“Anak laki-laki itu tulang punggung keluarga.”
Di banyak keluarga Indonesia, kalimat tersebut menjadi keyakinan turun-temurun yang diterima begitu saja, tanpa pernah benar-benar dipertanyakan.
Laki-laki adalah harapan. Laki-laki dianggap penerus keluarga, simbol kekuatan, hingga tumpuan masa depan. Namun, apakah realitanya selalu seperti itu? Dalam kehidupan sehari-hari, justru banyak perempuanlah yang menjadi penopang utama keluarga baik secara ekonomi, emosional, maupun sosial.
Perempuan-lah yang seringnya harus bekerja keras, merawat anggota keluarga, menekan keinginan pribadi, dan memberikan segalanya untuk memastikan rumah tetap berdiri. Sayangnya, peran-peran ini kerap dipandang sebelah mata. Tidak dianggap sebagai “tulang punggung”, tidak dibanggakan, bahkan sering tidak diceritakan dalam narasi besar keluarga.
Sebut saja Dina (nama samaran), anak kedua dari lima bersaudara. Kakaknya laki-laki, lebih tua lima tahun. Ketika ayah mereka jatuh sakit dan ibu menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, Dina-lah yang turun tangan.
Sejak kuliah, ia mulai bekerja paruh waktu, mengajar les, berjualan makanan, hingga menjadi pekerja lepas daring demi membantu keuangan keluarga. Ia membayar sekolah adik-adiknya, membeli obat untuk ayah, dan bahkan melunasi cicilan rumah. Sementara itu, kakak laki-lakinya masih sibuk “mencari passion”, berpindah-pindah pekerjaan, dan bergantung secara finansial pada keluarga.
Namun saat sanak saudara berkunjung, orang tua mereka selalu berkata, “Doakan si Kakak, dia harapan keluarga.” Dina? Ia cukup disebut sebagai “anak perempuan yang baik”. bukan tulang punggung, bukan pahlawan. Padahal tanpa dirinya, keluarga itu mungkin tak akan mampu bertahan secara harfiah maupun emosional.
Baca Juga: Tak Hanya Laki-Laki, Perempuan Juga Bisa Menjadi Kepala Keluarga
Kisah seperti Dina bukanlah kisah tunggal. Di banyak sudut kota dan pelosok desa, perempuan baik sebagai anak, istri, maupun ibu berjuang keras menopang keluarga tanpa pernah benar-benar diakui. Mereka sering dianggap sedang “membantu”, bukan “menanggung.”
Budaya kita, yang patriarki, terbiasa mengagungkan kerja laki-laki, seberapa pun kecil kontribusinya, dan mengecilkan peran perempuan seberapapun besar dampaknya.
Aktivis Perempuan, Kamla Bhasin dalam bukunya yang berjudul What Is Patriarchy? menjelaskan secara harfiah kata patriarki berarti aturan ayah atau patriark.
Kamus Feminis Konde.co, pernah membahas soal patriarki ini bahwa awalnya, kata ini digunakan untuk mendeskripsikan jenis khusus keluarga yang didominasi laki-laki. Yaitu rumah tangga besar patriark yang meliputi perempuan, laki-laki junior, anak-anak, budak dan pekerja rumah tangga. Mereka semua berada di bawah kekuasaan laki-laki dominan tersebut.
Saat ini, kata patriarki digunakan secara lebih umum untuk merujuk pada dominasi laki-laki, pada hubungan kekuasaan dimana laki-laki mendominasi perempuan. Ia sekaligus dipakai untuk mencirikan sebuah sistem dimana perempuan masih tersubordinasi dalam sejumlah cara.
Menurut Kamla Bhasin, subordinasi yang kita alami dalam keseharian bisa mewujud dalam beragam bentuk terlepas dari kelas yang kita miliki. Misalnya berupa pengabaian, diskriminasi, eksploitasi, penindasan, kontrol dan kekerasan. Ini semua bisa terjadi termasuk di dalam keluarga seperti yang Dina alami.
Baca Juga: Kamus Feminis: Apa Itu Patriarki? Kamu Harus Pelajari Makna Sebenarnya
Patriarki telah membuat label “tulang punggung” hanya disematkan pada jenis kelamin tertentu, bukan pada siapa yang benar-benar bertanggung jawab. Bahkan ketika perempuan menjadi pencari nafkah utama, kontribusi mereka masih dipandang sebagai sesuatu yang sekadar “membantu”. Sebaliknya, laki-laki yang tidak bekerja pun masih sering disebut sebagai “pemimpin keluarga” hanya karena status gendernya.
