“Baru tiga bulan saya berlayar, kau sudah mencari laki-laki lain.”
Kalimat itu sering terdengar ringan ketika dinyanyikan dalam lagu Sepuli Na Jandi di Wakatobi. Meskipun memuat kisah cinta yang kandas, ia diciptakan bernada cepat dengan suasana gembira ala lagu joget pada umumnya. Tapi bagi banyak perempuan yang tumbuh di rumah-rumah pesisir, yang kental dengan budaya pelayaran, ia menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kisah cinta yang gagal.
Lagu berbahasa daerah seperti ini tidak lahir dalam ruang kosong. Ia tumbuh dari relasi kuasa, dari ingatan-ingatan tubuh perempuan yang saban hari dituntut menunggu, tunduk, dan diam. Ia datang dari perubahan sosial yang pelan-pelan menggeser batas-batas peran perempuan—dari dapur ke sekolah, dari rumah ke ruang publik.
Perubahan ini, yang seharusnya membuka ruang agensi, justru seringkali dibingkai sebagai ancaman. Dan lagu seperti Sepuli Na Jandi menjadi semacam “peringatan halus” yang menyampaikan: jika perempuan bergerak, laki-laki kehilangan kendali.
Tulisan ini membaca Sepuli Na Jandi tidak sebagai folklor yang pasif, tetapi sebagai medium politik dan emosional dalam konteks masyarakat maritim Wakatobi. Dengan menggunakan perspektif feminisme dekolonial seperti yang ditawarkan Chandra Talpade Mohanty, Audre Lorde, dan María Lugones, kita melihat bagaimana lagu rakyat menjadi arena tempat kuasa dinegosiasikan, diolah, dan dipertahankan melalui narasi kehilangan dan kerinduan. Sebuah cara yang tidak frontal, tapi tetap efektif menanamkan ulang norma tentang siapa yang boleh bergerak, dan siapa yang harus menunggu.
Lagu sebagai Ruang Emosional dan Politik
Chandra Talpade Mohanty dalam Under Western Eyes menantang dominasi narasi Barat dalam melihat perempuan Dunia Ketiga. Ia mengingatkan kita untuk memahami pengalaman perempuan dalam relasi yang kompleks: antara patriarki lokal, warisan kolonial, dan kapitalisme global.
Ketika perempuan Wakatobi mulai masuk ruang-ruang publik—sekolah, birokrasi, ekonomi rumah tangga—struktur kuasa lama terguncang. Dan salah satu cara komunitas menegosiasikan pergeseran itu adalah lewat lagu.
Sepuli Na Jandi adalah kanal simbolik untuk mengungkap kegelisahan laki-laki yang kehilangan pusat. Emosi dalam lagu ini bukan bentuk kelemahan, sebagaimana sering dituduhkan pada ekspresi perasaan, melainkan—meminjam Audre Lorde—sebagai bentuk pengetahuan.
Baca Juga: Lirik Lagu Cengeng Mendominasi Pasar Lagu Indonesia, Menihilkan Perjuangan Perempuan
Dalam masyarakat yang menjunjung harmoni dan kesantunan, lagu menjadi ruang aman untuk menyampaikan frustrasi dan kerinduan terhadap struktur yang tak lagi stabil.
Kita bisa melihat pola serupa dalam lagu rakyat lainnya seperti Sandali Tolapasi atau “sandal yang putus”. Di permukaan, lagu ini terdengar jenaka. Tapi jika didengar secara lebih jeli, ia juga menyimpan narasi keterputusan emosional.
“Seperti sendal yang putus di tengah jalan, kau tinggalkan aku di separuh jalan”—ungkapan ini bukan hanya soal sendal, melainkan kiasan atas relasi yang ditinggalkan dan kepedulian yang pudar. Lagu ini menjadi semacam kamuflase kultural, tempat masyarakat memproyeksikan rasa takut kehilangan dan ketidakpastian akan peran mereka di masa depan.
Kolonialisme Gender dan Ingatan Budaya
Konsep kolonialisme gender dari María Lugones membantu kita memahami bahwa struktur patriarki lokal tak bisa dilepaskan dari jejak kolonialisme. Perempuan di Wakatobi—dan di banyak masyarakat non-Barat—dibentuk bukan hanya oleh adat, tetapi juga oleh kuasa kolonial yang menata ulang peran-peran sosial secara rasialis dan hierarkis. Lagu daerah menjadi salah satu media yang merekam—dan sekaligus mereproduksi—struktur tersebut.
