“Ih, wasitnya perempuan nih.”
Kalimat itu pernah didengar Novitasari Mulat Ratri ketika memimpin pertandingan sepak bola laki-laki.
Kalimat singkat tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan perempuan sebagai pengadil pertandingan masih dianggap anomali.
Memang, tidak ada wasit yang selalu benar.
Dalam pertandingan sepak bola, keputusan harus dibuat dalam hitungan detik. Pelanggaran, offside, kartu, hingga penalti bisa terjadi ketika permainan berlangsung cepat. Bahkan dengan bantuan teknologi, keputusan wasit tetap menjadi bagian dari perdebatan dalam pertandingan.
Karena itu, mengkritik keputusan wasit bukan sesuatu yang otomatis bermasalah. Wasit bisa salah. Keputusannya pun boleh diperdebatkan.
Persoalannya muncul ketika kesalahan seorang wasit perempuan tidak lagi dibaca sebatas kesalahan dalam pertandingan, tetapi ikut dikaitkan dengan jenis kelaminnya.
Seolah-olah satu keputusan yang keliru cukup untuk membuktikan bahwa perempuan memang tidak mampu menjadi wasit.
Padahal, sebuah studi yang membandingkan pertandingan yang dipimpin wasit laki-laki dan perempuan tidak menemukan perbedaan signifikan pada sejumlah indikator pertandingan.
Penelitian yang terbit pada 2025 itu menganalisis 109 pertandingan Maurice Revello Tournament sepanjang 2018–2024. Sebanyak 52 pertandingan dipimpin wasit perempuan dan 57 lainnya oleh wasit laki-laki. Variabel yang dibandingkan antara lain pelanggaran, penalti, kartu, offside, tembakan, hingga hasil pertandingan.
Temuan tersebut tentu tidak berarti wasit perempuan selalu lebih baik, begitu pula sebaliknya. Tetapi setidaknya, jenis kelamin tidak bisa begitu saja dijadikan ukuran kemampuan seseorang dalam memimpin pertandingan.
Masalahnya, persepsi terhadap perempuan di lapangan tidak sesederhana itu.
Baca juga: Kamus Feminis: Piala Dunia 2026 Juga Isu Feminis, Ada Maskulinitas Hegemonik dalam Sepak Bola
Penelitian terhadap 10 wasit perempuan dan 14 perempuan yang bekerja sebagai pelatih sepak bola di Inggris menemukan bahwa mereka masih menghadapi anggapan bahwa perempuan kurang memiliki pengetahuan sepak bola, kurang tegas dalam memimpin pertandingan, atau tidak cukup kuat secara fisik. Mereka juga harus terus membuktikan kompetensinya di lingkungan sepak bola yang secara historis didominasi laki-laki.
Dalam penelitian lain terhadap tujuh perempuan yang menjadi wasit pertandingan sepak bola laki-laki di Inggris, para partisipan menceritakan pengalaman menerima komentar seksis, hinaan, hingga perilaku yang merendahkan kompetensi mereka. Beberapa juga mengalami situasi ketika kesalahan sebagai wasit lebih mudah dikaitkan dengan fakta bahwa mereka perempuan.
Di titik ini, kritik terhadap wasit perlu dibedakan dari bias terhadap perempuan.
Ketika seorang wasit salah memberikan penalti, misalnya, mempertanyakan apakah keputusan tersebut sesuai aturan adalah hal yang wajar. Tetapi ketika kesalahan itu digunakan untuk mengatakan bahwa perempuan tidak seharusnya menjadi wasit, yang dipersoalkan bukan lagi satu keputusan.
Yang dipersoalkan adalah keberadaan perempuan di posisi tersebut.
Otoritas Perempuan Lebih Mudah Dipertanyakan
Bagi seorang wasit, pertandingan sebenarnya dimulai sebelum peluit pertama dibunyikan.
Ia datang ke stadion, bertemu pemain dan ofisial, memeriksa pertandingan, lalu mengambil posisi sebagai orang yang memiliki kewenangan membuat keputusan.
Bagi wasit perempuan, proses itu kadang disertai persoalan lain: meyakinkan orang-orang di sekitarnya bahwa ia memang memiliki otoritas.
Dalam penelitian yang sama, seorang wasit perempuan menceritakan pengalaman ketika pihak klub melihat dua asisten wasit laki-laki dan justru bertanya kepada keduanya, “yang mana wasitnya?”
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi ada asumsi yang bekerja di baliknya: laki-laki dianggap lebih lazim berada di posisi tersebut, sementara perempuan menjadi pengecualian.
Persoalannya tidak berhenti di sana.
Beberapa perempuan yang menjadi wasit mengaku harus berhadapan dengan ekspektasi bahwa mereka kurang memahami sepak bola atau kurang tegas untuk mengendalikan pertandingan. Bahkan sebelum pertandingan dimulai, kemampuan mereka bisa lebih dulu dipertanyakan.
