Di Balik Maraknya Tren Live Shopping, Ada Pelecehan Terhadap Host Live

Di balik maraknya tren live shopping dan meningkatnya kebutuhan host live di Indonesia, tersimpan berbagai persoalan yang jarang terlihat publik.

Pernahkah kalian menonton live untuk memastikan apakah barang yang akan kita checkout sudah sesuai dengan yang kita inginkan?

Ternyata tren live shopping ini menyimpan banyak persoalan, mulai dari jam kerja yang panjang, target penjualan yang tinggi, aturan platform yang tidak transparan, hingga kekerasan berbasis gender online. 

Para host live menghadapi berbagai bentuk kerentanan dalam pekerjaannya.

Coba kita lihat, sebelum menekan tombol beli, banyak orang memilih membuka siaran langsung terlebih dahulu. Mereka ingin melihat warna asli produk, ukuran sebenarnya, atau sekadar memastikan barang tersebut sesuai ekspektasi. Di layar, seorang host berbicara tanpa henti, menjelaskan fitur produk, menjawab pertanyaan penonton, hingga mengajak orang untuk segera checkout sebelum promo berakhir.

Di tengah sempitnya lapangan kerja dan gelombang pemutusan hubungan kerja yang makin banyak terjadi ini, profesi host live semakin dilirik anak muda. 

Baca Juga: “Join Live, Buat Beli Beras untuk Istri”: Eksploitasi Perempuan dan Kemiskinan di Layar TikTok

Riset TikTok Shop by Tokopedia (2025) menemukan bahwa 38,1 persen responden usia 18-35 tahun yang tertarik menjadi kreator konten memilih jalur karier sebagai live host. Besarnya minat tersebut beriringan dengan tingginya kebutuhan industri. Profesi ini bahkan menempati posisi teratas dalam permintaan tenaga kerja, dengan lebih dari 786 ribu lowongan yang tercatat, termasuk 10.190 lowongan khusus host live streaming.

Namun di balik tingginya permintaan tersebut, kondisi kerja para host live masih jarang menjadi sorotan. Pertumbuhan industri yang menjanjikan ini, ada cerita yang jarang muncul ke permukaan. Jam kerja yang panjang, target penjualan yang tinggi, aturan platform yang tidak transparan, hingga kekerasan berbasis gender online menjadi bagian dari keseharian banyak host live

Pengalaman itu mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan Perempuan Mahardika dengan tajuk “Unboxing Keranjang Kuning!” Pada Minggu 31 Mei lalu. 

Diskusi ini dilakukan bersama sejumlah pekerja host live dan peneliti ekonomi gig. Dari cerita mereka, terlihat bagaimana industri live commerce yang berkembang pesat justru bertumpu pada bentuk kerja yang masih minim perlindungan.

Baca Juga: Objektifikasi Perempuan Lewat Tren TikTok “PoV Unboxing Mahar” Tidak Lucu, Stop Humor Seksis!

Bagi banyak host live perempuan, komentar seksual sudah menjadi pemandangan sehari-hari. 

Salah satu narasumber, Sasha Andini (Perempuan Mahardhika Jakarta/Pekerja Live Host) berbagi pengalaman nyata dari lapangan, menceritakan bagaimana komentar seksis tetap bisa dibaca oleh host meskipun telah difilter oleh platform.

“Kalau di TikTok itu tuh dia ada kayak fitur di mana kita bisa menyembunyikan komentar. Jadi komentarnya itu bisa difiltrasi sama mungkin kita bilangnya admin gitu ya atau operator gitu selama kita live. Nah, itu komentar seksisnya mungkin tidak kelihatan untuk viewers lainnya, tapi host life-nya sendiri dan operator itu bisa melihat, bisa membaca komen-komen itu,” ungka Andini. 

Komentar-komentar tersebut tidak hanya berupa candaan yang tidak pantas. Banyak yang berisi pelecehan seksual, penghinaan terhadap tubuh, hingga ajakan yang menjurus ke arah seksual. 

Baca Juga: Tren TikTok “I Couldn’t Resist, She Provoked Me”: Anjing Saja Bisa, kok Laki-laki Tidak?

Menurut para host live, platform memang menyediakan sejumlah fitur moderasi komentar. Namun perlindungan tersebut lebih banyak ditujukan untuk menjaga kenyamanan penonton dan citra platform, bukan untuk melindungi pekerja yang berada di depan kamera.

“Kalau aku melihat sendiri, dalam segi platformnya itu tuh, mereka cuma berfokus buat kenyamanan viewers-nya aja, tapi buat kenyamanan host life-nya atau pekerja-pekerja platformnya itu, itu menurut aku kurang sih”.

Kondisi ini membuat host live harus menghadapi kekerasan tersebut sendirian. Mereka tetap dituntut tersenyum, ramah, dan menjaga performa siaran meskipun sedang menjadi sasaran pelecehan.

