Cover novel Lolita (sumber foto: Literary Hub)

Lolita dalam Cengkeraman Humbert Bukanlah Kisah Cinta, Tapi Kekerasan Seksual Child Grooming

Novel Lolita karya Vladimir Nabokov menggambarkan kekerasan seksual tokoh Humbert terhadap seorang anak perempuan (child grooming) bernama Dolorez ‘Lolita’ Haze, yang seolah dimanipulasi sebagai kisah cinta.

Novel ‘Lolita’ karya Vladimir Nabokov bercerita tentang seorang lelaki bernama Humbert yang memiliki hubungan seksual dengan seorang anak berumur 12 tahun bernama Dolores Haze, yang ia panggil “Lolita”. Humbert seringkali menyebut anak-anak seusia Dolores yang menarik perhatiannya dengan sebutan “nymphet” (bidadari/peri).

Ditulis dari sudut pandang orang pertama, yaitu si predator Humbert sendiri, para pembaca dapat menyelami benak seorang predator seksual anak dan bagaimana ia mencoba untuk menjustifikasikan perbuatannya. Itu sebagaimana yang dikatakan Humbert dalam novel: 

“Kami bukan penggila seks; kami tidak memperkosa sebagaimana prajurit yang baik melakukannya. Kami adalah para lelaki yang malang, lembut, bermata memelas seperti anjing, cukup mampu untuk menahan dorongan hasrat kami di hadapan para orang dewasa. Tetapi sebenarnya siap untuk mengorbankan bertahun-tahun hidup hanya demi satu kesempatan untuk menyentuh seorang nimfet.”1

Kutipan di atas adalah salah satu contoh di mana Humbert mencoba untuk memanipulasi para pembaca untuk bersimpati padanya dengan sikap rendah diri, seolah orang-orang lainlah yang salah paham terhadap dirinya.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Film Biar Kamu Makin Paham Soal Child Grooming

“Lolita” bagi Humbert adalah seorang anak yang membangkitkan hasrat seksualnya. Tetapi pada kenyataannya, sosok Lolita tidaklah ada, yang ada hanyalah Dolores Haze, seorang anak yatim piatu yang dimanipulasi dan dimaanfaatkan sebagai pemuas fantasi dan seksual Humbert, yang merupakan seorang pedofil.

Manipulasi ‘Narator yang Tidak Dapat Dipercaya’

Dalam dunia kepenulisan, kita mengenal tentang “Narator Yang Tidak Dapat Dipercaya”. Tulisan yang menggunakan Narator Yang Tidak Dapat Dipercaya biasanya ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama. Ia merepresentasikan bias pribadi si narrator, yang dalam menceritakan kisahnya, tidak selalu jujur dan cenderung memiliki bias pribadi.

Kisah “Lolita” yang ditulis melalui sudut pandang orang pertama membuka pandangan kita. Humbert adalah seorang narrator yang tidak dapat dipercaya. Sebab segala yang tertulis di dalam kisah ini adalah bias dari sudut pandangnya sendiri sebagai seorang pedofil, yang mengkonstruksikan narasi sedemikian rupa. Sehingga pembaca sungguh terbuai dalam alur justifikasinya dalam melakukan kekerasan seksual terhadap anak.   

Meskipun sebenarnya narrator tidak sungguh-sungguh berkata jujur, menyembunyikan beberapa kebenaran, atau membuat justifikasi untuk kesalahan yang dilakukannya. Para pembaca akan cenderung mengikuti alur narasi dan pemikiran si narrator yang sesat dan tidak tepat merefleksikan kenyataan.

Baca Juga: Tren Fesyen Coquette, Saatnya Mendobrak Batasan Ekspresi Ragam Gender dan Seksualitas 

Contoh untuk ini adalah kenyataan bahwa Humbert cenderung memandang dirinya sendiri sebagai seorang lelaki yang jatuh cinta setengah mati oleh pesona Dolores. Sebagaimana kutipan di atas, ia menggambarkan dirinya sendiri dengan gaya yang rendah hati untuk menarik simpati para pembaca seolah ia adalah korban asmara. Padahal, di sisi lain, Humbert berusaha untuk merasionalisasikan tindakan pelecehan yang dilakukannya dengan berkata:

“Saya merasa sangat bangga pada diri sendiri. Saya telah mencuri madu dari sebuah spasma tanpa merusak moral dari seorang anak di bawah umur. Sama sekali tidak ada kerusakan yang terjadi.”2

Ini Bukan Kisah Cinta, Melainkan Tragedi Kekerasan Seksual 

Berkebalikan dengan narasi Humbert yang meromantisasi hubungannya dengan anak di bawah umur, menurut saya novel ini sendiri tidak pernah menjustifikasi atau menormalisasi pelecehan seksual yang terjadi pada Dolores. Bahkan dengan penulisan penuh estetika, novel ini memperlihatkan usaha Humbert untuk menyembunyikan hubungan seksualnya dengan Dolores dan mempertahankan Dolores di sisinya melalui tindakan menakut-nakuti, manipulasi, ancaman, isolasi, dan bahkan kekerasan fisik. 

