Dua Orang Hilang Nyawa: Banjir Jakarta Bukan Disebabkan Hujan Ekstrem, Tapi Pembangunan Yang Merusak Kota

Walhi Jakarta menyebut, banjir Jakarta bukan disebabkan hujan ekstrim, tapi sistem pembangunan yang dikendalikan korporasi yang merusak tatanan kota.

Rifasya Meutia (21), warga komplek di Cakung, Jakarta Timur menjadi korban banjir sejak 12 hingga 25 Januari 2026.

“Air masuk ke rumah, aku mengungsi sebentar ke tetangga sampai surut, baru balik lagi,” kata Rifasya pada Konde.co, 26 Januari 2026 kemarin.

Awalnya banjirnya semata kaki, namun lama-lama airnya kian naik selutut orang dewasa. Handphone nya kecemplung banjir dalam rumahnya karena dia panik ketika melihat air cepat sekali naik.

“Aku panik lihat barang-barang sudah ngambang dan tenggelam, HP ku kecemplung banjir karena panik, lihat kulkas kog, ngambang. HP mau kutaruh di atas rak, malah jatuh ke air karena panik.”

Selain mengungsi sementara sampai air surut, ia juga harus menservice Hp nya yang rusak agar bisa tetap menghubungi orang lain.

Banjir di rumahnya terjadi sejak ada pembangunan jalan tol Pulogebang- Kelapa Gading di tahun 2000. Setelah pembangunan jalan tol itu, posisi rumahnya entah kenapa jadi lebih rendah dibanding jalan tol.

“Ini menyebabkan drainase tidak jalan karena posisi jalan raya lebih tinggi. Rumahku tanahnya jadi lembek, jadi air mencari celah dan keluar dari keramik rumah, ini membuat keramik rumah banyak pecah,” kata Rifasya.

Kondisi rumah Rifasya yang dekat jalan tol Pulogebang-Kelapa Gading. Foto: Rifasya.

Sebelum tahun 2020 atau sebelum pembangunan jalan tol, rumahnya tidak banjir karena jalan depan rumah belum terlalu tinggi. Sejak pembangunan tol Pulogebang- Kelapa Gading, sejak itu terjadi banjir karena sumber drainase nya ditutup. 

“Tidak ada informasi apapun soal pembangunan itu, tiba-tiba ada pembangunan tol, begitu saja. Jalan raya naik, komplek ku tetap begitu saja posisinya.”

Baca juga: Ceritaku Meliput Banjir Sumatera: Melihat Ibu Kehilangan Anak Hingga Sulitnya Akses Air Saat Menstruasi

Pekan lalu ketika banjir datang, Rifasya mulai mengungsi ke kantor RW ketika airnya sudah mulai tinggi dan kakinya sudah mulai gatal. Waktu itu ia pernah dijanjikan akan datang alat penyedot, tapi ternyata, tidak datang juga. 

Karena banjir terus datang, maka ia secara berulang kali membersihkan rumahnya karena takut ada jentik nyamuk.

Kondisi rumah Rifasya. Foto: Rifasya.

“Jadi harus cepat dibersihkan. Teman-teman datang membantu karena melihat aku kewalahan, selalu membersihkan rumah. Sekarang mau istirahat tidak tenang, takut kalau tiba-tiba hujan dan banjir lagi.”

Rizki Andhika (26), sudah 7 bulan jadi penghuni kos di Bidara Cina, Jakarta Timur, yaitu mulai pertengahan tahun 2025. 

Ia pernah mengalami banjir pada Juli 2025 lalu. Ia yang asli Semarang sering melihat banjir Jakarta di televisi, sekarang banjir bisa ia saksikan sendiri secara langsung ketika keluar kos dengan melihat Kali Ciliwung yang meluap. 

Kos Rizki memang tepat di depan Kali Ciliwung. Setelah mengalami banjir di tahun 2025 itu, banjir kedua ia alami di awal tahun 2026 ini, karena luapan Kali Ciliwung sangat tinggi dan posisi kos nya yang rendah. 

