Pernahkah kamu melihat video di TikTok atau Instagram yang berjudul “I Couldn’t Resist, She Provoked Me” (Saya Tidak Bisa Menahan Diri, Dia Memprovokasi saya)? Videonya berisi anjing duduk diam, di depannya diletakkan daging atau makanan favoritnya.
Sang pemilik yang mayoritas perempuan mengatakan “tunggu” dan hewan itu patuh. Ia tidak menyentuh makanannya meski air liurnya mungkin menetes. Baru setelah kata “oke” terucap, ia makan. Video-video ini diiringi lagu “Labour” karya Paris Paloma, yang telah menjadi semacam himne dalam diskursus isu perempuan di media sosial.
Awalnya, “I couldn’t resist, she provoked me” adalah kalimat tren bertema sebaliknya: pembelaan laki-laki untuk melakukan pelecehan seperti menggoda atau kekerasan seksual terhadap perempuan. Dalihnya, perempuan ‘memprovokasi’ laki-laki lewat pakaian, ekspresi, atau perilaku sehingga laki-laki ‘terpancing’.
Namun, kalimat tersebut kini berubah menjadi judul tren yang justru bertujuan menyindir laki-laki yang menyalahkan perempuan atas tindakan mereka. Dengan hewan peliharaan yang patuh sebagai contoh dalam video TikTok, pesannya jelas: anjing saja bisa menahan diri, masa laki-laki tidak?
Baca Juga: “Join Live, Buat Beli Beras untuk Istri”: Eksploitasi Perempuan dan Kemiskinan di Layar TikTok
Kenapa video anjing bisa sabar tidak makan sebelum diizinkan pemiliknya ini istimewa? Penting untuk dipahami bahwa bagi seekor anjing, menahan diri di depan makanan bukan sekadar ketaatan biasa, melainkan perjuangan melawan dorongan insting paling purba.
Secara biologis, anjing memiliki prey drive atau insting bertahan hidup yang memerintahkan mereka untuk segera mengonsumsi sumber energi yang ada di depan mata guna menjamin kelangsungan hidup. Ketika seekor anjing mampu duduk diam dan mengabaikan aroma daging yang menggoda hanya karena satu kata “tunggu” dari pemiliknya, ia sebenarnya sedang mendemonstrasikan kemampuan kontrol yang dipahaminya dari latihan.
Menurut American Kennel Club, kontrol diri pada anjing adalah kemampuan yang harus diajarkan. Anjing secara alami tidak sabar dan cenderung melakukan apa yang langsung memberikan kepuasan. Pelatihan kontrol ini dapat digunakan ke berbagai situasi. Anjing yang dilatih untuk menunggu sebelum makan dapat dengan mudah menerapkan keterampilan yang sama untuk menunggu sebelum keluar pintu, tidak menarik tali kekang, atau sebelum menyapa tamu. Awalnya mungkin mereka bisa mengerti dengan pujian dan hadiah, tapi lama kelamaan mereka patuh dengan sendirinya. Ini menunjukkan bahwa kontrol diri adalah keterampilan yang dapat dipelajari.
Pesan tren itu pun tampaknya tersampaikan dengan baik jika melihat respon laki-laki yang tersinggung. Terlihat dari kolom komentar video-video tersebut, banyak laki-laki merasa sangat terhina disamakan dengan anjing. Laki-laki merasa terhina dibandingkan dengan anjing karena mereka percaya bahwa derajat manusia lebih tinggi dari hewan. Perbandingan dengan hewan dianggap merendahkan, merendahkan martabat mereka sebagai manusia.
Gagasan bahwa manusia berada di puncak piramida kehidupan berakar kuat pada tradisi filsafat Barat, yang disebut Antroposentrisme. Superioritas manusia atas hewan dan alam telah ada sejak Yunani kuno. Aristoteles adalah salah satu filsuf paling berpengaruh yang mengklaim hal ini.
Baca Juga: Di Balik Tren TikTok ‘Di Balik Foto Ini…’, Ada Fakta Pahit Eksploitasi Perempuan Pekerja Muda
Dalam karyanya Politics, Aristoteles mengembangkan teori tangga alam: vegetatif, sensitif, rasional. Hanya manusia yang memiliki jiwa intelektual, dan menurut Aristoteles, makhluk dengan jiwa irasional lebih rendah dan karenanya sepatutnya tunduk pada yang superior.
Pemikiran ini dipertegas oleh René Descartes pada abad ke-17. Descartes secara ekstrem menyebut hewan sebagai mesin tanpa jiwa yang tidak bisa merasakan sakit. Pandangan Cartesian inilah yang melanggengkan persepsi bahwa manusia adalah makhluk ‘agung’. Sekaligus melegalkan eksploitasi alam dan hewan secara besar-besaran.
Narasi ini digunakan selama berabad-abad untuk membenarkan dominasi manusia atas alam dan dominasi laki-laki (yang dianggap paling rasional) atas perempuan (yang dianggap lebih emosional). Para pemikir laki-laki yang memelihara kepercayaan ini mungkin tidak menyangka bahwa ternyata hewan lebih memiliki kontrol diri daripada manusia, yang dianggap paling rasional.
Sementara itu, bagi banyak feminis ekologis yang menggagas ekofeminisme, penindasan terhadap perempuan dan penindasan terhadap alam (termasuk hewan) berasal dari akar yang sama. Yakni logika dominasi patriarki yang merasa berhak menguasai subjek yang dianggap “lebih rendah.”