Hal tersebut adalah penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh Humbert kepada seorang anak. Ia berusaha untuk menjustifikasinya, karena ia tahu bahwa tindakan pelecehan yang dilakukannya adalah salah dan masyarakat akan menghukumnya.

“…dia mulai mengeluh tentang rasa sakit, ia berkata bahwa ia tidak dapat duduk, ia berkata bahwa aku telah merobek sesuatu di dalam tubuhnya.”3

“Jadi, katakanlah saya masuk penjara. Baiklah. Saya masuk penjara. Tetapi apa yang terjadi padamu, anakku yang yatim piatu?”4

Baca Juga: Child Grooming Berujung Perkosaan Pada Santriwati, Tersangka Tidak Ditahan

“Dengan memasukkan gagasan ini ke dalam kepalanya, aku berhasil membuat Lo ketakutan, yang meskipun terlihat berani dan terkadang cerdas, sebenarnya tidak sepintar yang disiratkan oleh skor I.Q.-nya”5  

“…kau lihat, dia sama sekali tidak memiliki tempat untuk pergi.”6

“…apa yang paling aku takuti bukanlah bahwa ia mungkin akan menghancurkanku, tetapi bahwa ia dapat mengumpulkan uang yang cukup untuk kabur.”7

Sosok Dolores sendiri, meskipun cenderung diseksualisasi dan dikerdilkan kecerdasannya oleh Humbert, sebenarnya adalah seorang anak yang cerdas dan memiliki pandangan yang tajam. Ia tidak pernah “jatuh cinta” pada penyiksanya dan sesungguhnya ingin bisa bebas dan membangun kehidupannya sendiri.

Ini dapat dilihat melalui perkataan-perkataan Dolores sendiri kepada Humbert:

“Kau makhluk menjijikkan. Aku adalah gadis yang baru merekah bagai bunga Daisy, dan lihat apa yang telah kau lakukan kepadaku.”8

Baca Juga: Komika Eky Priyagung, Laki-Laki Juga Bisa Speak Up Ketika Jadi Korban Kekerasan Seksual

“Dia berkata bahwa aku telah beberapa kali mencoba untuk melecehkannya sewaktu aku masih menyewa kamar di rumah ibunya. Dia berkata bahwa dia yakin aku telah membunuh ibunya.”9

Kenyataan bahwa mereka tidak berakhir bersama artinya tidak ada validasi dari si penulis bahwa hubungan di antara Humbert dan Dolores adalah sah. Mereka berdua meninggal dalam keadaan tragis, dan inilah yang membentuk kisah dalam Lolita sebagai tragedi dan bukan kisah cinta penuh kekerasan dengan justifikasi terselubung.

Jebakan Bagi Para Pembaca

Bias sudut pandang orang pertama, yaitu Humbert sendiri, merupakan jendela bagi para pembaca untuk melihat sendiri betapa “sakit” karakter ini. Melalui sudut pandang orang pertama, para pembaca dipaksa untuk menyaksikan sendiri kengerian dari perbuatan Humbert. 

Ini menimbulkan dilema bagi para pembaca karena meskipun sebagai pembaca kita tahu apa yang terjadi dan bahwa tindakan Humbert adalah salah, kita tidak dapat melakukan apa-apa dan melalui kata-kata Humbert yang indah dan puitis, Humbert berusaha untuk menjebak para pembaca untuk bersimpati dengan dirinya.

Para pembaca diajak untuk menjadi kritis di sini: sudut pandang Humbert telah mendominasi narasi dan segala pemilihan kata, alur cerita, sudut pandang dalam berbagai isu yang muncul dalam sikap Dolores, dan yang terpenting adalah persepsi yang ia bangun atas sosok Dolores sendiri adalah sangat terkait dengan pandangannya sendiri yang bias dan cabul. Ini cenderung mengarahkan pembaca untuk turut menyalahkan korban, padahal segala yang diceritakan di kisah ini dikonstruksi dan dikendalikan secara penuh oleh Humbert sendiri, si pedofil.

