Mendung bergayut di langit Kota Yogyakarta, ketika langkah kaki kami – rombongan Tur Ketandan – meninggalkan komplek Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu, 18 Oktober 2025 sore. Tur dengan tema “Siotjia dan Jejaring Pemikir Perempuan” yang digelar Kolektif Arungkala ini bagian dari program Biennale Jogja 2025, Anjangsana: Exhibition Tour.
Ketandan adalah perkampungan Pecinan di Kota Yogyakarta, selain Kampung Kranggan. Bedanya, lokasinya berada di pusat perekonomian Yogyakarta, yakni di kawasan Malioboro. Sedangkan Kampung Kranggan berada di kawasan Jetis yang juga merupakan kawasan cagar budaya. Baik Ketandan maupun Kranggan sama-sama bersebelahan dengan pasar tradisional, yakni Pasar Beringharjo dan Pasar Kranggan.

Lewat tur jalan kaki itu, Kolektif Arungkala ingin berbagi catatan temuan selama tinggal dan belajar (live in) di Kampung Lasem di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Mereka berada di sana selama 10 hari dalam program residensi Biennale Jogja 2025. Lasem adalah nama kecamatan di sana yang dikenal dengan “Tiongkok Kecil” karena juga menjadi permukiman etnis Tionghoa.
Baca Juga: Ceritaku Berkunjung ke Biennale Jogja 2023, Musik Bisa Jadi Seni Terapi Bagi Lansia
Pengetahuan awal tentang Lasem berbekal arsip dua edisi “Perdjalanan ke Lasem” karya kontributor koran Djawa Tengah, Hoa Im Soe yang terbit sekitar Agustus tahun 1915. Mereka ingin membaca ulang catatan sejarah ruang hidup warga Lasem yang berumur 110 tahun.

Dan ternyata sumber tulisan Hoa Im Soe adalah tulisan para perempuan Tionghoa dari Lasem yang menjadi penulis surat kabar itu.
… dan Nona-nona Tionghoa (di Lasem) banjak jang bisa karang mengarang, antara mana jang bisa tarik saja poenja hati adalah Oei Siotjia Lasem. Begitu tulis Hoa Im Soe dalam “Perdjalanan ke Lasem 1”.
Baca Juga: ‘Diarak dan Dibuka Jilbab Secara Paksa’ Pemulung Tua Jadi Korban Kekerasan di Yogyakarta
Temuan keberadaan perempuan penulis Tionghoa masa itu mengejutkan tim periset. Mengingat kabar tentang mereka tak pernah didengar dalam pelajaran sejarah di bangku-bangku sekolah. Buku-buku yang ditulis bebas pun lebih banyak mengulas soal laki-laki penulis Tionghoa. Salah satu bukti, bahwa dominasi sejarah resmi negara dan dominasi sejarah maskulin tak menempatkan perempuan Tionghoa sebagai subjek historis dalam sejarah gerakan perempuan.
“Kongres perempuan saja di Jawa, tokoh-tokoh perempuan yang banyak banyak disebut, seperti RA Kartini, Dewi Sartika. Jarang jarang mendengar nama-nama di luar Jawa. Jadi kami cukup kaget dan sangat amat penasaran dengan para perempuan penulis Tionghoa dari Lasem,” aku periset Kolektif Arungkala, Lestari, yang juga memimpin rombongan tur itu.

Penggalian data pun dilakukan lewat kliping-kliping surat kabar yang berhasil ditemukan kisaran tahun 1015-1016. Tahun kliping tulisan menunjukkan perempuan penulis Tionghoa itu hidup awal abad 20 saat Pemerintah Kolonial Hindia Belanda berkuasa dan mayoritas sudah merupakan peranakan.
Catatan dan sejumlah tulisan perempuan Tionghoa dari Lasem itu disusun dalam zine berjudul “Membaca Oei Siotjia Lasem”, “Siotjia-siotjia & tanda nama”, serta “Oei Siotjia Lasem: Pembela Hak-hak Pendidikan Perempuan Tionghoa” yang dipamerkan dalam gelaran Biennale 2025 di Benteng Vredeburg Yogyakarta.
“Jadi ini riset awalan saja (preliminary research). Riset berbasis arsip, meski keluarannya berbentuk karya artistik,” imbuh Lestari.
