Novel N. H. Dini 'Keberangkatan' (sumber foto: Gramedia)

Novel ‘Keberangkatan’: Perempuan Itu Mestinya Merdeka Tentukan Hidup, Tanpa Kekangan

Meski ditulis sejak beberapa dekade lalu, novel NH. Dini berjudul ‘Keberangkatan’ masih relevan menyorot isu perempuan zaman sekarang. Mulai dari kekangan patriarki tentang pernikahan sampai seksualitas.

Setelah jatuh cinta dengan Pada Sebuah Kapal, saya mulai memburu karya-karya lain dari NH. Dini. Keberangkatan menjadi buku kedua yang saya baca. 

Meskipun saya sering mendengar namanya, saya sempat ragu untuk menjelajahi tulisannya. Takut ceritanya tidak mengena atau terlalu lamban. Namun, setelah membaca kedua novel ini, anggapan saya terpatahkan. Saya menyadari bahwa cerita-cerita keseharian perempuan yang sering dianggap sepele dan diabaikan, menyimpan banyak kompleksitas mengenai pengalaman dan identitas mereka.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai menjelajahi sastra karya penulis perempuan. Sebuah pengalaman yang berbeda dari membaca tulisan penulis laki-laki. Dalam kisah-kisah perempuan, saya menemukan kedekatan yang mendalam—seperti suara yang bisa dipahami tanpa perlu dijelaskan panjang lebar. 

Tak sedikit dari cerita yang terungkap, menyingkap tabir tentang getirnya patriarki yang tersembunyi di balik norma sosial yang tampak “damai”. Ideologi ini merambat dalam berbagai lapisan kehidupan, meresap ke dalam sendi-sendi masyarakat. Ia tidak hanya hadir dalam aturan baku, tetapi juga menjelma dalam hal sehari-hari yang seringkali luput dari perhatian kita.

Baca Juga: ‘Where The Crawdads Sing’, Cerita Perempuan Paya dan Upayanya Keluar dari Kekerasan Seksual

Keberangkatan terbit pertama kali pada tahun 1977, ditulis ketika NH. Dini berada di Belanda. Meski berasal dari masa lampau, novel ini terasa segar; alur ceritanya ringan dan mengalir natural.

Melalui novel Keberangkatan, NH. Dini secara mendalam mengeksplorasi identitas perempuan dan gejolak batin tokoh-tokohnya. Sebagian besar cerita berlatar di Jakarta pasca-kemerdekaan, masa ketika orang-orang keturunan campuran Indonesia-Belanda menghadapi penolakan dari masyarakat. 

Pemerintah saat itu memberikan pilihan: menjadi warga negara Indonesia (WNI) atau kembali ke Belanda. Tokoh utama, Elisabeth Frissart—akrab dipanggil Elisa—adalah perempuan berdarah campuran Jawa dan Belanda yang memilih tetap tinggal di Indonesia, meski keluarganya memutuskan kembali ke Belanda. Bagi Elisa, Jawa adalah rumah sejatinya, tempat ia ingin menjadi bagian dari masyarakat. Ia juga berharap bertemu pasangan hidup, seorang pria keturunan Jawa.

Pernikahan Bukan Satu-satunya Tujuan Hidup

Novel ini tidak hanya menggambarkan kehidupan keluarga dan persahabatan Elisa, tetapi juga menyoroti dilema yang sering dihadapi perempuan: pencarian pasangan hidup. Di masa itu, norma sosial menuntut perempuan untuk segera menikah, dan keinginan itu sangat dirasakan oleh Elisa. 

Dalam kegelisahannya, ia bertanya-tanya: “Apa gunanya hidup jika tidak memiliki pengalaman perkawinan dan memiliki keluarga?” Pertanyaan ini mencerminkan pandangan bahwa perempuan secara kodrati ditakdirkan untuk menikah dan mengurus anak. 

Namun, pandangan Elisa dipatahkan oleh temannya, Lansih, yang menyuarakan perspektif berbeda: “Perkawinan bukan satu-satunya tujuan hidup. Masing-masing kita wajib mencari pengisian yang sesuai dan sepadan guna mengimbangi kebutuhan jiwa. Oleh karenanya, cerita manusia tidak berakhir hanya pada perkawinan. Jangan kau kira orang-orang yang telah kawin tidak mempunyai persoalan lagi dalam hidupnya.”