Baca Juga: Stereotip Dunia Sastra dan Film di ‘Wicked’: Cantik Dianggap Baik, Buruk Rupa Dianggap Jahat

Ketika Humbert menggambarkan sosok Dolores, yang ia sebut sebagai “menggoda”, pada kenyataannya apa yang digambarkan oleh Humbert adalah bagaimana sosok Dolores baginya secara pribadi tampak menggoda karena ia sendiri adalah seorang pedofil, dan bukannya secara harfiah bagaimana anak berumur dua belas tahun tampil menggoda atau mencoba untuk menggoda dia.

Beberapa catatanku soal jebakan-jebakan untuk para pembaca. Pertama, adanya ketimpangan kuasa yang besar antara Humbert dengan Dolores. Humbert adalah seorang laki-laki dewasa sementara Dolores adalah seorang anak di bawah umur. Tetapi Humbert seringkali menseksualisasi Dolores sehingga mengotori persepsi para pembaca.

Kedua, Humbert tidak saja menipu orang-orang di sekitarnya dengan sosoknya yang terhormat, ia juga berusaha untuk memanipulasi pandangan para pembaca melalui penulisannya yang penuh emosi dan estetika. Ia melakukan pembingkaian yang terdistorsi mengenai korban, membuat korban terlihat “turut bersalah” sementara dirinya sendiri adalah “korban asmara”.

Sosok Humbert yang memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi, dihormati dan seharusnya dapat dipercaya oleh masyarakat merupakan cerminan jebakan struktural dalam masyarakat terkait kasus pelecehan seksual. Beberapa orang seperti Humbert memanfaatkan status mereka untuk menutupi, melegitimasi dan bahkan memperhalus kejahatan yang mereka lakukan.

Baca Juga: Di Balik Popularitas Game Online, Predator Seksual Mengancam Anak-Anak

Melalui kisah ini, Nabokov menunjukkan monster mengerikan yang hidup di masyarakat. Seorang predator seksual tidaklah mesti terlihat menyeramkan, cabul, kotor, dungu, kasar, atau bahkan terlihat penuh hasrat yang serampangan. Ia bisa tampak terhormat, teratur, kebapakan dan melakukan pelecehannya dengan hati-hati selama bertahun-tahun sementara korbannya berakhir terisolasi, ketakutan, dan berisiko turut disalahkan oleh masyarakat akibat narasi distorsif yang dibangun oleh pelaku kekerasan sehingga masyarakat justru turut menyalahkan dan tidak berpihak pada korban.

Catatan Kaki:

1 “We are not sex fiends! We do not rape, as good soldier’s do. We are unhappy, mild, dog-eyed gentlemen, sufficiently well integrated to control our urge in the presence of adults, but ready to give years and years of life for one chance to touch a nymphet.” (Part One, Chapter 20 , pg. 88)

2  “I felt proud of myself. I had stolen the honey of a spasm without impairing the morals of a minor. Absolutely no harm done.” (Part One, Chapter 14, pg. 62)

3 “…she started complaining about pains, said she could not sit, said I had torn something inside her.” (Part One, Chapter 32, pg. 141)

4  “So I go to jail. Okay. I go to jail. But what happens to you, my orphan?” (Part Two, Chapter 1, pg. 151)

5 “By rubbing all this in, I succeeded in terrorizing Lo, who despite a certain brash alertness of manner and spurts of wit was not as intelligent a child as he I.Q. might suggest.” (Part Two, Chapter 1, pg. 151)

6 “…you see, she had absolutely nowhere else to go.” ( Part One, Chapter 33, pg 142)

7 “…what I feared most was not that she might ruin me, but that she might accumulate sufficient cash to run away.” (Part two, Chapter 7, pg. 185) 

8  “You revolting creature. I was a daisy-fresh girl, and look what you’ve done to me. I ought to call the police and tell them you raped me. Oh, you dirty, dirty old man.” (Part One, Chapter 32, pg. 141)

9 “She said I had attempted to violate her several times when I was her mother’s roomer. She said she was sure I had murdered her mother.” (Part Two, Chapter 14, pg. 205)  

(Terjemahan oleh penulis)

(Editor: Nurul Nur Azizah)

Nadia Hana Abraham

Seorang penulis dan sarjana Sosiologi. Ia memiliki minat pada sastra dan kajian feminisme.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!