Membaca Aksi Berani Luna Maya dan Maxime Bouttier dalam Perspektif Feminisme

Luna Maya dan Maxime Bouttier menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama bisa pegang kendali dalam perkawinan.

Setahun sudah Luna Maya dan Maxime Bouttier menikah. Pasangan ini menikah pada 7 Mei 2025.

Alih-alih merayakan dengan cara konvensional, misalnya dengan foto-foto manis berbalut busana pengantin yang sempurna—mereka lebih memilih jalan yang berbeda dan berani. 

Melalui sesi foto yang diunggah pada 7 Mei 2026 ke media sosial, Luna Maya dan Maxime Bouttier menampilkan serangkaian potret dengan konsep yang memicu perdebatan: gender switch—atau bertukar pakaian. 

Maxime Bouttier tampil anggun mengenakan gaun putih dengan aksen bunga 3D rancangan Jean Tirtamarta, sementara Luna Maya gagah dengan setelan jas hitam bergaris dari desainer Dikha Sigit yang biasanya dikenakan laki-laki. Dilengkapi dengan rambut yang disisir rapi ke belakang (pulled-back hair), penampilan Luna di foto tersebut benar-benar melanggar pakem umum yang selama ini dipercaya– tentang bagaimana seharusnya perempuan Indonesia yang sudah menikah berpenampilan.

Ada satu kalimat sederhana yang tertulis pada unggahan mereka: “Cinta melampaui peran. Di suatu titik dalam tahun pertama cinta ini, kami berhenti bertanya siapa yang seharusnya menjadi siapa dan hanya menjadi rumah bagi satu sama lain.” Judul sesi foto mereka secara terbuka adalah “Love beyond roles” (Cinta di luar peran). Artinya, ini bukan sekadar iseng belaka—ini adalah statement artistik dan filosofis tentang hubungan mereka. 

Namun, reaksi publik yang muncul tidak bisa dibilang hangat. Justru, foto ini segera menjadi pusaran kontroversi di jagat maya. Sebagian besar komentar negatif yang muncul mengaitkan aksi mereka dengan agama, moralitas, dan apa yang disebut sebagai “budaya Timur”. 

Seorang netizen dengan lantang menuliskan kutipan hadis, sementara yang lain menyebut bahwa “seni itu jangkauannya luas tapi tetep inget norma & budaya,” serta “Apa pun ceritanya ini tetap salah dan tidak dibenarkan pria memakai pakaian wanita.” 

Baca juga: Luna Maya Bukanlah Objek, Dia Tidak “Akhirnya” Laku

Sebagian bahkan mengatakan foto ini bukan hanya “tidak pantas” tapi juga “penyimpangan akan kodrat”. Meskipun tentu ada pula yang membela dengan alasan nilai seni dan apresiasi, fakta bahwa kontroversi ini terjadi menunjukkan satu hal yang jelas: kita masih belum nyaman dengan pertukaran pakaian antara laki-laki dan perempuan, bahkan dalam konteks seni sekalipun.

Memaknai fenomena ini, maka kita harus bertanya: mengapa publik begitu terganggu dengan aksi yang sebenarnya tidak merugikan siapa pun? Jawabannya, dalam lensa feminisme, terletak pada bagaimana pakaian tidak hanya sekadar kain. Pakaian adalah sistem penanda gender yang selama berabad-abad digunakan untuk membangun dan mempertahankan hierarki sosial patriarki. 

Teori feminis telah lama menjelaskan bahwa apa yang disebut “maskulin” dan “feminin” bukanlah bawaan biologis yang mutlak, melainkan konstruksi sosial yang dipelajari dan diulang setiap hari. 