Pengalaman serupa juga dialami Ilmi salah satu narasumber yang bekerja sebagai host live untuk brand olahraga. Ia mengatakan bahwa penghinaan verbal menjadi bagian yang nyaris tak terpisahkan dari pekerjaannya. 

“Karena aku di brand gitu dan itu brandnya brand sepak bola gitu jadi aku sudah hampir setiap hari menerima caci maki kayak apa ya kayak dikata-katain kayak ‘anjing’ gitu bahasa-bahasa yang memang gak seharusnya”.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana tubuh host live sering kali menjadi objek perhatian yang lebih besar dibandingkan produk yang sedang dijual. 

Baca Juga: Stop Misogini Teknologi: Rantai Panjang Serangan Siber dan Disinformasi Berbasis Gender

Salah satu narasumber pun menyebut bahwa praktik tersebut sudah sangat umum ditemukan di berbagai platform live commerce

“Kita jual apa misalkan tapi yang ditawar itu hostnya gitu”.

Pernyataan itu menggambarkan bagaimana perempuan yang bekerja sebagai host live tidak hanya menjual produk, tetapi juga harus menghadapi objektifikasi yang terus-menerus terjadi selama siaran berlangsung.

Risiko yang dihadapi host live tidak berhenti pada pelecehan verbal. Sejumlah narasumber juga menceritakan pengalaman doxing dan stalking yang mereka alami selama bekerja. Ada penonton yang berusaha mencari akun media sosial pribadi host, mengumpulkan informasi pribadi, hingga mengikuti jadwal siaran mereka secara rutin. Ketika host tersebut tidak muncul, penonton yang sama bisa melampiaskan kemarahannya kepada host pengganti melalui komentar-komentar bernada kebencian.

Azila, dari Perempuan Mahardhika Jogja yang seorang pekerja Host Live menceritakan pengalaman temannya yang mengalami penguntitan digital setelah berinteraksi dengan seorang penonton selama beberapa bulan. 

Baca Juga: Stop Misogini Teknologi: Ketika AI Jadi Alat Manipulasi Tubuh Perempuan

“Ketika jam live-nya itu bergeser, orang yang nge-live itu kayak akan di-hate speech dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Masalahnya, para pelaku sering menggunakan akun anonim. Sementara identitas host live justru tampil secara terbuka di depan publik. “Orang akan lebih mudah nge-track kita sebagai korban gitu daripada pelakunya itu sendiri”.

Dalam situasi seperti ini, perlindungan dari perusahaan maupun platform hampir tidak ada. Banyak host live mengaku tidak pernah mendapatkan pendampingan psikologis, bantuan hukum, atau mekanisme pelaporan yang jelas ketika mengalami kekerasan digital.

Algoritma yang Tidak Pernah Dijelaskan

Selain menghadapi penonton, host live juga harus berhadapan dengan sesuatu yang bahkan lebih sulit dipahami: algoritma. 

Para narasumber berkali-kali menyebut bahwa mereka tidak pernah benar-benar tahu aturan yang digunakan platform untuk menentukan apakah sebuah akun dianggap baik atau buruk.

Ilmi menceritakan bagaimana ia pernah hampir kehilangan akses live selama tujuh hari karena dianggap melanggar aturan yang bahkan tidak pernah dijelaskan secara jelas. 

Baca Juga: Misogini Di Balik Stereotip Bimbo: Padahal Perempuan Bisa Tampil Otentik Sekaligus Pintar

“Aku pernah hampir apa namanya ya akun aku waktu aku nge-live, tuh sampai kena pelanggaran gitu gak bisa nge-live 7 hari karena aku terlalu sering ngomong kata banget”.

Masalahnya, kata-kata seperti itu tidak pernah tercantum dalam pedoman resmi platform. 

“Mereka gak kasih tau kayak kita gak boleh menyebut warna, kita gak boleh menyebut orang, terus kita gak boleh nyebut angka, nomor telepon, terus kita gak boleh menyebutkan lokasi”.

Akibatnya, para host live bekerja dalam ketidakpastian. Mereka terus mencoba menebak-nebak apa yang disukai algoritma dan apa yang bisa membuat akun mereka terkena penalti. Dalam diskusi tersebut, peneliti gig economy Anindya Desi Wulansari menyebut kondisi ini sebagai “imajinasi algoritma”.

“Imajinasi algoritma adalah keyakinan pekerja mengenai cara kerja algoritma meskipun sebenarnya itu tidak ditulis secara transparan.”

Baca Juga: Bernadya Speak Up Soal Komentar Melecehkan: Stop Normalisasi KBGO 

Para pekerja kemudian membangun berbagai asumsi sendiri. Mereka percaya algoritma menyukai live yang panjang, interaksi yang tinggi, atau aktivitas yang terus menerus. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah asumsi itu benar, tetapi ketidakjelasan tersebut membuat mereka merasa harus bekerja lebih keras.

