Pasangan suami-istri live TikTok

“Join Live, Buat Beli Beras untuk Istri”: Eksploitasi Perempuan dan Kemiskinan di Layar TikTok

Fenomena live TikTok pasangan berdalih “untuk menafkahi istri” menunjukkan dilema jeratan kapitalisme dan patriarki. Bukan hanya poverty porn atau eksploitasi kemiskinan, pola lama ketimpangan gender membuat laki-laki obral ‘cinta’ sedangkan perempuan harus menanggung malu.

Beberapa malam lalu, saat sedang bersantai sambil menggulung layar dan membuka aplikasi TikTok, sebuah siaran live bikin aku mengerutkan dahi. Tampak sepasang suami-istri sedang berjoget dengan musik koplo yang berdentum pelan di ruangan yang sempit dan lampu redup. Di pojok layar, tertulis, “Semangat live nonstop demi istri.”

Perasaanku campur aduk: iba, risih, heran, sekaligus miris, entah kenapa merasa malu melihatnya. Di satu sisi, sang laki-laki tampak begitu bersemangat mengatur angle kamera, melakukan ‘goyang Bang Jali’ dengan penuh kontrol; beraksi seolah sedang tampil di panggung besar. Sementara di sampingnya, perempuan berdiri kikuk dan jogetannya tampak lebih kaku. Wajahnya menunduk, sesekali tersenyum canggung. Jelas bahwa ia malu, tapi tetap mengikuti arahan suaminya untuk menari kecil, mematuhi irama yang bahkan tak ia nikmati.

Momen itu sederhana, tapi meninggalkan sesuatu yang berat di kepala. Kenapa yang paling bersemangat justru laki-lakinya, sementara si perempuan terlihat terpaksa? Fenomena apa ini?

Rupanya hal itu sekarang sering muncul di TikTok. Ada pasangan yang melakukan siaran live setiap hari, berjoget, berbicara aneh-aneh, berpura-pura melucu. Apa pun yang mereka lakukan, narasi utamanya hampir selalu sama. “Buat beli beras,” “Buat makan,” “Buat kebutuhan istri.” Narasi tersebut selalu diarahkan ke istri atau perempuan agar penonton iba.

Baca Juga: Di Balik Konten TikTok Sadbor, Ada Ketimpangan Ekonomi dan Dorongan Kejar Atensi

Sekilas terlihat manis. Suami-istri berjuang bareng, saling mendukung di tengah kesulitan ekonomi. Tapi lama-lama aku sadar, ada yang janggal dalam romantisme perjuangan itu.

Laki-laki tampil di depan sebagai pejuang keluarga, padahal justru dia yang menuntun perempuan di sampingnya untuk ikut mempertontonkan diri. Sementara perempuan, dengan segala rasa malu dan kikuknya, dijadikan wajah perjuangan yang harus tampil tegar, harus tersenyum, harus membuat penonton iba, agar gift mengalir.

Aku teringat pada video lain yang sempat viral juga. Sepasang suami istri berdiri di dapur sempit, like videonya sampai ratusan ribu. Sang suami memegang gas hijau sambil berjoget penuh tenaga, sementara sang istri memegang dandang atau gentong (tempat beras) yang kosong. Tulisan besar di layar berbunyi “beras habis, gas habis kerja, joget solusinya.” Video lain menampilkan kakek-nenek dan anak muda yang akan berjoget di kebun pisang, dengan caption “menari untuk menghibur orang.” Di situlah letak getirnya, kemiskinan dijadikan hiburan yang bisa ditonton siapa pun.

Fenomena ini dikenal sebagai poverty porn, mempertontonkan eksploitasi kemiskinan demi perhatian dan keuntungan. Tapi versi ini lebih rumit, karena di dalamnya ada bumbu patriarki yang begitu kental.

Kemiskinan ditampilkan sebagai beban laki-laki, tapi diubah jadi tontonan yang menjual cinta dan kebersamaan. Dan perempuan di sana jarang punya kendali atas bagaimana dirinya ditampilkan.

Di banyak siaran, pola yang sama berulang. Perempuan diminta berdandan mencolok, mengenakan pakaian yang dianggap menarik, dan nyentrik, lalu disuruh tersenyum, menari, menyapa penonton. Kadang dengan musik yang keras, kadang dengan gaya yang dibuat-buat.

