Beauty privilege merupakan dua kata dalam bahasa inggris dimana “beauty” merupakan cantik atau indah, dan ”privilege” yang artinya hak istimewa atau keistimewaan.
Jika digabungkan keduanya, maka beauty privilege seolah-olah memiliki makna keistimewaan menjadi cantik atau tampan di kalangan masyarakat. Dalam hal ini penampilan fisik yang menarik bisa menjadikan kita memiliki hak istimewa di masyarakat.
Hak istimewa di masyarakat merupakan sikap yang ditunjukkan masyarakat terhadap orang-orang yang dianggap cantik. Salah satu contoh adanya beauty privilege adalah seperti mendapat pemakluman ketika melakukan kesalahan sebab memiliki paras yang cantik.
Dalam dunia kerja, juga berlaku beauty privilege, yaitu ketika seseorang diterima kerja karena cantik dan good looking, padahal dari segi kemampuan kurang mumpuni dalam bidang tersebut. Bahkan di iklan lowongan pekerjaan terdapat syarat untuk memiliki penampilan yang menarik atau good looking.
Fitri Oktaviani, dosen Universitas Brawijaya Malang, dalam diskusi yang diadakan Indonesia Feminist, di Instagram pada 22 April 2022 menyatakan istilah beauty privilege itu hanya mitos, karena itu semua justru merupakan kondisi yang tak pernah membebaskan perempuan.
Jika sudah dianggap ‘cantik’ maka pasti masih ada tuntutan seperti kurang langsing, dianggap masih kalah cantik dibandingkan perempuan lain. Jadi ‘cantik’ ini lalu jadi mitos yang terus-menerus membebani perempuan.
Baca juga: (G)I-DLE Dobrak Standar Kecantikan dan Patriarki Lewat Musik
Ini sejalan dengan riset yang menyatakan bahwa secara tradisional, cantik itu beda-beda. Ada yang bilang cantik itu matanya besar dan belo, rambutnya lurus, berat badan besar karena itu simbol fertility. Nilai cantik di beberapa negara juga beda-beda, tergantung budaya yang membesarkan mereka.
Jika dulu nilai cantik ini dibesarkan oleh industri dan iklan di media, saat ini yang membesarkan ini semua adalah budaya medsos yang punya nilai-nilai industri untuk membesarkan nilai kecantikan.
Mengapa Terjadi Beauty Privilege?
Kita akan melihat beauty privilege yang selama ini diyakini banyak orang di masyarakat dan apa saja dampak negatifnya:
1. Adanya standar kecantikan yang dikondisikan oleh masyarakat
Masyarakat seringkali memiliki standar kecantikan tertentu yang ditentukan oleh budaya, media massa, dan industri mode. Orang yang memenuhi atau mendekati kriteria tersebut cenderung lebih menarik atau dihargai oleh masyarakat.
2. Pengaruh media sosial dan industri kecantikan
Media sosial dan industri kecantikan memainkan peran penting dalam membentuk persepsi tentang kecantikan dan menimbulkan ekspektasi tertentu terhadap penampilan. Orang-orang yang memenuhi atau mendekati standar kecantikan yang dipromosikan oleh media dan industri kecantikan sering kali mendapat lebih banyak perhatian dan dipandang lebih menarik secara sosial.
3. Asosiatif positif dengan kecantikan
Orang sering kali secara tidak sadar mengasosiasikan penampilan menarik dengan kualitas positif seperti kecerdasan, kesuksesan, dan kebahagiaan. Hal ini dapat mengarah pada perlakuan yang lebih baik dan lebih banyak kesempatan bagi orang-orang yang dianggap “cantik”.
4. Diskriminasi berdasarkan penampilan
Di sisi lain, orang-orang yang dianggap kurang menarik atau tidak memenuhi standar kecantikan umum mungkin mengalami diskriminasi dan pengabaian dalam berbagai situasi, seperti di tempat kerja dan dalam kehidupan sosial.
Dampak Negatif Beauty Privilege
1. Mendorong standar kecantikan tidak sehat
Beauty privilege banyak menimbulkan standar kecantikan yang tidak realistis dan tidak sehat. Hal ini dapat memberikan tekanan yang sangat besar pada individu untuk mencapai atau mempertahankan penampilan yang memenuhi standar tersebut, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental seperti gangguan makan, rendahnya harga diri, dan kecemasan.
2. Ketidaksetaraan dan ketidakadilan
Beauty privilege dapat meningkatkan kesenjangan dan ketidakadilan dalam masyarakat. Mereka yang berpenampilan menarik secara fisik cenderung memiliki lebih banyak peluang dan keuntungan di berbagai bidang kehidupan, sementara mereka yang tidak mendapatkan keuntungan tersebut mungkin kesulitan untuk mencapai kesuksesan yang sama.
3. Mendorong body image issues
Beauty privilege dapat meningkatkan ketidakpuasan terhadap tubuh di kalangan orang- orang yang merasa tidak sesuai dengan standar kecantikan yang berlaku. Hal ini dapat menimbulkan masalah psikologis seperti gangguan makan, depresi, dan kecemasan sosial.
4. Peningkatan persaingan yang tidak sehat
Beauty privilege dapat menciptakan lingkungan dimana individu merasa harus bersaing secara tidak sehat untuk mencapai atau mempertahankan penampilan yang dianggap menarik. Hal ini dapat meningkatkan stres dan tekanan di masyarakat.
Cara Menyikapi Beauty Privilege
Yang harus dilakukan dalam kondisi ini yaitu stop memperkukuh beauty privilege atau beauty premium, jadi harus stop disini dan perempuan harus diberikan pengetahuan untuk menolak, lingkungan patriarki harus diberikan pengetahuan untuk menolak ini. Yang lain yang harus dilakukan yaitu kampanye bahwa tubuh perempuan itu beragam, ini untuk menghormati apapun tubuh perempuan.
Fitri Oktaviani menyatakan optimis jika ini bisa diperjuangkan bersama, karena perempuan sekarang ini terbuka, menerima masukan dan perubahan-perubahan.