Dalam Sepuli Na Jandi maupun Sandali Tolapasi, perempuan diposisikan sebagai figur pasif yang idealnya menunggu, tunduk, dan tetap di tempat. Ketika perempuan mulai mengambil ruang dan bicara lebih lantang, narasi lagu justru menyuarakan kehilangan, seolah-olah tatanan lama yang “ideal” sedang goyah. Ini adalah bentuk regulasi budaya yang mengingatkan bahwa “normalnya” perempuan tak bergerak terlalu jauh dari batas yang telah ditetapkan.
Namun di sisi lain, lagu-lagu ini juga memperlihatkan dinamika negosiasi. Perubahan sosial tak bisa dibendung sepenuhnya. Lagu menjadi medan simbolik tempat ingatan kolonial bertemu dengan pengalaman kontemporer. Dalam lirik yang dirapal dan dinyanyikan ulang, kita melihat bagaimana kuasa lama mencoba bertahan, tapi juga secara tak sadar memberi tempat bagi wacana baru tentang perempuan yang mandiri dan aktif.
Baca Juga: Feminisme Global, Bangun Solidaritas Transnasional Hapus Penindasan
Lagu rakyat bekerja dalam kerangka yang oleh para feminis disebut sebagai rezim emosi—aturan tak tertulis tentang siapa yang boleh merasa apa, dan bagaimana mereka mengungkapkannya. Dalam masyarakat seperti Wakatobi, ekspresi emosional yang terlalu eksplisit dianggap tidak sopan. Tapi lewat lagu, batas-batas itu bisa dilampaui. Emosi boleh muncul, asal dalam bentuk simbolis yang diterima budaya.
Bagi laki-laki yang merasa kehilangan kuasa seperti pada Sepuli Na Jandi adalah ruang kompromi. Mereka bisa menangisi hilangnya kontrol tanpa harus mengakui secara langsung. Lagu menjadi bentuk “pengakuan tidak langsung” atas ketimpangan yang berubah.
Dalam proses itu pula, perempuan hadir sebagai figur yang tak lagi bisa diabaikan. Ia bukan sekadar objek dalam cerita, tapi juga subjek dalam perubahan.
Menariknya, meski lagu ini terkesan mempertahankan nilai konservatif, ia juga menjadi kanal evolusi. Dengan terus dinyanyikan dan diwariskan, ini membuka peluang untuk reinterpretasi. Generasi muda tak hanya mewarisi nada, tetapi juga menafsirkan ulang maknanya.
Baca Juga: Apa itu Feminisme dan Kenapa Kita Membutuhkannya?
Disinilah pentingnya membaca lagu dengan perspektif feminisme dekolonial: agar kita tidak hanya melacak kuasa yang sedang beroperasi, tetapi juga peluang emansipasi yang tersembunyi dalam bentuk-bentuk yang tak kasatmata.
Membaca lagu daerah seperti Sepuli Na Jandi dan Sandali Tolapasi dengan lensa feminisme dekolonial membuka ruang bagi pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana kuasa bekerja dalam bentuk-bentuk kultural. Lagu bukan hanya cermin masyarakat, tetapi juga alat produksi makna. Ia menyuarakan kehilangan, ketakutan, dan resistensi terhadap perubahan—tapi juga menciptakan ruang bagi negosiasi dan pergeseran nilai.
Dalam dunia yang terus berubah, lagu menjadi penanda. Ia mengarsipkan kerentanan dan harapan. Ia memungkinkan masyarakat bicara tanpa harus berteriak. Dan yang terpenting, ia menunjukkan bahwa bahkan dalam struktur budaya yang tampak statis, selalu ada celah untuk bergerak, berunding, dan membayangkan masa depan yang lebih setara.
Dengan memahami lagu sebagai medan kuasa, kita diajak untuk tidak hanya menikmati nadanya, tetapi juga membongkar pesan-pesan tersembunyi di balik liriknya. Karena di sanalah politik berlangsung—diam-diam, tapi dalam dan berlapis.