Situasi ini membuat perempuan berada dalam posisi yang serba salah.
Untuk mendapatkan legitimasi, mereka harus menunjukkan ketegasan. Namun ketika tampil terlalu tegas, mereka juga bisa berhadapan dengan ekspektasi mengenai bagaimana seorang perempuan “seharusnya” bersikap.
Terlalu lembut dianggap tidak mampu memimpin. Terlalu tegas dapat dianggap tidak sesuai dengan gambaran feminin yang diharapkan.
Sementara itu, bagi wasit laki-laki, persoalan semacam ini tidak selalu hadir dengan cara yang sama.
Mereka tetap harus membuktikan kemampuan sebagai wasit. Tetapi kesalahan yang dilakukan tidak dengan sendirinya membawa pertanyaan tentang apakah laki-laki memang pantas berada di lapangan.
Kritik Tetap Perlu, Gender Tidak Perlu Dibawa
Membicarakan bias gender bukan berarti setiap keputusan wasit perempuan harus dibenarkan.
Wasit perempuan tetap bisa keliru. Keputusannya tetap boleh dikritik dan dievaluasi. Jika ia salah membaca situasi, tidak konsisten menerapkan aturan, atau mengambil keputusan yang keliru, hal tersebut memang layak dibicarakan.
Yang perlu diperhatikan adalah ke mana kritik itu diarahkan.
“Wasitnya salah mengambil keputusan” berbeda dengan “perempuan tidak cocok menjadi wasit”.
Kalimat pertama membicarakan performa individu. Kalimat kedua mengubah kesalahan individu menjadi penilaian terhadap satu kelompok berdasarkan gender.
Perbedaan ini penting karena sepak bola memang penuh keputusan kontroversial. Wasit laki-laki maupun perempuan bisa salah.
Karena itu, evaluasi seharusnya menggunakan ukuran yang sama: pemahaman terhadap aturan, kemampuan mengambil keputusan, kebugaran, konsistensi, dan performa di lapangan.
Jenis kelamin tidak perlu dimasukkan jika memang tidak berkaitan dengan kesalahan tersebut.
Di Indonesia, Perempuan Masih Menjadi Minoritas
Persoalan ini juga tidak berhenti di sepak bola Inggris.
Pada September 2026, Ketua Komite Wasit PSSI Yoshimi Ogawa menyebut ada enam wasit utama perempuan dan sembilan asisten wasit perempuan berlevel nasional. Jumlah tersebut diproyeksikan bertugas di Indonesia Women’s League 2026/2027.
Angka itu memang bukan jumlah seluruh wasit perempuan di Indonesia. Namun, ia menunjukkan bahwa perempuan masih menjadi kelompok kecil di level nasional.
Pengalaman Siti Syawaliyah, yang disebut sebagai wasit perempuan pertama di Aceh, menunjukkan bahwa perjalanan menuju level tersebut membutuhkan proses panjang.
Ia memulai lisensi C-3 pada 2019, kemudian C-2 pada 2021 dan C-1 pada 2022. Dalam salah satu kursus, ia bahkan menjadi satu-satunya peserta perempuan dari 51 peserta.
Ada pula Novitasari Mulat Ratri, mantan kiper PSIS Putri yang kemudian beralih menjadi wasit. Saat memimpin pertandingan laki-laki, ia pernah mendengar komentar, “Ih, wasitnya perempuan nih.”
Kalimat singkat tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan perempuan sebagai pengadil pertandingan masih bisa dianggap tidak biasa.
Baca juga: Aitana Bonmati, Perempuan Pemain Sepak Bola Yang Jadi Simbol Adil Gender
Padahal, perempuan yang menjadi wasit tetap harus melewati pendidikan, kursus, ujian, tes kebugaran, dan proses untuk mendapatkan pengalaman pertandingan.
Maka, persoalannya bukan sekadar apakah perempuan bisa menjadi wasit. Mereka sudah berada di sana dan menjalani proses untuk mendapatkan lisensi.
Persoalannya adalah apakah ketika mereka sudah memenuhi standar yang ditetapkan, kemampuan mereka masih akan dinilai dari jenis kelaminnya.
Pada akhirnya, seorang wasit tetaplah manusia. Ia bisa salah membaca situasi, terlambat melihat pelanggaran, atau membuat keputusan yang kemudian dikoreksi.
Kesalahan adalah bagian dari pekerjaan.
Tetapi ketika kritik terhadap satu keputusan berubah menjadi komentar bahwa perempuan tidak memahami sepak bola, tidak cukup tegas, terlalu emosional, atau seharusnya tidak berada di lapangan, kita tidak lagi hanya membicarakan keputusan wasit.
Kita sedang membawa gender ke dalam penilaian yang seharusnya bisa dilakukan secara profesional.
Peluit tidak mengenal jenis kelamin. Yang seharusnya dinilai adalah keputusan setelah peluit itu berbunyi.
Editor: Luthfi Maulana Adhari