Jas adalah simbol dari dunia laki-laki: dunia publik, rasional, tegas, dan berkuasa. Gaun, di sisi lain, secara historis didesain untuk membatasi gerak perempuan dan menonjolkan estetika sebagai objek yang dipandang. Simone de Beauvoir, tokoh paling awal aliran feminis eksistensialis, secara revolusioner melontarkan kritiknya lewat tesis bahwa “One is not born, but rather becomes, a woman” (seseorang tidak dilahirkan sebagai perempuan, melainkan menjadi perempuan). Ini berarti bahwa atribut-atribut seperti lembut, emosional, atau berpenampilan rapi adalah hasil dari social conditioning, bukan dari gen. Sedangkan perspektif feminis gelombang ketiga (postmodernis) yang diusung oleh Judith Butler bahkan lebih radikal: ia berargumen bahwa gender adalah pertunjukan (performativity). Kita semua selalu “bertindak” sebagai laki-laki atau perempuan setiap hari melalui bagaimana kita berjalan, berbicara, dan tentu saja, cara kita berpakaian.

Dalam kerangka ini, “gender switch” yang dilakukan Luna dan Maxime bukanlah sekadar foto lucu-lucuan. Ia disebut tindakan subversif yang mengguncang fondasi heteronormativitas. 

Baca juga: Dulu Laki-laki, Sekarang Perempuan, Bisakah Aku Jadi Diriku Sendiri?: Cerita Transpuan

Ketika seorang laki-laki seperti Maxime memakaikan gaun, dia tidak sedang menjadi “perempuan”; dia sedang mempertunjukkan kepada publik bahwa kain tidak memiliki jenis kelamin. Ketika Luna memakai jas, dia tidak sedang menjadi “laki-laki”; dia sedang menunjukkan bahwa maskulinitas—kekuatan, ketegasan, kepemimpinan—juga bisa dimiliki oleh perempuan, baik secara fisik maupun simbolis. 

Kontroversi publik justru lahir karena masyarakat patriarki merasa “terancam” oleh tindakan ini. Mengapa terasa mengancam? Karena dalam logika patriarki, hierarki ditegakkan melalui perbedaan yang jelas. Laki-laki harus memakai pakaian laki-laki; perempuan harus memakai pakaian perempuan, karena jika batasan ini dikaburkan, maka legitimasi kekuasaan laki-laki atas perempuan ikut terusik. 

Untuk memahami mengapa foto ini sangat penting, kita perlu melihat sejarah publik terhadap tubuh perempuan, khususnya tubuh Luna Maya sendiri. 

Bertahun-tahun yang lalu, Luna Maya adalah korban dari salah satu skandal video pribadi paling viral di Indonesia. Ia dihakimi secara publik. Ia dilecehkan secara verbal oleh netizen yang merasa berhak mengomentari statusnya, usianya, fungsi reproduksinya, dan eksistensinya sebagai perempuan. Bahkan, ia disebut-sebut sebagai “segel rusak” atau “perempuan tidak layak” hanya karena laki-laki lain memperlakukan tubuhnya secara tidak hormat.

Sebagaimana yang ditulis dalam sebuah analisis, “Luna Maya adalah representasi segala ketidakadilan pada tubuh perempuan. Belasan tahun komentar buruk terus mengarah padanya. Pelecehan verbal berupa hujatan dan makian mulai tentang usianya, statusnya, masa lalunya, identitas, tubuhnya, fungsi reproduksinya dan eksistensinya.” Di negara yang pura-pura menjaga moralitas namun rakus mengonsumsi konten vulgar, Luna Maya adalah korban yang dijadikan kambing hitam. Dan kini? Setelah belasan tahun dihakimi, setelah dianggap sudah “habis” masa jayanya sebagai perempuan, Luna Maya berdiri di depan kamera dengan jas tegap dan sepatu hak tinggi sebagai istri yang sah dari seorang laki-laki yang 11 tahun lebih muda. 

Baca juga: ‘Raminten Universe: Life is a Cabaret’ Rayakan Keberagaman Lewat Seni Crossdressing

Ini adalah bentuk pemberontakan simbolis yang sangat kuat. Luna Maya bukanlah perempuan yang akhirnya menikah demi validasi sosial. Dia menikah ketika dia siap, di usianya yang ke-41, melawan stigma bahwa perempuan harus menikah muda. 

