Kalau kita membahas perempuan-perempuan yang punya pengaruh dan peran besar terhadap masyarakat di zamannya, nama-nama seperti Dewi Sartika dan Kartini tentu sudah kita kenal. Baik Dewi Sartika maupun Kartini berkontribusi terhadap kemajuan perempuan di tanah air lewat upaya mereka mendorong pendidikan bagi perempuan.
Mereka hidup di era modern, tetapi jauh sebelumnya ada figur-figur perempuan nusantara yang juga berperan sebagai Srikandi-Srikandi dalam perjuangan perempuan. Penelitian dan publikasi tentang hal ini sudah ada beberapa. Seperti buku yang ditulis Peter Carey dan Vincent Houben yang berjudul Perempuan-Perempuan Perkasa: di Jawa Abad XVIII-XIX. Buku tersebut mengungkap sosok perempuan-perempuan yang hidup satu era sebelum Kartini dan Dewi Sartika.
Lewat bukunya Carey dan Houben mengungkap fakta yang berbeda dari anggapan umum tentang sosok perempuan Jawa. Kedua sejarawan tersebut menulis tentang perempuan-perempuan yang berasal dari kalangan bangsawan di Jawa Tengah Selatan. Para perempuan tersebut terlibat dalam kehidupan politik, militer dan bisnis, bidang yang dipandang sebagai ranah laki-laki.
Baca Juga: Mengkaji Ulang Sejarah Gerakan Perempuan Indonesia
Carey mencatat pasukan pengawal Raja Jawa Tengah Selatan adalah perempuan, bukan laki-laki. Selain itu perempuan bangsawan seperti Ratu Ibu (Kedaton) pada zaman anaknya, Hamengkubuwono IV (1814-1822) dan Nyi Ageng Serang (1762-1855) punya peran yang sangat menonjol. Terutama dalam peran seperti pendidik anak bangsawan dan ahli waris leluhur. Sebagai contoh Ratu Ageng (emban Diponegoro).
Ratu Ageng merupakan mantan panglima pasukan Srikandi (prajurit estri/perempuan) dan permaisuri Sultan Mangkubumi (Hamengkubuwono/HB I). Ia mengasuh Diponegoro di Tegalrejo selama 10 tahun (1793-1803). Dari biografi Diponegoro kita bisa mengetahui Ratu Ageng adalah perempuan yang tegas. Seperti pengakuannya dalam Babad Diponegoro bahwa Ratu Ageng sosok yang menakutkan kalau memberi perintah.
Menurut Carey, selain menguasai bidang militer, Ratu Ageng juga mendalami ilmu agama, ia termasuk salah satu pemuka tarekat Shattariyah di Keraton Yogya pada zaman Hamengkubowono I (1749-1792). Ia mewariskan kesalehannya dan kegemarannya atas ajaran Sufi Islam kepada Diponegoro (cicitnya).
Baca Juga: ‘They Call Me Babu’: Sejarah Perempuan Tak Terdengar Di Masa Kolonial
Ratu Ageng juga merambah urusan bisnis. Ia menjual hasil sawah di Tegalrejo, hingga ke Semarang dan Sumbawa. Setiap tahun ia memasok sekitar 50 ton beras.
Ada juga Raden Ayu Yudokusumo salah satu panglima kavaleri Diponegoro. Ia seorang perempuan cerdas yang punya kemampuan dan siasat jitu. Ia kemudian bergabung dengan Raden Tumenggung Sosrodulogo di daerah Jipang-Rajegwesi dalam perlawanan terhadap kolonial Belanda di pesisir utara.
Sosok perempuan-perempuan ini menunjukkan pada masanya perempuan turut andil dalam urusan-urusan yang berkaitan dengan kepentingan orang banyak. di ranah publik. Mereka punya kapasitas dan kemampuan di berbagai bidang.
Mengenal Sosok Batari Hyang Janapati
Jauh sebelumnya, tepatnya pada abad ke-12, telah ada sosok perempuan yang punya kemampuan dan pengaruh besar juga. Salah satunya adalah Batari Hyang Janapati, seorang ratu yang memerintah kerajaan Galunggung, di Jawa Barat.
