Ilustrasi kebaya

Kenapa Takut Pada Kebaya? Laki-Laki Berhak Menolak Maskulinitas Kaku

Di balik kemarahan warganet terhadap wisudawan yang memakai kebaya, tersembunyi kecemasan kolektif tentang tubuh laki-laki yang tidak lagi patuh pada aturan gender. Perdebatan ini bukan tentang pakaian, tetapi tentang siapa yang dianggap berhak tampil di ruang publik tanpa diawasi.

Di sebuah pagi, media sosial kembali gaduh. Sebuah unggahan di X memuncaki percakapan. Bukan karena peristiwa besar atau keputusan politik penting. Melainkan karena sekelompok wisudawan di sebuah kampus negeri berpose mengenakan kebaya.

Dalam foto itu, hanya ada satu wisudawan laki-laki yang memakai kebaya. Ia berdiri bersama teman-temannya di sebuah tangga, mengenakan kebaya berwarna hangat, tersenyum pada kamera seperti kelompok teman yang merayakan pencapaian bersama. Tetapi bagi banyak pengguna X, gambar sederhana itu terasa seperti provokasi. Komentar pro dan kontra bermunculan, sekaligus memunculkan pertanyaan lama yang sebenarnya belum pernah benar-benar selesai: siapa yang berhak menentukan pakaian “layak” bagi tubuh seseorang?

Perdebatan semacam ini bukan hal baru. Setiap kali seseorang mengekspresikan diri melalui pakaian yang dianggap tidak sesuai “kategori” gender, ruang publik langsung dipenuhi suara-suara yang mencoba mengatur, membatasi, bahkan menghakimi. Namun yang menarik dari kasus ini bukan hanya reaksi publik terhadap kebaya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana peristiwa kecil di acara wisuda dapat membuka percakapan besar tentang tubuh, ekspresi, sejarah budaya, dan bagaimana norma gender bekerja melalui hal-hal yang terlihat sederhana seperti pakaian.

Isthiqonita, Program & Campaign Staff di SEJUK, mengingatkan kita bahwa diskusi ini tidak bisa dilakukan dengan premis salah kaprah. “Secara hukum tidak ada larangan bagi laki-laki untuk menggunakan kebaya,” katanya. 

Baca Juga: Membuka ‘Topeng’ Maskulinitas Toksik, Upaya Merobohkan Ilusi Kejantanan

Kalimat sederhana itu menghapus klaim-klaim moral yang biasanya dipakai untuk membatasi kebebasan orang lain. Tidak ada aturan hukum dan aturan adat yang tunggal. Tidak ada pedoman tekstual yang melarang seorang laki-laki memakai kebaya. Lalu, dari mana datangnya keberanian orang untuk melarang?

Ketika kita melihat sejarah kebaya secara jujur, tidak ada satu perjalanan linier yang menyatakan bahwa kebaya adalah pakaian khusus perempuan. Kebaya berkembang dari berbagai pengaruh budaya Asia hingga Timur Tengah. Setiap daerah memiliki variasi bentuk, fungsi, dan simbolik yang berbeda. Sebagian digunakan di ruang formal, sebagian di ruang keseharian, sebagian untuk keperluan seni, dan sebagian lainnya melebur menjadi bagian mode modern. Kebaya tidak pernah statis. Ia hidup, berpindah-pindah, berubah-ubah. Tidak pernah tunggal, tidak pernah mutlak.

Karena itu, anggapan bahwa kebaya hanya untuk satu gender adalah konstruksi yang lahir belakangan. Sebuah konstruksi yang sering kali dipertahankan tanpa kesadaran sejarah.

Dalam konteks seni tradisi Nusantara, laki-laki mengenakan pakaian yang saat ini dianggap “feminin” juga bukan hal baru. Selain tari Lengger yang kerap disebut, ada banyak budaya lain yang menampilkan fluiditas pakaian. Di beberapa tradisi Jawa, penari laki-laki mengenakan kostum berlapis kain yang lembut, kadang dengan bentuk dan siluet yang mirip kebaya, untuk menciptakan stage presence tertentu. Di beberapa kesenian Bali, kain yang jatuh lemas, riasan wajah, dan aksesoris tubuh bukan penanda gender, melainkan bagian dari estetika ritual.

Baca Juga: Maskulinitas Toksik Bikin Lelaki Cemas dengan Tubuhnya

Kita bisa menemukan jejak serupa dalam teater tradisional seperti wayang orang, di mana peran dan pakaian kerap bertukar. Tidak ada pemisahan kaku seperti yang sering dipaksakan hari ini.

Ketika budaya masa lalu lebih lentur, mengapa masyarakat modern justru lebih kaku?

Jawabannya mungkin sederhana. Kita hidup dalam sistem yang terus-menerus membatasi tubuh berdasarkan kategori gender. Laki-laki harus seperti ini. Perempuan harus seperti itu. Tubuh “ideal” digambarkan dengan cara yang berulang-ulang hingga menjadi standar yang tidak perlu dipertanyakan. Kita dibesarkan dalam ruang sosial yang penuh pengulangan-pengulangan, dan karena itu kita menganggap pengulangan itu sebagai kebenaran. Hasilnya, siapa pun yang menyimpang sedikit saja, langsung dianggap salah.