Melalui foto genderswitch ini, Luna Maya seolah menunjukkan bahwa tubuhnya dulu dihakimi oleh publik, namun hari ini tubuhnya mampu mengenakan apapun yang dia mau, bahkan jas yang biasanya hanya dikenakan oleh laki-laki. Ini adalah klaim atas otoritas tubuh. Tindakan ini adalah bentuk reparasi atau pemulihan harga diri perempuan. Jika dulu publik ingin mendikte bagaimana ia harus berpakaian (apalagi pasca-skandal), kini Luna yang menertawakan batasan tersebut.

Yang menarik dari caption unggahan mereka adalah kalimat: “Kami berhenti bertanya siapa yang seharusnya menjadi siapa dan hanya menjadi rumah bagi satu sama lain”. Di sini, Luna dan Maxime secara sadar atau tidak, mendobrak konsep peran gender dalam pernikahan. 

Dalam rumah tangga tradisional, “siapa yang menjadi siapa” berarti laki-laki adalah kepala rumah tangga, pencari nafkah utama, pemimpin; sementara perempuan adalah ibu rumah tangga, pengurus anak, penanggung jawab ranah domestik yang emosional. Namun dalam perjalanan satu tahun pernikahan mereka—dengan Luna Maya yang lebih matang (usia 43 tahun) dan Maxime yang 11 tahun lebih muda—mereka menemukan bahwa rigiditas peran tersebut tidak sesuai dengan realitas cinta modern yang cair. Konsep feminis tentang kesetaraan gender dalam rumah tangga tidak mengharuskan perempuan menjadi maskulin atau laki-laki menjadi feminin. Sebaliknya, ia menuntut pembagian kerja yang adil, sharing power, dan legitimasi untuk menjadi autentik. 

Baca juga: ‘Anak Perempuan Main Bola, Anak Laki Bantu Memasak’ Pengasuhan Mestinya Bikin Peran Gender Bisa Dipertukarkan

Ketika warganet protes dengan mengatakan: “Padahal kalau alibinya konsep setara bisa masak, beberes rumah bareng, gak harus tukeran baju gitu”, itu adalah bentuk pelarian dari isu sebenarnya. Tentu saja masak dan beberes rumah adalah bagian dari kesetaraan. Namun pertukaran simbol pakaian justru lebih dalam dari sekadar tugas fisik. Ia menyerang akar epistemologis dari ketidaksetaraan itu sendiri: cara kita mengkodekan tubuh, gengsi, dan maskulinitas. 

Selama jas dianggap hanya layak untuk laki-laki dan gaun hanya untuk perempuan, stereotip tetap kuat. Dengan mematahkan kode itu, meski hanya dalam satu sesi foto, Luna dan Maxime telah memulai revolusi kecil.

Dalam derasnya hujatan, ada juga suara yang membela mereka. 

Satu komentar yang paling vokal dan bahkan di-like langsung oleh Luna Maya berbunyi: “Bedakan konsep foto sama penyimpangan yang kalian maksud ya. Kalau ini udah pasti kebutuhan konsep foto aja untuk representasi makna dalam hubungan mereka selama 1 tahun menikah bahwa mereka itu setara suami bisa jadi istri dan begitupun sebaliknya in a good way”. Ini adalah poin penting: ruang seni menyediakan tempat bermain yang aman untuk bereksperimen dengan identitas. 

Dengan mengklaim foto ini sebagai media artistik (bekerja sama dengan fotografer Winston Gomez dan penata gaya profesional), Luna dan Maxime menciptakan batasan yang jelas: kehidupan sehari-hari mereka tidak seperti itu, tetapi dalam jepretan kamera, mereka bebas memerankan ulang dunia yang lebih adil. Seperti halnya lakon teater, gender-bending di atas panggung diterima sebagai seni. 