Ia naik tahta menggantikan suaminya, penguasa Kebataraan Galunggung, yakni Resiguru Sukadarmawisesa yang memilih jalan hidup untuk mendalami keagamaan dengan menjadi seorang Resi. Sukadarmawisesa menyerahkan tahtanya kepada istrinya, Dewi Citrawati, yang ketika dinobatkan namanya menjadi Batari Hyang Janapati.
Sebutan ‘Batari Hyang’ sebagai penguasa Galunggung berkaitan erat dengan predikat ‘Batari’ yang digunakan untuk menyebut seseorang yang tinggi martabatnya dalam bidang keagamaan.
Elis Suryani dalam artikelnya berjudul “Batari Hyang Janapati dalam Perspektif Gender“ yang diterbitkan Jurnal Jentera (2017) menjelaskan predikat batari tersebut. Kebatarian yang dimilikinya berkenaan dengan kedudukannya sebagai ‘guru agama’ yang digelari Sang Sadu Jati bagi rakyat dan raja-raja keturunannya. Karena itu ajarannya dijadikan ajaran resmi pada masanya di Galunggung.
Baca Juga: Catatan Sejarah Tentang Kiprah Perempuan Minim, Feminisme Dobrak Situasi Itu
Atja, dkk (1989) seperti dikutip Elis, menjelaskan posisi Batari Hyang Janapati sebagai guru agama ditemukan dalam naskah Amanat Galunggung. Naskah itu mengungkapkan bahwa di Kabuyutan Galunggung, ditemukan ‘patilasan’ semacam ‘mandala’ berupa padepokan/perguruan.
Pada masa itu padepokan terkenal sebagai tempat perguruan yang didalamnya terdapat aktivitas-aktivitas pendidikan. Kemudian, padepokan tersebut menjadi sebuah karesian yang digunakan pelajar-pelajar/santri-santri untuk menimba ilmu sehingga memperoleh kekuatan lahir dan batin. Aktivitas pendidikan dan pembelajaran terus berlanjut, yang kemudian dikenallah Kabuyutan Galunggung sebagai kabuyutan terbesar di bumi Galunggung yang menjadi kiblat penempaan jiwa dan menyiapkan ilmuwan serta agamawan yang andal.
Upaya Batari Hyang Janapati memajukan pendidikan masyarakatnya dengan mendirikan padepokan menjadi dasar bagi kemajuan pendidikan di Tasikmalaya. Tak ayal, beberapa abad kemudian Tasikmalaya dijuluki sebagai kota santri yang menjadi tempat penimbaan pengetahuan yang banyak digandrungi oleh pemikir-pemikir dari daerah lain di luar Tasikmalaya.
Baca Juga: Fransisca Fanggidae, Pahlawan Perempuan yang Dihilangkan Dalam Sejarah
Batari Hyang Janapati dikenal sebagai Ratu Galunggung yang cerdas dan perkasa sekaligus panglima perang yang andal. Pada masa pemerintahannya Batari Hyang Janapati membangun parit atau benteng pertahanan Rumatak.
Pembuatan parit pertahanan ini didasari kekhawatiran atas kemungkinan datangnya serangan dari Kerajaan Sunda yang dipimpin Prabu Langlangbumi. Sebenarnya masih ada hubungan kekerabatan antara Prabu Langlangbumi dengan Batari Hyang Janapati karena sang prabu menikah dengan kakak Batari Hyang, yakni Dewi Puspawati.
Elis menjelaskan untuk mencegah adanya kemungkinan serangan, Batari Hyang Janapati membentuk angkatan perang dan membangun parit pertahanan. Setelah itu Batari Hyang menjadikan pusat Kerajaan Galunggung sebagai ibukota Kerajaan Galuh. Ia lalu membuat prasasti yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Geger Hanjuang.
