Novel 'Raumanen' dan 'Badai Pasti Berlalu' tunjukkan beban emosional percintaan tanpa status bagi perempuan.

Novel ‘Raumanen’ dan ‘Badai Pasti Berlalu’ Ceritakan Beban Emosional Perempuan di Percintaan Tanpa Status

Ketimpangan gender yang mengakar, menjadikan percintaan tanpa status bukannya memberikan kebebasan. Perempuan tidak hanya menghadapi risiko berlapis, tapi juga menanggung beban emosional yang tidak setara.

Kisah percintaan tanpa status, bukan baru terjadi sekarang. Relasi yang populer di kalangan anak muda disebut Hubungan Tanpa Status (HTS) ini, sudah lama terjadi. Berdekade-dekade lalu, novel-novel di Indonesia seperti Raumanen dan Badai Pasti Berlalu membahasnya. 

Melalui novel Raumanen dan Badai Pasti Berlalu yang lahir pada era 1970-an, kita dapat menelusuri bagaimana modernitas, cinta, dan posisi perempuan dinegosiasikan—serta bagaimana figur laki-laki yang ambigu menjadi poros dalam relasi yang menyisakan luka, namun kerap dinormalisasi oleh sosial kita sebagai bagian dari “romansa”.

HTS selanjutnya menjadi medan sosial tempat kuasa, norma, dan ketimpangan gender bekerja dengan cara yang halus. Maksudnya, bagaimana sebuah pencarian seseorang perempuan akan “pasangan” ideal, menjadi kian abstrak dan terasa menggantung. 

Baca Juga: ‘Dianggap Posesif, Distigma Gampangan’ Stereotip Gender Mengintai Hubungan Tanpa Status bagi Perempuan 

Dalam relasi kuasa yang timpang, hubungan dengan sebutan “not labeling relationship” ini, pada akhirnya memposisikan perempuan sebagai yang harus menanggung beban emosional lebih berat.  

Cinta sering dianggap urusan paling pribadi: soal rasa, pilihan, dan kecocokan satu sama lain. Namun dalam praktiknya, cinta jarang berdiri netral. Ia membawa aturan tak tertulis tentang siapa yang menunggu, siapa yang boleh ragu, dan siapa yang menanggung akibat dari keberadaan objek ini. Relasi romantik menjadi ruang tempat norma sosial dan relasi kuasa bekerja secara halus.

Pola ini terasa akrab dalam relasi yang terejadi hari ini, tetapi sebenarnya bukan hal baru. Dalam novel Raumanen dan Badai Pasti Berlalu, cinta tidak hadir sebagai perasaan murni, melainkan selalu berkelindan dengan tuntutan sosial dan posisi gender. Tokoh-tokoh perempuannya yang awalnya digambarkan mandiri dan berprinsip, namun justru diuji ketika berhadapan dengan cinta yang tidak sepenuhnya memilih mereka.

Sementara itu, tokoh laki-laki kerap berada di wilayah abu-abu: mencintai tanpa menegaskan, hadir tanpa benar-benar mau  berkomitmen. Ambiguitas ini jarang dipersoalkan, bahkan dinormalisasi. 

Dari sinilah cinta dalam kedua novel tersebut dapat dibaca bukan sekadar kisah asmara, melainkan medan sosial yang mendistribusikan beban emosional secara tidak setara — sebuah pola yang masih terasa relevan hingga saat ini.

Modernitas 1970-an: Kebebasan yang Setengah Jalan

Modernitas pada 1970-an di Indonesia tidak hanya hadir sebagai janji kemajuan, tetapi juga sebagai pengalaman yang serba tanggung. Perubahan ekonomi dan politik pasca-1960-an melahirkan kelas menengah terdidik di kota-kota besar. Pendidikan tinggi, pergaulan kampus, dan gaya hidup urban mulai membentuk identitas baru—terutama bagi generasi muda. Dalam konteks ini, modern menjadi sesuatu yang diinginkan, karena ia menjanjikan kebebasan memilih: karier, pasangan, dan cara hidup.

Namun kebebasan itu tidak datang bersama perubahan nilai yang seimbang. Modernitas lebih cepat hadir sebagai gaya hidup daripada sebagai struktur sosial yang adil. 