Platform digital ini juga sering mempromosikan pekerjaan semacam host live sebagai pekerjaan yang fleksibel. Siapa saja bisa bergabung dan mengatur waktunya sendiri. Namun pengalaman para narasumber menunjukkan cerita yang berbeda.

Mereka harus mengikuti target yang ditentukan brand, mengejar jam tayang tertentu, bekerja pada tanggal-tanggal promosi besar, dan menyesuaikan diri dengan tuntutan algoritma. 

Anindya menjelaskan bahwa pola ini merupakan karakteristik ekonomi gig yang kini semakin banyak ditemukan dalam sektor digital. 

“Teknologi memungkinkan pekerja untuk dipecah, diukur secara rigid, dan dibayarkan berdasarkan dengan output. Sedangkan resiko pendapatan dialihkan kepada pekerja,” jelas Anindya.

Dalam praktiknya, pekerja menanggung berbagai risiko yang sebelumnya menjadi tanggung jawab perusahaan. Pendapatan tidak pasti, target terus berubah, dan kegagalan mencapai performa tertentu bisa langsung berdampak pada penghasilan mereka.

Perempuan dan Beban Emosional yang Tidak Terlihat

Salah satu temuan menarik dalam diskusi tersebut adalah bagaimana pekerjaan host live sangat bergantung pada kemampuan mengelola emosi. 

Perempuan sering dianggap lebih cocok menjadi host karena dinilai ramah, komunikatif, sabar, dan mampu membangun kedekatan dengan penonton.

Menurut Anindya, kondisi ini berkaitan dengan konsep emotional labor atau kerja emosional. 

“Pekerja tidak hanya menjual barang atau jasa, tapi juga sekaligus dituntut untuk bisa mengelola emosi membangun interaksi dan ekspresi.”

Artinya, host live tidak hanya menjual produk. Mereka juga menjual keramahan, kesabaran, dan suasana menyenangkan yang diharapkan bisa membuat penonton bertahan lebih lama di siaran. Masalahnya, kerja emosional tersebut sering tidak diakui sebagai kerja. Ketika mengalami pelecehan atau kekerasan, banyak host live justru diminta untuk tetap profesional dan melanjutkan siaran seperti biasa.

Baca Juga: Kerja-Kerja Emosional Perempuan Pekerja Seni: Susah Payah Kami Mengusir Sensasi dan Pelecehan di Atas Panggung

Salah satu narasumber bahkan mengaku pernah mendapat respons menyalahkan korban ketika melaporkan pelecehan yang dialaminya. 

“Ya, lo aja berarti harus pakai baju yang bener gitu, jangan pakai baju yang ketat-ketat”.

Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana beban untuk mencegah kekerasan masih sering diletakkan pada korban, bukan pada pelaku atau sistem yang memungkinkan kekerasan itu terus terjadi.

Meski menghadapi berbagai tantangan, para host live yang terlibat dalam diskusi ini juga melihat pentingnya membangun ruang bersama. 

Salah satu masalah utama dalam pekerjaan platform adalah pekerjanya tersebar di berbagai tempat dan jarang memiliki kesempatan untuk bertemu. Akibatnya, banyak persoalan dianggap sebagai masalah pribadi, bukan masalah bersama.

Baca Juga: Di Balik Bisnis Platform dan Gig Economy Anak Muda: Ada Potensi Bubble dan Eksploitasi

Padahal dari cerita yang muncul dalam diskusi tersebut, pola yang dialami para host live sangat mirip. Pelecehan seksual, doxing, target yang tidak realistis, aturan platform yang tidak transparan, hingga minimnya perlindungan terjadi berulang kali pada banyak pekerja.

Karena itulah sejumlah peserta mulai membangun jaringan dan ruang diskusi yang mereka sebut sebagai Keranjang Kuning. Tujuannya sederhana, yaitu menghubungkan para pekerja host live agar mereka tidak menghadapi persoalan ini sendirian.

Di tengah industri digital yang terus berkembang, cerita para host live mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis menciptakan kondisi kerja yang lebih aman. Di balik setiap siaran langsung yang terlihat ringan dan menghibur, ada pekerja yang harus menghadapi algoritma, target penjualan, dan berbagai bentuk kekerasan yang masih dianggap sebagai bagian biasa dari pekerjaan.

Padahal seperti yang disampaikan salah satu narasumber di akhir diskusi, pelecehan bukanlah risiko kerja yang seharusnya diterima begitu saja. 

Perlindungan terhadap pekerja digital perlu menjadi bagian dari pembicaraan yang lebih serius, baik oleh platform, perusahaan, maupun negara.

(Editor: Luviana Ariyanti)

Dulce Maria Bella Natalie

Reporter magang Konde.co dan mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!