Fenomena ini dialami oleh banyak perempuan di berbagai wilayah. Mereka membiayai pendidikan adik-adik, melunasi utang orang tua, mengurus rumah tangga, merawat anggota keluarga yang sakit, dan tetap menjaga stabilitas keluarga. Namun ketika mereka merasa lelah, tanggapan yang mereka terima justru adalah, “Kan perempuan, harus sabar.”
Seolah kesabaran adalah tuntutan mutlak bagi perempuan, meski beban yang dipikulnya sangat berat. Padahal, sabar bukan berarti tidak lelah. Dan bertahan bukan berarti tidak membutuhkan pengakuan.
Di sisi lain, anak laki-laki dalam keluarga meski belum berkontribusi secara finansial maupun emosional tetap mendapatkan tempat istimewa. Pendapatnya lebih dipertimbangkan, keberadaannya lebih dipuji, dan masa depannya lebih disanjung. Seolah-olah, cepat atau lambat, dialah yang akan “menyelamatkan” semuanya.
Perempuan yang telah terbukti memikul beban berat selama bertahun-tahun pun tetap berada di bayang-bayang glorifikasi maskulinitas.
Baca Juga: Kecenderungan ‘Men vs Women’ Dalam Kesetaraan Gender Apakah Bisa Disudahi?
Tak bisa dimungkiri, narasi ini tumbuh subur karena sistem yang lebih besar: patriarki yang telah lama mengakar dalam masyarakat. Sistem ini menilai nilai seseorang berdasarkan jenis kelamin, bukan kontribusinya. Anak laki-laki dibesarkan dengan harapan besar dan disiapkan untuk “memimpin”, sementara anak perempuan dibesarkan dengan berbagai pembatasan, serta diarahkan untuk “tidak merepotkan” dan “menjadi pendamping yang baik.”
Bahkan ketika perempuan berhasil secara akademik atau karier, mereka masih sering disudutkan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Kapan menikah?” atau “Nanti siapa yang urus rumah?”
Seakan pencapaian mereka belum sah, sebelum tetap menjalankan peran domestik. Padahal kenyataan di lapangan sudah sangat berbeda. Berbagai penelitian menunjukkan peningkatan jumlah rumah tangga yang bergantung pada perempuan sebagai pencari nafkah utama. Banyak perempuan menjadi penopang keluarga secara ekonomi baik sebagai anak, istri, maupun ibu tunggal bahkan dalam situasi yang penuh keterbatasan. Sayangnya, pengakuan atas kontribusi ini masih minim.
Selain menopang secara ekonomi, perempuan juga memikul beban emosional yang tidak kalah berat. Mereka yang pertama kali menyadari adanya masalah dalam keluarga. Mereka yang menengahi konflik, merawat saat anggota keluarga jatuh sakit, mendengarkan keluh kesah anggota rumah saat yang lain justru pergi. Semua itu mereka lakukan sambil tetap menjalankan pekerjaan harian, menjaga diri, dan menghadapi tekanan sosial untuk tetap terlihat “kuat dan sabar”.
Baca Juga: Sudah 39 Tahun CEDAW, Perempuan Masih Berjuang Stop Diskriminasi dan Ketidakadilan
Menjadi perempuan yang menopang keluarga bukanlah hal baru. Yang baru adalah keberanian untuk mulai menyuarakannya. Kita perlu menyusun ulang narasi keluarga. Menghapus asumsi bahwa hanya anak laki-laki yang bisa menjadi tulang punggung. Tulang punggung keluarga seharusnya ditentukan oleh siapa yang benar-benar hadir, bertanggung jawab, dan berkontribusi nyata bukan oleh jenis kelamin.
Kita juga perlu lebih vokal dalam mengangkat cerita-cerita perempuan yang selama ini tersembunyi. Mereka yang bangun paling pagi, tidur paling malam, menyembunyikan tangis, dan memastikan segalanya tetap berjalan. Mereka bukan sekadar “anak perempuan yang baik”, melainkan pilar kehidupan yang sesungguhnya.
Di akhir hari, yang membuat sebuah keluarga tetap utuh bukanlah siapa yang paling sering disebut-sebut, tetapi siapa yang benar-benar bekerja, mencintai, dan hadir dalam setiap kesulitan.
Sudah saatnya perempuan yang menjadi penopang keluarga mendapat tempat dan pengakuan yang layak bukan sebagai pelengkap, tapi sebagai bagian penting dari cerita kebanggaan keluarga yang seharusnya dituliskan, diceritakan, dan dirayakan.