Tokoh-tokoh dalam Raumanen dan Badai Pasti Berlalu hidup di ruang modern—mereka berdiskusi, berpesta, berdansa, dan membangun relasi dari berbagai latar belakang—tetapi tetap diikat oleh norma lama yang bekerja di belakang layar. Keluarga, adat, dan moral sosial masih menjadi penentu akhir, terutama dalam soal cinta dan pernikahan.

Bagi perempuan, modernitas menghadirkan kontradiksi yang lebih tajam. Mereka boleh berpendidikan, berpikir kritis, dan mengambil keputusan, tetapi ketika keputusan itu menyangkut cinta, tubuh, dan masa depan, kontrol sosial kembali bekerja. Perempuan dituntut modern secara penampilan dan keterampilan, namun tetap tradisional dalam pengorbanan dan kepatuhan emosional. Kebebasan menjadi bersyarat: boleh memilih, asal siap menanggung risikonya sendiri.

Baca Juga: Mau Jalani Hubungan Tanpa Status? Pahami Ini Dulu

Sementara itu, laki-laki justru lebih diuntungkan oleh kondisi transisi ini. Mereka dapat menggunakan nilai modern untuk membenarkan kebimbangan dan ketidaktegasan, sekaligus berlindung pada nilai lama ketika harus mengambil tanggung jawab. 

Ambiguitas tersebut tidak dipersepsikan sebagai kegagalan, melainkan sebagai realisme atau kedewasaan. Dari sinilah modernitas setengah jalan memperlihatkan wajahnya: perubahan yang membuka peluang, tetapi mendistribusikan risikonya secara tidak setara.

Dalam Raumanen dan Badai Pasti Berlalu, modernitas bukan latar pasif, melainkan kekuatan yang membentuk konflik. Ia menciptakan tokoh-tokoh yang sadar akan dirinya, tetapi tidak sepenuhnya bebas menentukan nasibnya. Kebebasan ada, tetapi rapuh; pilihan tersedia, tetapi mahal. Dan di antara celah inilah relasi cinta menjadi medan tempat ketimpangan lama bertahan dengan wajah yang baru.

Perempuan Modern dan Kerja Emosional Yang Diabaikan

Perempuan modern dalam novel-novel Indonesia 1970-an sering digambarkan sebagai sosok yang berpendidikan, mandiri, dan punya prinsip. Namun ketika memasuki relasi cinta, modernitas itu kerap berubah menjadi kerja emosional yang sunyi. Kebebasan hadir di permukaan, tetapi tanggung jawab emosional tetap dibebankan pada perempuan.

Dalam Raumanen, kerja emosional itu muncul bukan lewat larangan atau kekerasan, melainkan lewat penantian. Manen tidak menuntut Monang secara terbuka, tetapi ia hidup dalam ketegangan antara kedekatan yang nyata dan pengakuan cinta yang tak pernah benar-benar datang. 

Perbedaan antara “suka” dan “cinta” bukan sekadar soal kata, melainkan soal posisi. Manen menunggu kata “cinta” itu sebagai bentuk pengakuan utuh atas relasi mereka, bahkan menjadikannya prinsip hidup. 

Ia tidak ingin merasakan cinta sendirian. Sebab, selama ini Monang-lah yang memancing perkara asmara di antara mereka berdua. Sehingga ia masih bimbang dan ragu akan perasaannya. Ia pun cenderung tidak rela bila berkomitmen dengan pria yang tidak mencintainya.

Baca Juga: Novel ‘Keberangkatan’: Perempuan Itu Mestinya Merdeka Tentukan Hidup, Tanpa Kekangan

Di sisi lain, Monang menikmati relasi tersebut tanpa harus mengambil risiko emosional yang sama. Ketidakjelasan dibiarkan berlangsung, dan Manenlah yang mengelola harapan, kekecewaan, serta kesetiaannya sendiri ketika Monang hanya ingin iseng bersenang-senang.

Yang menarik, Manen bukan tokoh yang tidak sadar. Ia tahu apa yang ia inginkan. Justru karena itulah bebannya berat. Ia harus terus menimbang: bertahan dengan harapan atau meninggalkan relasi yang belum pernah benar-benar mengafirmasinya. 