Pada Rabu, Kamis dan Jumat, 21-23 Januari 2026 kemarin, hujan dengan intensitas tinggi turun terus, dia merasa ini pasti akan banjir.

Kondisi kos Rizki Andhika di sekitar Kali Ciliwung. Foto: Rizki Andhika.

“Ada info di grup kos bahwa motor-motor anak kos harus dipindahin ke tempat yang lebih tinggi, tapi belum pindah. Besoknya ketika kami keluar kos, airnya sudah tinggi dan melihat warga sekitar, ternyata sudah separuh rumahnya warga terendam air.”

Baca juga: Hariati Sinaga: Banjir Aceh dan Sumatera Tak Sekedar Bencana, Tapi Kerusakan Ekologis

Rizki tinggal di lantai 4 dengan 50 penghuni kos, ia mencoba bertahan di kamar kos, tapi ia tetap tidak bisa kemana-mana karena situasi sudah banjir. Mereka bisa pesan makan dari penjaga kos yang pulang pergi dengan menggunakan perahu karet.

Akhirnya karena situasi tak juga membaik, Rizki kemudian mengungsi ke rumah teman dengan menggunakan perahu karet, mencari daerah yang lebih tinggi.

Penghuni kos mengandalkan perahu karet untuk keluar rumah. Foto: Rizki Andhika.

“Di kos sudah tidak kondusif kondisinya dan penjaga kos sudah mondar-mandir menjaga dan mengantar kita.”

Pada Sabtu, 24 Januari 2026, hujan sudah mereda dan Rizki bisa pulang malam itu. Kondisi ini terus membuatnya kuatir. 

Rizki berharap pemerintah punya kebijakan soal bangunan di bantaran sungai dan cepat tanggap untuk area yang rawan, karena ia melihat warga membersihkan sendiri dan tidak ada bantuan.

Situasi kos Rizki Andhika di kawasan Kali Ciliwung. Foto: Rizki Andhika

“Aku melihat ini warga bantu warga, seharusnya pemerintah dengan cepat tanggap atau gercep, karena tidak ada harapan lain selain pindah ke tempat yang lebih tinggi mengungsi sementara, lalu balik lagi kalau sudah surut.”

Rizki berharap ada sumur resapan dan pengelolaan air dan pemerintah gerak cepat untuk membantu dalam situasi seperti ini.

Banjir yang mengepung kota Jakarta dalam sepekan ini disebut-sebut oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta disebabkan oleh karena daya tampung sistem sungai di Ibu Kota hanya mampu menahan curah hujan hingga sekitar 150 milimeter per hari. Jika intensitas hujan melampaui angka tersebut, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung pada 26 Januari 2026 kemarin, risiko banjir di sejumlah wilayah sulit dihindari.

Baca juga: ‘Kalau Banjir, Saya Bisa Tidak Makan 2 Hari’: Cerita Ibu Korban Banjir Jakarta

Namun Wahana Lingkungan Hidup/Walhi DKI Jakarta membantah hal ini, karena tidak pada tempatnya menyalahkan hujan sebagai kambing hitam persoalan.

Data Walhi DKI Jakarta. Sumber: Instagram https://www.instagram.com/pulihkanjakarta)

Saat ini data Walhi Jakarta menyebut, banjir disebabkan karena hampir 90% tanah di Jakarta sudah terbangun oleh bangunan yang mengakibatkan tanah dipenuhi pengaspalan dan pembetonan. Minimnya kemampuan Jakarta menyerap air membuat Jakarta mengalami banjir.

Direktur Eksekutif Walhi Jakarta, Suci Fitria Tanjung yang dihubungi Konde.co pada 23 Januari 2026 menyatakan, pengelolaan air dan tata ruang yang buruk menjadi penyebab banjir di Jakarta, jadi bukan karena hujan ekstrim.

