Pernikahan pasangan artis tanah air, Luna Maya dan Maxime Bouttier, pada Rabu (7/5) disambut meriah oleh publik. Itu tampak pada postingan warganet di media sosial yang ramai menyukai, memberikan komentar, hingga mengunggah ulang foto serta video pernikahan mereka.
Pasangan yang terpaut usia sepuluh tahunan ini, melangsungkan pernikahan dengan konsep adat Jawa di Bali. Dekorasi, tata ruang, serta hampers acara pernikahan mereka tak luput jadi sorotan karena dinilai ramah lingkungan dan terkonsep dengan baik.
Luna Maya dengan segudang pengalamannya dalam industri hiburan, mulai dari model majalah, bintang iklan, pemain film, presenter acara musik, YouTuber, membuat siapa saja mengenalinya. Dari generasi X hingga generasi Z rasanya pernah mengidolakan sosok perempuan yang satu ini.
Ketika perempuan menjadi terkenal, perempuan kerap menjadi objek komentar kolektif. Komentar yang dilontarkan bukan hanya dari pilihan yang remeh temeh, seperti tampilan, dandanan, bahkan pilihan hidup pun ikut dicampuri warganet.
Memang betul bahwa banyak yang berbahagia atas pernikahan Luna yang booming pekan lalu. Tetapi, kita perlu awas dengan narasi yang dibangun publik atas kebahagiaan pernikahan Luna.
“Bahagia banget, akhirnya seorang Luna Maya menikah”, “Selamat Luna, akhirnya sold out!” “Luna Maya akhirnya laku juga”. Pernyataan tersebut tampak baik-baik saja dan turut berbahagia. Namun, ada subteks yang perlu kita maknai dari ucapan, “akhirnya”.
Pilihan Menikah Bukan Puncak Kehidupan Perempuan
Dalam masyarakat yang masih melanggengkan patriarki, perempuan dipandang harus menikah. Salah satunya ada anggapan seksis bahwa perempuan itu eksistensinya dikonstruksikan untuk tak cukup sebagai seorang perempuan yang dilahirkan, tapi mesti “menjadi” perempuan.
Ini sebagaimana yang disampaikan oleh Feminis Simone de Beauvoir. Melalui pemikirannya, Ia mengajak kita memahami mengapa eksistensi perempuan selama ini ditempatkan sebagai yang lain (the other), bahwa perempuan itu bukan dilahirkan, tetapi untuk dididik, dibesarkan dan dibentuk agar menjadi perempuan yang sesuai dengan standar di masyarakat dan selalu menjadi the second sex atau menjadi masyarakat kelas dua.
Menikah yang diinginkan masyarakat pun ada standarnya. Standar itu seperti, berusia sekitar 25 tahun-an, harus bisa memasak agar nanti bisa melayani suami, harus bisa diandalkan dalam urusan domestik, kerja perawatan serta deretan tuntutan lainnya.
Realitas pernikahan itu juga disampaikan Bell Hooks dalam bukunya ‘Feminism is for Everybody’ bahwa sebagian besar perempuanlah yang harus menanggung pekerjaan rumah dan pengasuhan anak dalam pernikahan. Dia juga mengkritisi pernikahan yang menjadikan perempuan sebagai objek perbudakan seksual. Ikatan yang sifatnya sudah seksis secara tradisi menjadi sebuah pernikahan di mana unsur-unsur kedekatan, kepedulian, dan rasa hormat dikorbankan supaya laki-laki dapat berada di puncak, yaitu menjadi seorang patriark yang berkuasa.
Belum sampai di situ. Dari sisi pasangan, masyarakat juga memiliki konsep yang ideal untuk pasangan perempuan, yaitu pasangan yang menempatkan laki-laki lebih dominan di dalam rumah tangga. Perempuan harus menikah dengan laki-laki yang di atasnya, baik dari segi usia, hingga status ekonomi dan kelas.
Baca Juga: Menikah Atau Tidak Menikah, Itu Pilihan Perempuan
Hal tersebut yang membuat perempuan dicap gagal ketika tidak sesuai dengan standar tersebut. Jika kata “gagal” terlalu tajam, yang pasti bagi perempuan yang tidak sesuai standar adalah selalu masih ada saja kurangnya.
Seseorang boleh saja turut senang atas kabar gembira akan perempuan yang memutuskan untuk menikah. Namun perlu diingat bahwa menikah dinilai membahagiakan ketika menikah merupakan pilihan perempuan itu sendiri.
Pilihan perempuan yang tak kalah bahagianya juga seperti perempuan yang memutuskan untuk tidak menikah dan fokus dengan karirnya. Pertanyaannya, mengapa masyarakat lebih senang ketika perempuan menikah? Mengapa jarang kita temui masyarakat memberikan selamat atas perempuan single yang sukses di usia 40-an? Karena budaya patriarki yang masih mengakar, itulah jawabannya.
