“In this economy”
Akhir-akhir ini kalimat itu berseliweran di media sosial sebagai kelakar getir anak-anak muda soal betapa kerasnya hidup ini. Tapi buat saya, ungkapan itu bukan sekedar meme. Itu adalah sebuah realita yang saya lihat setiap hari, terutama lewat ibu saya.
Katanya, “ibu yang baik” adalah ibu yang selalu berada di rumah, memasak dengan cinta, menyambut anak pulang sekolah, membersihkan rumah, mencuci, dan masih banyak lagi. Padahal, dikotomi “ibu yang baik” vs “ibu buruk” ini adalah labelisasi pemikiran biner patriarki.
Kamus Feminis Konde.co, pernah membahas ini sebagai pengabaian atas pengalaman ibu. Menurut penulis cum filsuf Hélène Cixous dalam Toril Moi (1985), ini merupakan kontradiksi terkait peran ibu, dimana subjek yang dipertentangkan dalam konteks ini memang sama-sama perempuan. Namun logika yang mendasarinya—sebagaimana diuraikan Cixous—berasal dari pertentangan tersembunyi antara laki-laki/perempuan.
Konsep ibu yang baik dan ibu yang buruk didasarkan pada ukuran, standar dan nilai laki-laki. Baik dan buruk di sini dilihat menurut sudut pandang laki-laki atau dalam kerangka ideal menurut masyarakat patriarki. Jadi ibu yang baik adalah yang sesuai dengan nilai dan ukuran laki-laki. Sedang ibu yang buruk merupakan deviasi dari standar laki-laki.
Ibu yang merawat dan mengasuh sendiri anaknya dipandang lebih baik karena dengan begitu dia menjalankan nilai-nilai yang dipegang masyarakat patriarki. Sementara ibu yang bekerja—yang pengasuhan anaknya dilakukan orang lain—dipandang tidak sempurna karena mengabaikan hal yang disebut masyarakat sebagai kewajiban seorang ibu.
Pertentangan ini diperburuk dengan adanya label negatif dan stigma terhadap para ibu yang dianggap tidak sesuai dengan perannya. Ibu yang memberi susu formula pada bayinya biasanya akan mendapat tudingan mementingkan diri sendiri, malas, egois dan lain sebagainya. Begitu juga dengan ibu yang melahirkan lewat bedah sesar. Tuduhan serupa akan diarahkan pada mereka. Atau pada situasi-situasi lain yang serupa.
In This Economy, Ayah-Ibu Dituntut Bekerja
In this economy saat harga kebutuhan pokok semakin naik sementara pendapatan tetap atau bahkan menurun, biaya pendidikan yang membumbung, bisa dipahami jika tak cukup mengandalkan satu pemasukan di keluarga. Makanya, pasangan keluarga dua-duanya mesti bekerja.
Kita hidup di era dimana ekonomi memaksa banyak ibu untuk berperan ganda, sebagai pengasuh sekaligus pencari nafkah. Bagi banyak ibu, bekerja bukan lagi soal pilihan, tapi keharusan.
Namun sayangnya sampai hari ini, perdebatan tentang siapa ibu yang “lebih baik”, antara yang berkarier dan yang full time di rumah, masih terus bergaung.
Baca juga: Kalimat yang Menyesatkan: Bapak Bekerja di Kantor dan Ibu Memasak di Rumah
Ibu yang bekerja dianggap ambisius tapi “kurang perhatian, sehingga menimbulkan anggapan, ketika anaknya nakal berarti kurang di perhatikan oleh ibunya. Sementara ibu rumah tangga sering dicap tidak produktif, padahal justru memikul pekerjaan tanpa upah yang tak kalah melelahkan.
Lewat tulisan ini, saya tidak sedang mempersoalkan siapa yang lebih ideal antara ibu berkarier atau ibu rumah tangga. Fokus saya bukan pada pertarungan dua peran, tapi pada satu hal yang kerap luput dibahas: bagaimana anak, sebagai pihak yang merasakan langsung dampaknya, juga memiliki suara dan kebutuhan yang tak kalah penting untuk didengar.
Kehadiran yang Tak Bisa Diukur dari Jam
Saya pernah mengenal anak-anak dari ibu yang selalu ada di rumah, tapi hari-harinya dipenuhi rutinitas dapur, televisi, dan ponsel. Ada juga teman yang ibunya bekerja dari pagi sampai malam, namun selalu menyisihkan waktu untuk bertanya “bagaimana harimu d sekolah?”, kemudian mendengarkan anaknya berceloteh, menceritakan bagaimana ia di sekolah.
Saya pun merasakan hal demikian. Ibu bekerja sejak saya kecil, dan hal itu membuat saya terbiasa untuk malakukan apapun secara mandiri. Saya menyaksikan betapa gigihnya ibu dalam mengemban banyaknya tugas, sebagai ibu, sebagai istri, dan sebagai karyawan. Sampai pada suatu hari ketika saya libur kuliah, setelah sekian lama saya kembali merasakan benar benar ditemani oleh ibu. Ibu memasak, mengajak saya berbincang lalu kami menonton film bersama, dan keintiman itu, sekecil apa pun terasa sangat membekas.
Sebagai anak, saya mencoba memahami, bahwasannya ibu bekerja bukan karena tidak sayang. Melainkan bentuk lain dari kasih sayangnya yang diwujudkan lewat upaya menjaga keluarga tetap bertahan, agar anak-anaknya mendapat akses pendidikan yang terbaik. Saya tahu, itu bukan pilihan yang mudah dan saya percaya, apapun perannya, setiap ibu ingin menjadi yang terbaik bagi anak-anaknya. Tapi, in this economy, ibu bekerja seolah bukan lagi sebagai pilihan.