Baca Juga: Jalan-Jalan Perempuan #2: Bertemu Pekerja Disabilitas, Lansia, Transpuan dan Lihat Keadilan untuk Mereka
Semula, kisah mereka banyak ditemukan di wilayah Jawa Tengah, seperti Salatiga, Rembang, Semarang. Di Lasem, misalnya, ada Oei Siotjia. Belakangan, tim riset menemukan penulis perempuan Tionghoa dari Yogyakarta dengan inisial Liem Siotjia.
Istilah “siotjia” diambil dari Bahasa Cina Hokkian yang berarti “nona” atau sebutan bagi perempuan muda Tionghoa. Bagi masyarakat masa itu, siotjia tidak hanya sebatas sebutan untuk “nona”, melainkan juga sebutan untuk bangsawan perempuan Tionghoa.

Istilah “bangsawan” pun bukan merujuk pada sebutan untuk keturunan dari strata sosial tinggi atau darah biru. Melainkan ditujukan terhadap orang-orang pemikir atau intelektualis. Termasuk sebutan “bangsawan perempuan” untuk perempuan-perempuan Tionghoa yang suka menulis yang mempunyai spirit meluas di kalangan Tionghoa.
Baca Juga: ‘The New Grey’, Gerakan Lansia untuk Tampil Fashionable dan Gaya
Tim periset pun menduga, kemunculan industri batik Lasem yang menjadi sumber ekonomi akhir abad 19 dan awal abad 20 mendorong kemunculan intelektual muda seperti Oei Siotjia dan teman-temannya. Selain juga persoalan ketidaksetaraan dan diskriminasi.
Sebab menjadi penulis waktu itu, cukup banyak batu sandungannya ketimbang saat ini. Apalagi bergender perempuan dan beretnis Tionghoa. Terlebih tulisan itu diterbitkan di media massa yang dibaca umum dengan Bahasa Melayu, tak hanya kalangan beretnis Tionghoa saja. Berbeda dengan surat kabar khusus yang terbit di kalangan sendiri, seperti Tiong Hoa Wi Sien Po (THWSP) dan The Chinese Reformist Newspaper di Bogor.
Sementara jika perempuan penulis Tionghoa menuangkan pemikiran yang mengkritisi laki-laki, yang suka bersikap keras dan diskriminatif, maka langsung dibalas balik oleh laki-laki dengan cemooh dan umpatan dalam kolom tanggapan. Seperti sebutan kurang pikir, genit, bodoh, tidak tahu malu. Juga tudingan liberal dari kalangan konservatif Tionghoa.
Berbagai siasat pun dilakukan perempuan Tionghoa untuk tetap bisa eksis menulis. Seperti hanya menuliskan identitas penulis dengan mencantumkan nama marga dan diikuti nama wilayah tempat tinggalnya saja. Seperti Oei Siotjia Lasem atau pun Liem Siotjia Djokdja.
“Masa itu, kebanyakan mereka nggak menulis nama asli di surat kabar. Itu upaya menegosiasi ruang aman,” kata Lestari.
Baca Juga: 29 Mei Hari Lansia Nasional: Pentingnya Perhatikan Kebutuhan Ayah dan Ibumu
Adalah Oei Siotjia, sebagaimana disebut Hoa Im Soe, adalah perempuan penulis Tionghoa yang produktif melahirkan tulisan-tulisan opini di surat kabar umum, Koran Djawa Tengah, bertajuk “Pikirannja Satoe Gadis T.H. (Tionghoa)” hingga edisi XXIII. Koran yang terbit setidaknya dua kali sepekan itu acapkali memunculkan karya anak juragan batik Lasem ini. Setidaknya, tim periset menemukan ada 50 esainya dalam kisaran tahun itu.
Bagi Oei, menulis adalah strategi untuk menghimpun dan membagikan keresahan akan penindasan berlapis yang mereka alami saban hari. Seperti tidak mendapat pendidikan setara, mendapat stigma sebagai etnis kaya dan punya privilege, hingga mendapat perlakuan rasis dari masyarakat umum sehingga banyak yang memilih mengenyam pendidikan di rumah.
Gaya tulisan Oei yang kritis tampak meledak-ledak. Ia sering menulis soal hak pendidikan bagi perempuan Tionghoa, kesetaraan relasi laki-laki dan perempuan, kepengarangan perempuan Tionghoa, industri batik di Lasem, dan amatan terhadap dinamika sosial di Lasem pada era tersebut.
