Mengelola rumput di halaman dan kemudian menjualnya, merupakan pekerjaan yang menjanjikan bagi para perempuan lansia atau lanjut usia di Malang, Jawa Timur.
Di masa mudanya, puluhan tahun mereka bekerja jadi buruh tani di sawah, dari subuh sampai sore. Setiap hari mereka berjalan jauh. Ketika panen, mereka akan dibayar sedikit upah dan diberikan sedikit hasil panen.
Saat ini, karena tak bisa jadi buruh tani di sawah dan lahan tebu karena usia yang makin tua, para perempuan petani di Malang kemudian menyediakan jasa sebagai buruh tani dengan cara mengolah rumput di pekarangan. Di masa lansia, mereka tetap membutuhkan pekerjaan untuk hidup, jadilah mereka petani rumput di halaman rumah. Rumput-rumput tersebut kemudian dijual.
Kini tiap hari mereka hidup dari mengolah tanah pekarangan yang menjadi lahan rumput. Ada yang mengolah pekarangan di halamannya sendiri, tapi ada juga yang menjadi buruh tani dengan mengolah rumput di halaman orang lain.
Hal itu yang dilakukan Riyamah (69), Tun (67) dan Fitrati (80), 3 perempuan petani di Malang. Rumput dijual dengan harga Rp. 15 ribu permeter persegi. Pendapatan sedikit tak apa, asal mereka bisa tetap hidup.
Riyamah terlihat duduk di antara hamparan rumput di pekarangan rumah nya ketika Konde.co datang. Caping, topi khas petani menutup kepalanya dari teriknya sinar matahari.
Jemarinya tampak terus bergerak, mencabut rumput liar yang muncul di antara tanaman. Nenek 69 tahun itu sedang bertani rumput. Bukan padi, bukan pula sedang menanam jagung atau tebu.
Riyamah adalah salah satu petani rumput di wilayah Dusun Napel, Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Di Desa Wajak ini, banyak perempuan lansia kemudian memanfaatkan halaman rumah untuk membudidayakan rumput. Semua ini mereka lakukan untuk bertahan hidup.
“Sejak 2005 saya kemudian menanam rumput manila atau rumput Jepang ini,” katanya.
Baca juga: ‘Seribu Bayang Purnama’: Ajak Petani Muda Terapkan Metode Alami, Tapi Perempuan Petani Minim Disorot
Ditemui di kediamannya Kamis 31 Juli 2025, Riyamah menyebut tak pernah menuntaskan pendidikan dasar. Kemampuan menanam rumput pun didapat secara otodidak, getok tular dari petani lain yang sudah lebih dahulu menanam di wilayahnya. Pekerjaan ini sudah dijalani sejak 20 tahun lalu. Hasilnya disebut cukup untuk menghidupi dirinya, juga uang jajan tujuh cucunya hingga kini. Rumput hias itu kemudian juga menjadi lapangan pekerjaan baru yang membuatnya berhenti mengadu nasib di negeri Jiran, Malaysia.

“Tahun 2001 saya sempat merantau ke Brunei juga Malaysia. Pulang karena nggak tega melihat anak bungsu saya masih kecil,” urai Riyamah sambil tertawa kecil mengenang beratnya hidup kala itu.
Jumlah perempuan di lahan pertanian cukup banyak. Riset Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 menyebut, perempuan mengisi 30 persen dari 27,5 juta petani di Indonesia. Di Jawa Timur sendiri, petani perempuan mencapai 890 ribu, dengan total petani sebanyak 4,7 juta orang di tahun 2023.
Menjadi petani rumput jadi pilihan. Biasanya rumput tersebut jika sudah ditanam selama 20 hari, sudah bisa dijual, tapi kalau cuaca panas bisa sampai 3 bulan baru bisa dijual. Perempuan lansia disini tekun-tekun. Kebanyakan lansia punya problem untuk mendapatkan uang karena dianggap sudah tidak produktif. Rumput Jepang kemudian membuka peluang bagi buruh tani untuk bertani meski hanya di pekarangan sendiri.