Dalam Keberangkatan, NH. Dini mengupas identitas perempuan, belenggu pernikahan, dan posisi perempuan dalam norma sosial masyarakat. Ia menunjukkan bahwa perkawinan belum tentu menjadi solusi dari semua persoalan hidup. Bahkan, bagi sebagian orang, pernikahan mungkin tidak dibutuhkan. Di era yang dianggap lebih modern ini, tekanan dan kebimbangan untuk segera menikah—khususnya bagi perempuan—masih menjadi realitas yang relevan.

Perempuan Melawan Dominasi Patriarki

NH. Dini juga menyoroti dinamika gaya berpacaran, di mana pria sering menuntut lebih dari sekadar kedekatan emosional. Elisa, misalnya, menolak ajakan tidur bersama dari temannya demi menjaga nilai-nilai agamanya. Penolakannya membuat pria tersebut meninggalkannya dan mencari perempuan lain. 

Dalam salah satu kutipan yang tajam, NH. Dini menulis: “Barangkali kami wanita juga memiliki cara untuk mengirim isyarat, sesuai dengan dasar kemestian dan adat yang ditentukan oleh “masyarakat” lelaki.” Kutipan ini menggambarkan bagaimana masyarakat yang didominasi oleh wacana laki-laki mengatur dan mengontrol cara berpikir, bertindak, bahkan hingga ranah paling intim, yaitu dalam bercinta. Akibatnya, perempuan seringkali dipaksa untuk beradaptasi dengan pola ini, sehingga mengabaikan keinginan dan kebutuhan mereka sendiri. 

Dalam konteks ini, ada juga kutipan lain yang mencerminkan nuansa dominatif: “Aku menjadi pendiam dan dingin karena tidak banyak diberi kesempatan buat mengatakan isi hati.” Hal ini sering terjadi dalam relasi keluarga, di mana keputusan rumah tangga berada sepenuhnya di tangan ayah sebagai kepala keluarga, sementara perempuan cenderung tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan. 

Baca Juga: Refleksi dari Tsunami Aceh: Budaya Membuat Perempuan Lebih Rentan Jadi Korban Bencana

Bibit-bibit dominasi serupa juga muncul dalam hubungan pacaran. Misalnya, melalui pelarangan untuk bersosialisasi dengan teman lawan jenis, bahkan jika hubungan tersebut hanya sebatas persahabatan. 

Sepanjang waktu, perempuan kerap ditundukkan secara simbolis untuk menjadi diam, patuh, dan tidak banyak menuntut. Mereka dikondisikan untuk menerima aturan yang telah ditetapkan tanpa banyak bertanya, seolah-olah suara dan keinginan mereka tidak memiliki tempat dalam hubungan yang didominasi oleh norma patriarki. 

Pengalaman seperti ini, menurut saya, tetap relevan hingga kini, bahkan di era modern, termasuk bagi perempuan yang tinggal di perkotaan dan memiliki pendidikan tinggi. Stigma terhadap perempuan yang sudah memasuki usia tertentu namun belum menikah masih menghantui, seolah-olah status pernikahan adalah tolok ukur utama keberhasilan hidup. 

Ironisnya, bagi mereka yang memilih menikah, beban domestik dan tanggung jawab merawat anak sering kali sepenuhnya jatuh di pundak perempuan. Di sisi lain, perempuan yang memilih berkarir daripada menikah kerap menghadapi tekanan sosial yang tidak kalah berat. 

Baca Juga: ‘Sing Beling Sing Nganten’, Hak Reproduksi Perempuan dan Budaya Patriarki di Bali

Pada akhirnya, tekanan-tekanan ini mencerminkan betapa kuatnya norma yang mengakar dalam masyarakat, yang cenderung membatasi kebebasan perempuan untuk menentukan jalan hidup mereka sendiri. Namun, seperti yang tercermin dalam perjalanan Elisa dan pemikiran Lansih, kebebasan untuk mendefinisikan kebahagiaan adalah hak setiap individu. 

Perempuan memiliki hak untuk memilih dan menjalani hidup sesuai keinginan mereka, tanpa harus tunduk pada ekspektasi sosial yang sempit. Dengan begitu, perjalanan hidup tidak lagi dinilai berdasarkan status pernikahan, melainkan pada bagaimana seseorang meraih kebahagiaan dan menjalani hidup yang autentik sesuai pilihannya.

Tentang Novel

Judul: Keberangkatan
Pengarang: NH. Dini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2006
Jumlah Halaman: 237
ISBN: 9789792258363

(sumber foto: Gramedia)

(Editor: Nurul Nur Azizah)

Sekar Jatiningrum

Pecinta karya sastra yang ditulis oleh penulis perempuan, penggemar cinema of contemplation, dan penikmat rutinitas monoton yang tampak membosankan, namun sejatinya membebaskan.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!