Simak kritiknya terhadap orang-orang tua Tionghoa yang tak berdaya untuk menyekolahkan anak perempuannya dalam tulisan IV.
(…)ketjiwa! terlaloe ketjiwa! amat ketjiwa! bila anak prampoean tida dapet pladjaran, beroelang oelang saja soedah njataken saja poenja pikiran di ini soerat kabar, di mana saja toelis dengen kras soepaja orang toea soeka kasih pladjaran pada anak anaknja prampoean dan djanganlah bedaken anak anak prampoean lebih lama lagi dan pakerdja’an jang tida pantes boeat orang prampoean(…).
Baca Juga: 6 Hari Penting Perempuan di Bulan Mei: Hari Marsinah sampai Hari Kanker Ovarium
Juga protesnya terhadap laki-laki yang merendahkan martabat perempuan.
(…) hanja saja menoelis karangan, jalah saja maoe protest sama orang laki, soepaja soeka kasih pladjaran pada anak-anak prempoean, dan djanganlah orang prempoean selaloe dibikin oleh orang laki sasoekanja. Dan sebagai prampoean toch pantes sekali kaloe saja protest agar orang laki sadar. Soenggoe terkoetoek sekali jang bentji prampoean. Begitu petikan tulisan Oei tertanggal 9 Januari 1915.
“Poin out tulisan dia, bahwa laki-laki seharusnya memberikan hak pendidikan kepada perempuan Tionghoa, dan perempuan Tionghoa seharusnya tidak menjadi budak laki-laki,” jelas Lestari.
Di balik sikap kritisnya, Oei juga suka curhat sisi personalnya dalam surat kabar.
“Dia cerita susahnya nulis karena harus sambil jualan batik. Beberapa penulis juga mempunyai karakter sama, nulis tentang karakter personalnya,” papar dia.
Pengaruh tulisan kritisnya menyebar kepada perempuan-perempuan Tionghoa lain. Sekaligus ajakan untuk menulis serta. Sejumlah nama penulis kritis lain pun bermunculan, bahkan tak hanya dari Lasem. Seperti Rina Oei alias Oei Giok Hwa Nio, Anna Jo, Kwee Siotjia, Lie Siotjia, Qei Siotjia, Jenny Siotjia, Liem Siotjia.
Baca Juga: Festival Rengkong Wewengkon Kasepuhan Citorek: Mewujudkan Ekosistem Kebudayaan yang Organik dan Inklusif
Saya telah dapat, kenyataan tulis menulis saya di ini surat kabar telah banyak orang yang hargaken. O, hatiku senang ia senang sekali, hingga capek dan payah saya tidak nanti rasakan, asal sadja kita orang punya kaum perempuan dapat keadilan yang pantas. Tulis Oei.
“Mereka hadir setelah masa Raden Ajeng Kartini. Bahkan tulisannya lebih kritis dan tajam daripada Kartini,” ungkap Lestari.
Namun dunia kepenulisan zaman itu yang maskulin dengan dominasi kekuasaan laki-laki berlapis-lapis, membuat perempuan-perempuan penulis Tionghoa keburu tenggelam, tak bertahan lama menjadi penulis surat kabar. Oei misalnya, jejak tulisannya tak terlacak lagi setelah Juni 1916.
Jumlah perempuan penulis Tionghoa pun bisa diitung dengan jari, begitu pun artikel yang dimuat.
“Kami pun menemukan tulisan Nona Liem baru satu artikel. Kebanyakan artikel dari (siotjia) Lasem dan Semarang,” kata dia.
Berdasarkan tulisan tahun 1914, Liem diketahui menulis tentang ilmu-ilmu finansial. Lantaran tahun itu pula, Lestari berspekulasi, Liem tinggal di Ketandan. Sebab Kampung Ketandan sudah ada di sana sejak awal abad 19.
“Selebihnya, tidak menemukan clue lain dari tulisan dia. Harapannya, lewat tur ini bisa melihat bagaimana Yogyakarta dan Ketandan masa itu,” papar Lestari.