Dari Luna Maya yang menikah di usia 41 tahun, publik diperlihatkan bahwa menikah tidak ada tenggat waktu. Menikah yang menggembirakan adalah menikahi pasangan yang saling menyayangi. Artinya, perempuan adalah subjek yang memiliki agensi akan tubuhnya sendiri untuk memutuskan pilihan hidupnya.
Kendali Tubuh Perempuan dan Ketakutan Patriarki
Patriarki selalu takut pada perempuan yang mengambil kendali. Ketika Luna menikahi lelaki yang lebih muda, maka ketakutan itu mewujud dalam bentuk candaan misoginis dan komentar sinis.
Ketika relasi tak mengikuti pola dominasi konservatif (pria lebih tua, lebih mapan, lebih mengatur), masyarakat akan panik. Karena yang dipertaruhkan bukan hanya “tatanan,” tapi juga superioritas laki-laki.
Yang lebih menyakitkan, bahkan perempuan pun turut berkomentar misoginis dalam kondisi ini. Di kolom komentar, banyak perempuan lain yang menyindir satir. Ini menunjukkan bagaimana internalisasi patriarki bekerja: perempuan dibentuk untuk mencurigai, mencemooh, bahkan menghukum perempuan lain yang menolak tunduk pada narasi gender.
Perihal keputusan egg freezing yang dilakukan Luna juga naik lagi saat pernikahannya. Luna sempat menceritakan bahwa ia melakukan pembekuan sel telur (egg freezing) saat usianya 30-an.
Baca Juga: Kamus Feminis: Apa Itu Surrogate Mother atau Ibu Pengganti
Langkah tersebut diambil bukan hanya keputusan pribadi, tetapi tindakan politis dalam konteks masyarakat yang memaksa perempuan memilih antara karier atau keluarga, antara mengejar cita-cita atau menjadi ibu sebelum “terlambat.”
Tak bisa dipungkiri bahwa egg freezing masih dianggap mewah, egois, bahkan “menantang kodrat” di masyarakat kita. Komentar negatif hanya mencerminkan bagaimana tubuh perempuan terus menjadi milik orang banyak.
Padahal, keputusan untuk menyimpan potensi reproduksi adalah bentuk teknologi pembebasan, terutama bagi perempuan urban yang hidup di antara tekanan karier, ekonomi, dan ekspektasi sosial.
Sayangnya, teknologi ini belum bisa diakses semua perempuan dan ini merupakan masalah yang lain. Dalam sistem kapitalisme medis saat ini, hanya perempuan kelas menengah ke atas yang bisa mengambil keputusan seperti Luna.
Di situlah letak problem strukturalnya, yaitu tubuh perempuan lagi-lagi menjadi medan pertempuran antara hak dan privilese atau antara kebebasan dan biaya yang menekan.
Luna Maya Sebagai Pemberdayaan: Dari Alami KBGO dan Terus Bangkit
Luna bisa menjadi contoh pemberdayaan. Nama Luna Maya bukan nama yang asing karena Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang dialaminya. Kasus video non-konsensual yang menyeret nama Luna belasan tahun lalu rasanya tidak pernah betul-betul mereda.
Dalam kasus tersebut, Luna menjadi korban dari budaya kekerasan, stigmatisasi, persekusi moral, dan sebagainya. Tidak banyak orang yang bisa melihat perjuangan Luna bangkit dari itu semua.
Tidak hanya itu, kisah romansa Luna yang sebelumnya juga terus dikaitkan bahkan sampai hari pernikahannya. Ini juga menunjukkan bahwa Luna diberikan kesan tidak pernah berpindah dan seperti seseorang yang selalu terjebak di masa lalu.
Bahkan pada hari-H pernikahannya, warganet masih sempat untuk mencibir relasi usia pasangan Luna-Maxime. Mereka menilai bahwa perempuan tidak lazim menikah dengan laki-laki yang berusia lebih muda.
Baca Juga: Perempuan Berhak Berpasangan Dengan Laki-laki Yang Lebih Muda
Maka, pernikahan Luna pun bisa dinilai sebagai paradoks. Di satu sisi warganet bahagia, tetapi selalu ada rasa janggal. Warganet mengucapkan “akhirnya menikah” dengan nada senang, tetapi sambil mengobjektifikasi Luna sebagai perempuan.
Di atas itu semua, Luna Maya yang eksis hingga hari ini harus diakui ketangguhannya. Luna bisa menjadi contoh bahwa perempuan berdaya atas hidupnya sendiri.
Kisah Luna yang “memberontak” dari standar masyarakat dengan menikah di usia 41 tahun dengan laki-laki yang lebih muda, dapat menjadi renungan bagi masyarakat patriarki. Ini menunjukkan tidak ada yang salah dari keputusan menikah tua, menikah muda, bahkan tidak menikah.
Hal itu semua adalah pilihan perempuan. Feminisme ada untuk semua perempuan dan tubuh yang teropresi. Feminisme bukan tentang menyeragamkan pilihan, melainkan memperjuangkan hak untuk memilih pilihan dengan bebas.
(Editor: Nurul Nur Azizah)
Sumber Foto: Instagram Luna Maya






