Kehidupan seorang perempuan bernama Mira tampak bahagia bersama anak perempuannya, Dinda. Tapi, di balik semua itu, sebuah keputusan besar membayangi Mira sebagai seorang perempuan dan ibu. Hal itu demi kebaikan Dinda, tapi sekaligus juga membuat Mira harus berpisah dari sang anak. Akankah ada hari bahagia yang sesungguhnya bagi ibu dan anak tersebut? Premis itu melandasi film pendek ‘Will Today be a Happy Day?’ (2025) karya M. Kanz Daffa yang diputar dalam program ‘Herstory’ Jakarta Film Week 2025 di Teater Sjuman Djaya, Taman Ismail Marzuki pada Sabtu, 25 Oktober 2025.
Kisah Mira dan Dinda menjadi satu dari beberapa film pendek mancanegara tentang perempuan yang ditayangkan di segmen ‘Herstory’. Selain ‘Will Today be a Happy Day?’ film pendek lainnya adalah ‘Bitter Chocolate’ (2024, disutradarai Sahar Sotoodeh), ‘The First Times’ (2025, karya Giulia Cosentino dan Perla Sadella), ‘Five Ways to Get Rid of Hickey’ (2024, karya Colectivo Ninita Perversa), dan Razeh-del (2024, karya Maryam Tafakory).
Sesi pemutaran film lalu dilanjutkan dengan diskusi bertajuk ‘Women in Cinema: a Herstory Dialogue’. Perbincangan diisi oleh M. Kanz Daffa (sutradara ‘Will Today be a Happy Day?’), Hannah Al Rashid (aktris dan co-founder Kawan Puan), dan Julita Pratiwi (peneliti dan pengarsip film di Kelas Liarsip), dengan moderator film programmer Raslene.
Daffa mengungkapkan alasan dirinya menggarap film pendek tentang ibu dan anak tersebut. Menurut lelaki itu, awalnya film itu dibuat bukan untuk membicarakan tentang perempuan, feminisme, atau semacamnya. Pengalaman personal menjadi titik mulanya memproduksi film ‘Will Today be a Happy Day?’.
“Karena pertanyaan ibu aku, pertama kalinya, yang ingin menjadi TKW (untuk) pergi bekerja,” ujar Daffa dalam sesi diskusi. “Dan itu menjadi sesuatu yang janggal dan meresahkan bagi aku. Akhirnya aku coba mengingat bagaimana rasa ketika aku masih kecil waktu ditinggal oleh ibu aku.”
Baca juga: Film ‘Andai Ibu Tidak Menikah Dengan Ayah’: Perempuan Sudah Jatuh, Tertimpa Beban Kerja Perawatan
Melalui ‘Will Today be a Happy Day?’ Daffa ingin membagikan perasaan itu. Sementara itu, ia juga menyadari posisinya sebagai laki-laki; ada beberapa hal yang dirasakan perempuan dan tidak ia rasakan. Ia pun mulai belajar untuk mendengarkan cerita para perempuan. “Baik dari talent aku, dari ibu aku, dari orang yang jadi ibu, orang yang menjadi TKW, dan segala macam,” jelasnya. Semua itu pun ia coba masukkan ke dalam film.
Hannah Al Rashid juga membagikan perspektifnya terkait isu gender di perfilman. Ia sendiri kerap berkecimpung dalam gerakan aktivisme perempuan dan gender secara umum. Menurutnya, ada perubahan yang cukup signifikan selama 10 tahun terakhir ketika bicara soal isu gender di ruang umum.
“10 tahun yang lalu, nggak ada lho, yang ngomongin isu perempuan. Kalau 10 tahun yang lalu, orang yang speak up soal pelecehan seksual itu sedikit banget,” tegas Hannah. “Sekarang, look how much it has changed in the past decade. Itu luar biasa dan itu progress yang luar biasa. Jadi I think the momentum lagi ada banget dan kita harus encourage itu.”
Pada tahun 2022, ia bersama Kawan Puan dan para perempuan pekerja film lainnya menyoroti darurat kekerasan berbasis gender dan perundungan (bullying) di industri perfilman. Mereka juga mendesak adanya regulasi untuk mencegah dan menghentikan kekerasan seksual di industri tersebut.
“I think kita udah melihat perubahan yang cukup besar. Kayak kalau kita lihat perubahan 10 tahun terakhir ini, ngomongin perempuan atau isu harassment atau women in film; there has been a very big stride moving forward,” ujar Hannah Al Rashid.
Sementara itu, menurut Daffa, ia berusaha untuk tidak terlalu banyak menempatkan perspektif dan pemikirannya sebagai laki-laki dalam produksi film. Sebaliknya, ia banyak mengobrol dengan para talent dan produser tentang pembentukan karakter perempuan dalam filmnya.
Baca juga: Pidato Kebudayaan Agustina Prasetyo Murniati: Herstory, Perempuan Adalah Penjaga Kehidupan
“Terus kita diskusi, gimana cara membentuk karakter perempuan yang utuh di dalam film ini? Kasih kesempatan buat mereka juga,” ungkap Daffa.
Bagi Julita, ‘Herstory’ bukan hanya ruang selebrasi ragam karya sutradara perempuan, nonbiner, atau laki-laki sekutu (ally). “Kita juga mencoba ingin melihat ‘Herstory’ itu sebagai ruang untuk memelihara wacana dan narasi seputar perempuan dan sinema.”