Baca juga: Peran Gender dalam Hubungan Asmara Itu Seksis, Perlu Ada Kesetaraan

Dalam budaya pop barat, musisi seperti Harry Styles, Billy Porter, atau David Bowie telah lama melanggar pakem maskulin dalam berpakaian dan tidak hanya diterima, tetapi diapresiasi sebagai avant-garde. Sayangnya, di masyarakat patriarkal seperti Indonesia, boundary antara realitas dan seni sering kali dikaburkan. Setiap penyimpangan dari kodrat dianggap sebagai ancaman langsung terhadap moralitas. Padahal, jika kita jujur, apa yang lebih “menyimpang” dari kebenaran?: perempuan dihakimi selama 15 tahun hanya karena video pribadi yang tersebar tanpa izinnya, atau seorang laki-laki yang memakai gaun untuk merayakan anniversary pernikahannya?

Di tengah gelombang kritik yang menerpa, ada satu hal menarik yang luput dari perhatian: bagaimana Luna Maya dan Maxime Bouttier merespons hujatan tersebut. 

Alih-alih menghapus foto atau membuat pernyataan permintaan maaf yang terkesan dipaksakan, mereka justru memilih untuk tetap tenang dan bahkan sesekali melontarkan komentar jenaka di kolom komentar. 

Maxime, misalnya, membalas satu komentar warganet yang marah dengan hanya menuliskan emoji tertawa. Sikap ini bukanlah bentuk ketidaksopanan, melainkan sebuah strategi perlawanan yang cerdas: menggunakan humor untuk melucuti amarah moralitas semu. 

Dalam perspektif feminisme, kemampuan untuk tidak terbebani oleh rasa bersalah palsu adalah salah satu bentuk kebebasan psikologis yang paling sulit dicapai, terutama bagi perempuan. 

Selama bertahun-tahun, Luna Maya telah menjadi “perempuan tersakiti” dalam narasi publik. Ia diharapkan untuk selalu menunduk, malu, dan meminta maaf atas eksistensinya. Namun dalam foto-foto ini, ia berdiri tegak dengan jas yang membuatnya terlihat lebih kuasa dari banyak “laki-laki sejati” di kolom komentar. Ini adalah bentuk reklamasi ruang: Luna Maya tidak lagi membiarkan publik mendefinisikan rasa malunya. Ia justru mendefinisikan ulang apa artinya menjadi perempuan yang berani.

Baca juga: Kamus Feminis: Apa Itu Stereotipe Gender? Perempuan Digeneralisir dan Dibatasi Kebebasannya

Tentu, kritik dari kelompok agama dan adat tidak bisa diabaikan begitu saja. Beberapa dari mereka berargumen dengan dalil bahwa “laki-laki yang menyerupai perempuan dan sebaliknya adalah terlarang.” Argumen ini, jika ditelisik lebih dalam, sebenarnya berbicara tentang tasyabbuh (penyerupaan) yang dalam konteks tertentu memang dilarang dalam beberapa interpretasi fiqih. Namun yang perlu diingat, konteks tasyabbuh dalam literatur klasik biasanya merujuk pada penyerupaan yang bersifat permanen, niat untuk mengubah identitas gender secara tetap, atau sebagai bentuk ejekan terhadap lawan jenis. 

Apakah sesi foto anniversary satu tahun dengan konsep artistik dapat disamakan dengan itu? Ataukah ini hanya kasus penafsiran yang terlalu kaku terhadap teks suci, sementara pada saat yang sama melupakan esensi utama agama: kasih sayang, penghormatan pada pasangan, dan kebahagiaan dalam ikatan perkawinan? 

Feminisme tidak anti-agama. Justru banyak teolog feminis yang berargumen bahwa agama sering kali dibajak oleh tafsir patriarkal untuk mengontrol tubuh dan ekspresi perempuan. Maka ketika Luna dan Maxime memilih untuk tidak menghapus foto meski mendapat tekanan, mereka sebenarnya sedang melakukan negosiasi teologis yang halus: menolak pemaksaan tafsir tunggal atas moralitas berbusana.