Kerja emosional Manen terletak pada kemampuannya menahan diri, menafsir sikap Monang, dan tetap menjaga martabat di tengah ketidakpastian. Apalagi dihadapkan pada lingkungan sekitarnya yang sedari awal sudah memperingatkan dirinya untuk jangan berhubungan terlalu jauh dengan Monang. Tidak mengeherankan jika pada akhirnya Manen memutuskan nasibnya sendiri, sebab selama ini ia menghadapi permasalahan dalam kesunyiaan. Meski permasalahan utama ini ia ciptakan bersama Monang.

Pola serupa, meski dengan bentuk berbeda, juga tampak dalam Badai Pasti Berlalu. Sisca berada dalam relasi yang menuntutnya menjadi penyangga emosi laki-laki. Bersama Helmi, ia berhadapan dengan ledakan emosi, sikap impulsif, dan ketidakstabilan. Sisca berulang kali memilih memahami daripada menuntut. Ia menahan marah dan kecewa demi menjaga relasi tetap berjalan bersama suaminya yang selalu memanfaatkan dirinya itu.

Ketika Leo kembali hadir sebagai figur yang lebih tenang dan rasional, kerja emosional itu tidak lenyap, hanya berubah rupa. Leo memberi rasa aman, tetapi itulah yang seharusnya didapatkan Sisca sedari awal didekati oleh Leo. Namun, ambiguitas dan ketidakseriusan Leo akan hubungan mereka ini yang membuat Sisca bertemu dengan Helmi, sehingga harus menghadapi badai kehidupannya di sela keterpisahannya dengan Leo.

Baca Juga: Tahukah Kamu: Setiap Maret Kita Memperingati Hari Tanpa Diskriminasi?

Baik Manen maupun Sisca sama-sama hidup di dunia yang mengklaim diri modern. Mereka punya ruang untuk memilih, tetapi pilihan itu datang bersama beban emosional yang tidak dibagi dengan adil. Laki-laki diberi ruang untuk ambigu, ragu, dan tidak selesai dengan dirinya sendiri. Perempuan justru diharapkan tetap setia, pengertian, dan sabar menunggu kejelasan.

Dari perspektif feminisme, kerja emosional dalam relasi ini serupa dengan kerja perawatan (carework). Ia tak hanya mencakup upaya fisik, namun juga emosional dan psikis dalam menjaga kesejahteraan individu (keluarga atau relasi) yang seringkali tidak terlihat, tidak dianggap, diabaikan, dan timpang dibebankan pada perempuan. 

Kedua novel ini menunjukkan: modernitas membuka pintu, tetapi tidak cukup merombak pembagian tanggung jawab emosional dalam relasi. Cinta tetap menjadi ruang di mana perempuan bekerja lebih banyak, berbicara lebih sedikit, dan menanggung konsekuensi paling dalam.

Laki-Laki Ambigu dan Kenyamanan untuk Tidak Memilih

Dalam novel-novel Indonesia 1970-an, figur laki-laki jarang tampil sebagai sosok yang benar-benar kejam atau sepenuhnya bertanggung jawab. Mereka justru hadir dalam bentuk yang lebih samar: hangat, menarik, modern, tetapi enggan selesai dan ambigu. 

Monang dalam Raumanen mewakili ambiguitas yang tenang dan nyaris tak terlihat. Ia tidak mempermainkan Manen secara terang-terangan. Ia hadir, dekat, dan terlibat secara emosional. Namun keterlibatan itu berhenti sebelum menjadi komitmen. 

Dengan memilih bertahan pada kata “suka” dan menghindari kata “cinta” meski telah melakukan hubungan intim dengan Raumanen, Monang menjaga posisinya tetap aman. 

Ia menikmati keintiman tanpa harus mengambil risiko sosial dan emosional yang lebih besar. 

Baca Juga: Berani Bicara di Hari Tanpa Diskriminasi

Ambiguitas Monang bekerja lewat diam dan penundaan, bukan lewat konflik terbuka. Ia paham resikonya berhubungan dengan perempuan di luar dari budaya yang ia hidupi, tetapi ia sengaja dan hanya ingin bersenang-senang di atas kerja-kerja emosional perempuan yang dia rayu. 

