Surga (Tak Cuma) di Bawah Telapak Kaki Ibu, Narasi ‘Ibu Sempurna’ Abaikan Rumitnya Kehidupan Perempuan

Kiasan ‘surga di bawah telapak kaki ibu’ muncul dari stereotipe perempuan sebagai ibu yang harus ‘sempurna’, terutama di ruang domestik. Surga mungkin ada di bawah telapak kaki ibu, tapi tanggung jawab atas masa depan ada di tangan semua orang.

‘Surga ada di telapak kaki ibu’—katanya. Kiasan tersebut menunjukkan betapa kuat nilai kemuliaan sosok ibu, terutama di Indonesia. Ibu disimbolkan sebagai manusia yang punya peran vital dalam keluarga dan masyarakat. Ketika berbicara mengenai ibu, gambaran yang muncul kerap lekat dengan citra insan yang pengayom, lemah lembut, pengasuh utama, pelindung, serta sumber kasih sayang.

Ibu di mata masyarakat ditempatkan sebagai seseorang yang tidak pernah menuntut balas atas setiap pengorbanan yang dilakukan. Ibu adalah garda terdepan di suatu keluarga, rela mengesampingkan kebutuhannya sendiri demi mengutamakan keluarga. Seorang ibu, menurut konstruksi sosial, haruslah memprioritaskan stabilitas keluarga. 

Narasi yang berkembang dalam banyak budaya ini pun mewujud sebagai pedoman moral dan etika yang diamini masyarakat. Ibu didapuk untuk mendidik karakter anak. Keridhoan ibu  menjadi bekal utama untuk masa depan anak.

Membincangkan tentang sosok ibu juga tidak bisa dilepaskan dalam konteks spiritual. Ibu dianggap sebagai perpanjangan tangan kehadiran Tuhan di dunia. Dengan begitu, cinta kasih yang dicurahkan ibu tidak boleh bersyarat, harus dilandasi atas nilai keikhlasan dan kemuliaan. Ibu beralih rupa sebagai simbol harapan, ketulusan, serta kekuatan.

Baca Juga: Perempuan Dituntut Menjadi Ibu Ideal, Tapi Tak Pernah Ada Tuntutan Untuk Bapak Ideal

Sosok ibu pun dimaknai secara biologis. Masyarakat menafsirkan ibu sebagai ‘pencetak generasi’ dan selanjutnya bertugas untuk memberikan dukungan emosional kepada anak-anak yang mereka lahirkan. Ibu tak tergantikan dalam membangun masa depan masyarakat—dan pernyataan itu muncul ketika berbicara tentang peran perempuan dalam proses reproduksi.

Dari dogma itulah berkembang konsensus yang menuntut masyarakat untuk memberikan penghargaan tinggi kepada para ibu. Anak-anak diajarkan untuk patuh dan menjalankan setiap perintah yang keluar dari mulut ibu. Apa yang disampaikan ibu adalah benar adanya, tanpa perlu dipertanyakan kembali. Pernyataan ibu mutlak tepat dan apabila dilanggar akan membawa malapetaka bagi anak. Ketika seorang anak berbakti dan menuruti setiap titah dari ibu, maka surga menjadi jaminan baginya. Iming-iming spiritual ini tidak terlepas dari tertanamnya doktrin ‘surga di bawah telapak kaki ibu’. 

Baca Juga: Marriage is Scary: Respons Langgengnya ‘Ibuisme’ di Era Kini

‘Surga di bawah telapak kaki ibu’ mengandung makna kiasan yang terbentuk dari konstruksi dari masyarakat. Konstruksi ini bermula dari media dan masyarakat yang membungkus peran perempuan yang ideal. Perempuan dituntut untuk hanya berfokus pada ranah domestik, mengurus dapur keluarga sampai membersamai tumbuh kembang anak secara utuh. Perempuan yang berani mendobrak bingkai tersebut, entah karena keinginan sendiri atau memang keadaan memaksa, dianggap telah mencederai fungsi ibu yang sangat mulia di mata masyarakat. 

Oleh karena itu, ibu seolah-olah ditempatkan di puncak tataran struktur sosial. Apa yang menjadi ujaran ibu adalah mandat dan akan ada ganjaran bagi yang mematuhinya. Ganjaran itu dirancang dalam rupa tujuan final yang selama ini dikejar manusia, yakni surga. Dengan tidak membangkang kepada ibu dan memperlakukan ibu dalam derajat kehormatan tertinggi, itu merupakan cara jitu mencapai kesempurnaan hidup: yakni masuk surga.

Ekspektasi ‘Ibu Sempurna’ dan Dampaknya Pada Anak

Lalu, bagaimana nasib anak-anak yang tidak mendapatkan kesempatan untuk bertumbuh dengan kehadiran ibu dalam sosok yang ‘sempurna’? 

Realitas ini mengingatkan kita bahwa ada banyak anak yang tidak bisa merasakan kehangatan eksistensi seorang ibu dalam hidupnya. Namun, penting untuk memahami bahwa pandangan kita tentang ‘ibu sempurna’ sering kali dibangun oleh narasi yang tidak selalu mencerminkan keragaman dan kompleksitas kehidupan perempuan. Tidak semua perempuan diberi kesempatan atau dukungan untuk menjalankan peran sebagai ibu secara ideal.  