Baca juga: Memanen Kolaborasi Budaya dengan Pelumbungan Inisiatif Kebudayaan
Tak ada informasi terkait di mana bekas rumahnya, di mana ia biasa melakukan aktivitas, dan sebagainya. Setidaknya lewat Langkah kami sore itu menyusuri lorong-lorong Kampung Ketandan, bisa merasakan bagaimana suasana di sana awal abad 20 itu saat Liem Siotjia masih hidup.
Lestari mengajak kami mengenal Kampung Ketandan lebih dulu dari kacamata tempo doeloe. Kekhasan bangunan, mata pencaharian, juga cerita-cerita kehidupan etnis Tionghoa yang tersimpan di sana.
“Kita akan mengulas sejarah Ketandan dari mata orang biasa,” kata Lestari.
Persinggahan pertama di perbatasan antara Pasar Beringharjo dengan perkampungan Ketandan. Kami berdiri di depan deretan toko-toko lawas dengan cat tembok yang kusam. Beberapa di antaranya masih mempertahankan salah satu arsitektur Tionghoa, berupa atap berbentuk pelana kuda.
Tak hanya di Ketandan. Atap pelana kuda juga banyak ditemukan pada bangunan-bangunan lawas di kampung pecinan yang ada di kota lain, seperti di Medan, Bandung, Semarang.
Lestari mengisahkan temuan timnya saat melakukan riset tentang Ketandan. Pertama, meskipun berada di tengah pusat perekonomian di kawasan Malioboro, ternyata Ketandan menyimpan kisah kelam. Dahulu wilayah itu rapuh, terlebih saat krisis perekonomian global pada 1930 yang dikenal dengan krisis Malaise. Kelaparan di mana-mana, banyak perusahaan bangkrut, angka kemiskinan dan pengangguran melonjak, kriminalitas merajalela.
Baca juga: Viral Kawin Tangkap di Sumba: Stop Kekerasan terhadap Perempuan Berdalih Tradisi
“Di sini banyak toko yang dijarah dan warga yang bunuh diri karena tak mampu bertahan hidup,”
Kedua, Ketandan menjadi permukiman etnis Tionghoa tak lepas dari dampak politik segregasi atau pengasingan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Tak hanya menjajah masyarakat Hindia Belanda, pemerintah kolonial masa itu juga melihat masyarakat Tionghoa sebagai ancaman.
“Sebab masyarakat Tionghoa itu masyarakat kosmopolit. Datang dari negeri jauh, ke sini membuka jejaring lapangan kerja,” kata Lestari.
Salah satu bentuk penerapan politik segregasi adalah membuat tata ruang kota yang terpilah-pilah. Di Yogyakarta misalnya, menjadikan Ketandan wilayah Pecinan, Bugisan menjadi wilayah orang Bugis, Sayidan menjadi wilayah permukiman keturunan Arab. Penerapan kebijakan itu agar orang-orang yang dianggap pendatang ini tidak bermukim di wilayah di luar etnisnya dan tidak berpindah ke wilayah lain.
Sementara Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah Raja Sultan Hamengku Buwono IV meembuat aturan yang mempekerjakan masyarakat Tionghoa sebagai Tanda, yakni penarik pajak. Istilah “Tanda” ini dipakai menjadi nama wilayah tersebut, yakni Ketandan, wilayah permukiman para penarik pajak.
Keasyikan kami mendengarkan dongeng terputus saat seorang tukang parkir meminta jalan untuk mengeluarkan motor seorang pelanggan. Terlupa kami tengah berdiri meriung di tempat motor-motor roda dua diparkir. Sore menjadi alarm waktu bagi para pedagang Pasar Beringharjo untuk berkemas pulang. Begitu pun para pembelinya segera bergegas pergi.
Baca Juga: Roehana Koeddoes, Pahlawan Yang Tak Banyak Disebut Dalam Literatur Pers
Langkah kaki kami pun bergeser ke utara. Terhenti lagi di depan bangunan toko kuno Tionghoa berukuran kecil dengan pintu dari lembar-lembar kayu yang disusun berderet yang tampak tertutup rapat. Meskipun sebagian atapnya sudah bermaterial galvalum, status “Bangunan Warisan Budaya Nomor 435 Tahun 2018” masih disematkan pada plang dipajang di depan rumah itu. Material lainnya masih sama, berdinding kayu dan bertiang kayu.