Walau bertani rumput di halaman, namun seperti petani pada umumnya, mereka kerap menghadapi berbagai tantangan. Beberapa persoalan yang sering dihadapi meliputi: perubahan iklim seperti rumput yang kering karena panasnya cuaca, keterbatasan lahan, akses pembiayaan, dan kurangnya infrastruktur yang memadai. Mereka juga punya keterbatasan untuk menjual dengan harga jual yang tinggi, karena kerap tak bisa menjual dengan harga yang lebih tinggi.
Riyamah sudah terbiasa bekerja sejak dinikahkan di usia 14 tahun. Ia menjadi petani di sawah dan menjadi penjual sayur di usia itu.
Baca juga: Pengalamanku Belajar dari Perempuan Petani: Kerja Keras, Memastikan Persediaan Pangan
Di usia 44 tahun, ia terpaksa menjadi pekerja migran sebab kebutuhan dua anaknya yang semakin besar, juga jeratan utang. Pekerjaan menjual sayur tak lagi mencukupi kebutuhan hidupnya.
“Ya kalau usia saya masih muda, mau berangkat lagi. Tapi ponakan saya minta saya ngurus pekarangan rumah ibunya, kakak saya. Mereka lalu menetap di Kalimantan,” imbuhnya.
Permintaan keponakannya menahan kaki Riyamah untuk tak lagi berangkat mendulang ringgit di Malaysia.
Kini ia merawat dua pekarangan lahan rumput milik kakaknya. Luasnya total 300 meter persegi. Bila tidak hujan, Riyamah akan menyiangi rumputnya minimal dua jam setiap hari. Di musim hujan pula, rumputnya lebih cepat terbeli. Bisa hampir tiap bulan panen. Namun saat kemarau, pembeli rumput semakin berkurang. Kualitas rumput juga tak begitu bagus.
Rumput yang bagus, tidak cepat kering jika dicabut. Bila dijual ke pembeli langsung, harganya mencapai Rp15 ribu per meter. Namun jika tengkulak yang membeli dengan jumlah banyak, harganya bisa turun hingga Rp 7.000. Begitulah sisi pahit menjadi petani rumput.
“Kalau ramai, hasilnya lumayan, setidaknya cukup untuk hidup saya dan cucu. Bulan ini sedang macet, sudah 3 bulan belum ada pembeli,” sebut Riyamah.
Sesaat matanya tertuju ke arah jalan di depan pekarangannya. Ia melambai cepat sambil berteriak ke arah pengendara motor, seorang ibu muda dan anak kecil.
“Itu cucu saya, bersama ibunya. Sudah punya rumah sendiri,” katanya sambil tersenyum lebar. Riyamah terkenang dengan jerih payahnya dulu yang bisa menabung untuk anaknya.
Merintis Sejak 1991
Tak jauh dari pekarangan Riyamah, terdapat hamparan rumput yang jauh lebih luas, sekitar dua kali lapangan basket.
Ada tujuh petani perempuan jongkok dan berjalan mundur, menanam rumput di lahan yang berlumpur. Seorang petani laki-laki menambah tanah di beberapa bagian secara berkala. Selang air tampak tak berhenti membasahi tanah. Mereka bekerja untuk Husnia, petani sekaligus pengepul besar di Napel. Siang itu dia duduk beralas tanah tak jauh dari para petaninya.

“Pak, sing iku lemahe kurang (Pak, yang sebelah situ tanahnya kurang),” katanya sambil menunjuk lokasi yang harus ditambah tanah.
Perempuan berusia 57 tahun itu mengingat, ia mulai menekuni tani rumput sejak tahun 1991. Kala itu ia baru saja pulang merantau dari Kalimantan. Salah satu perangkat desa pulang sambil dari Jepang sambil membawa rumput.
“Sehingga disebut rumput Jepang, padahal ini Namanya rumput manila,” katanya sambil tersenyum mengingat awal mula ia mulai menanam rumput.
Memanfaatkan pekarangan rumahnya, Husnia mulai menekuni rumputnya. Ia juga pernah menjadi buruh tanam di lahan orang. Semakin lama, semakin banyak pembeli, ia makin tahu dan belajar. Semakin banyak pula warga setempat yang menanam rumput. Ia menyebut petani kini tersebar di dua dusun dan satu desa lain di Wajak. Antara lain di Patuk, Poh Kecik, dan Desa Kidang Bang. Meski belum ada kelompok tani rumput yang terbentuk.