Padahal, seperti kata Isthiqonita, “Berpakaian adalah bagian dari kebebasan berekspresi yang harus dihormati.” Mengapa kalimat sesederhana itu terdengar begitu sulit diterima? Mungkin karena kebebasan adalah sesuatu yang selalu diperebutkan. Tubuh, terutama tubuh yang dianggap menyimpang dari norma gender, menjadi ruang konflik antara kebebasan dan kontrol sosial.

Wisudawan yang memilih kebaya tidak sedang melakukan provokasi. Ia tidak mengganggu jalannya wisuda. Ia tidak merugikan siapa pun. Yang ia lakukan hanyalah menghadirkan dirinya dengan cara yang ia anggap paling mewakili dirinya pada hari yang penting. Namun bagi sebagian orang, keberanian itu dianggap ancaman. Ancaman pada batas-batas yang mereka buat sendiri, pada norma-norma yang mereka pegang kuat-kuat. Ancaman pada identitas yang mereka pikir harus tegas, tidak boleh bercampur, tidak boleh lentur.

Baca Juga: Di Balik Romantis Film Ancika, Ada Bad Boy dan Maskulinitas Toksik

Reaksi publik terhadap foto itu membuktikan satu hal yang lebih fundamental: masih ada kecemasan kolektif ketika seseorang mengekspresikan diri di luar bentuk yang sudah disediakan masyarakat. Kecemasan ini bukan tentang kebaya sebenarnya. Ia tentang ketakutan kehilangan kendali.

Padahal jika kita melihat sejarah lebih jauh, pakaian selalu menjadi bagian dari transformasi sosial. Pada awal abad ke-20, perempuan yang memakai celana panjang dianggap melawan norma. Sekarang normal. Pada beberapa masa, laki-laki aristokrat menggunakan kain panjang, aksesoris berkilau, sepatu bersol tinggi. Sekarang simbol itu berubah lagi.

Pakaian tidak pernah tetap. Siapa yang mengenakan apa selalu berubah, mengikuti kebutuhan zaman, politik, seni, dan teknologi. Ketika pakaian berubah, makna juga berubah. Jadi, mengapa kebaya yang dikenakan seorang laki-laki tiba-tiba dianggap sebagai pelanggaran?

Sejauh ini, tidak ada jawaban rasional yang bisa mendukung larangan tersebut. Yang ada hanyalah bias. Bias gender yang diwariskan dari generasi ke generasi, bias yang memisahkan laki-laki dan perempuan secara kaku, seakan-akan tidak ada ruang untuk spektrum identitas. Bias yang membuat tubuh tertentu dianggap sah untuk melakukan sesuatu, dan tubuh lain dianggap tidak sah. Juga bias yang membuat seseorang harus meminta izin atas tubuhnya sendiri.

Baca Juga: Agresif di Media Sosial, Ini Bentuk Maskulinitas Toksik?

Dan di titik inilah keberanian wisudawan tersebut menjadi penting. Keberaniannya bukan semata tentang pakaian. Ia tentang ruang. Ruang untuk menegaskan bahwa tubuh seseorang bukan milik publik, ruang untuk menjadi diri sendiri. Ruang untuk menunjukkan bahwa kita bisa hidup di dunia yang lebih lentur, lebih manusiawi.

Seperti yang kembali ditegaskan Isthiqonita, “Sebetulnya banyak tradisi seni di Indonesia yang malah mengharuskan laki laki pakai kebaya, misalnya tradisi tari Lengger di Banyumas, penari laki-laki pakai kebaya. Jadi secara tradisi pun tidak hanya digunakan perempuan.” Kutipan ini menggarisbawahi bahwa apa yang kita anggap “tabu” sering kali dibentuk oleh ketidaktahuan. Jika kita membuka kembali arsip budaya, membuka teks sejarah, membuka ruang seni, kita akan menemukan bahwa kebaya bukan simbol feminin yang kaku. Kebaya adalah bagian dari perjalanan panjang manusia di Nusantara.

Kasus ini membawa kita pada pertanyaan lebih besar: apakah kita benar-benar peduli pada kebaya, atau kita hanya takut pada laki-laki yang menolak mengikuti kategori yang kita buat? Jika jawabannya yang kedua, maka masalahnya bukan pada pakaian. Masalahnya pada bagaimana masyarakat memandang gender.

Dalam dunia yang terus berubah, mempertahankan aturan pakaian berbasis gender adalah cara cepat untuk memastikan kita tidak pernah maju. Kebaya yang dikenakan seorang wisudawan tidak merusak budaya. Yang merusak adalah ketika budaya dipakai sebagai alasan untuk membatasi kebebasan orang lain.

Pada akhirnya, kita perlu melihat peristiwa ini sebagai ajakan untuk membongkar bias. Ajakan untuk mempertanyakan aturan-aturan lama yang tidak lagi relevan. Ajakan untuk menerima bahwa ekspresi tidak perlu dibagi menjadi dua kategori baku.

Karena tubuh adalah ruang pribadi. Ekspresi adalah pilihan. Kebaya adalah pakaian. Dan pakaian tidak pernah menentukan nilai seseorang.

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

Rayfahd Haykal

Reporter magang Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!