Begitu tersandung masalah seperti yang dialami oleh Manen ia berlindung di balik adat dan ketiak ibunya. Ia kemudian merasa sebagai hasil dari korban adat istiadat. Padahal di lingkungan sekitarnya sudah banyak terjadi pernikahan lintas budaya, tetapi Monang masih tidak memiliki pendirian dan memilih ambigu.

Sementara itu, Leo dalam Badai Pasti Berlalu menghadirkan ambiguitas yang lebih kasat mata dan sosial. Ia karismatik, suka tebar pesona, dan terbiasa memperlakukan relasi sebagai bagian dari pergaulan. Kedekatannya dengan Sisca dibingkai dalam suasana ringan, penuh candaan, dan tanpa keseriusan yang jelas. Namun justru di situlah letak masalahnya. Bagi Leo, relasi bisa menjadi permainan; bagi Sisca, relasi itu memiliki konsekuensi emosional.

Peristiwa taruhan dan candaan tentang “diabetes” yang melibatkan teman-teman Leo menjadi momen pembuka tabir. Apa yang dianggap sekadar bercanda dalam lingkar maskulinitas Leo, berubah menjadi konflik bagi Sisca. 

Memang Leo pada akhirnya jatuh cinta pada Siska, tetapi keterlambatan dalam pengakuan cinta yang harus dijelaskan ke lingkungan Leo ini yang berakibat fatal. Sebab yang lebih dulu dirasakan oleh Sisca adalah ketidakseriusan Leo bukan ketulusannya. Sehingga, bagi Sisca ucapan cinta dari Leo kepadanya hanya sekadar rayuan belaka untuk memberi makan ego Leo sebagai laki-laki.

Dalam relasi seperti ini, perempuan berada pada posisi yang lebih rentan. Manen dan Sisca dipaksa membaca tanda-tanda, menafsir sikap, dan mengelola perasaan sendiri. Ketika mereka memilih menjauh atau menuntut kejelasan, merekalah yang tampak berlebihan. 

Dengan demikian, laki-laki ambigu dalam kedua novel ini bukan hanya karakter fiksi, melainkan potret zaman: modern di luar, tetapi belum adil dalam pembagian tanggung jawab emosional.

Laki-laki Ambigu dan Cinta Tanpa Nama

Pola relasi dalam Raumanen dan Badai Pasti Berlalu terasa akrab jika dibaca hari ini. Laki-laki yang hangat tapi tak pernah benar-benar memilih, dekat tapi enggan memberi status, ternyata bukan sekadar produk masa lalu. Pola ini hidup kembali dalam relasi kekinian yang sering disebut HTS.

Dalam HTS, kedekatan emosional hadir, tapi komitmen sengaja ditunda. Relasi dijalani, namun tanpa kepastian. Situasi ini memberi ruang bagi laki-laki untuk bersenang-senang tanpa harus bertanggung jawab penuh. Ketidaktegasan sering dibungkus dengan alasan terdengar dewasa: tidak mau terburu-buru, ingin santai, atau tidak suka label.

Di sisi lain, perempuan tetap bekerja secara emosional. Mereka menunggu, memahami, dan menahan diri agar tidak dianggap menuntut. Seperti Manen yang menanti kata “cinta” agar bisa merasa aman dengan komitmen yang dijanjikan Monang atau Sisca yang memilih menjauh karena relasi tak lagi aman, perempuan dalam hubungan romansa (terutama HTS)  kerap memikul beban perasaan sendirian. Ketika relasi berakhir, merekalah yang dianggap terlalu berharap.

HTS sering disebut sebagai bentuk cinta modern. Namun jika dilihat lebih dekat, ia hanyalah wajah baru dari pola lama: ambiguitas yang dinormalisasi dan kerja emosional yang diabaikan. 

Novel-novel 1970-an ini mengingatkan bahwa cinta tidak pernah netral gender. Ketimpangan gender akan semakin terperosok dalam ketidakjelasan dan normalisasi kerja emosional yang diabaikan. 

(Editor: Nurul Nur Azizah)

Levina Letisia

Lulusan sastra yang dari kecil suka menghabiskan waktu di depan layar menonton film. Punya cita-cita jadi filmmaker, tapi belum kesampaian. Sementara waktu bekerja penuh melihat data dan tetap menyempatkan diri bersinema di waktu senggang.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!