Baca juga: ‘Cool Mom’ dan Standar ‘Ibu Ideal’, Ini Keren atau Bias Kelas?
Disini, saya ingin menyampaikan sudut pandang seorang anak terkait persoalan antara ibu yang berkarier dan ibu yang sepenuhnya berada di rumah. Kami sebagai anak, tidak mempermasalahkan tentang status atau pilihan profesi ibu, melainkan apakah ibu hadir? Apakah ibu melihat kami, mendengar kami, dan benar-benar ada saat kami butuh?
Karena faktanya, ibu yang selalu di rumah pun bisa merasa terlalu sibuk untuk hadir secara emosional. Begitu pula sebaliknya, ibu yang bekerja bisa saja menjadi tempat pulang yang paling hangat, walau hanya dengan 10 menit perhatian penuh sebelum tidur. Oleh karena itu, saya menarik kesimpulan bahwasannya kehadiran ibu tak bisa dihitung dari berapa jam ia berada di rumah, tapi dari bagaimana ia mengisi kehadirannya.
Ayah Juga Harus Terlibat dalam Pengasuhan
Satu hal yang sering terlupakan adalah bahwa pengasuhan bukan tanggung jawab ibu saja. Selama ini, kita terlalu sering melihat peran pengasuhan sebagai tanggung jawab utama seorang ibu. Seolah-olah hanya ibu yang wajib begadang saat anak sakit, hanya ibu yang mengatur jadwal makan, belajar, dan tumbuh kembang anak. Padahal anak lahir dari dua orang tua dan sudah seharusnya dibesarkan oleh dua hati yang sama sama peduli.
Dalam sebuah keluarga, ayah bukan sekedar pencari nafkah. Ayah juga adalah pendidik, panutan, dan pelindung bagi anak. Kehadiran emosional ayah memberi dampak besar terhadap rasa aman dan percaya diri anak. Ketika ayah terlibat langsung dalam pengasuhan, seperti menyuapi, mengajak berbincang, mengantar sekolah, anak akan dengan sendirinya akan mengerti bahwa cinta dan tanggung jawab bukan milik satu gender saja.
Ada satu hal yang biasanya disalah pahami: membagi peran bukan berarti membagi beban, tapi menyatukan kekuatan. Saya melihat realita yang terjadi adalah bahwasannya anak yang tumbuh dengan kehadiran ayah dan ibu yang sama-sama aktif dalam pengasuhan cenderung tumbuh lebih sehat secara mental dan sosial.
Peran ayah dan ibu sama pentingnya dalam membentuk pribadi anak yang utuh. Ini saatnya kita berhenti menyederhanakan peran pengasuhan sebagai tanggung jawab ibu semata. Jika selama ini hanya ibu yang sibuk menata dunia anak, maka kini ayah pun harus turut serta menanamkan nilai serta mendampingi setiap proses anak.
Semua Peran Punya Tantangan
Kita perlu menyadari bahwa semua pilihan ibu itu mempunyai risiko tersendiri dan penuh dengan tekanan. Ibu yang bekerja seringkali harus membagi fokus antara tanggung jawab profesional dan peran domestik, yang membuatnya rentan mengalami kelelahan, tekanan mental, bahkan rasa bersalah karena merasa tidak cukup hadir untuk keluarga.
Di sisi lain, ibu yang memilih untuk sepenuhnya di rumah pun menghadapi tantangan tersendiri. Ia berhadapan dengan pekerjaan yang tidak pernah selesai, ruang gerak yang terbatas, dan kadang merasa kehilangan ruang aktualisasi diri.
Baca juga: Baca juga: Kamus Feminis: Stop Mendikotomi ‘Perempuan Baik Versus Perempuan Buruk’
Kedua pilihan sama-sama menuntut ketangguhan, dan tidak satupun lebih mudah dari yang lain. Di sisi lain, ibu yang memilih untuk sepenuhnya di rumah pun menghadapi tantangan tersendiri. Ia berhadapan dengan pekerjaan yang tidak pernah selesai, ruang gerak yang terbatas, dan kadang merasa kehilangan ruang aktualisasi diri.
Perbandingan tanpa henti tentang siapa ibu yang “lebih baik” hanya akan menciptakan jarak. Padahal yang lebih dibutuhkan adalah pengertian, ruang aman, dan dukungan emosional, baik untuk ibu maupun anak.
Dalam realitas sosial dan ekonomi hari ini, ibu tetaplah ibu. Ia bukan robot pengasuh tanpa rasa lelah. Ibu juga bukan pahlawan super yang bisa memuaskan semua ekspektasi. Ibu hanya manusia, yang ingin mencintai dengan cara terbaik yang bisa ia lakukan.
Jadi, jika ada yang masih sibuk membandingkan siapa ibu yang lebih baik, yang di rumah atau yang di kantor, mungkin mereka lupa satu hal: ibu tidak sedang ikut lomba.
Di tengah dunia yang menuntut segalanya serba sempurna, in this economy, ibu hanya sedang mencoba bertahan. Dan kami, anak-anaknya, hanya ingin satu hal: ibu yang hadir, bukan untuk jadi hebat di mata orang lain, tapi cukup hangat untuk kami pulang.
(Editor: Nurul Nur Azizah)