Selain beratap pelana kuda, masih ada plang nama dari tembaga dipajang di atas pintu. “TAN KIEM LAN”, begitu huruf-huruf kapital itu disusun berderet.
“Itu nama kepala rumah tangga masa rumah itu dibuat,” begitu Lestari menjelaskan.
Mengingat penghuni toko atau pun rumah bangunan-bangunan pecinan di Ketandan tak lagi pemilik pertama. Ada yang sudah berpindah kepada ahli warisnya, atau pun berpindah tangan kepada orang lain.
Dari perempatan Ketandan, kami berbelok ke barat. Menuju persinggahan selanjutnya di depan Teras Malioboro Ketandan. Lokasi pindahan para pedagang kaki lima dari Teras Malioboro 2. Bangunannya banyak diberi aksen khas kampung pecinan.
“Kalau menyusuri wilayah Pecinan, tak hanya menyimpan kisah kelam soal politik segregasi. Tapi juga sejarah tentang perempuan Tionghoa yang jarang ditemukan dalam pelajaran sejarah di sekolah, museum, juga buku-buku,” Lestari kembali membuka kisah.
Baca Juga: Feminisme Berkontribusi Bongkar Sistem Patriarki Dalam Islam
Pilihan memahami narasi sejarah siotjia, khususnya, melalui tur menjadi salah satu pendekatan Kolektif Arungjala untuk mendesiminasi narasi-narasi risetnya. Biasanya narasi pinggiran, yakni dari kacamata orang-orang biasa.
Tur dipilih karena merupakan medium yang populis yang bisa diakses orang dari berbagai kalangan, ada unsur kesenangan untuk keluar jalan bareng. Dan medium itu sudah dilakukan Kolektif Arungkala sejak Februari 2024 lalu, juga dimulai dari Ketandan.
“Jadi tur itu medium yang membumi. Nggak seperti seminar atau workshop yang hirarkis,” jelas Lestari.
Juga medium yang efektif karena bisa saling bertukar cerita dan belajar mendengar. Sekalipun narasi itu disampikan oleh orang-orang biasa yang bukan berlatar kepakaran atau strata sosial tertentu.
“Juga imajinatif. Kita bisa jalan langsung di luar, bisa berspekulasi,” imbuh dia.
Pameran Mia Bustam
Di penghujung tujuan, kami masuk ke Benteng Vredebrug. Lokasi ini menjadi salah satu tempat gelaran pameran Biennale Jogja 2025 bertema “Kawruh Tanah Lelaku” yang berlangsung dari 19 September – 20 November 2025. Pameran lainnya diadakan terpisah di Kantor Pos Besar, Kampoeng Mataraman, The Ratan, Pendapa Art Space, Balai Budaya Karangkitri, Gubuk Putih, Toko Purnama, Plataran Djokopekik, Monumen Bibis, dan Joglo Pak Newu.
Kolektif Arungkala membuka stand pameran juga di sana. Salah satunya tiga patung mungil dengan material dari tanah liat, fiber dan tembaga yang dipajang di dekat pintu masuk ruang pamer. Patung yang diberi judul “Oei Siotjia Bersama Kawan Pena-nya” itu menggambarkan tiga sosok perempuan penulis Tionghoa. Pemahatnya adalah perempuan pematung Dolorosa Sinaga, yang sekaligus pejuang hak asasi manusia lewat praktik artistiknya yang pernah mendapat penghargaan Yap Thiam Hien atas karya patung ikoniknya, “Solidarity”.
Sementara di dalam ruang pameran dipenuhi dengan lukisan dan arsip Mia Bustam. Lahir dengan nama Sasmiyati Sri Mojoretno di Purwodadi, Jawa Tengah pada 20 Juni 1920, Mia lebih banyak dikenal sebagai istri “Bapak Pelukis Modern Indonesia”, S. Sudjojono. Belakangan orang mengetahui, Mia pun seorang seniman, penyulam, penulis dan penerjemah Indonesia.
Baca Juga: 5 Perempuan Yang Jarang Disebut Namanya di Hari Pendidikan Nasional
Menjadi ibu delapan anak, membuat Mia tak mudah mencurahkan waktu sepenuhnya untuk melukis. Sebuah kemewahan yang gampang diperoleh laki-laki, ketimbang perempuan pelukis. Sehari-hari ia harus melakoni multikasking sebagai ibu, sebagai istri dengan kerja-kerja domestik.
