Sudah menonton film ‘Bila Esok Ibu Tiada’? Dramaturgi dan akting para pemain yang bagus, membuat film dengan cerita yang “sederhana” saja ini jadi istimewa.
Film “Bila Esok Ibu Tiada” adalah film emosional yang menceritakan antara relasi ibu dan anak-anaknya, sejak suami atau ayah mereka meninggal.
Cerita “sederhana” saja maksudnya adalah ketika film sebenarnya bercerita tentang problem keseharian yang kerap kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Cerita seorang ibu yang kesepian ketika suaminya meninggal. Anak-anak yang sudah dewasa dan sibuk bekerja dan meninggalkan ibu karena hal-hal baru yang harus mereka raih: cita-cita, mimpi, relasi dengan orang baru. Padahal ibu akan mulai menua, kesepian dan sakit.
Cerita seperti ini sebenarnya banyak kita jumpai di lingkungan kita sehari-hari, seolah semua peristiwa ini terjadi serba natural. Dan jika ada problem di antara ibu dan anak pun, solusi yang ditawarkan pun solusi normatif. Seperti: komunikasi, sisakan waktu untuk ibu. Padahal yang terjadi seringnya tidak sesimpel itu, apalagi jika masing-masing menyimpan sesuatu. Dan ingat, jika ini tidak dikeluarkan, semuanya tiba-tiba bisa meledak. Bum!.
Baca Juga: Marriage is Scary: Respons Langgengnya ‘Ibuisme’ di Era Kini
Cerita sehari-hari yang simpel ini ternyata bisa jadi gejolak besar dalam emosi ibu dan anak. Emosi inilah yang coba digarap sutradara Rudy Soedjarwo, diproduksi Leo Pictures dan mulai diputar 14 November 2024 lalu. Sehingga membuat penonton tak mau beranjak dari cerita ini. Mungkin kamu perlu bawa tissue atau saputangan untuk menghapus airmata. Karena kita seperti diajak menyelami jiwa yang kesepian dari ibu yang dimainkan dengan sangat bagus oleh Christine Hakim. Tangisan di dalam kereta, melihat pantai dan makam, pemandangan yang sebenarnya biasa saja, tiba-tiba bisa menjadi sesuatu yang tragik mengingatkan kita pada masa lalu.
Film “Bila Esok Tiada” dimulai dengan kematian Haryo (Slamet Rahardjo), suami atau ayah yang meninggal. Ia meninggalkan istrinya, Rahmi (Christine Hakim), dan empat anaknya: Ranika (Adinia Wirasti), Rangga (Fedi Nuril), Rania (Amanda Manopo), dan Hening (Yasmin Napper). Kepergian Haryo telah mengubah relasi keluarga ini secara perlahan. Rahmi yang merasa sangat kehilangan karena merasa sendirian, tiba-tiba kebingungan menghadapi anak-anaknya yang sibuk bekerja, dan sering bertengkar. Ibu tampak lama bergumul dan mencerna frasa kata-kata terakhir dari suaminya.
“Semua harus dijalani secara ikhlas dan sabar.”
Kalimat ini yang paling mengendap, namun sulit diwujudkannya. Sehingga di depan anak-anaknya, ibu tampak sabar, namun sebenarnya ibu adalah orang yang rapuh. Kerapuhannya ini hanya bisa ia ceritakan pada adiknya, atau pura-pura ditutupinya.
Baca Juga: “Please Look After Mom”, Ternyata Kita Tidak Terlalu Dekat Dengan Ibu
Dalam sebuah pesta ulang tahun ibu yang ke-65, hampir semua anaknya lupa jika hari itu adalah ulangtahun ibu. Ranika, sibuk meeting di kantor, Rangga sibuk mengejar deadline sebagai pemusik baru. Rania sibuk syuting dan Hening sibuk bergaul dan pacaran.
Malam hari, mereka baru datang dan berkumpul. Kedatangan ini sebenarnya sangat terlambat karena ibu sudah merasa lelah, sudah memasak dan menyediakan sesuatu yang istimewa dari pagi, lelah karena ia merasa sendirian di rumah, tak ada lagi Haryo yang selama ini menemaninya.
