Perempuan bekerja di bidang STEM hingga keperawatan lewat pendidikan inklusif

‘Perempuan Cocoknya Jurusan Keperawatan, Bukan STEM’: Saatnya Bongkar Stereotipe Gender dalam Pendidikan

Ada dampak serius di balik normalisasi stereotipe gender terhadap perempuan di dunia pendidikan. Mulai dari menurunnya performa akademik sampai keputusan jangka panjang terhadap karir dan masa depan.

Perempuan masih dibelenggu stereotipe gender. Ini terjadi termasuk di ranah pendidikan yang semestinya menjadi ‘ruang aman’ dalam mengekspresikan diri dan belajar. Misalnya jika kamu pernah mendengar kalimat seperti ini: 

“Kamu tuh perempuan, cocoknya masuk jurusan keperawatan.”

“Perempuan kok mau ambil jurusan teknik mesin?”

Tak hanya sesama siswa, stereotipe gender juga tak jarang menjalar di kalangan para pendidik. Contoh yang paling sering ditemukan, guru yang lebih memilih laki-laki sebagai pemimpin di kelas, dibandingkan perempuan. Ini terjadi karena adanya anggapan bahwa laki-laki lebih tegas, logis, dan cakap. Sedangkan, perempuan mendapatkan stereotipe yang bias gender sebagai yang “tidak lebih mampu”. 

Kita bisa melihat, bagaimana dalam struktur kepengurusan kelas di sekolah selama ini, perempuan sering ada di peran perawatan. Seperti, Sekretaris ataupun Bendahara. Jika pun dia memimpin, biasanya dia diposisikan “membantu” sebagai Wakil Ketua. 

Baca Juga: Album ‘Man’s Best Friend’ Sabrina Carpenter, Ini Pemberdayaan atau Stereotipe Demi Estetika Pasar?

Sayangnya, normalisasi stereotipe, bias, dan diskriminasi gender ini sudah kita temui sejak sekolah dasar di sekolah. Di masyarakat patriarki, pola ini terus berkembang sampai lingkup kerja termasuk kaitannya dengan promosi jabatan. 

Dikutip dari buku Diskriminasi Gender dalam Promosi Jabatan (Mualimah & Yusuf, 2022), gender adalah konstruksi sosial tentang perbedaan peran, kedudukan, serta kesempatan antara perempuan dan laki-laki, dalam kehidupan keluarga atau masyarakat. Gender juga mengacu pada sifat yang melekat pada diri manusia, baik pada  perempuan maupun laki-laki, sebagai akibat dari konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh agama, budaya, etnis, dan politik.

Stereotipe atau pelabelan tertentu pada salah satu gender menyebabkan ketidakadilan gender. Ketidakadilan gender yang bersumber dari perbedaan sifat dan peran, terkonstruksi menjadi sebuah “kodrat” yang bersifat mutlak sehingga merugikan salah satu gender. Tak elak, terjadilah ketimpangan relasi dan kesempatan yang adil gender. 

Dalam lingkungan pendidikan, meskipun sudah diterapkan kurikulum yang ideal dan merdeka, namun dalam praktik di lapangan masih banyak ditemukan. Masih sering kita jumpai persepsi sosial di sekolah yang menunjukkan bahwa siswa laki-laki dan siswa perempuan masih dibedakan. Pembedaan ini berdasarkan dengan peran, sifat, potensi, maupun kesempatan mereka. Padahal, bias semacam ini dapat memengaruhi perkembangan individu baik dalam aspek psikologis, akademik, maupun sosial.

Baca Juga: ‘Menatap (dari) Timur’, Cerita Stereotipe Identitas Berlapis Perempuan Indonesia Timur

Pada konteks stereotipe gender dalam praktik kepemimpinan siswa di sekolah. Dalam jangka panjang, aktivitas yang kelihatannya biasa ini membentuk pola yang diyakini bahwa kepemimpinan adalah milik laki-laki secara penuh dan peran pendukung adalah tugas siswa perempuan. 

Akibatnya, siswa perempuan cenderung kurang percaya diri untuk berekspresi, enggan menjadi sorotan, dan lebih banyak ikut-ikutan dalam pengambilan keputusan. Sementara siswa laki-laki, karena sudah mendapatkan ekspetasi sosial sebagai pemimpin, cenderung merasa malu ketika menunjukkan empati dan ekspresi emosional.

Pelanggengan Domestikasi Perempuan 

Data Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada 2023 menyebut, lebih dari 65% siswa SMP di Indonesia masih beranggapan bahwa peran domestik adalah pekerjaan yanga identik dengan perempuan, sedangkan peran laki-laki sebagai pemimpin. Hal ini diperkuat dengan riset dari UNESCO (2022) yang menyebutkan bahwa stereotipe gender dalam kurikulum, bahasa guru, dan interaksi kelas menjadi salah satu penghambat terciptanya lingkungan belajar yang inklusif.