Soal ini, Mia menggugatnya dalam korespondensi dengan seniman Kartika Saptohoedojo, anak pelukis Affandi, pada 1960. Arsip itu juga turut dipamerkan di sana.
Baca Juga: Sekolah Buruh Perempuan, Berjuang Merebut Pengetahuan
Ah Tika, begitu banyak yang minta dilukiskan, begitu banyak. Dan serasa kita akan kekurangan waktu untuk menampung semua itu di atas kanvas kita, Wanita! Dengan segala kesulitan, segala tantangan-tantangan kita! Objek-objek memanggil, tapi: —nanti dulu aku harus menyelesaikan pekerjaan dapur, aku harus mencuci, aku harus mengurus anak-anak, kamar tidur belum beres, si bungsu meriang, — etc, etc. Kita kadang-kadang hampir putus asa. Kita mengeluh: —Bisakah aku mencapai apa yang aku gairahkan? Bisakah aku berdiri sejajar dengan yang sekarang berhak untuk menyeleksi, mengkritik, dan mengapkir lukisan-lukisan kita?
Pernikahannya dengan Sudjojono sejak 1943 kandas pada 1959. Mia menolak permintaan poligami suaminya yang sudah berselingkuh. Ia pun menekuni dunia seni sepenuhnya, juga berorganisasi. Ia bergabung dalam Seniman Indonesia Muda (SIM) dan Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra). Bahkan 1963, ia didaulat untuk memimpin Lekra Cabang Yogyakarta.
Peristiwa G30S, Mia terkena imbasnya. Ia ditangkap di depan mata anak-anaknya pada 23 November 1965. Kisah penangkapan itu diungkapkan dalam memoarnya “Dari Kamp ke Kamp” halaman 60 yang potongan kutipannya dipamerkan dalam bentuk tulisan tangan.
“Kau naik ke truk sana!” bentak orang itu padaku.
Aku pandangi anak-anak satu per satu, dan hanya berucap, “Wis ya, Cah,” dan berjalan meninggalkan mereka tanpa menoleh lagi.
Baca Juga: Kebangkitan Perempuan
Aku tidak mencium mereka. Aku tau kalau aku menciumnya, aku akan menangis dan itu aku tidak maui. Air mataku hanya untuk mereka yang kukasihi, tidak untuk diperlihatkan kepada mereka yang memusuhi diriku.”
Mia ditahan selama 13,5 tahun tanpa proses peradilan. Sama seperti lainnya, ia dipindahkan dari ke kamp ke kamp berbeda di Pulau Jawa. Termasuk di penjara Benteng Vredeburg tempat karya-karya dipamerkan dalam Biennale Jogja 2025, juga di Kamp Plantungan hingga dibebaskan pada Juli 1978.
Sekembalinya, Mia menuliskan memoarnya dalam tetralogi yang sudah diterbitkan. Dimulai dari “Sudjojono dan Aku” (2006), juga “Dari Kamp ke Kamp: Cerita Seorang Perempuan” (2008). Sementara dua karya lainnya diterbitkan usai kepergiannya menghadap Ilahi pada 2 Januari 2011 di Limo, Depok, Jawa Barat. Meliputi “Kelindan Asa dan Kenyataan” (2002) dan “Mutiara Kisah Masa Lalu” (2024).

Menurut Tim Riset Penelitian dan Pameran “Mia Bustam”, Astrid Reza, tetratologi Mia menjadi penanda sejarah tak pernah tamat karena luka yang terus menganga dan tak kunjung diakui. Dengan emosi yang terus bergejolak di tengah badai kehilangan dan tekanan, ia tak letih menulis dan menegaskan posisi politiknya.
“Ia memilih berpihak pada mereka yang ditindas, dikalahkan, dan dibisukan suaranya. Mia bahkan mampu memaparkan kisahnya dengan jenaka,” kata Astrid.
Baca Juga: Sinta dan Sastra : Membongkar Penggambaran Perempuan yang Salah Kaprah Dalam Ramayana
Rezim militer Orde Baru berupaya membumihanguskan segala ingatan. Mereka menyiksa, memperkosa, serta merusak tubuh dan mental. Mia diceraiberaikan dari keluarganya. Luka dan duka merenggut satu per satu kehidupan yang pernah dimilikinya. Namun ia tak tunduk begitu saja di hadapan penguasa.
