Superman kembali. Sosok pahlawan super (superhero) fenomenal dari DC ini muncul lagi di layar lebar. Kali ini, cerita Superman ditampilkan lebih ‘manusiawi’ dengan menonjolkan perjalanan Clark Kent (David Corenswet) yang berusaha menyeimbangkan kehidupannya sebagai reporter biasa di Smallville, sekaligus pahlawan super keturunan Kryptonian.
Dalam versi terbarunya yang dirilis 2025, Superman tampil gagah, menyelamatkan dunia dengan kekuatan super dan idealisme moral yang nyaris tak bercela. Tapi ketika layar menampilkan pahlawan yang terbang sendirian di langit, muncul pertanyaan lama yang belum juga usai: mengapa lagi-lagi pahlawan super adalah laki-laki?
Dan ketika perempuan akhirnya hadir di dunia superhero, mengapa mereka harus “kuat” dalam cara yang sama: bertarung, dingin, dominan, dan mengenakan kostum ketat?
Ini bukan soal membenci Superman atau karakter pahlawan super laki-laki dalam film dan media hiburan. Tapi soal menggugat siapa yang terus-menerus diberi panggung untuk menyelamatkan dunia, dan seperti apa bentuk “kekuatan” yang dirayakan di layar lebar.
Pahlawan = Laki-laki Maskulin?
Superhero seperti Superman adalah simbol budaya yang dalam: ia melambangkan harapan, keadilan, dan kekuatan mutlak. Tapi dalam tubuhnya yang kekar dan wajahnya yang nyaris sempurna, terselip narasi gender yang sangat klasik: kekuatan adalah milik laki-laki.
Dalam sejarah perfilman, karakter seperti Superman mengulang pola lama: laki-laki menjadi penyelamat, perempuan menjadi yang diselamatkan — atau paling banter, pendukung emosional. Lois Lane, sekali lagi, hadir sebagai pemanis latar, bukan penentu takdir.
Di sinilah kritik feminisme masuk. Film-film superhero, kata para pemikir feminis seperti Laura Mulvey, lebih sering menampilkan dunia dari sudut pandang laki-laki — dan membuat tubuh perempuan sekadar objek visual, bukan subjek cerita.
Karakter Superman tak hanya fiksi. Ia adalah simbol budaya yang dibentuk oleh dan membentuk cara masyarakat melihat kuasa, gender, dan moralitas. Tokoh seperti Clark Kent/Superman merepresentasikan maskulinitas hegemonik: tubuh sempurna, emosi terkendali, kekuatan fisik sebagai penyelamat. Ini adalah bentuk ideal laki-laki dalam sistem patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pelindung, pemimpin, dan pusat semesta narasi.
Baca Juga: Film ‘No Other Land’ Masih Terkungkung Hegemoni Kolonialisme
Menurut Laura Mulvey, sinema konvensional membentuk pandangan dunia melalui apa yang disebut male gaze — kamera dan narasi yang mengedepankan pandangan laki-laki sebagai norma. Dalam Superman (2025), narasi kepahlawanan masih berporos pada laki-laki yang berkuasa atas tubuhnya, lingkungannya, bahkan waktu dan ruang. Lois Lane, seperti dalam versi-versi sebelumnya, tetap hadir sebagai pelengkap, bukan penentu.
Ketika Perempuan Menjadi Superhero, Tapi…
Bukan berarti perempuan absen dari dunia superhero. Film-film seperti Wonder Woman atau Captain Marvel memperkenalkan tokoh perempuan yang kuat secara fisik dan protagonis. Tapi ironisnya, ketika perempuan diberi ruang, mereka tetap harus memenuhi standar kekuatan yang ditetapkan laki-laki. Kritik feminis menekankan bahwa banyak dari karakter ini masih mengadopsi karakteristik maskulin untuk diakui sebagai pahlawan.
Karakteristik ‘khas’ superhero, baik laki-laki maupun perempuan, biasanya berupa: berotot, tangguh, tak banyak bicara. Mereka pun cenderung menyelesaikan konflik dengan kekerasan dengan dalih ‘demi kebaikan yang lebih besar’. Selain itu pahlawan super seakan-akan harus minim emosi, atau jika ada, harus segera dikendalikan. Emosi dianggap sebagai sesuatu yang ‘manusiawi’ dan ‘tidak biasa’ bagi pahlawan super.