Ketika anak-anaknya datang di ulang tahunnya pun, semuanya bertengkar. Ranika, anak tertua yang merasa diminta ayahnya untuk mengurus rumah dan masa depan adik-adiknya, marah karena Rangga masih menganggur, padahal Rangga harusnya bisa membantu ibu. Ia juga menegur Rania yang selalu sibuk syuting dan lupa pulang ke rumah menengok ibu.
Sedangkan Rangga dan Rania selalu merasa jika Ranika adalah anak sulung yang otoriter, semua diatur dan situasi ini membuat kondisi keluarga makin tidak nyaman. Rangga, yang menganggur sering merasa tidak tahu bagaimana keluar dari situasi ini secara ekonomi, sedangkan Rania dan Ranika sering sibuk dengan karirnya, dan Hening sibuk kuliah dan bergaul dengan pacarnya.
Ibu, merasa sedih secara mendalam melihat pertengkaran di ulang tahunnya ini. Peristiwa ini kemudian selalu menjadi refleksi bagi ibu karena dulu ketika ada Haryo, mereka bisa menyelesaikan ini berdua.
“Apakah ini yang dinamakan ikhlas dan bersabar sampai melepas semuanya?.”
Baca Juga: Film ‘Mothers’ Instinct’ Peliknya Persahabatan Perempuan dan Kehidupan Ibu Rumah Tangga
Sampai kemudian ibu tiba-tiba sakit. Ia mulai merindukan Haryo, suaminya, mulai merindukan orang yang selalu mengajaknya bicara. Ia ingin anaknya tak lagi bertengkar dan bisa bersatu, tapi apa daya. Ketidakharmonisan ini membuat kondisi kesehatan ibu makin lama makin memburuk.
Dari perspektif gender, film ini mencoba mengangkat beberapa persoalan, seperti sulitnya jadi single mother, walau anak-anak sudah besar. Namun mengatasi hubungan ibu dan anak ternyata tak pernah mengenal umur, karena konflik bisa saja terjadi tanpa batasan usia. Ibu juga ditampilkan sebagai sosok yang kebingungan menghadapi anak-anaknya, ini menunjukkan betapa besar pengaruh dan ketergantungan mereka pada laki-laki ayah dalam rumah tangga, sehingga ketika ditinggalkan, banyak perempuan yang sering kebingungan dengan kondisi ini.
Hal lain, Ranika yang sibuk mengurus keluarga sampai usianya 42 tahun dan tidak menikah, juga terus-terusan dihadapkan pada banyak pertanyaan: mengapa sudah 42 tahun, tapi tidak menikah? Hal-hal yang membuat perempuan usia 42 tahun merasa sesak nafas untuk menjawabnya.
“Apakah pertanyaan yang sama akan juga akan ditujukan pada laki-laki yang tidak menikah dan mengejar karir?,” kata Ranika dalam sebuah wawancara podcast.
Baca Juga: ‘The Platform 2’: Gambaran Kapitalisme yang Terus “Membunuh” Kalangan Menengah ke Bawah
Juga ada persoalan lain yang dialami Rangga yang idealis dalam bekerja namun sulit dapat pekerjaan. Persoalan ini juga merembet ke istri Rangga dengan emosi-emosi Rangga atas tuntutan bahwa laki-laki harus punya pekerjaan dan menghidupi keluarga.
Kompleksitas masalah dan pengemasan cerita dalam film yang menyentuh ini membuat cerita sederhana yang biasa terjadi ini bisa menjadi ruang reflektif soal bagaimana relasimu dengan ibumu? Apakah baik-baik saja dan kamu bisa tetap berkomunikasi di saat konflik? Atau kamu saling meninggalkan karena tak bisa menyelesaikan kerumitan yang sudah terjadi selama bertahun-tahun?
Film “Bila Esok Ibu Tiada” yang ditulis dari adaptasi novel karya Nuy Nagiga dan naskah film nya ditulis oleh Oka Aurora ini bisa menjadi refleksi tentang relasi ibu dan anak dengan segala kesibukan dan orientasi hidup yang berubah.
Jadi, jika kamu merasa relasimu dengan ibumu sedang kritis, kamu jadi punya referensi yang bisa kamu pelajari, dari film ini.
(sumber foto: Leo Pictures)






