Selama ini hubungan romantis dan seksual yang kita kenal secara umum dan menjadi arus utama di Indonesia terajut dalam bentuk monogami atau sepasang kekasih/dua orang saja. Hanya sedikit yang menjalani bentuk hubungan non-monogami. Pernikahan poligami, misalnya.
Biasanya bentuk ikatan pernikahan poligami di Indonesia cenderung didominasi oleh laki-laki. Di mana seorang laki-laki menjalani hubungan dengan beberapa perempuan, sebaliknya perempuan-perempuan itu hanya menjalani hubungan dengan satu laki-laki.
Namun, bagaimana jika ada bentuk hubungan romantis dan seksual yang terjalin lebih dari dua orang, bukan dalam ikatan ketat seperti pernikahan dan terjalin secara setara, tetapi berdasarkan konsensual?
Novel karya Mayesharieni, Mateo (2022) mengisahkan persoalan tersebut dengan pencerita sekaligus protagonisnya seorang perempuan. Di mana gambaran akan lika-liku perempuan yang menjalani hubungan terbuka (open relationship) disajikan secara dekat. Hubungan terbuka secara sederhana bisa dikatakan sebagai ikatan di mana seseorang memiliki lebih dari satu pasangan, serta orang-orang yang berada dalam jalinan tersebut saling terbuka dan mengetahui.
Baca Juga: ‘Menua dengan Gembira’: Menyelami Kehidupan Warga Suburban Jakarta Dengan Santai
Keterbukaan di antara orang-orang yang terlibat membuat jaring hubungan yang mereka bentuk menjadi konsensual dan etis. Dalam novel ini, sang protagonis bernama Dia, melakoni ikatan dengan dua orang laki-laki sekaligus. Seolah menantang arus umum tentang posisi perempuan yang selama ini selalu didominasi dalam bentuk jalinan non-monogami (seperti pernikahan poligami).
Protagonis dalam novel menjalani hubungan terbuka yang tidak mudah. Suatu soal yang melibatkan perasaan emosional yang mendalam, proses penerimaan, serta kerumitan yang meliuk. Diceritakan bahwa Dia menjalin hubungan, baik secara emosional maupun seksual dengan guru les Bahasa Spanyolnya bernama Mateo. Hubungan itu awalnya bersifat rahasia. Paling tidak, awalnya, Bayu yang merupakan pacar Dia belum mengetahui. Sementara itu, Mateo sendiri sudah memiliki Lucia, kekasih di kota asalnya Madrid. Pada pertengahan cerita, diketahui Bayu juga menjalani ikatan dengan perempuan lain bernama Gea.
Hubungan setiap tokoh dalam novel ini bercabang. Bisa dibayangkan betapa melelahkan apa yang dialami oleh sang protagonis. Di dalam novel, digambarkan Dia begitu tertarik dan terpikat dengan Mateo. Pada mulanya ia sudah mengambil kursus di lembaga bahasa yang lain, tetapi karena tertarik dengan Mateo, ia pun pindah. Ketertarikan yang mendekati gairah obsesi tersebut digambarkan sebagai berikut:
“Aku sangat menyukainya sejak kami belum berkenalan. Aku melihat Mateo pertama kali di akun instagram milik lembaga bahasa tempatnya bekerja. Sejak saat itu aku suka dan sangat ini berkenalan dengannya (h. 2). ”
Setelah pindah tempat kursus bahasa, Dia bukan hanya sebatas menjadi murid Mateo. Melangkah lebih jauh, ia juga menjalin sebuah ikatan sebagai pasangan kekasih. Hubungan tersebut oleh Mateo disebut lover. Suatu hubungan yang tidak seintens atau seerat berpacaran (boy/girl friend), dan lebih mirip friend with benefits (FWB). Namun dengan intensitas melibatkan perasaan cinta yang mendalam. Tidak hanya sekadar tempat mengambil keuntungan semata atau berenang-senang.
Baca Juga: ‘Paya Nie’: Belenggu Patriarki Perempuan Aceh Di Masa Konflik
Mereka selalu bertemu seminggu sekali di apartemen Mateo. Di mana luapan emosi dan pikiran dicurahkan satu sama lain, serta aktivitas seksual dilakukan. Namun, dalam hari-harinya di Indonesia, Mateo menyempatkan pulang ke Madrid, Spanyol tempat asalnya. Ia pergi dalam jangka waktu satu bulan lebih, bertemu dengan Lucia, kekasihnya di sana. Hal itu lantas membuat Dia menjadi gelisah. Ia jatuh ke dalam kerinduan dan perasaan yang jauh, tetapi takut jika Mateo tidak memiliki rasa yang sama atau bertepuk sebelah tangan.
“Aku sangat takut dengan perasaan ini, aku takut memiliki perasaan yang lebih dari sekedar suka kepada Mateo. Aku takut jika hal itu terjadi, dan Mateo tidak menyukainya. Atau mungkin dia akan merasa terganggu karena perasaanku padanya (h. 19).”
Keadaan Dia tidak selamanya baik-baik saja. Memiliki dua orang kekasih, Mateo yang selalu ditemuinya seminggu sekali dan Bayu yang tinggal bersamanya, tidak membuatnya terlepas dari kehampaan. Dalam satu bagian dikisahkan, ia sedang sendiri dan membutuhkan pelukan. Namun, kedua kekasihnya sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Memiliki dua kekasih yang tidak hadir saat momen sepi datang malah menambah bobot dari perasaan kesepian itu sendiri. Ia seperti dua kali lipat harus menahan kesendirian.