Dari perspektif feminisme, foto ini tidak bisa dilepaskan dari gerakan yang lebih besar dalam masyarakat: dekonstruksi maskulinitas toksik. Selama ini, definisi “perempuan kuat” sering direduksi menjadi perempuan yang meniru sifat maskulin atau menjadi kompetitif secara agresif di ranah publik. 

Feminisme tidak menginginkan itu. Feminisme justru ingin menghapus stigma bahwa maskulinitas itu superior dan feminitas itu inferior. Demikian pula, feminisme mendorong laki-laki untuk berani mengekspresikan kelembutan, empati, dan keindahan—tanpa takut dicap “banci” atau “tidak jantan.” 

Baca juga: Perempuan-Perempuan Penyelamat ‘Alice in Borderland’, Mereka Mendekonstruksi Stereotip Bahwa Perempuan Adalah Beban

Maxime Bouttier, dengan mengenakan gaun putih dan aksen bunga 3D, adalah contoh laki-laki yang aman dengan maskulinitasnya. Ia tidak menjadi kurang jantan karena memakai gaun; justru, ia menunjukkan keberanian luar biasa di tengah tekanan publik yang besar. Ia memberi ruang bagi laki-laki lain bahwa menjadi suami bukan berarti harus selalu tegar dan kaku; suami juga bisa menjadi “pengantin” yang indah, yang bukan objek tapi subjek representasi. 

Ini adalah pesan fundamental: kesetaraan gender bukan hanya tentang “mengangkat derajat perempuan,” tetapi juga tentang membebaskan laki-laki dari penjara emosi dan ekspresi. Dalam jangka panjang, anak-anak yang melihat ayahnya bisa memeluk ibunya dengan memakai rok mungkin akan tumbuh tanpa rasa malu untuk menjadi dirinya sendiri.

Dalam skala yang lebih luas, aksi ini menginspirasi diskusi tentang pentingnya literasi visual di masyarakat. Banyak orang yang melihat foto tersebut secara harfiah tanpa memahami bahasa artistik di baliknya. Mereka tidak membaca caption, tidak melihat bahwa foto-foto lain dalam unggahan yang sama masih menampilkan mereka sebagai pasangan heteroseksual biasa yang saling berpelukan. Mereka hanya fokus pada satu gambar yang “mengganggu” dan langsung meledak. Ini menunjukkan bahwa masyarakat kita masih buta terhadap simbolisme dan terlalu cepat menghakimi. 

Di negara-negara dengan kesetaraan gender yang lebih maju seperti Islandia, Swedia, atau bahkan tetangga kita Thailand, konsep gender-bending dalam konten perayaan pribadi sudah lumrah. 

Aktor Hollywood seperti Chris Hemsworth atau Dwayne Johnson pun pernah memakai gaun untuk lelucon April Mop atau amal. Tidak ada yang panik karena mereka sudah paham bahwa pakaian tidak mengubah orientasi seksual, identitas gender, atau keyakinan agama seseorang. Yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya: foto dua orang dewasa yang saling mencintai dianggap lebih berbahaya daripada kekerasan dalam rumah tangga atau pelecehan seksual yang setiap hari terjadi. 

Baca juga: ‘Dianggap Posesif, Distigma Gampangan’ Stereotip Gender Mengintai Hubungan Tanpa Status bagi Perempuan 

Ada ketimpangan prioritas moral yang ironis. Dari perspektif psikologi feminis, permainan peran seperti yang dilakukan Luna dan Maxime sebenarnya sangat menyehatkan untuk hubungan pernikahan. Banyak terapis pernikahan modern menganjurkan pasangan untuk sesekali “bertukar peran” dalam aktivitas sehari-hari untuk menumbuhkan empati. Memasak untuk suami, atau suami yang mengurus anak seharian, adalah contohnya. Namun bertukar pakaian adalah bentuk empati yang lebih radikal—itu memaksa Anda untuk merasakan secara fisik bagaimana rasanya menjadi yang lain. 

