Sebuah lelucon mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk membuat orang tertawa. Tetapi ketika tubuh perempuan digunakan untuk menghasilkan tawa tersebut, ada persoalan yang tidak bisa begitu saja dilewati.
Ada video parodi yang lagi ramai di TikTok- yaitu sebuah video parodi lagu I Don’t Love You karya My Chemical Romance di TikTok baru-baru ini ramai diperbincangkan. Video ini memperlihatkan bagaimana tubuh perempuan dapat ditempatkan sebagai bagian dari hiburan, sekaligus memperlihatkan betapa mudahnya objektifikasi dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Kalau lekuk tubuh perempuan harus dijadikan daya tarik storytelling agar video menjadi lucu, sebenarnya siapa yang sedang dijadikan bahan lelucon?
Tidak hanya karena liriknya yang diplesetkan, tetapi juga karena adegan dalam video sengaja dikemas secara berlebihan untuk mengundang reaksi penonton. Namun, di balik kemasan yang tampak ringan tersebut, ada cara tertentu dalam menampilkan tubuh perempuan yang layak dipertanyakan. Sebab, hal yang dikemas sebagai ‘lelucon’ ini juga membawa cara pandang tertentu terhadap tubuh perempuan.
Tetapi, apakah karena disebut parodi, konten tersebut menjadi kebal dari kritik?
Baca Juga: Tren TikTok “There’s a Man” Membuka Mata Kita tentang Misogini yang Dianggap Biasa
Komedi memang memiliki ruang untuk berlebihan. Ia bisa terdengar dan terlihat sebagai sesuatu yang absurd, mengejutkan, bahkan membuat penonton merasa tidak nyaman. Tetapi, mengatakan “ini cuma bercandaan” tidak serta-merta membuat cara perempuan direpresentasikan menjadi bebas dari persoalan. Sebuah lelucon tetap membawa cara pandang tertentu tentang siapa yang dijadikan subjek dan siapa yang dijadikan bahan.
Persoalannya bukan terletak pada perempuan yang tampil dalam sebuah video komedi. Perempuan tentu dapat menjadi pelaku, tokoh, bahkan pusat dari sebuah humor tanpa otomatis mengalami objektifikasi. Yang perlu dilihat adalah bagaimana tubuhnya ditempatkan dalam keseluruhan adegan: apakah ia hadir sebagai individu dengan karakter dan agensi, atau justru terutama berfungsi sebagai objek yang dilihat, dinikmati, dan digunakan untuk menghasilkan efek tertentu kepada penonton.
Dalam Objectification Theory, Barbara Fredrickson dan Tomi-Ann Roberts menjelaskan bahwa objektifikasi seksual terhadap perempuan terjadi ketika tubuh, bagian-bagian tubuh, atau fungsi seksual dipisahkan dari kepribadian utuhnya (separated out from her person), kemudian direduksi menjadi sebuah instrumen demi kegunaan, konsumsi, dan kesenangan orang lain.
Konsep ini tidak harus dipakai untuk buru-buru menuding bahwa setiap perempuan yang tampil dalam konten adalah korban objektifikasi. Justru, yang perlu dilihat adalah konteksnya.
Baca Juga: Tren Chat Mokondo di Tiktok: Produk Baru Mutasi Patriarki

Dalam video tersebut, kehadiran tokoh perempuan tidak berdiri sendiri. Ia ditempatkan dalam rangkaian humor yang mengandalkan ekspresi, penampilan, dan kejutan visual. Karena itu, kita bisa bertanya: apakah karakter perempuan dalam video ini memang dibutuhkan untuk menyampaikan gagasan parodi tersebut? Atau, kehadirannya menjadi salah satu “alat” agar konten terasa lebih menarik dan memancing perhatian?
Pertanyaan ini penting karena objektifikasi tidak selalu hadir dalam bentuk yang terang-terangan. Ia bisa muncul ketika seseorang direduksi menjadi penampilan, tubuh, atau fungsi tertentu dalam sebuah tontonan. Bahkan ketika pembuat konten tidak memiliki maksud untuk merendahkan perempuan, cara tubuh tersebut ditampilkan tetap dapat dipersoalkan.

Baca Juga: Di Balik Drama Buah-Buahan AI di TikTok: Hiburannya Absurd dan Misoginis
Di sisi lain, pembuat video menyebut bahwa konten tersebut merupakan bagian dari edukasi.

Klaim tersebut layak untuk didengar. Niat pembuat memiliki peran penting untuk memahami mengapa sebuah karya dibuat. Tetapi, niat ‘mengedukasi’ ini bukan satu-satunya ukuran untuk menentukan bagaimana sebuah karya diterima.
Menyebut konten sebagai bentuk edukasi lantas tidak membuat persoalan ini selesai. Justru, di situlah pertanyaan lain muncul: edukasi untuk siapa dan disampaikan dengan cara seperti apa? Jika tujuan akhirnya adalah memberikan pemahaman kepada publik, apakah penggunaan tubuh perempuan dalam video tersebut benar-benar diperlukan? Atau, ada cara lain untuk menyampaikan pesan tanpa menjadikan tubuh perempuan sebagai bagian dari hiburan?