Dalam kesendirian, Dia memikirkan posisi kedua kekasihnya itu. Dengan Mateo ia bertemu seminggu sekali. Berpelukan, melakukan aktivitas seksual, serta berbagi cerita yang dapat menghempaskan rasa penatnya. Sementara dengan Bayu, meskipun bertemu setiap hari karena tinggal bersama, anehnya setelah berlalunya waktu, sudah tidak lagi memiliki kebersamaan yang hangat.
Baca Juga: ‘It Ends With Us’, Sorak-Sorai untuk Lily Bloom Yang Berani Memutus KDRT
Banyak dari teman-temannya yang menyarankan untuk mengakhiri hubungan dengan Bayu. Karena kondisi mereka yang sudah tidak seharmonis saat di awal dulu. Namun, baginya hal tersebut tidak mudah. Ia tidak ingin menjalin hubungan baru dari awal yang melelahkan, belum ingin menikah, takut sendirian dan berakhir kesepian. Sebab itu, ia masih mempertahankan hubungan dengan Bayu.
Meski rasa sukanya terhadap Mateo sudah tumbuh. Tetapi, ia takut untuk menanyakannya, dan tidak cukup berani mendengar jawabannya. Ia khawatir tidak bisa lagi bersamanya. Karena Mateo sudah memiliki kekasih dan tidak ada kepastian bahwa ia akan tinggal. Sehingga, baginya, mempertahankan apa yang sudah terjalin dengan Bayu adalah lebih masuk akal.
Suatu hari, Dia pernah memergoki Bayu bersama dengan perempuan lain di tempat tinggal mereka. Ketika ia pulang dari tempat Mateo, di ranjang ada Bayu dan Gea. Menariknya, di sini dengan segala kedewasaan yang ada, mereka membahas masalah tentang hubungan mereka secara langsung.
Pada bagian ini, Dia menunjukkan jika ia sudah tidak terlalu peduli mengenai hubungan mereka. Sehingga ia tidak marah melihat ada perempuan lain tidur dengan Bayu. Di sisi lain, Bayu juga tidak merasa bersalah telah membawa perempuan lain. Karena ia ternyata juga sudah mengetahui bahwa Dia memiliki suatu hubungan yang istimewa dengan Mateo.
Baca Juga: Novel ‘Vegetarian’ Bukan Kisah Sukses Vegetarianisme, Ini tentang Penguasaan Atas Diri Perempuan
Dia kemudian menjelaskan bahwa, selama ini ia tahu Bayu sering bepergian dengan perempuan lain. Di titik perdebatan mereka yang semakin memuncak, Dia menawarkan untuk melakukan hubungan terbuka agar tidak sama-sama saling menyelingkuhi. Supaya apa yang terjalin di antara mereka didasari konsensus yang adil.
Cerita kemudian bergerak lebih jauh. Dia terus bersama dengan Mateo dan tetap dengan Bayu. Jalinannya dengan Bayu melangkah lebih jauh sampai tahap serius. Di mana, orang tua mereka yang saling mengenal menginginkan lebih dari sekadar pacaran. Dalam kacamata arus utama di Indonesia, mereka sebentar lagi menuju tahap pernikahan. Bayu pun menginginkan hal itu, bahkan bersedia menerima dengan bentuk hubungan terbuka yang mereka jalani secara diam-diam. Tentu saja tidak semudah itu bagi Dia untuk menerima ajakan ke jenjang pernikahan.
Baca Juga: “Please Look After Mom”, Ternyata Kita Tidak Terlalu Dekat Dengan Ibu
Bagaimana pun, dalam lika-liku hubungan terbuka yang Dia jalani, ia menyadari sesuatu. Ia sudah sampai babak baru dalam melakoni hubungan yang sudah dibentuknya. Ia mengatakan, “Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa akan menganggap Bayu dan Mateo sama pentingnya untukku. Aku juga akan berusaha untuk tidak mengintervensi hubungan mereka dengan perasaan-perasaanku. Bayu layak bahagia. Mateo layak bahagia. Dan aku juga layak bahagia (h. 74).”
Novel ini telah memberikan wawasan yang berharga mengenai hubungan terbuka. Seperti yang dikatakan Chantal Gautier dalam tulisannya di The Conversation, meski hubungan terbuka kerap diselingi kecemburuan, seperti yang ditujukan Dia terhadap Lucia, pasangan Mateo di Madrid, tapi tetap bisa mengatasinya. Bahkan secara tidak langsung—jika terus membaca sampai akhir novel—Dia dan Lucia tampak seperti sahabat yang saling mengerti.
Menurut Gautier, kecemburuan dalam hubungan non monogami dapat dikelola. Katanya, “Ini karena dalam hubungan non monogami yang aman, terdapat diskusi terbuka mengenai ketertarikan seksual dan penetapan batasan, sehingga pasangan dapat mengatasi kecemasan akan kecemburuan mereka.”
Di luar pembahasan mengenai tema besar yang dihadirkan Mayesharieni dalam novel Mateo ini, terdapat cara penulisan yang sangat blak-blakan atau lugas. Ada banyak penggambaran adegan seks dalam sekujur cerita dari awal sampai akhir, tetapi penulis tidak menutupinya dengan metafora atau perumpamaan.
Adegan seks atau aktivitas seksual ditulis begitu saja, apa adanya. Seperti penyebutan alat kelamin laki-laki dan perempuan, posisi atau gaya dalam bercinta, hasrat seksual dan termasuk rasa emosi yang meluap-lupa digambarkan dengan begitu ringan. Semua itu, seolah-olah menantang pembaca, apakah sanggup menuntaskannya sampai akhir atau tidak.