Mungkin Maxime jadi lebih peka terhadap betapa repotnya memakai gaun panjang dan hak tinggi. Mungkin Luna jadi lebih memahami mengapa jas kemeja membuat seseorang merasa lebih berwibawa di ruang rapat. Ini bukan penyimpangan; ini adalah latihan spiritual untuk menjadi pasangan yang lebih pengertian.

Pada akhirnya, Luna Maya dan Maxime Bouttier hanyalah pasangan yang sedang jatuh cinta dan ingin merayakan ulang tahun pernikahan mereka dengan cara yang paling jujur dan autentik. Mereka tidak membunuh, tidak mencuri, tidak merusak tatanan sosial. Mereka hanya mempertukarkan kain. Kain itu tidak bermoral. Kain itu tidak memiliki dosa. Jas tidak suci, gaun tidak najis. Yang kotor adalah mata yang memandang perbedaan sebagai ancaman, dan pikiran yang menafsirkan kebebasan sebagai pelanggaran. 

Publik mungkin lupa bahwa dalam tradisi berbagai budaya, laki-laki di banyak kerajaan nusantara pun menggunakan kain panjang, sarung, atau kamen yang mirip rok, dan persilangan mode antar-gender bukanlah hal yang asing sebelum kolonialisme memperkenalkan standar pakaian Barat yang kaku. Kontroversi ini adalah cermin dari masyarakat yang belum siap dengan kesetaraan sejati. 

Kita berbicara tentang emansipasi perempuan, tetapi panik ketika seorang perempuan berani memakai jas. Kita mengklaim menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran, tetapi siap menghujat habis-habisan pasangan yang baru setahun menikah hanya karena mereka ingin sedikit bermain dengan fashion

Baca juga: Apa Salahnya Jika Laki-Laki Merawat Diri? Stereotipe Gender dalam Penampilan Sudah Basi

Akhirnya, yang paling penting adalah warisan dari foto ini bagi generasi mendatang. Bayangkan seorang perempuan remaja yang melihat foto Luna Maya dengan jas. Untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa perempuan bisa menjadi “pangeran” bagi pasangannya, bukan hanya “putri” yang menunggu diselamatkan. 

Bayangkan seorang anak laki-laki yang melihat ayahnya (Maxime) dengan gaun—ia belajar bahwa menjadi laki-laki tidak berarti harus takut pada kain yang dikenakan. Ia belajar bahwa keberanian sejati justru muncul ketika Anda berani menjadi diri sendiri, terlepas dari apa kata tetangga. 

Dalam 50 tahun ke depan, ketika kesetaraan gender mungkin sudah lebih maju di negeri ini, foto Luna dan Maxime akan dikenang sebagai salah satu momen penting yang memecahkan kebekuan budaya. Bukan karena mereka sempurna, tetapi karena mereka berani. 

Dan itu, pada akhirnya, adalah esensi dari cinta: bukan tentang siapa yang memakai apa, tetapi tentang dua jiwa yang memilih untuk berdiri bersama—setara, utuh, dan tanpa topeng. 

Jika kita benar-benar ingin mewujudkan keluarga yang setara dan masyarakat yang adil gender, mungkin kita harus berhenti bertanya siapa yang seharusnya menjadi siapa. 

Mulai sekarang, mari kita tanyakan: kapan kita berhenti menghakimi pakaian orang lain dan fokus pada cinta yang mereka rayakan? 

Selamat ulang tahun pernikahan, Luna dan Maxime. Jas dan gaun itu bukan kesalahan. Ia adalah awal dari percakapan panjang tentang makna menjadi manusia seutuhnya—bebas, setara, dan berani mencintai tanpa peran.

Foto: IG Maxime Bouttier

(Editor: Luviana Ariyanti)

Ayla Thana

Seorang santri dan mahasiswi Aqidah dan Filsafat Islam berasal dari Kota Kretek.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!