Baca juga: Di Balik Sepiring Nasi Yang Kita Santap, Tersembunyi Keringat dan Air Mata Perempuan Petani
Ia juga tak harus menyewa banyak tanah untuk menanam rumput sendiri. Warga di desanya pun tergolong tekun merawat rumput, sehingga kualitasnya tergolong baik.
“Sekarang tambah banyak yang nanam di sini, saya sudah nggak mampu lagi nanam di lahan orang. Semakin banyak yang nanam ya tambah seneng, karena bisa kulak banyak juga,” lanjut ibu dari dua anak ini.
Lahannya kini lebih dari satu hektare. Tanaman tebu yang biasa menempati hamparan lahan di belakangnya, sudah berganti dengan rumput dalam beberapa tahun terakhir.
“Lebih menguntungkan nanam rumput. Kalau sedang ramai usia 20 hari sudah bisa dipanen. Kalau tebu masih nunggu satu tahun untuk panen,” urainya.
Pembelinya juga bukan tengkulak atau konsumen biasa. Sejumlah proyek pemerintah juga meminta jasa tanam dan rumput dari tempatnya, misalnya untuk pembangunan taman di kantor atau proyek pemerintah.

“Tahun lalu kami diminta menanam 13 hektare lahan di areal Candi Borobudur. Setiap hari mereka ambil satu hingga dua truk rumput dari sini. Semuanya selesai dalam tiga bulan,” katanya sambil menunjuk beberapa petani yang dibawanya ke Borobudur kala itu.
Baca juga: Perempuan Petani di Lingkar Tambang Berdaya di Pasar Garasi Pemulihan
Puluhan tahun menjadi petani rumput menurutnya merupakan peluang pasarnya semakin banyak. Namun kesulitan yang dialami pun bertambah, terutama dari cuaca. Kemarau panjang tahun lalu membuat rumputnya mudah kering sebab air yang terbatas.
“Sumur waktu itu kering. Namanya kemarau ya mau bagaimana lagi. Pokoknya nanam saja, mau sedikit atau banyak yang penting masih ada kerjaan,” imbuhnya.
Mak Tun dan Fitrati, dua buruh tani Husnia pun merasakan dampak dari berladang rumput.
“Dulu sebelum ada rumput ini ya kami jalan sampai jauh, untuk membantu nanam padi atau tebu. Sekarang tidak perlu bingung cari kerja, sudah ada kerjaannya setiap hari,” ujar Mak Ti, sapaan Fitrati. Buruh tani itu mengaku berusia 80 tahun. Saat itu ia mengambil jeda sesaat. Beranjak mengambil segelas air putih di tepi lahan. Ia berjalan pelan, postur tubuhnya tak lagi tegak.
Petani Pekarangan Wajak Rajin Berkebun
Keberadaan petani rumput di Wajak banyak menjadi objek penelitian akademisi. Medha Baskara, dosen di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, menyebut ragam rumput yang ditanam warga Wajak rata-rata adalah jenis Zoysia Matrella atau rumput manila, rumput bermuda atau Cynodon Dactylon, juga gajah mini atau Axonopus.
Rumput manila dan bermuda banyak dipakai di bandara, perumahan, lapangan golf atau lapangan sepak bola.
“Bahkan Stadion Gelora Bung Karno juga ambil rumput dari Wajak. Proyek nasional seperti IKN juga ambil rumput dari sana,” kata Medha, dihubungi lewat telepon pada Jumat, 1 Agustus 2025.
Rumput jadi bahan penting dalam industri lansekap. Di Indonesia, rumput jenis tersebut banyak diproduksi petani Pujon wilayah Kabupaten Malang, Bumiaji wilayah Kota Batu, dan petani Wajak. Semuanya berada di Jawa Timur.
“Dan lahan terluas memang ada di Wajak. Penelitian bersama mahasiswa, luas lahan rumput di Wajak mencapai 40 hektare, sedangkan Pujon dan Bumiaji luasnya tak sampai sehektare,” katanya.