Julita juga menekankan bahwa advokasi isu gender dalam perfilman bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Jika jejaknya ditelusuri, diskusi mengenai perempuan dalam perfilman lahir dan dipelihara terutama sejak 1970-an. Salah satu tokoh yang berada di tengah aktivisme gender dalam perfilman adalah Laura Mulvey, penulis ‘Visual Pleasure and Narrative Cinema’. Laura Mulvey juga menjadi salah satu sosok yang pertama kali mengenalkan istilah ‘male gaze’ atau ‘tatapan laki-laki’ saat membahas soal patriarki dan seksisme yang marak di dalam sinema.
Maka dari itu, Julita merasa keberadaan program-program film yang berfokus pada narasi perempuan harus dipelihara. “Karena kan, teman-teman bisa memahami, kita ada di rezim yang segampang itu menghilangkan sesuatu, menghapus sesuatu,” katanya. “Gimana caranya kita bisa menopang itu?”
Tambah Julita, agen pemelihara kesetaraan gender dalam perfilman bukan hanya sosok seperti sutradara atau pembuat film. Agen-agen itu juga adalah para penonton dan penikmat film saat ini. Jika dulu Laura Mulvey dan para aktivis gender di industri film membuat esai-esai tentang bias gender di media, kini kita dapat mengalihkannya menjadi unggahan media sosial atau konten-konten lainnya.
“Mungkin ini bisa jadi refleksi bersama. Bagaimana kita itu bukan hanya punya PR untuk memelihara film-film dari sutradara perempuan dan juga pengetahuan mereka. Tetapi kita juga bisa memelihara program-program yang mewadahi narasi dan wacananya,” kata Julita.
Baca juga: ‘Karena Aku Ingin Kamu, Itu Saja’ Film Rangga dan Cinta Bikin Aku Susah Move On
Kebalikannya, Hannah justru berharap, ke depannya tidak ada lagi program yang secara khusus harus dibuat untuk mengakui keberadaan karya tentang perempuan atau yang diproduksi oleh perempuan. Sebab penyisihan perempuan dan minoritas dari skena perfilman arus utama itulah penyebab munculnya segmen-segmen khusus keberagaman. Pada dasarnya, kesetaraan gender berarti memandang laki-laki, perempuan, serta ragam gender dan seksualitas lainnya punya kemampuan dan kesempatan yang sama dalam berkarya.
“Selama urusan perempuan masih dipimpin dan diatur oleh laki-laki, I don’t have so much hope, I guess,” ucap Hannah getir. “Tapi mungkin salah satu hal yang lumayan konsisten kalau kita lihat, if we’re talking about the first wave of feminism sampai sekarang, masih konsisten laki-laki yang ngatur kebijakan. Laki-laki yang ngatur what we should and should not do. Walaupun makin banyak laki-laki sekutu dan perempuan juga dalam role kebijakan dan kepemimpinan, tapi ya, we need more aja menurutku.”
Hannah juga menyebut kondisi spesifik di Indonesia, ketika ruang gerak perempuan pun dibatasi oleh laki-laki. “Kalau komisi yang mengatur urusan perempuan aja masih (diisi) laki-laki semua, ya, mau gimana?”
Di sisi lain, Hannah tetap menaruh harapan. Sebutnya, ia lebih melihat kepada rakyat sipil yang sesungguhnya punya kekuatan besar untuk melawan ketidakadilan. “Community, grassroots, domino effects of one thing happening and having this whole reaction. Misalnya kayak demo-demo kemarin atau kasus kekerasan yang kita lihat, yang benar-benar affecting you in such a way and you want to do something. Menurut gue, jangan pernah kehilangan itu,” tegasnya.
‘Herstory’ adalah salah satu program dalam Jakarta Film Week 2025 yang digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 25 Oktober 2025. Segmen spesial ini didedikasikan untuk mengeksplorasi ragam narasi dan peran penting perempuan melalui sinema. Selain mengangkat kisah perjuangan perempuan, melalui film-film yang diputar, program ini juga berusaha mematahkan male gaze dalam media yang malah memosisikan perempuan sebagai objek pasif yang tidak berdaya.
Baca juga: Film ‘A Normal Woman’: Lagi-lagi, Antagonis Jahat dan Protagonis Baik Disematkan Pada Perempuan
“‘Herstory’ selalu menjadi ruang penting di Jakarta Film Week untuk menyoroti cara perempuan melihat, mengalami, dan menafsirkan dunia melalui sinema,” ujar Novi Hanabi, Program Manager Jakarta Film Week.
“Tahun ini, kami ingin mengajak penonton tidak hanya menonton film, tetapi juga memahami konteks di baliknya—tentang keberanian, ingatan, dan kerja-kerja yang sering kali tak terlihat namun begitu bermakna dalam kehidupan sehari-hari.”
2025 menjadi tahun ke-5 perhelatan Jakarta Film Week (JFW). Festival film internasional yang berlangsung pada 22-26 Oktober 2025 di 7 lokasi di DKI Jakarta ini merupakan inisiasi Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta. JFW digelar sebagai ruang bagi keberagaman suara dan perspektif di ruang sinema. Sejak awal, festival ini menjadi wadah bagi para sineas lokal maupun internasional untuk berinteraksi dan menampilkan karya mereka. Selain pemutaran film, JFW juga berupaya mendorong perkembangan industri film dan kreatif Indonesia yang lebih inklusif.
Artikel ini merupakan bagian dari kerja sama Konde.co dengan Jakarta Film Week (JFW) 2025.
Foto: Salsabila Putri Pertiwi/Konde.co