Anak-anak di panti asuhan, misalnya, sering kali menjadi korban dari sistem sosial yang tidak memadai dalam mendukung perempuan—baik sebagai individu maupun sebagai ibu. Ada perempuan yang mungkin terpaksa meninggalkan anak mereka karena tekanan ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, atau stigma sosial yang menghukum mereka atas pilihan atau kondisi yang di luar kendali. Tindakan ini sering dilihat sebagai kejam, tetapi jarang kita bertanya: apa yang membuat seorang ibu sampai pada keputusan itu? Apakah ia memiliki pilihan lain?  

Baca Juga: “Please Look After Mom”, Ternyata Kita Tidak Terlalu Dekat Dengan Ibu

Dalam kunjungan ke panti asuhan, saya sering menjumpai cerita memilukan tentang anak-anak yang ditinggalkan tanpa identitas. Namun, apakah adil jika kita hanya melihat ibu mereka sebagai ‘monster tanpa perasaan’? Sebaliknya, kita perlu melihat masyarakat yang telah gagal menyediakan dukungan yang cukup bagi perempuan untuk menjalani peran ibu. Menjadi ibu bukanlah tugas yang mudah, apalagi di tengah tuntutan dan stigma sosial yang sering membebani perempuan tanpa memberikan ruang untuk kesalahan atau kegagalan.

Anak-anak yang ditelantarkan atau menjadi korban kekerasan dari ibu mereka adalah refleksi dari permasalahan yang lebih besar. Bukan semata-mata kesalahan individu perempuan tersebut. Kekerasan dan penelantaran adalah hal yang tidak bisa dibenarkan. Tetapi memandang ibu sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab, hanya akan mengabaikan konteks sosial, ekonomi, dan psikologis yang memengaruhi keputusan mereka.  

Baca Juga: Film ‘Mothers’ Instinct’ Peliknya Persahabatan Perempuan dan Kehidupan Ibu Rumah Tangga

Kemudian, muncul pertanyaan lain: apakah anak-anak yang tidak bisa mengabdikan diri kepada ibu masih bisa mencapai kebahagiaan atau ‘surga’? Itu adalah pertanyaan yang menyederhanakan pengalaman mereka. Anak-anak yang terluka oleh tindakan ibu mereka juga berhak untuk mendapatkan dukungan dan cinta dari orang lain. Mereka berhak membangun kehidupan yang bermakna tanpa dibebani oleh kewajiban yang lahir dari trauma.

Narasi yang berpihak pada perempuan seharusnya tidak hanya merayakan ibu sebagai sosok sempurna. Tetapi juga membuka ruang untuk memahami perjuangan, kesalahan, dan kerentanan mereka. Dengan cara ini, kita tidak hanya membela anak-anak. Tetapi juga memperjuangkan hak-hak perempuan untuk didukung, dipahami, dan dihormati sebagai manusia yang juga memiliki keterbatasan.

Sehingga, apakah surga selamanya di bawah telapak kaki ibu? Tentunya boleh kita jawab, surga tidak cuma di bawah telapak kaki ibu. Banyak jalan untuk menggapai surga. Caranya bermacam-macam. Misalnya, seorang anak di panti asuhan bisa berbakti kepada para pengurus di sana karena merekalah yang berjasa dalam hidupnya.

Menghapus Stereotipe Gender

Pemikiran surga di bawah telapak kaki ibu, ikut menyuburkan stereotipe gender dan mengabaikan kesetaraan. Dengan demikian, masyarakat harus mulai menetapkan kerangka pikir baru bahwa surga tidak semata di telapak kaki ibu. Penting untuk membagi peran bersama dalam keluarga agar tidak ditimpakan kepada ibu semata. Semua anggota keluarga, baik ibu atau ayah sama-sama punya tanggung jawab dalam mengasuh, merawat, dan mendidik anak. 

Masyarakat pun harus ditanamkan pemahaman mengenai nilai-nilai egaliter supaya tidak terkungkung pada anggapan bahwa ibulah yang menanggung beban untuk membentuk masa depan keluarga. Padahal, semua individu berperan penting juga, tanpa memandang jenis kelamin. Dengan begitu, pengakuan terhadap kontribusi setiap individu tetap ada dan mendorong penghapusan stigma yang merugikan. Hubungan keluarga pun terjalin lebih sehat dan berdaya.

Baca Juga: Perempuan Hadapi Paksaan Sosial untuk Menjadi Ibu, Padahal Punya Anak atau Tidak Itu Pilihan

Kita harus mengubah perspektif mengenai keadilan peran perempuan dan laki-laki di keluarga. Ini agar dapat menuju tatanan keluarga yang seimbang dan memberi ruang pada tiap individunya untuk bertumbuh kembang. Surga pun bisa ditemukan tidak melulu di bawah telapak kaki ibu. Tapi bersumber dalam tindakan mereka sendiri yang mewujud lewat tindakan kasih sayang serta raihan pencapaian. Pemaknaan atas jalan masing-masing dalam mencapai kebahagiaan semakin dihargai.

Shela Kusumaningtyas

Mahasiswa Pascasarjana Komunikasi Universitas Indonesia
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!