Netflix kembali merilis sebuah film Indonesia berjudul “A Normal Woman” pada 24 Juli 2024.
Film ini menampilkan Marissa Anita dan Dion Wiyoko sebagai tokoh utama dan disutradarai oleh Lucky Kuswandi.
Beberapa hal yang bisa dilihat secara kritis dari perspektif feminis misalnya, di film ini, laki-laki dianggap sebagai sosok penurut, pekerja keras dan mudah berkompromi. Walau menampilkan isu kesehatan mental yang apik, namun film ini terasa seperti cerita drama pada umumnya.
Di awal film “A Normal Woman” bercerita tentang tuntutan agar perempuan hidup layaknya perempuan yang selama ini dikonstruksikan secara normatif, yaitu sebagai istri dan pendukung suami, demi mempertahankan nama baik keluarga. Anomali dalam film ini terjadi ketika laki-laki digambarkan sebagai subjek yang mengendalikan istrinya, namun ia lemah di depan banyak perempuan di sekitarnya yang mengendalikannya. Hal-hal yang selama ini minim terjadi dalam kehidupan perempuan, namun bisa saja terjadi dalam banyak drama.
Film ini menjadi film biasa, film normatif yang pada akhirnya tidak mampu menyajikan hal-hal baru. Dalam perspektif feminis, ini yang kemudian menimbulkan pertanyaan: jika perempuan ditampilkan sebagai tokoh, kenapa perempuan selalu hanya ditampilkan sebagai sosok yang sangat lemah dan sosok yang sangat jahat, dua kutub yang berseberangan dan saling menghancurkan.
Baca Juga: ‘In Her Hands’: Masa Depan Afghanistan di Tangan Perempuan Melawan Rezim yang Membungkam
Perempuan di film ‘A Normal Woman’ ditampilkan sebagai sosok yang antagonis, sadis, tanpa ampun dan misoginis. Juga sebagai sosok protagonis yang lemah dan penurut.
Padahal sejatinya, hidup tak ada yang benar-benar hitam (jahat) dan tak ada yang benar-benar putih (baik). Namun film ini menyajikan perempuan yang sangat hitam dan perempuan yang sangat putih. Pengontrasan ini yang dilakukan sejak awal sampai akhir film. Sudah bisa ditebak, seperti drama pada umumnya, para perempuan ini kemudian saling serang, saling mengorbankan perempuan lain, demi kemenangan mereka.
Laki-laki justru diposisikan sebagai sosok penurut, kompromis, pekerja keras.
‘A Normal Woman’ merupakan film psikologis. Film ini dibintangi oleh Marissa Anita (Milla), seorang perempuan sosialita yang hidupnya sangat diatur oleh ibu mertuanya, Liliana Gunawan (Widyawati). Ia juga diatur oleh ibu kandungnya, Novi (Maya Hasan) dan juga oleh suaminya, Jonathan Gunawan (Dion Wiyoko). Lengkap sudah hidup Milla: tubuhnya dibenturkan kesana kemari oleh orang-orang di sekelilingnya.
Milla menikah dengan Jonathan dengan konsekuensi harus menjadi objek dari sang ibu mertua, Liliana yang mengaturnya demi Jonathan, untuk melancarkan bisnis keluarga mereka.
Hidup Milla penuh dengan tekanan, ia hanya bisa diam, pura-pura bahagia ketika bertemu orang, diwawancara wartawan dengan senyum padahal terpaksa, demi nama baik keluarga. Sampai kemudian ia terkena ruam misterius.
Ruam misterius ini kemudian menjadi jalan untuk membuka siapa Milla sebenarnya, atau siapa sebenarnya Milla di masa lalu.
Baca Juga: Invisible No More: Sue Storm dan Kekuatan Perempuan dalam Dunia Superhero
Film ini diawali dengan Milla yang harus mengatur ruang makan, menyediakan bunga kesukaan ibu mertua, menyiapkan baju untuk Jonathan, dan bertanggungjawab atas semua yang terjadi di dapur. Namun, di luar itu, Milla juga seorang perempuan sosialita yang harus berpura-pura bahagia demi bisnis keluarga.
