Kalau kamu terbangun di pagi hari dan mendapati seseorang berada di ruanganmu, mengaku sebagai pasanganmu dari masa depan yang hadir untuk memperbaiki hidupmu, apa yang akan kamu lakukan?
Premis inilah yang membuka film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’ (2025). Film ini merupakan adaptasi dari web series populer berjudul sama pada tahun 2017. Namun, versi filmnya memiliki kedalaman kisah yang berbeda.
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’ digarap oleh sutradara Yandy Laurens, yang juga berada di balik produksi web series-nya. Dalam versi film, pemeran sosok Sore adalah Sheila Dara, sedangkan versi web series diperankan oleh Tika Bravani. Sementara itu, Dion Wiyoko memerankan tokoh Jonathan di film dan web series ‘Sore’.
‘Sore: Istri dari Masa Depan’ merupakan film romansa dengan konsep fiksi-ilmiah (science-fiction). Dia diceritakan sebagai perempuan yang, pada suatu hari, muncul di hadapan Jonathan sebagai ‘istrinya dari masa depan’. Sore dan Jonathan melalui berbagai pengulangan masa untuk berusaha memperbaiki diri satu sama lain dan mengubah nasib mereka berdua. Namun, film ini menunjukkan, mengulang waktu ratusan kali pun belum tentu dapat membuat akhir sebuah kisah jadi lebih baik.
Baca Juga: Film ‘No Other Land’ Masih Terkungkung Hegemoni Kolonialisme
Secara sinema, ‘Sore: Istri dari Masa Depan’ memang memukau. Drama dalam alur ceritanya juga dibubuhkan dengan porsi yang pas. Namun, selain membuat kita duduk merenungi makna cinta dan relasi pernikahan, mungkin film ini juga memacu kita untuk memikirkan tentang representasi dan agensi perempuan dalam relasi romantis.
Sinopsis Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’
‘Sore: Istri dari Masa Depan’ versi film memiliki premis dan garis besar cerita yang mirip dengan web series-nya. Namun, versi film menampilkan alur dan konflik yang lebih mendalam antara Sore, Jonathan, dan kehidupan mereka.
Jonathan adalah seorang fotografer asal Indonesia yang kini menetap di Kroasia. Kehidupannya monoton dan ia sering mengabaikan kesehatan fisik maupun emosionalnya. Kisahnya berubah ketika ia terbangun dan mendapati seorang perempuan berada di kamarnya. Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Sore, “Istri kamu dari masa depan.”
Menurut Sore, di masa depan, ia dan Jonathan menikah. Ia datang dengan sebuah misi: memperbaiki hidup Jonathan yang tidak sehat. Sore mengatakan, di masa depan Jonathan akan meninggal karena serangan jantung. Oleh karena itu, Sore hadir untuk mengubah gaya hidup laki-laki itu: membuang alkohol dan rokok yang kerap dikonsumsi Jonathan, memperbaiki pola makannya, dan sebagainya.
Sore tidak serta-merta mampu mengubah hidup Jonathan begitu saja. Jonathan sendiri tidak suka diatur-atur; berkali-kali ia mendorong Sore keluar dari kehidupannya. Berkali-kali pula perempuan itu kembali, memutar ulang waktu, demi ‘menyelamatkan’ Jonathan. interaksinya dengan Jonathan memunculkan kekacauan emosional namun perlahan membuka hati Jonathan. Lambat laun, Sore menyadarkan Jonathan untuk lebih menghargai diri sendiri dan hidup lebih baik.
Baca Juga: ‘Gowok Kamasutra Jawa’: Perempuan Bukan Sekadar Objek Seksual
Mengulang perjalanan waktu bukannya tanpa konsekuensi. Ada efek samping terhadap kondisi fisik Sore karena terus-menerus melakukannya. Demi memperbaiki sosok yang dicintainya, Sore kerap mimisan hingga pingsan dalam setiap linimasa yang ia hadiri.
Konflik semakin intens ketika Jonathan sulit berubah, sementara waktu imajiner Sore semakin menipis. Ia dihadapkan pada dilema: perlukah meneruskan perjuangan, atau merelakan saja jika semuanya tidak berubah tepat waktu?
‘Sore: Istri dari Masa Depan’ adalah drama romansa lintas waktu yang mengeksplorasi tema cinta tak bersyarat. Film ini juga mengandaikan adanya kesempatan kedua dan keikhlasan yang diperlukan. Kemelut kebingungan awal, perjuangan personal, hingga refleksi tentang batas waktu dalam cinta tersampaikan dalam film ini. Salah satu pesan yang kentara dari film ‘Sore’ adalah bahwa mencintai terkadang berarti melepaskan saat waktunya tiba.
Namun, di balik keindahan sinematografi dan narasi penuh rasa, film ini menyisakan sejumlah pertanyaan. Termasuk tentang representasi perempuan, relasi kuasa dalam cinta, dan gagasan akan agensi seorang perempuan dalam relasi romantis.