Baca Juga: #WomenInMaleFields, Tren TikTok Perempuan Menertawakan Absurdnya Patriarki

Tubuh perempuan jadi alat visual. Bukan sekadar pelengkap, tapi bagian yang sengaja dijadikan aset agar penonton betah. Kamera memusat pada wajahnya, pada tubuhnya, pada keintiman yang seharusnya bukan untuk umum.

Dan yang ironis, semua itu dilakukan di bawah narasi perjuangan halal karena sudah menikah. Seolah karena motifnya untuk bertahan hidup, segala bentuk eksploitasi bisa dimaklumi. Padahal kalau dipikir baik-baik, kemiskinan tak seharusnya dijadikan konten, apalagi jika yang dijual adalah harga diri seseorang.

Aku masih ingat ekspresi perempuan itu di live yang kulihat malam itu. Matanya berkedip gelisah, gerakannya setengah hati. Tapi begitu netizen mengkritik, “Mas, kerja yang bener, jangan ngemis online,” justru dia si istri yang buru-buru membela suaminya.

Jawabannya selalu template, “Tap-tap layar (berikan reaksi) guys, Suamiku lagi kerja juga ini.”

Lagi-lagi aku terdiam. Perempuan itu malu, tapi juga melindungi. Marah, tapi memilih diam. Ia menanggung malu yang seharusnya bukan miliknya. Dalam sistem patriarki, rasa malu perempuan sering kali jadi benteng terakhir untuk menutupi kegagalan laki-laki.

Dan masyarakat pun dengan mudah memaafkan laki-laki, selama ia berusaha. Tapi siapa yang menanggung tatapan publik? Siapa yang harus tersenyum di depan kamera? Siapa yang tubuhnya dijadikan alat untuk bertahan hidup? Jawabannya hampir selalu sama, yaitu perempuan.

Yang menarik, netizen di kolom komentar banyak yang geram. Ada yang menulis, “Laki-laki kok tega banget, nikahin anak orang tapi nyuruh ngemis di TikTok.” Ada pula yang bilang, “Malu dong, kerja yang benar, jangan pamer istri kayak gitu.”

Baca Juga: Hubungan Standar di TikTok: Bisakah Kita Mencapainya?

Tapi lucunya, penonton tetap ramai. Angka penayangan tetap tinggi. Bahkan banyak yang sengaja menonton karena pengin lihat sejauh apa kelakuannya pasangan live suami istri itu.

Kita sering merasa benar karena marah, tapi lupa dengan menonton, kita ikut memberi panggung. Setiap view, setiap komentar, baik yang sinis maupun yang iba, tetap dihitung sebagai atensi. Dan dalam logika algoritma, atensi adalah bahan bakar.

Jadi meskipun kita marah, kita tetap memberi ruang bagi konten itu untuk terus naik ke FYP. Kita marah karena perempuan dieksploitasi, tapi tetap menatap layar di mana eksploitasi itu terjadi.

Yang membuat semua ini lebih kompleks adalah bagaimana patriarki menyamar di balik kata cinta.

Banyak laki-laki dalam siaran semacam ini berbicara seolah mereka sedang membangun perjuangan rumah tangga. Mereka bilang, “Aku sayang istri, makanya ajak live bareng biar sama-sama berjuang.” Kalimat yang terdengar manis, tapi jika dikupas, menyimpan logika kekuasaan. Perempuan dijadikan bukti kesetiaan, alat pembenaran atas keputusan laki-laki.

Dalam sistem patriarki, perempuan sering tak punya ruang untuk menolak, karena jika menolak, ia akan dianggap tak mendukung suami, tak berbakti, tak setia. Maka diam menjadi satu-satunya cara bertahan. Judith Butler pernah bilang, gender itu performatif, dibentuk dari tindakan yang diulang terus-menerus. Maka ketika perempuan di TikTok terus-menerus tampil patuh, ceria, dan setia, itu bukan hanya ekspresi semata, tapi hasil dari sistem yang sudah lama mengajarkan perempuan untuk berperilaku seperti itu.

Baca Juga: ‘The Winner Takes It All’ di TikTok: Patahkan Mitos Perempuan Miskin Itu Malas dan Bodoh 

Dan disinilah penimpangan gender itu bekerja secara halus. Di balik senyum, di balik caption manis, di balik joget yang terlihat ceria.

