Buat kamu yang aktif bermedia sosial, tentu tak asing dengan cerita content creator TikTok asal Indonesia, Ragil, yang pindah ke Jerman dan tinggal bersama pasangan gay-nya.
Walaupun pada mulanya ia pindah ke Jerman karena mengikuti program pertukaran budaya orang muda, Au Pair, Ragil mengaku merasa lebih aman dan nyaman terkait orientasi seksualnya ketika berpindah (migrasi) dan tinggal di Jerman.
Dengan kata lain, Ragil tidak hanya mencari kehidupan yang lebih baik, tapi kehidupan seksualitas yang lebih terbuka.
@ragilmahardika Suami Baru.. @BuleToxic #fypindonesia #fyp #ragilmahardika #tinggaldijerman
♬ original sound – Brownis TTV – Brownis TTV
Hal ini juga sama dilakukan oleh salah satu konten kreator dengan username @kakakitwill atau Oki Ardian.
Saat ia membuka diri bahwa dirinya merupakan seorang gay, Oki sempat mengalami pengusiran dari kampungnya, setelah kemudian Ia pindah ke Bali hingga sekarang tinggal di Austria dengan harapan bisa diterima lebih baik apapun orientasi seksualnya.
Baca Juga: Narasi Male Pregnancy di Medsos: Dari Fanfiksi Jadi Kritik Perempuan terhadap Patriarki
Oki tinggal di Austria bersama pasangannya melalui visa civil unions. Perpindahannya ke Austria ini, merupakan sebuah bentuk kebebasan seksualitas di tempat yang Ia nilai, lebih aman dan lebih nyaman.
Pada konteks Ragil dan Oki, keberadaan mereka di Indonesia cenderung masih berhadapan dengan situasi masyarakat yang menolak, mendiskriminasi, bahkan membenci terhadap ragam gender dan seksualitas. Homoseksualitas masih erat kaitannya dengan narasi deviant atau penyimpangan sosial. Selain itu narasi LGBTQIA+ juga erat kaitannya dengan framing narasi barat. Sehingga eksistensi kelompok LGBTQIA+ seringkali terpinggirkan bahkan terancam.
Inilah mengapa, keputusan Ragil dan Oki untuk berpindah ke negara Jerman dan Australia, sebagai bentuk migrasi seksualitasnya (sexual migration). Dikarenakan di tempat barunya itu, mereka bisa merasa lebih nyaman dan aman dalam mengekspresikan seksualitas mereka, ketimbang di Indonesia.
Baca Juga: Aku Ingin Merdeka, Bahasa Aksi dan Perjuangan Queer Lepas dari Kolonialisme
Dalam video-video mereka di media sosial, Ragil maupun Oki, sering berbagi konten keseharian termasuk seputar seks dan seksualitas di Jerman dan di Austria. Ragil dan Oki, bisa dikatakan, bisa membuktikan bahwa migrasi seksual dapat menjadi pencarian tempat yang lebih aman dan terbuka bagi seksualitas kelompok marginal.
Secara umum, migrasi adalah istilah yang mengacu pada perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lain untuk menetap. Migrasi sendiri bisa bersifat internasional yakni antar negara (emigrasi dan imigrasi) atau internal seperti urbanisasi atau transmigrasi.
Namun dalam beberapa kasus, migrasi bukan hanya perpindahan penduduk saja. Lebih dalam daripada itu, migrasi bisa menjadi spektrum dalam mencari kebebasan seksualitas yang lebih baik dan lebih terbuka. Migrasi tersebut disebut sebagai migrasi seksual atau sexual migration, yakni kondisi dimana migrasi bukan hanya pencarian ‘kehidupan yang lebih baik’ tapi ‘kebebasan seksualitas yang lebih baik dan lebih terbuka’.
Naples dan Vidal-Ortiz (2010), menyebutkan bahwa migrasi seksualitas, merupakan sebuah kajian analisis dimana seksualitas berperan dalam proses migrasi. Dalam penelitiannya Naples dan Vidal-Ortiz (2010) mengambil kasus migrasi seksual seorang laki-laki gay dari Meksiko yang berpindah ke Amerika Serikat agar bisa berhubungan seksual dengan laki-laki.
Baca juga: Ramai di Medsos Soal Tulisan ‘Jalan Tobat LGBT’: Kegagalan Media Memandang Hak Minoritas
Perpindahan laki-laki gay dari Meksiko tersebut, bagi Naples dan Vidal-Ortiz (2010), tidak hanya praktik migrasi saja. Melainkan, praktik pencarian kebebasan seksual yang lebih baik dan lebih terbuka. Ada identitas seksual yang dibawa dalam proses migrasi tersebut.