Menurut laporan Geena Davis Institute on Gender in Media (2022), hanya 31% karakter utama dalam film superhero sejak 2007 adalah perempuan. Dan dari jumlah itu, sebagian besar digambarkan dengan karakteristik “maskulin” agar dianggap layak menjadi pahlawan.
Baca Juga: Dari ‘To Room 19’ Hingga ‘Because This is My First Life’: Perempuan Butuh Ruang Pribadi
Jadi, apakah kita benar-benar melihat keberagaman kekuatan? Atau sekadar perempuan yang berpura-pura menjadi Superman?
Untungnya, sejumlah film mulai membuka jalan untuk definisi kekuatan yang lebih luas dan manusiawi. Misalnya The Woman King (2022) yang menampilkan pasukan perempuan Afrika yang berani, rapuh, dan penuh dilema moral. Karakternya jauh dari sosok superhero klise. Atau Ms. Marvel (2022) yang memperkenalkan pahlawan muda Muslim dari keluarga imigran. Ia tidak sempurna, tapi justru kekacauannya yang membuatnya nyata.
Ada pula seri She-Ra and the Princesses of Power (2018–2020) yang menunjukkan bahwa kekuatan bisa hadir lewat kerja sama, cinta antar teman, bahkan melalui tubuh yang tak sesuai standar kecantikan Hollywood. Film-film ini tak hanya mengganti jenis kelamin tokohnya. Mereka mengganti cara kita melihat kekuatan, kepemimpinan, dan kepahlawanan.
Bagi feminis seperti bell hooks, bentuk representasi seperti ini tidak otomatis membebaskan perempuan. Ketika kekuatan didefinisikan hanya dalam bentuk dominasi atau kekerasan fisik, maka narasi tetap dikendalikan oleh kerangka patriarki — hanya saja sekarang tokohnya perempuan.
Feminisme menawarkan pendekatan berbeda terhadap konsep kekuatan. Dalam pandangan feminis, kekuatan bisa berarti kemampuan merawat dan membangun komunitas. Juga keberanian mengungkap trauma dan kerentanan, serta kekuatan kolektif, bukan individualistik.
Baca Juga: Film ‘Dekada ‘70’: Kisah Ibu Lawan Patriarki, Fasisme, dan Rezim Militer di Filipina
Sayangnya, narasi seperti ini jarang muncul dalam film-film superhero arus utama. Superman (2025), misalnya, masih mengandalkan trope lama: seorang laki-laki sendirian menyelamatkan dunia, sementara sistem sosial, ketidakadilan struktural, dan kekerasan institusional tetap tak tersentuh.
Kritik feminis juga menyoroti minimnya representasi superhero dari latar belakang ras, kelas, orientasi seksual, dan identitas tubuh yang beragam. Superman tetap laki-laki kulit putih yang mampu segalanya. Padahal, dunia nyata diwarnai oleh perempuan kulit hitam, penyintas, buruh migran, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lain yang setiap hari menunjukkan ketahanan luar biasa — meski tak pernah disebut “pahlawan”.
Representasi yang adil bukan sekadar soal kuota karakter perempuan atau minoritas, tetapi tentang mengguncang cara kita memahami siapa yang punya kuasa, siapa yang layak menjadi pusat cerita, dan bentuk kekuatan seperti apa yang patut dirayakan.
Bukan Tentang Siapa yang Terbang Paling Tinggi
Superman tetap akan digemari. Ia bagian dari warisan budaya pop yang kuat. Tapi kita juga berhak bertanya: mengapa cerita tentang menyelamatkan dunia hampir selalu datang dari satu jenis tubuh, satu jenis suara, satu jenis kekuatan?
Dunia nyata jauh lebih beragam. Banyak “pahlawan” tidak memiliki kekuatan super — mereka adalah ibu yang bertahan di tengah kemiskinan, aktivis yang melawan ketidakadilan, atau perempuan muda yang menolak diam saat dilecehkan. Mereka tak terbang, tak meninju monster. Tapi mereka benar-benar menyelamatkan dunia dalam cara yang tidak pernah cukup dirayakan di layar lebar.
Sudah saatnya kita punya pahlawan baru. Bukan hanya wajah baru, tapi cara baru memahami kekuatan: bukan yang menghancurkan, tapi yang membangun. Bukan yang sendirian di langit, tapi yang bersama-sama di bumi.
(Sumber Gambar: The Direct)






