Peringatan pemicu: isi dari artikel ini dapat memicu trauma, khususnya bagi korban/penyintas kekerasan seksual.
Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah, memoar yang ditulis artis Aurélie Moeremans (32) menjadi perbincangan publik di media sosial. Bahkan judul buku juga nama sang artis sempat menempati posisi atas trending topic selama beberapa hari pada pekan lalu.
Memoar yang dipublikasikan pada 10 Oktober 2025 lalu itu menyingkap kekerasan seksual yang dialami Aurélie saat ia mulai menapakkan kakinya di dunia entertainment Indonesia pada usia belia. Seperti dituturkan Aurélie pada pengantar buku, “Memoar ini memuat kisah nyata tentang manipulasi emosional, pemaksaan, perundungan, pelecehan seksual, dan kekerasan psikologis.”
Menulis tentang peristiwa menyakitkan yang terjadi dalam kehidupan nyata seperti pelecehan seksual dan pemerkosaan bukanlah hal yang mudah. Terlebih ketika hal ini dilakukan oleh korban/penyintas yang mengalami kejadian tersebut. Ini dikarenakan dalam proses penulisan korban/penyintas memanggil kembali kepingan memori yang ingin dilupakan, menyusunnya ulang dan merefleksikannya dalam sudut pandangnya yang sekarang.
Bagi beberapa penulis, mereka menempuh jalan tersebut sebagai bagian dari upaya mereka yang sedang mengatasi rasa sakit itu sendiri. Menceritakan kisah mereka, merupakan ikhtiar untuk membantu menyembuhkan diri mereka sendiri. Penulis yang lain menggunakan pengalaman mereka sebagai sarana aktivisme, upaya untuk mendorong perubahan, sebuah ajakan sekaligus seruan untuk bertindak bagi para pembaca, media dan pemerintah.
Dalam konteks ini, maka ketika korban/penyintas kekerasan seksual memutuskan untuk membagikan kisah mereka—entah lewat tulisan seperti memoar, puisi, lagu, atau bentuk-bentuk lain misalnya lukisan, dan sebagainya—mereka melakukannya bukan untuk membuat orang lain merasa buruk, atau untuk menimbulkan perasaan tidak nyaman pada orang-orang yang pernah (atau mungkin belum pernah) mengalaminya sendiri.
Baca juga: Siotjia-Mia Bustam, Selusur Sejarah Perlawanan Perempuan Tionghoa di Biennale Jogja 2025
Sering kali, korban/penyintas melakukannya karena itu adalah kisah yang harus mereka ceritakan. Dan melakukannya memiliki kekuatan untuk menyelamatkan tidak hanya penulis itu sendiri, melainkan juga para pembaca. Hal ini pula yang saya rasakan saat membaca lembar demi lembar Broken Strings. Secara tegas Aurélie juga mengungkapkannya di bagian awal memoarnya.
“Buku ini tidak ditulis untuk membuka luka lama, melainkan untuk memecah sunyi. Jika kamu juga memanggul rasa sakitmu sendiri, semoga kata-kata ini mengingatkan bahwa kamu terlihat, dan bahwa kamu tidak sendirian.”
Dengan titik pijak ini, maka tulisan personal perempuan seperti memoar atau autobiografi punya posisi penting dalam studi sastra feminis dan kajian interdisipliner. Dalam pandangan feminis, penulisan memoar bukan sekadar mendokumentasikan masa lalu. Lebih daripada itu, ia merupakan sebuah tindakan politis, sebuah perlawanan sekaligus alat untuk merebut kembali narasi perempuan yang sering kali dibungkam atau dipinggirkan oleh sejarah patriarki.
Memoar memungkinkan perempuan untuk mendefinisikan diri mereka sendiri sebagai subjek, bukan sekadar objek. Memoar juga memberi jalan bagi perempuan untuk menghubungkan pengalaman pribadi (personal) dengan isu struktural yang lebih luas (political). Karena yang personal atas perempuan merupakan perihal yang politis, the personal is political, sebuah konsep yang dipopulerkan oleh Carol Hanisch di tahun 1969.
Secara lebih khusus feminis memandang memoar tentang kekerasan seksual merupakan alat yang ampuh untuk memecah keheningan seputar kekerasan seksual, menantang narasi budaya yang dominan, dan mengubah trauma pribadi menjadi tindakan politik. Narasi-narasi ini dipandang penting untuk menggeser fokus dari “fakta” hukum ke dampak emosional dan struktural yang lebih dalam dari kekerasan.
Selama ini suara perempuan (korban) kerap diabaikan, dipelintir bahkan disembunyikan. Kondisi ini tidak terlepas dari kuatnya budaya perkosaan, rape culture, yang hidup di masyarakat. Yang terjadi kemudian adalah terlalu banyak perhatian diberikan kepada pelaku kekerasan seksual, sementara korban tidak cukup mendapatkan perhatian.
Baca juga: Film ‘Maid’ Perjuangan Korban KDRT yang Berani Keluar dari Rumah
Kerap kali korban justru disalahpahami, dinilai secara tidak adil, dan bahkan disalahkan karena terlibat dalam kasus-kasus kekerasan seksual. Kehidupan mereka hancur berantakan, karakter mereka dipertanyakan, dan rasa aman serta dukungan yang mereka butuhkan acap direnggut saat paling dibutuhkan. Sayangnya, media sering kali menjadi aktor utama dalam seluruh proses tersebut.