Jakarta sejak zaman Batavia, memang merupakan kota yang dikelilingi air dan beberapa kali banjir. Namun di era Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin (1966- 1977), ia mengelolanya dengan baik, seperti punya sistem sabuk hijau pengelolaan air dan tata ruang yang dikelola secara baik.

Namun sejak era Ali Sadikin berakhir, alih fungsi lahan semakin masif dan diserahkan pada korporat yang mengalihfungsikan lahan untuk pembangunan gedung-gedung untuk peruntukan komersil. 

“Di samping itu, sistem pengelolaan sungai juga buruk. Malah difungsikan untuk pembuangan sampah, padahal seharusnya sungai dikelola sehingga mengalir pelan ke laut.”

Hal ini kemudian mengakibatkan sungai menyempit dan dangkal, waduk semakin hilang, maka terjadilah banyak banjir seperti yang terjadi saat ini.  

Walhi DKI Jakarta juga mencatat, ada 2 nyawa yang meninggal akibat banjir ini. Ini menunjukkan lemahnya mitigasi dan penanganan banjir Jakarta dan merupakan kegagalan kekuasaan yang mengatasnamakan pembangunan.

Saat ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang memodifikasi cuaca agar tak banjir, namun Suci mengatakan ini merupakan kekeliruan besar, karena hujan adalah siklus alam, kebutuhannya dibutuhkan makhluk hidup di darat

“Ketika hujan diintervensi untuk modifikasi cuaca, ini malah akan mengakibatkan masalah lingkungan hidup yang lain, yaitu kesuburan dan sumber air tanah.”

Baca juga: Desa Tenggelam dan Hilang, Perempuan Setengah Mati Bayar Hutang: Akibat Banjir Rob

Walhi DKI Jakarta mencatat, penanganan banjir Jakarta saat ini terjebak pada pendekatan teknokratis yang sempit dan reaktif, seperti betonisasi, hingga modifikasi cuaca yang bukan merupakan solusi.

“Yang tidak ada justru kebijakan struktural penanganan banjir, tidak ada koreksi atas alih fungsi lahan, tidak ada pemulihan fungsi ekologis kota secara menyeluruh. Selama menggunakan ideologi teknokratik, maka banjir akan terus terjadi dan selalu dikambing hitamkan,” kata Suci Fitria Tanjung.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui situsnya BNPB.go.id menyebut banjir juga menyebabkan 2 korban jiwa yaitu Imas (48, P) yang meninggal akibat kecelakaan terseret arus kali Ciliwung di Kel. Kebon Baru Jakarta Selatan dan Suyanto (70, L) meninggal akibat serangan jantung di Kel. Bidara Cina Jakarta Timur. Lalu sebanyak 285 KK dan 2258 Jiwa pengungsi akibat banjir pada tanggal 26 April 2019. Saat ini lokasi pengungsi berada di 12 titik lokasi yang terdiri dari 2 titik lokasi di Jakarta Selatan dan 10 titik lokasi di Jakarta Timur.

Senada dengan Pemerintah Jakarta, BNPB juga menyebut, hal ini disebabkan hujan deras dengan durasi yang cukup lama di wilayah Bogor telah menyebabkan naiknya debit Sungai Ciliwung pada 25/4/2019 malam. Tinggi muka air Sungai Ciliwung hingga mencapai 220 – 250 centimeter sehingga status Siaga 1. Naiknya debit Sungai Ciliwung menyebabkan banjir bantaran sungai di beberapa wilayah di Jakarta.

Suci Fitria Tanjung mengatakan, hal itu tak akan menyelesaikan masalah. Yang diperlukan adalah perubahan radikal mengatasi banjir di Jakarta, yaitu stop pengelolaan izin yang hanya menguntungkan korporat, lalu pemerintah harus punya sistem pengelolaan ruang dan air. Serta mengajak masyarakat untuk mengelola sungai sebagai bagian hidup kita, juga mengelola resapan air, seperti dengan biopori.

“Jika ini tidak dilakukan, maka pemerintah akan terus salah arah dan mengorbankan warganya.”

Luviana

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!