingkungan tempat seseorang berada. Ini penting terutama ketika berbicara tentang lingkungan sekolah. Jika budaya, norma sosial, dan kebijakan yang berlaku tidak mendukung perlindungan dan tidak tegas menentang segala bentuk perundungan, kasus bullying akan terus berlanjut.

Di sisi lain, pola asuh yang otoriter dan komunikasi yang kurang terbuka dalam keluarga bisa jadi mendorong perilaku perundungan. Selain itu, tentunya stereotipe, diskriminasi, dan tekanan untuk mencocokkan diri dengan standar tertentu juga jadi faktor terjadinya perundungan.

Belum lagi ketika berbicara tentang perundungan di ranah digital; pengaruh media sosial pun berpotensi jadi faktor perundungan, ketika standar kecantikan dipromosikan secara sempit dan tidak realistis. Media sosial memainkan peran besar dalam memperkuat fenomena beauty bullying. Platform ini memberikan ruang bagi cyberbullying; penghinaan dan pelecehan dapat menyebar dengan cepat. Dampaknya termasuk stres, kecemasan, depresi, dan penurunan harga diri pada sosok yang menjadi korban.

Stop Beauty Bullying!

Beauty bullying harus dihentikan. Untuk menghadapi beauty bullying, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membuat program edukasi yang mengedepankan keberagaman dan penerimaan diri. Budaya sekolah juga harus menciptakan lingkungan yang inklusif dan menghargai semua individu. Sehingga, ada pembelajaran multikultur untuk wawasan yang luas.

Sebab perundungan adalah masalah sosial, pelatihan keterampilan sosial juga penting. Di lingkungan sekolah, pelatihan seperti ini dapat membantu murid mengatasi tekanan sosial dan menjalin hubungan yang sehat.

Penggunaan media sosial yang sehat juga jadi kuncinya. Sudah waktunya kita belajar menggunakan media sosial secara lebih bertanggungjawab. Ketika berinteraksi di media sosial, pahami dampak yang bisa ditimbulkan apa yang kita unggah. Hal ini juga harus didukung oleh orang tua dan guru dengan memberikan dukungan dan pemahaman tentang pentingnya kesehatan mental dan bahwa perundungan dapat memberikan dampak buruk terhadap kesehatan mental seseorang.

Melawan beauty bullying membutuhkan kerja sama dari semua pihak untuk mempromosikan citra tubuh yang positif dan menghargai keberagaman fisik. Dengan tindakan bersama, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan empatik. Baik di sekolah maupun di media sosial. Mari bersama-sama menghentikan siklus kebencian dan membangun dunia yang lebih baik untuk semua individu.

Xavery Alberto Lartutul

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!