Sebagai perempuan, aku merasa terusik. Bukan cuma karena jijik melihat kemiskinan dijadikan tontonan, tapi karena aku tahu betapa sering perempuan ditempatkan di posisi seperti itu, bahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bedanya, kini kamera menyorot lebih dekat. Publik ikut menatap, memberi komentar, menilai, menghujat, sekaligus mengasihani. Kita hidup di era dimana kemiskinan dan ketimpangan gender bisa dikonsumsi dengan satu kali scroll.

Tapi apakah rasa iba kita betul-betul membantu? Atau justru memperpanjang rantai eksploitasi yang sama? Bell Hooks pernah menyebut pentingnya Oppositional Gaze. Pandangan tandingan yang membuat perempuan bisa menatap balik pada sistem yang menindasnya. Tapi di TikTok, kesempatan untuk menatap balik itu sering hilang, karena setiap view, komentar, bahkan ejekan justru memperpanjang siklus eksploitatif yang sama.

Fenomena ini bukan hanya tentang persoalan ekonomi. Ini tentang bagaimana sistem sosial bekerja. Tentang kuasa, tubuh, dan cinta yang dijadikan alat legitimasi.

Perempuan diminta untuk ikut berjuang, tapi tidak pernah benar-benar dilibatkan dalam keputusan. Ia tampil di layar, tapi tidak memegang kamera. Ia menjadi wajah perjuangan, tapi bukan pemilik narasi.

Baca Juga: TikTok Live Diblokir Saat Demo, Ini Upaya Pembungkaman Ekspresi Publik

Dan yang paling tragis, semua itu ditampilkan dengan bungkus keromantisan. Kita dibuat percaya bahwa cinta mampu menutupi segala hal, termasuk ketimpangan. Paradoks yang muncul antara popular feminism dan popular misogyny, perempuan tampak berdaya karena hadir di ruang publik, tapi sebenarnya masih dikendalikan oleh logika patriarki digital.

Tulisan ini bukan untuk menghakimi pasangan mana pun. Aku tahu hidup bisa sangat keras, dan orang akan melakukan apa pun untuk bertahan. Mengapa perempuan selalu jadi wajah yang menjual, sementara laki-laki jadi naratornya? Mengapa rasa malu hanya jadi beban perempuan, sementara laki-laki bisa berlindung di balik kata berjuang?

Dan yang paling penting yang sering kita lupakan. Kenapa kita, para penonton, lebih cepat menghakimi individu, tapi tidak pernah mempersoalkan sistem yang membuat mereka harus seperti itu?

Mungkin langkah kecil yang bisa kita lakukan adalah belajar menatap layar dengan cara baru. Tidak sekadar menonton, tapi sadar bahwa ada struktur kuasa yang sedang bekerja di balik setiap siaran itu.

Bahwa tidak semua konten perjuangan itu tulus. Tidak semua romantisme itu setara. Dan tidak semua konten “Live buat beli beras” adalah perjuangan yang patut dirayakan.

Karena di balik setiap goyangan canggung itu, ada tubuh yang menanggung malu. Di balik setiap senyum yang dipaksakan, ada perempuan yang kehilangan kendali atas dirinya.

Baca Juga: Di Balik Tren TikTok ‘Di Balik Foto Ini…’, Ada Fakta Pahit Eksploitasi Perempuan Pekerja Muda

Kadang aku berpikir, mungkin yang paling menyedihkan bukan kemiskinan itu sendiri, tapi bagaimana kita memperlakukannya. Kita menontonnya, menilainya, menertawakannya, lalu melupakannya tanpa sadar bahwa di balik layar itu, ada perempuan yang sedang menanggung harga diri keluarganya sendirian.

Dan aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, kenyataan bahwa mereka harus live untuk bertahan, atau bahwa kita semua menonton sambil merasa tidak bersalah.

Karena setiap kali kita menatap layar dan melihat perempuan menari demi bertahan hidup. Kita seharusnya tahu, itu bukan hanya konten, itu adalah cermin tentang bagaimana dunia masih belum adil terhadap perempuan.

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

Rara Wiritanaya

Mahasiswi Universitas Atmajaya Yogyakarta
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!