Roxane Gay, penulis sekaligus kritikus budaya, dalam bukunya Bad Feminist, menjelaskan secara gambling. Ia mengatakan cara media Amerika Serikat membicarakan pemerkosaan sangatlah ceroboh. Roxane mengutip sebuah artikel New York Times yang menggambarkan pemerkosaan berkelompok terhadap seorang anak berusia 12 tahun dengan menggunakan angle pemberitaan yang mempersoalkan para pelaku yang tidak bisa sekolah lagi dan kehidupan mereka akan berubah selamanya. Alih-alih mengulas dampak yang dialami korban dan trauma yang mungkin menghantuinya sepanjang hidup.
Roxane mengkritik kerangka penulisan yang bermasalah, yang justru membalikkan peran korban dan pelaku dan secara tersirat menyatakan bahwa kehidupan laki-laki lebih berharga daripada kehidupan anak perempuan tersebut. Menurutnya artikel semacam itu bisa diterbitkan merupakan sebuah bukti yang menguatkan keyakinannya bahwa kita hidup dalam budaya pemerkosaan. Yakni kondisi masyarakat yang membuat kita dibanjiri, dengan berbagai cara, oleh gagasan bahwa agresi dan kekerasan laki-laki terhadap perempuan dapat diterima dan sering kali tak terhindarkan.
Kondisi semacam ini membuat kita sulit untuk menghindari cerita tentang pemerkosaan. Roxane melihat ini sebagai situasi yang mengkhawatirkan karena mungkin kita sudah menjadi kebal terhadap kengerian pemerkosaan karena kita sering melihatnya dan sering membicarakannya, berkali-kali tanpa mengakui atau mempertimbangkan beratnya pemerkosaan dan dampaknya.
Dalam memoarnya Aurélie menuturkan bagaimana suaranya dimanipulasi oleh pelaku yang disamarkan dengan nama Bobby. Di bab kedua dan selanjutnya Aurélie menceritakan pelaku melakukan grooming, serangkaian tindakan manipulatif yang dilakukan secara perlahan dan pasti untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan kendali atas dirinya.
Baca juga: Feminis Mesir Nawal El Saadawi Meninggal, Kita Mengenang Karya dan Perjuangannya
Dan ketika keluarganya juga dirinya bersuara, yang terjadi justru media memelintir, meragukan, mempertanyakan, bahkan memutarbalikkan fakta.
“Putus asa, papaku melakukan satu-satunya hal yang masih bisa ia lakukan: media. Ia menulis blog, menghubungi wartawan, menceritakan pada siapa pun yang mau mendengar bahwa anak perempuannya yang masih di bawah umur sedang dimanipulasi oleh pria dewasa.”
“Dan berhasil. Beritanya meledak. Tapi ceritanya berputar. Aku berubah jadi gadis durhaka yang melawan orang tua demi cinta. Judul-judul di koran menyebutku remaja manja yang dicuci otak pacar lebih tua. Sebagian orang kasihan pada orang tuaku, tapi lebih banyak yang menertawakan. Menertawakanku.”
Begitu juga ketika Aurélie mulai menyadari tindakan manipulatif pelaku dan berusaha untuk lepas dari pengaruhnya. Namun meja pengadilan dirasa sangat jauh karena beban pembuktian yang harus dipukul korban dan pertimbangan lain yang memberatkan posisinya. Situasi ini membuat pertimbangan untuk membawa kasusnya ke ranah hukum bukanlah sebuah pilihan. Ia kemudian memutuskan menulis catatan di Facebook mengikuti saran ayahnya.
Upaya ini untuk mengklaim kebenaran sebelum pelaku menyebarkan foto-foto telanjangnya atau membuat cerita menurut versinya. Namun yang terjadi media justru memotongnya menjadi versi sesuai yang mereka mau.
“Setelah banyak ragu, aku menulis sebuah catatan di Facebook. Dan semuanya langsung meledak. Bukan karena orang-orang memahami, tapi karena media memelintirnya. Mereka mengambil kalimat paling mencolok dan menjadikannya judul berita.”
‘Aurélie Kirim Foto Telanjang Setiap Hari Ke Mantan Suaminya.’
‘Aurélie yang Pernah Kawin Lari Menolak Disebut Janda?’
(Dan) ‘Aurélie Senang Mengirim Foto Vulgar.’
Baca juga: Lolita dalam Cengkeraman Humbert Bukanlah Kisah Cinta, Tapi Kekerasan Seksual Child Grooming
Cerita Aurélie tersebut menunjukkan dengan gamblang suara korban kerap dibungkam, bukan hanya oleh pelaku, tetapi juga pihak-pihak yang seharusnya punya kekuatan untuk mengamplifikasi suaranya, seperti media. Tak hanya media, Aurélie dalam memoarnya juga memperlihatkan banyak pihak yang semestinya memberikan perlindungan justru abai.
Memoar tentang kekerasan seksual membalikkan budaya menyalahkan korban, seperti yang pernah dialami Aurélie, dan menempatkan kekuatan kebenaran di tangan orang yang seharusnya: penyintas kekerasan tersebut.
Lewat suara mereka sendiri, korban kekerasan seksual dapat menantang stereotipe yang tidak adil tentang korban. Lebih dari itu memoar membuka jalan bagi mereka untuk berbagi kisah yang benar-benar penting: kisah mereka sendiri.
Foto: Instagram Aurélie