Lebih jauh, kita juga perlu mempertanyakan pengetahuan seperti apa yang sedang disebut sebagai ‘edukasi’. Edukasi secara politis tidak pernah benar-benar netral. Pengetahuan juga tidak dapat dilepaskan dari relasi kuasa; siapa yang menentukan apa yang perlu diketahui, norma siapa yang dijadikan ukuran, dan siapa yang menjadi objek dari pengetahuan tersebut.
Baca Juga: Benarkah Laki-laki Kurang Ekspresif Dalam Relasi Pertemanan? Membaca Stigma Maskulin Lewat Tren TikTok
Cara seseorang menjelaskan tubuh, seksualitas, penampilan, atau perilaku tertentu berangkat dari nilai dan norma yang dianggap benar. Ketika sebuah konten menjadikan sesuatu sebagai bahan lelucon untuk kemudian disebut sebagai edukasi, kita perlu melihat apakah yang disampaikan benar-benar membantu publik memahami persoalan, atau justru mengulang stigma dan dogma yang sudah lama dilekatkan kepada perempuan.
Sebab, sesuatu tidak otomatis menjadi edukatif hanya karena pembuatnya mengatakan bahwa ia ingin memberikan pelajaran atau membagi pengetahuan. Jika tubuh atau perilaku perempuan ditempatkan sebagai sesuatu yang memalukan, menyimpang, berlebihan, atau pantas ditertawakan, lalu representasi tersebut dibungkus sebagai ‘edukasi’, yang didapat oleh penonton hanyalah pengulangan norma dan stigma yang mengekang kebebasan perempuan.
Sebuah pesan edukasi juga bukan hanya soal apa yang ingin disampaikan oleh pembuat, tetapi juga bagaimana pesan tersebut dapat disampaikan dan diterima oleh orang yang melihatnya.
Dan ketika sebagian penonton mempertanyakan penggunaan tubuh perempuan dalam video tersebut, kritik semacam ini tidak serta-merta berarti mereka gagal memahami ‘humor’. Melainkan, mereka sedang mempertanyakan bagaimana cara humor seperti ini dianggap sebagai sesuatu yang normal atau biasa.


Komentar warganet terkait parodi lagu I Don’t Love You dari My Chemical Romance
Baca Juga: Objektifikasi Perempuan Lewat Tren TikTok “PoV Unboxing Mahar” Tidak Lucu, Stop Humor Seksis!
Di sini, publik perlu lebih kritis.
Tidak semua hal yang sering muncul di media sosial berarti pantas untuk dinormalisasi. Ketika tubuh perempuan digunakan sebagai bahan lelucon, ditampilkan untuk memancing perhatian, atau ditempatkan sebagai objek dalam sebuah hiburan, lama-kelamaan kita terbiasa melihatnya tanpa mempertanyakan niat di baliknya.



Komentar warganet terkait parodi lagu I Don’t Love You dari My Chemical Romance
Konten yang merendahkan perempuan tidak seharusnya mendapatkan pembenaran hanya karena dibungkus dengan ‘humor’. Apalagi ketika label ‘parodi’ atau ‘edukasi’ ditempel untuk menghapus persoalan dari cara perempuan ditampilkan.
Di media sosial, publik memiliki peran bukan hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang menentukan konten seperti apa yang akan terus mendapatkan perhatian. Apa yang kita konsumsi, bagikan, dan anggap lucu pada akhirnya ikut menentukan apa yang dianggap sebagai hal yang wajar.
Maka dari itu, kritik terhadap konten semacam ini penting. Bukan untuk melarang orang membuat video lucu atau parodi, melainkan untuk mengingatkan bahwa kebebasan berkarya tidak berarti bebas dari tanggung jawab atas representasi yang disebarkan.
Dalam kasus ini, kreator akhirnya menghapus konten, memberikan klarifikasi, dan meminta maaf setelah mendapat kritik. Sikap tersebut tentu perlu diapresiasi, tetapi persoalannya tidak berhenti pada permintaan maaf si kreator.
Baca Juga: Tren TikTok “I Couldn’t Resist, She Provoked Me”: Anjing Saja Bisa, kok Laki-laki Tidak?
Kita perlu mulai menyadari bahwa ketika perempuan terus-menerus ditempatkan sebagai objek untuk menghasilkan hiburan, persoalannya tidak lagi mengenai selera humor. Melainkan, ada cara pandang terhadap perempuan yang sedang diproduksi dan, jika terus dibiarkan, akan berujung pada normalisasi.
Sebab, semakin sering tubuh perempuan diperlakukan sebagai bahan lelucon, semakin mudah pula kita lupa bahwa di balik tubuh itu ada individu yang seharusnya tidak direduksi menjadi tontonan.
Maka dari itu, sebelum kita ikut tertawa, membagikan ulang, atau sekadar menggulir video yang serupa, kita perlu membiasakan diri untuk bertanya: apakah kita sedang menonton lelucon atau sedang menormalisasi cara perempuan direndahkan?