Setahun kemudian, UNESCO kembali melakukan studi pada 2023 menunjukkan, anak perempuan cenderung menghindari mata pelajaran sains, teknologi, teknik, matematika (STEM) karena anggapan bahwa bidang tersebut lebih cocok untuk anak laki-laki. Hal ini juga sejalan dengan data dari Kemendikbudristek pada tahun 2022 yang menunjukkan jumlah siswa laki-laki di jurusan teknik mencapai 78%. 

Studi yang dilakukan pada siswa SMK Negeri di Kota Sorong (La Ode Madina & Aram Palilu, 2023) melengkapi temuan itu, menunjukkan bahwa siswa laki-laki cenderung menghindar jurusan pendidikan dan sosial (psikologi atau keperawatan) karena beranggapan bahwa jurusan tersebut terlalu feminin dan lebih cocok untuk perempuan.

Baca Juga: “Superwomen” Saat Penyelam Perempuan Melawan Stereotipe Gender Pulihkan Terumbu Karang

Adanya stereotipe ini membuat performa akademik dan partisipasi terhadap bidang dan jurusan tertentu rendah, meskipun siswa memiliki kemampuan yang setara. Ini berdampak juga pada saat pemilihan jenjang akademik lanjutan, karir, dan keputusan-keputusan jangka panjang, karena siswa memiliki pandangan yang sempit terhadap masa depan.

Pengaruh ini dapat menghambat perkembangan siswa pada aspek emosional-psikososial. Secara umum, perekembangan emosional psikososial adalah tahap perkembangan individu yang berorientasi pada pengenalan emosi, pengelolaan emosi, serta bagaimana cara membangun hubungan yang sehat dan bermakna. Gabungan dari keduanya membantu individu dalam menyelesaikan sebuah konflik, mengenali diri sendiri dan orang lain, empati. Dan menjaga hubungan tetap sehat.

Jika salah satu atau keduanya tidak tercapai, maka akan mempengaruhi perkembangan individu pada tahap selanjutnya. Dampak jangka panjang contohnya adalah kepercayaan diri yang rendah, menarik diri dari lingkungan sosial, sering berkonflik, kecemasan (anxiety). Depresi ringan sampai berat, burnout emosional, krisis identitas, hingga keinginan untuk melakukan bunuh diri.

Peran guru, baik mata pelajaran maupun bimbingan dan konseling, menjadi sangat penting dalam mencegah, mengatasi, dan menanggulangi masalah ini. Mereka harus mampu merefleksikan apakah penggunaan bahasa dan cara memberikan perlakuan yang adil dan setara antara siswa laki-laki maupun perempuan.

Baca Juga: Stereotipe Terhadap Orang Keturunan Cina Dua Dekade Setelah Reformasi: Sudah Hilang, Masih Tetap atau Berubah?

Secara spesifik, peran guru bimbingan dan konseling lebih strategis jika disangkutkan kepada permasalahan stereotipe, bias dan diskriminasi gender yang berdampak pada perkembangan siswa. Di antaranya, guru bimbingan dan konseling harus membangun kesadaran tentang keragaman gender. Sehingga akan tercipta pemahaman baru yang lebih inklusif dan egaliter, memfasilitasi kegiatan positif dengan menggunakan konsep kolaborasi lintas gender. 

Harapannya, tercipta interaksi diskusi reflektif dengan tujuan supaya mereka terbiasa melihat bahwa kemampuan tidak ditentukan oleh gender tertentu. Proyek sosial juga dapat digunakan untuk melatih kesadaran diri, empati dan simpati, pengelolaan emosi, dan keterampilan sosial.

Pada akhirnya, hal-hal yang sudah dianggap biasa malah menjadi inti permasalahan yang kompleks dan harus cepat ditanggani. Akibat dari stereotipe gender yang melekat pada masyarakat memberikan dampak jangka panjang bagi perkembangan individu, khususnya generasi muda. Pengaruh ini tidak hanya menghambat potensi individu, tetapi memperkuat ketimpangan dalam dunia pendidikan.

Baca Juga: Film ‘Kaka Boss’: Upaya Mendobrak Stereotipe Orang Timur

Pendidikan sejatinya adalah ruang yang aman untuk mengembangkan semua potensi yang dimiliki oleh seluruh individu. Dan, kesempatan ini tidak dikhususkan pada satu peran atau gender tertentu saja. 

Ingat baik-baik, setiap individu berhak untuk tumbuh tanpa batasan peran sosial yang sudah diatur dalam konstruksi sosial-budaya.

Anggriani Syabila

Mahasiswi S1 Bimbingan dan Konseling UNS yang sangat tertarik dengan isu-isu kesetaraan gender. Aktif menyuarakan melalui media digital maupun aktivitas di ruang publik bersama Komunitas Pusat Kajian Perempuan Solo (PUKAPS).
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!