Dalam studi-studi gender yang menyangkut seksualitas, fenomena migrasi seksual ini saling berkelindan dengan berbagai hal. Sebab dalam proses migrasi yang biasanya hanya melibatkan faktor ekonomi, terkhusus pekerjaan atau kehidupan yang lebih baik dan lebih layak, migrasi berubah menjadi sebuah spektrum pencarian kehidupan seksualitas yang lebih baik dan lebih terbuka.
Dalam hal ini, migrasi bukan hanya soal kehidupan sosial dan ekonomi, tapi kehidupan seksualitas juga. Riset terkait migrasi seksual juga pernah dicetuskan oleh Hector Carrillo (2004) yang berjudul ‘Sexual Migration, Cross-Cultural Sexual Encounters and Sexual Health’. Riset tersebut menggaris bawahi pengalaman seorang imigran yang berasal dari Meksiko (studi kasus Naples dan Vidal-Ortiz, 2010), terkait keterbukaan seksualitas yang cenderung diskriminatif di negara asalnya.
Dikutip dalam riset tersebut, Javier menyebutkan bahwa ia memiliki banyak sekali saudara dan teman semasa kecil di Hermosillo, Meksiko, namun ia tidak bisa memiliki kehidupan gay yang ia inginkan. Sehingga meninggalkan tempat tinggalnya dan berpindah ke Tijuana adalah sebuah kesempatan yang besar (Javier dikutip di Carillo, 2004).
Baca juga: Riset: Jelang Tahun Politik, Pemberitaan Media Online Diskriminatif Terhadap LGBT
Kasus Javier tidak hanya perpindahan tempat saja, melainkan pencarian kehidupan seksualitas yang lebih baik dan lebih terbuka.
Dalam sesi wawancara lainnya bersama Carillo (2004), Javier menyebutkan bahwa ia berpikir untuk pindah secara permanen ke Amerika Serikat, sebab baginya perpindahan ini memberikan jarak yang lebih besar dari tempatnya tinggal di Meksiko yang cenderung masih tertutup dan membatasi kehidupan gaynya.
Bagi Javier, Tijuana, Amerika Serikat adalah tempat yang lebih baik dan lebih terbuka, terutama pada identitas seksualnya sebagai seorang gay man. Di Tijuana, Javier merasa bisa lebih terbuka, lebih bebas, lebih aman, bahkan bisa sepenuhnya mengintegrasikan homoseksualitasnya ke dalam seluruh aspek kehidupannya (Carillo, 2004).
Dihubungkan dengan konteks Indonesia, menurut seorang ahli sosiologis, Saskia Wieringa yang aktif meneliti permasalahan sosial dan politik di Indonesia dari kacamata sejarah dan kolonialisme, adanya diskriminasi terhadap kelompok LGBTQIA+ adalah bentuk warisan kolonial (Wienanto, 2025).
Hal ini sejalan dengan apa yang dicetuskan oleh Lugones (2024) yang menyebutkan bahwa ‘light side’ dari kolonialisme dan gender organization, adalah karakteristik yang bersumber dari; 1) dimorfisme biologis; 2) heteroseksualitas; 3) tatanan relasi patriarkal.
Baca juga: Pertemuan LGBT ASEAN Batal Digelar di Indonesia Setelah Serangan Kontra yang Masif
Tentunya hal ini menjadi tantangan bagi kelompok LGBTQIA+ sebab tatanan sosial pasca kolonial dibentuk menjadi tatanan yang mengutamakan konsep dualistik jenis kelamin dan hubungan seksual. Sehingga adanya diskriminasi terhadap kelompok LGBTQIA+ adalah bentuk adanya warisan kolonial yang patriarchal dan heteronormative.
Selain patriarki yang mengakar, laporan UN Women juga menyebutkan, sebagian orang LGBTIQ+ bermigrasi ke negara-negara dengan lingkungan politik dan sosial yang lebih menerima dan memberikan rasa aman. Namun, rasisme, xenofobia, dan diskriminasi yang terus-menerus berdasarkan status migrasi dan orientasi seksual, gender, dan identitas seksual yang tidak normatif dapat membatasi atau mencegah akses ke layanan yang berkontribusi terhadap marginalisasi lebih lanjut.
Selain itu, migran LGBTIQ+ sering menghadapi risiko kesehatan khusus di negara tujuan mereka. Seperti tingkat depresi, kecemasan, gangguan stres pascatrauma (PTSD), kecenderungan bunuh diri, hingga gangguan disosiatif.
Pengalaman Ragil, Oki, hingga Javier dalam riset Carillo (2004) adalah secuil dari sekian banyak kasus migrasi seksual yang banyak dilakukan oleh kelompok LGBTQIA+. Ketika tempat mereka tinggal tidak bisa menjamin keamanan dalam memiliki kehidupan seksualitas, maka migrasi diharapkan menjadi sebuah solusi. Namun kita juga perlu menyadari, ada ketidakadilan struktural yang bisa berpotensi menjadi ancaman lanjutan di tempat baru.