Milla dan Jonathan mempunyai anak, namanya Angel (Mimi Shafa). Angel menyadari bahwa parasnya tak secantik ibunya atau tak secakep ayahnya, sehingga Angel yang masih anak-anak kemudian ditawari oleh Liliana untuk melakukan operasi plastik. Angel yang punya krisis kepercayaan diri akibat sering dikatain berwajah jelek, berpikir untuk mau melakukan operasi plastik.
Milla bingung, kenapa anak sekecil Angel harus operasi plastik. Ia kemudian stres, dan ini menyebabkan timbulnya ruam misterius di tengkuk lehernya. Semua orang kecuali Angel tak percaya soal penyakit Milla. Mereka mengatakan bahwa Milla kena ruam akibat dikutuk Tuhan karena kurang berdoa. Padahal, Milla punya persoalan psikologis atau mental, ia tidak ingat siapa dirinya dan masa lalunya.
‘A Normal Woman’ sejatinya mengambil angle tentang 4 tokoh perempuan. Pertama, ibu Milla yang selalu ingin hidup enak dan ingin kaya raya. Padahal hidupnya hanya main judi dan numpang hidup dengan Jonathan. Lalu ia menikahkan Milla dengan Jonathan.
Baca Juga: ‘GJLS Ibuku Ibu-Ibu’: Kapan Film ‘Lucu’ Bisa Bebas dari Pola Humor Seksis dan Ableist?
Perempuan kedua, ibu mertua yang sadis dan mengendalikan semuanya demi bisnis dan nama baik keluarga Gunawan.
Sosok ketiga, Erika (Gisella Anastasi), perias wajah dan perempuan penggoda suami orang (Jonathan). Lalu keempat, Milla yang lemah dan penurut.
Film ‘A Normal Woman’ awalnya mencoba mendekontruksi hal-hal patriarki yang selama ini ada di sekitar kita: mengapa perempuan harus punya sifat penurut, sedangkan laki-laki bisa berkuasa, walau dalam adegan selanjutnya, laki-laki juga dikendalikan ibunya atas nama baik keluarga. Namun selanjutnya, nilai-nilai dalam film justru terjebak dan mengkonstruksikan perempuan secara interpretatif sebagai orang yang harus cantik, penggoda, bisa memikat laki-laki, melakukan apapun demi sebuah martabat keluarga, lalu menikah, dan kaya-raya.
Walau ada perempuan yang diposisikan sebagai objek penderita seperti Milla, namun jumlah perempuan seperti sosok Mila di film ini sangat sedikit, hal-hal yang tidak banyak terjadi di kehidupan nyata.
Walaupun ada isu soal kesehatan mental yang mencoba diberikan perspektif dalam film ini, namun film ini terasa seperti cerita drama biasa, minim perspektif perempuan, kurang mengejutkan, mudah ditebak, diisi oleh karakter yang umumnya ada dalam drama.
Hal lain, film sebenarnya ingin menulis soal problem perempuan, namun tidak ditulis dari perspektif perempuan.
Baca Juga: ‘Seribu Bayang Purnama’: Ajak Petani Muda Terapkan Metode Alami, Tapi Perempuan Petani Minim Disorot
Yang diperlihatkan hanya persekongkolan jahat antara para perempuan dan menempatkan laki-laki sebagai sosok yang mudah berkompromi dan pekerja keras. Juga ada Milla yang ditempatkan sebagai objek untuk memuaskan ketamakan mereka. Paling tidak ini yang terlihat dalam film garapan Lucky Kuswandi yang naskahnya ditulis oleh Andri Cung.
Jika perempuan digambarkan sebagai subjek jahat dan penurut, kenapa laki-laki digambarkan sebagai subjek yang pekerja keras dan sangat mudah berkompromi? Dari perspektif feminis, ini merupakan salah satu titik lemah dari film ini: tidak mencoba membongkar yang selama ini banyak terjadi di kehidupan nyata, dan mengungkap alasan-alasannya.
(Sumber foto: Netflix)