Menurutnya, warga Wajak memang lebih tekun menggarap pekarangan menjadi lahan produktif. Ini pula yang menyebabkan banyak perempuan menjadi tani rumput di wilayah itu. Berbeda dengan Bumiaji dan Pujon, rumput dikelola di lahan pertanian jauh dari pekarangan. Meski secara umum industri lansekap di Malang, Batu dan Kediri, banyak didominasi pekerja perempuan.
“Jumlahnya juga semakin banyak. Biasanya ini karena ada yang merintis, kemudian yang lain jadi follower,” lanjutnya.
Popularitas rumput wajak dan tingginya permintaan terutama di musim hujan, terkadang bisa membuat potensi pendapatan mencapai empat kali lipat dibanding modal yang dikeluarkan.
“RC ratio (revenue cost) bisa mencapai 1:4. Modalnya 1 keuntungannya bisa lebih dari 300 persen. Jadi sangat tinggi sekali potensi pendapatannya,” urainya.
Baca juga: Tak Menyerah di Tengah Pandemi: Para Perempuan Petani Lahirkan Coklat Mboro
Tentu pendapat maksimal juga bergantung pada kualitas rumput. Seperti usia yang cukup, tutupan 100 persen, juga kemurnian jenis rumput.
“Di Wajak, bahkan tutupan masih 50 persen saja, sudah laku dan jadi rebutan pembeli, saking sedikitnya stok yang ada,” katanya.
Sehingga, masih banyak peluang yang bisa dikembangkan warga Wajak untuk mencapai pendapatan yang lebih baik. Seperti menyediakan rumput dengan kualitas baik, menggunakan teknik tanam benih agar spesies rumputnya terjaga. Juga pentingnya menggunakan nama ilmiah untuk memastikan pesanan pembeli sesuai dengan stok rumput yang ada. Petani saat ini, belum terpapar banyak tentang kemurnian, juga nama varietas tumbuhan, juga menanam menggunakan teknik vegetatif.
“Sehingga masih ada peluang untuk menyediakan rumput berkualitas dengan segmen pasar dan harga yang lebih baik pula. Saya berharap ada petani muda di sana, yang mulai mengisi peluang ini,” imbuhnya.
Meski tantang ke depan juga tak semakin mudah. Perubahan iklim dengan kemarau yang beberapa kali lebih panas dan lebih panjang, juga berdampak buruk pada ketahanan rumput yang butuh banyak air itu.
Untuk meminimalisir risiko kering, Alumnus arsitektur ITB ini memberikan tips agar petani menjaga pasokan air di fase awal tanam.
“Karakter tanah di Wajak itu sangat bagus untuk menyimpan air lebih lama. Jadi dengan kedalaman akar 2cm, rumput ini lebih butuh air di masa awal tanam. Setelah lebih panjang, dia akan lebih kuat,” urainya.
Baca juga: Manis di Bibir, Pahit di Ladang: Tantangan Petani Kakao Perempuan di Indonesia
Di luar itu semua, dengan menjadi petani penanam rumput di halaman telah menjadikan lansia punya pekerjaan.
Perempuan Lansia di Indonesia rata-rata punya problem yang mesti ditangani. Di tahun 2019-2020 menurut pemetaan yang dilakukan LBH APIK, para lansia punya banyak persoalan. Seperti sebanyak 9,38% Lansia selama ini hidup sendiri, mayoritas perempuan Lansia tidak punya asuransi dan 5,75% mengalami kerentanan ekonomi. LBH APIK juga mendata para Lansia mendapatkan kekerasan psikis, fisik, ekonomi dan kekerasan seksual.
Selama ini menurut hasil survey LBH APIK, Lansia juga sulit menjual hasil bumi, misalnya dibeli murah oleh tengkulak sehingga penghasilan sangat minim,tidak dapat berjualan ke pasar dll. Mereka juga banyak yang tak terdata sebagai kelompok miskin sehingga tidak mendapat bantuan sosial.
Maka memberikan lansia pekerjaan atau aktivitas baru merupakan salah satu penyelesaian dalam mengatasi problem mereka.
(Editor: Luviana Ariyanti)