Penindasan terhadap perempuan dan hewan berjalan beriringan. Carol J. Adams adalah seorang feminis dan advokat hak hewan yang terkenal karena karyanya yang menghubungkan penindasan perempuan dengan eksploitasi hewan. Dalam The Sexual Politics of Meat ia menjelaskan bahwa baik perempuan maupun hewan sering kali dihilangkan keberadaannya sebagai subjek dan diubah menjadi objek konsumsi agar kita tidak merasa bersalah.
Baca Juga: TikTok Live Diblokir Saat Demo, Ini Upaya Pembungkaman Ekspresi Publik
Contohnya, kita menyebut “sapi” sebagai “daging sapi” atau “steak”. Adams berargumen bahwa perempuan sering mengalami hal serupa melalui objektifikasi. Dalam iklan atau pornografi, perempuan sering dipandang sebagai “potongan tubuh” (payudara, kaki, bokong) daripada sebagai manusia seutuhnya.
Laki-laki juga sering kali meminjam jubah ilmu biologi untuk melegitimasi agresi. Pembenaran bahwa laki-laki memiliki dorongan biologis yang tidak dapat dikendalikan bukan fenomena baru. Determinisme biologis yang sering dipakai untuk membenarkan diri adalah: laki-laki memiliki kadar testosteron tinggi, dirancang untuk menyebarkan benih, dan memiliki dorongan seksual yang tak terbendung. Perkara testosteron ini sering digunakan sebagai alasan mengapa perempuan harus memaklumi godaan atau tatapan genit dari laki-laki.
Saat laki-laki menggunakan argumen “insting biologis” atau “nafsu yang tak tertahankan” untuk membenarkan pelecehan, mereka sebenarnya sedang meruntuhkan takhta yang mereka bangun sendiri, sebagai makhluk paling rasional.
Kita harus berhenti menerima alasan “laki-laki memang begitu” (boys will be boys). Mengutip Kate Millett dalam bukunya Sexual Politics, patriarki bergantung pada keyakinan bahwa dominasi laki-laki adalah hal yang “alami” dan “tak terhindarkan.” Millett menyatakan bahwa kekuasaan politik laki-laki atas perempuan sebenarnya adalah bentuk penjajahan yang dilegitimasi melalui mitos-mitos biologi.
Haruskah Laki-laki Diberi Hadiah atau Dikurung agar Mengerti Persetujuan?
Kembali ke tren video tadi. Di kolom komentar, beberapa orang mencoba membela dengan argumen “Ini tidak apple to apple. Ini kan, tentang menahan nafsu makan. Anjing jantan juga tidak bisa menahan nafsu kawin, kok. Kalau ada anjing betina yang sedang loop (birahi/menstruasi), anjing jantan juga tidak bisa menahan nafsunya.”
Jika benar anjing jantan tidak bisa menahan diri saat ada anjing betina yang sedang birahi, maka apa yang dilakukan pemilik anjing yang bertanggungjawab? Mereka menjauhkan anjing jantan dari situasi tersebut. Pun tidak membiarkan anjing jantan berkeliaran bebas dan kemudian menyalahkan anjing betina karena “memprovokasi.” Mereka mengambil tanggung jawab atas hewan peliharaan mereka.
Tapi dalam kasus manusia? Laki-laki bebas berkeliaran di mana saja, dan ketika mereka melakukan kekerasan seksual, yang disalahkan adalah perempuan, pakaiannya, perilakunya. Logika “anjing tidak bisa menahan nafsu kawin” seharusnya berarti laki-laki yang harus dikurung atau dijaga ketat, bukan perempuan yang harus membatasi kebebasan mereka. Tapi tentu saja, tidak ada yang mengusulkan ini. Sebab, ketika anjing jantan peliharaan punya pemilik yang bertanggungjawab, kontrol diri laki-laki—’pemilik’ mereka—memilih untuk membiarkan mereka berkeliaran melakukan kekerasan dan menyalahkan perempuan.
Baca Juga: G-Hunter di TikTok: Komunitas Pemburu Gay Langgengkan Kekerasan yang Dibungkus Moral
Anjing betina yang sedang birahi melepaskan feromon yang secara biologis dirancang untuk menarik anjing jantan. Ini adalah bagian dari proses reproduksi biologis anjing. Tapi perempuan yang berjalan di malam hari, yang mengenakan pakaian tertentu, tidak melepaskan sinyal biologis yang dirancang untuk memicu pemerkosaan. Manusia dengan akal dan kontrol diri tentu paham: pemerkosaan bukan bagian dari proses reproduksi manusia yang normal.
Laki-laki yang selama ribuan tahun mengklaim diri sebagai “makhluk rasional” yang lebih tinggi dari hewan, mendadak menggunakan argumen insting hewan saat mereka melecehkan perempuan. Mereka mengklaim tidak bisa menahan diri karena “sudah kodratnya laki-laki punya nafsu tinggi.” Jika menolak disamakan dengan anjing, maka laki-laki harus menolak bahwa mereka adalah budak dari hormon dan mengakui bahwa pelecehan adalah pilihan sadar, bukan memakai jubah biologis.
Perempuan tidak pernah memprovokasi kekerasan. Kekerasan adalah keputusan yang diambil oleh pelaku, sering kali dengan keyakinan bahwa mereka berhak melakukannya. Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan “daging” di depan mata, dan mulai mempertanyakan mengapa manusia di depannya tidak memiliki disiplin diri yang setara dengan seekor anjing.
(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)
(sumber foto: TikTok @celinetails)