“Ia melawan dengan menulis! Seluruh pengalaman dan pemikiran yang ia tulis akhirnya menginspirasi generasi saat ini dan masa mendatang,” tegas dia.
Di sisi lain, sebagian besar karya seni rupanya raib akibat prahara anti-komunis pada 1965-1966. Termasuk lukisan berjudl “Potret Diri” (1959) yang pernah dipamerkan keliling Eropa Timur. Hanya menyisakan repro dari foto hitam putihnya. Padahal Mia punya sepenggal cita-cita untuk menggelar pameran tunggal lukisannya, tetapi tak pernah terwujud. Soal kisah ini dituliskan Sugiarti Siswadi dalam Api Kartini edisi 1960 yang diberangus saat tragedi 1965.
Begitulah pembaca, kali ini perkenalkan seorang pelukis berbakat, yang berbicara terus terang sebagai wanita, sebagai ibu dan sebagai warganegara. Kami semuanya menyampaikan selamat bekerja terhadapnya, dan agar harapannya yang dekat segera terlaksana, ialah sebuah pameran tunggal di Jakarta. (S.S).
Baca Juga: Perjuangan Para Perempuan Merebut Panggung Seni Pertunjukan
Temuan dokumen yang mengungkapkan cita-citanya itu memantik gelaran pameran tunggal yang diberi judul “Mia Bustami”. Pameran ini merupakan inisiatif solidaritas kebersamaan antargenerasi lintas disiplin untuk menghadirkan narasi seniman masa lalu dan menemukan konteksnya pada generasi hari ini.

Tim Riset menjelaskan, pameran tersebut menghadirkan suara, tubuh, pengalaman, dan ekspresi perempuan seniman yang selama ini terpinggirkan akibat represi politik. Dengan keyakinan, bahwa yang personal dan domestik tidak pernah lepas dari yang politis.
Pameran juga membuka ruang refleksi atas patahan sejarah seni rupa Indonesia dari perspektif gender dan kekuasaan. Sekaligus mengedukasi publik bagaimana sejarah dan produk kebudayaan dapat dihapus secara paksa, tetapi juga dapat dipulihkan melalui seni dan arsip. Baik melalui karya lukis, memoar, karya sulaman, korespondensi surat, dan arsip lainnya yang dibuat dan dimiliki Mia. Termasuk menampilkan garis waktu kehidupan Mia mulai dari lahir hingga berpulang yang dilengkapi dengan narasi, tahun dan sejumlah dokumentasi foto yang dipajang memanjang di tembok ruang pamer.
Baca Juga: ‘Papermoon Puppet Theater’, Sembuhkan Kesehatan Mental dan Trauma Lewat Seni

Bahkan di ruang pamer dihadirkan mesin jahit dan alat sulam. Pengunjung bisa merespons dengan membuat sulaman dengan kain dan benang yang sudah tersedia. Sementara di dindingnya tersemat karya-karya sulaman Mia berbalut pigura.
“Pola-pola sulamannya didesain sendiri oleh Bu Mia. Orang menganggap perempuan menyulam, menjahit itu sekadar hobi, ketimbang dianggap sebagai karya seni,” kata kuator pameran Alia Swastika.
Sebagai kurator, Alia pun mengaku bingung untuk memilah dan memilih sebegitu banyak arsip dan karya Mia Bustam. Sayang apabila terlewatkan.
“Ada narasi-narasi tersembunyi. Jadi penting pameran arsip. Ada distribusi ia terhadap generasi selanjutnya. Bagi keluarganya, Mia sebagai tiang yang menyokong dan merawat sejarah keluarga. Jadi harus memilih. Kami bingung, semua penting,” aku Alia.
Lantaran sebagian besar karya visual Mia telah hilang, juga mungkin dimusnahkan, pameran dibangun melalui pendekatan rekonstruksi dan interpretasi dari arsip-arsip yang ada. Termasuk upaya rekonstruksi dan reproduksi dokumentasi karya yang tersisa, penggalian narasi biografis dan sejarah personal lewat surat, catatan, arsip, dan kesaksian, serta kolaborasi dengan seniman kontemporer, baik perempuan maupun laki-laki untuk merespons jejak artistik Mia.
(Editor: Nurul Nur Azizah)






