‘The Platform 2’: Gambaran Kapitalisme yang Terus “Membunuh” Kalangan Menengah ke Bawah

Di penjara distopia para tahanan harus berjuang untuk bertahan hidup melawan seorang pemimpin dan pengikutnya yang kejam. The Platform 2 merupakan alegori atas ketidakadilan sosial yang terjadi di masyarakat.

Ungkapan “tajam ke bawah, tumpul ke atas” bisa dibilang familiar di telinga masyarakat Indonesia. Kalimat ini sering dipakai untuk menggambarkan kondisi penegakan hukum yang lebih memihak kalangan atas dan/atau penguasa daripada kalangan bawah atau rakyat jelata.

Frasa tersebut menjadi deskripsi yang tepat untuk menggambarkan kisah Perempuan (Milena Smit) dan para tahanan dalam film The Platform 2.

Menyusul kesuksesan The Platform yang rilis pada 2019, sutradara Galder Gaztelu-Urrutia kembali menggarap film lanjutannya yang diberi judul The Platform 2. Galder adalah sosok dibalik suksesnya The Platform, film bergenre thriller, horor, dan sci-fi yang berhasil meraih 82,8 juta penonton di Netflix.

Menilik judulnya penonton akan berasumsi kalau The Platform 2 merupakan sekuel dari film sebelumnya. Namun terdapat satu karakter yang ada di film sebelumnya dan karakter ini diceritakan sudah mati terbunuh. Karena itu bisa dibilang film ini merupakan prekuel. Akan tetapi di bagian akhir film, alur waktunya begitu tidak jelas sehingga bisa jadi salah satunya. Apapun itu tidaklah terlalu signifikan.

Baca juga: ‘Love in The Big City’: Persahabatan Dua Orang Kesepian di Kota Besar

Masih dengan premis yang sama, The Platform 2 berkisah tentang kehidupan para tahanan di penjara yang disebut sebagai the Pit. Tak seperti penjara pada umumnya, penjara itu dibangun dengan bentuk vertikal dan tanpa jeruji. The Pit memiliki total 333 lantai atau level. Tiap level dihuni oleh 2 orang tahanan. Jadi seluruhnya ada 666 orang tahanan yang tinggal di the Pit.

The Platform 2 mengangkat cerita mengenai para tahanannya yang berusaha bertahan hidup dengan sistem pemberian makan yang tidak adil. Makanan akan diturunkan setiap harinya, yaitu berupa sebuah meja penuh makanan yang akan turun dan berhenti pada setiap level.

Para tahanan di tiap level diberi waktu sekian menit untuk memakan makanan yang ada. Tentunya, ketidakadilan pun muncul dikarenakan makanan turun menyesuaikan bentuk penjara yang vertikal. Akibatnya tahanan yang berada di level paling atas akan mendapatkan makanan paling banyak. Sedang tahanan dengan level makin bawah pun akan mendapatkan bagian makanan ‘sisa’. 

Kritik Sosial Terhadap Kapitalisme

Konflik pun timbul di antara para tahanan, khususnya tahanan dengan level menengah hingga bawah, yang merasakan ketidakadilan atas pembagian makanan. Banyak dari para tahanan yang tidak mendapatkan makanan apapun selama berhari-hari. Ini akibat ketamakan para tahanan level atas yang menghabiskan seluruh makanan tanpa memikirkan mereka yang berada di level bawah.

Demi bertahan hidup, dinamika antar tahanan pun dibumbui dengan berbagai usaha yang diciptakan oleh para tahanan di dalam Pit agar pembagian makanan dapat dirasakan secara adil hingga mencapai tahanan pada level paling bawah. 

Para tahanan pun melakukan pembagian kerja dan menciptakan aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh setiap tahanan. Aturan utama yang harus dipatuhi adalah setiap orang tidak boleh memakan makanan yang bukan pesanannya. Sebelum memasuki penjara vertikal tersebut, setiap tahanan ditanya pilihan makanan yang ingin dimakan selama di penjara. Siapapun yang melanggar aturan itu, maka akan diberi hukuman oleh kelompok yang disebut sebagai ‘The Loyalist’. Kelompok ini dipimpin oleh beberapa orang yang disebut sebagai ‘The Anointed One’

Mulanya, aturan itu tentu dirasa bertujuan baik, yaitu agar setiap tahanan di seluruh level mendapatkan jatah makanan secara adil. Namun, Perempuan (Milena Smit), sang tokoh utama, merasakan berbagai kejanggalan dari aturan-aturan yang diciptakan oleh para Loyalist ini. Bukan keadilan yang tercipta, tetapi makin terlihat ketamakan dari mereka yang berada di level atas. Selain itu kelompok Loyalist yang dipimpin oleh Anointed One melakukan power abuse

Kelas Menengah ke Bawah yang Terus Jadi Korban

Mengangkat nilai-nilai sosial yang menunjukkan adanya kesenjangan antar kelas, kejamnya kapitalisme yang terus menerus “membunuh” masyarakat kelas menengah hingga bawah pun digambarkan dalam film dengan durasi kurang lebih 1 jam 40 menit ini. 

Kejahatan yang muncul akibat sistem yang tidak manusiawi menjadi akar utama dari segala konflik antar tahanan di dalam Pit. Film ini pun menunjukkan realitas sosial bahwa akibat dari ketidakadilan yang diterapkan oleh sistem, maka akan timbul konflik-konflik lain, khususnya konflik horizontal antar tahanan. 

Penonton diperlihatkan berbagai usaha solidaritas yang dibangun antar tahanan untuk menciptakan kehidupan yang adil dan sejahtera bagi setiap tahanan. Seperti kelompok revolusi yang membuat rantai komunikasi dibangun dengan baik guna kelancaran pergerakan yang diciptakan oleh para tahanan. Namun, aturan-aturan yang diciptakan nyatanya malah membuat suatu konflik baru.

Terdapat kelompok yang disebut sebagai Barbarian, yaitu mereka yang menolak patuh pada aturan-aturan yang diciptakan oleh para Loyalist. Kelompok-kelompok inilah yang kemudian saling berseteru mempertahankan ideologinya masing-masing. 

Dibumbui dengan banyak adegan keji, seperti kanibalisme dan berbagai adegan kekerasan, The Platform 2 menunjukkan bagaimana kondisi ketika manusia dihadapkan dengan ketidakadilan yang memengaruhi kesejahteraan hidupnya. Sebuah realitas sosial tentang bagaimana manusia dapat ‘saling membunuh’ sebagai akibat dari gagalnya sistem untuk memberikan kesejahteraan dan kehidupan yang layak bagi setiap kalangan. 

Kesenjangan antar kelas yang ada membuat mereka yang hidup di level atas dapat hidup nyaman. Sementara mereka yang hidup di level menengah hingga ke bawah hidup dihantui dengan kelaparan. 

Berbagai konflik horizontal yang terjadi menunjukkan kebijakan-kebijakan yang diciptakan oleh mereka yang berada di level atas bukan tercipta demi kesejahteraan seluruh kalangan. Tetapi untuk memakmurkan mereka-mereka yang egois dan haus akan kekuasaan juga harta.

Foto: imdb.com

Vanya Annisa Shizuka

Reporter magang Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!