Baca Juga: Beragamnya Makanan Saat Lebaran; Jangan Remehkan Peran Perempuan
Prasasti itu menyebutkan Rumatak sebagai ibukota kerajaan dan Batari Hyang Janapati sebagai penguasanya. Rumatak yang dimaksud oleh Prasasti Geger Hanjuang adalah ibukota yang baru untuk Kerajaan Galuh.
Lewat kemampuannya bernegosiasi Batari Hyang Janapati berhasil membuat kesepakatan dalam perundingan damai dengan Prabu Langlangbumi. Hasil kesepakatan tersebut Jawa Barat kembali dibagi menjadi dua wilayah kekuasaan. Sebelah barat sebagai Kerajaan Sunda, di bawah kekuasaan Prabu Langlangbumi bersama permaisurinya. Sedang sebelah timur sebagai Kerajaan Galuh, di bawah kekuasaan Batari Hyang Janapati, dengan ibukotanya di Galunggung.
Melihat Situasi Sezaman dan Perlunya Belajar dari Para Pendahulu
Sementara di belahan lain, pada abad ke-12 tepatnya tahun 1100 ke atas, Eropa mulai mengalami peningkatan tajam dalam perkembangan teknologi. Inovasi dalam peningkatan alat produksi yang akan berkontribusi pada sektor ekonomi terus didorong. Di sisi lain penemuan meriam dan bubuk mesiu juga berkontribusi dalam perang dunia pertama. Meski derap kemajuan mewarnai kehidupan masyarakat Eropa, tetapi tatanan masyarakat yang feodal dan terfragmentasi masih bertahan.
Karakteristik paling penting masyarakat Eropa abad itu adalah struktur hierarkisnya. Dominasi gereja yang begitu kental punya dampak panjang yang membuat Eropa mengalami era kegelapan (the dark age). Namun, kala itu di dataran Eropa juga muncul figur perempuan yakni Eleanor.
Di dunia bagian Timur, andaikata kita hidup pada abad ke-12, maka kita bisa menikmati kemajuan ilmu pengetahuan dan kejayaan umat Islam dalam teknologi dan siyasah ataupun ketatanegaraan. Ekspansi besar-besaran dalam rangka berdakwah dengan damai sebagai anjuran Nabi Muhammad SAW telah memberikan citra pada dunia mengenai kebesaran islam.
Baca Juga: Tahukah Kamu: Mengapa 8 Maret Diperingati Sebagai Hari Perempuan Internasional?
Seiring dengan Terutama ketika pemikir-pemikir seperti Ibnu Sina, Al Khawarizmi, dan yang lainnya menyebarkan gagasan-gagasan intelektualnya. Namun situasi itu berubah ketika perpustakaan Baghdad dibumihanguskan dan semenjak itulah negeri Timur mengalami era kegelapan.
Meski begitu setiap zaman akan muncul sosok-sosok perempuan yang berperan sebagai penggerak atau pendorong perubahan bagi masyarakatnya. Situasi dan tantangan yang dihadapi akan berbeda karena itu langkah dan strategi yang mereka juga akan menyesuaikan konteksnya.
Hari ini, sejumlah figur yang berperan dalam perubahan sosial mudah kita jumpai. Biografi tokoh yang ditulis mudah sekali kita temukan dalam catatan-catatan ataupun buku. Pengenalan terhadap tokoh bisa menjadi referensi baru baik untuk kepentingan akademis maupun individu. Misalnya untuk memperluas pengetahuan entah terkait aspek pemikiran ataupun aktivisme dari tokoh tersebut.
Kemudahan akses terhadap hal tersebut membuka ruang pandang kita bahwa pola perubahan yang ditawarkan bukan hanya terpaku pada satu aspek saja. Bahkan kita bisa menyelisik lebih dalam dengan cara yang variatif sebagai pengembangan dari pemikiran dan gagasan tokoh-tokoh pendahulu kita. Dengan membaca, cara pandang kita jadi makin luas.
Editor: Anita Dhewy
(Foto: Historiana)