Kendali Cinta, Nostalgia, dan Perempuan Sebagai ‘Penyelamat Emosional’ Laki-Laki
Sejak awal, Sore digambarkan sebagai sosok perempuan ideal: cantik, tenang, penuh perhatian, dan ‘misterius’—secara romantis. Sore datang dari ‘masa depan’ untuk memperingatkan Jonathan soal keputusan-keputusan yang diambilnya. Sebab, berbagai keputusan itu akan memengaruhi hidup mereka kelak.
Sebagai sosok yang menyusuri ruang dan waktu demi Jonathan, Sore memiliki informasi, pengetahuan, dan pengalaman yang jauh lebih banyak dari ‘suaminya di masa depan’ itu. Namun, perannya lebih sebagai ‘pendamping yang lembut’ alih-alih pengambil keputusan utama. Ia lebih banyak hadir untuk memberikan sugesti, dan pada akhirnya, tetap Jonathan-lah pengambil keputusannya.
Ini menempatkan Sore dalam posisi karakter perempuan yang ‘maha tahu’ namun tetap ‘memaafkan dan melayani’. Dalam banyak adegan, ia tidak bertindak secara aktif untuk menentukan nasibnya sendiri.
Dari perspektif feminisme, hal ini mencerminkan ambivalensi representasi perempuan dalam budaya populer. Tokoh perempuan bisa digambarkan cerdas, kuat, bahkan berasal dari masa depan. Tetapi kehadirannya tetap dibungkus dalam kerangka relasi yang menempatkan laki-laki sebagai pusat emosi, pilihan, dan transformasi cerita.
Baca Juga: ‘Dear David’ Buktikan Jika Remaja Perempuan Bisa Mendobrak Tabu Seksualitas
Kemudian, salah satu karakteristik klasik yang muncul dalam film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’ adalah kehadiran perempuan sebagai emotional anchor bagi laki-laki. Sore hadir dalam hidup Jonathan untuk membantunya agar menjadi lebih baik. Memperbaiki gaya hidupnya, menjaga pola makannya, memastikan Jonathan tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
Arketipe klasik dalam film romansa seperti ini kerap muncul: perempuan menjadi guru batin dan tempat ‘pemulihan’ bagi laki-laki yang terluka atau kehilangan arah. Di satu sisi, karakter perempuan seperti Sore menunjukkan bahwa perempuan seringkali justru lebih matang dalam membuat keputusan ketimbang laki-laki. Namun di sisi lain, ada reproduksi relasi tidak setara dalam narasi romantik seperti ini.
Dalam feminisme kontemporer, terutama dalam analisis media dan budaya populer, narasi semacam ini dikritik. Pasalnya, ia menggambarkan perempuan bukan sebagai individu utuh dengan keinginan, mimpi, dan pilihan. Tetapi sebagai alat perkembangan karakter utama laki-laki. Ini mempersempit ruang agensi perempuan dalam cerita.
Perempuan dari Masa Depan Punya Agensi Atas Dirinya Sendiri
Paling tidak, sosok Sore dalam film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’ membekas dalam benak penonton. Ia hadir dalam bentuk pribadi yang lembut tapi presensinya terasa begitu kuat. Sore bukan hanya karakter ‘tempelan’ yang lewat dalam hidup Jonathan. Ia adalah bagian dari hidup Jonathan, sebagaimana Jonathan menjadi bagian dari hidupnya.
Hanya saja, barangkali eksistensi Sore bisa dimaknai lebih dari sekadar perannya sebagai ‘istri’ yang memperbaiki hidup Jonathan. Kenapa perempuan datang ‘jauh’ dari masa depan sebagai ‘istri’? Ada pertanyaan yang muncul dalam benak ketika merenungi judul dan alur film ini.
Selintas saya merasa, identitas Sore jadi terbatas pada relasi domestik. Namun, saya berusaha tidak terlalu memusingkan soal ini. Mungkin karena memang itu tema utama ceritanya; ia tidak akan terlalu jauh bereksplorasi.
Baca Juga: Keperawanan Perempuan Selalu Jadi Perdebatan, Padahal Keperjakaan Tidak
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’ tetap perlu diapresiasi. Secara sinematografi dan alur cerita, film ini melampaui ekspektasi banyak orang terhadap film-film romansa Indonesia. Ada cukup banyak nilai-nilai kehidupan yang bisa dipetik dari film ini seperti laki-laki yang tidak melulu digambarkan sebagai tubuh yang kuat, tapi ia bisa juga rapuh. Termasuk soal memanfaatkan kesempatan kedua, menjalani hidup yang lebih baik, dan belajar merelakan. Namun jika dilihat dari perspektif feminis lainnya, masih banyak hal yang bisa dikritisi dari film ini.
Mudah-mudahan di masa depan, perempuan punya agensi atas dirinya sendiri. Ia bukan eksis hanya sebagai pendamping dan ‘sarana konseling’ laki-laki, tetapi juga pembuat keputusan dalam hidup yang patut dipertimbangkan. Paling tidak, Sore hadir dari masa depan untuk mulai membuka jalan menuju ke sana.
(Sumber Gambar: Instagram Yandy Laurens)






