Festival 45-45: Meretas Batas, Mempertemukan Anak-Anak Muda Bersama Para Penyintas


Poedjiati Tan- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Hingga lebih dari 20 tahun reformasi, komitmen penyelesaian kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) masa lalu yang ditunggu banyak pihak belum terlihat. Dari agenda pembangunan prioritas dalam rancangan tersebut, tidak tercantum agenda penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu. Hal ini menjadi catatan penting ke depan bagi gerakan HAM secara luas maupun bagi para korban/penyintas.

Kondisi ini ditambah dengan menguatnya kelompok politik intoleran serta pengaruh militerisme yang semakin memperkuat tembok impunitas.

Di tengah kondisi penyelesaian HAM yang mengalami stagnasi tersebut, masyarakat sipil berupaya mendorong peran dan tanggungjawab negara tidak hanya dalam memenuhi hak sipil politik korban (Sipol), tapi juga hak ekonomi sosial budaya (Ekosob).

Di tingkat nasional, pendekatan Ekosob telah menemukan beberapa pijakan baru, diantaranya: koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK) dimana Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) menjadi anggotanya, telah merumuskan beberapa instrumen turunan dari pendekatan Ekosob tersebut. Yakni, konsep kebijakan perlakuan khusus; penggunaan mekanisme justisiabilitas (justiciability) hak Ekosob; dan hak-hak budaya. Perumusan ini berasal dari temuan-temuan kerja organisasi pendamping korban/lembaga korban selama ini, termasuk Program Peduli. Konsep ini adalah platform bersama bagi organisasi masyarakat sipil dalam melakukan advokasi hak korban pelanggaran berat HAM masa lalu.

Selama hampir 5 tahun, Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) bersama-sama dengan berbagai organisasi korban/penyintas maupun organisasi masyarakat sipil dalam Program Peduli untuk memperjuangkan hak Ekosob bagi korban/ penyintas. Sepanjang 5 tahun, program ini telah berhasil memperkenalkan dan mendorong skema inklusi dalam kerja dan advokasi hak-hak korban pelanggaran HAM masa lalu melalui pendekatan hak Ekosob. Misalnya, jumlah korban/penyintas yang telah mendapat akses layanan publik dan bantuan sosial termasuk di dalamnya layanan khusus berupa akses pengobatan gratis untuk korban/penyintas lansia yang diberikan oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), semakin meningkat. Korban/penyintas terlibat dan diterima dengan terbuka dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Korban dan penyintas memiliki kesempatan untuk secara aktif melakukan cara-cara kreatif terlibat dalam pembangunan dan memperjuangkan hak-haknya sebagai warganegara.

Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) bersama KKPK selanjutnya memandang bahwa keberlanjutan gerakan ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Di tengah praktik impunitas yang semakin berurat berakar, memperkuat kolaborasi dengan generasi muda, menjadi penting dan akan menjadi investasi jangka panjang dalam upaya untuk perjuangan hak korban serta penyelesaian kasus pelanggaran HAM. Sebagai upaya untuk menghargai keberhasilan atas segala upaya selama lima tahun ini, maka KKPK bersama Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Program Peduli akan menyelenggarakan sebuah acara bernama Festival 45 - 45 Meretas Batas dengan Penyintas.

Festival 45-45 adalah festival yang akan memaparkan sejarah masa lalu sekaligus mengimajinasikan Indonesia di masa depan. Anak-anak muda yang akan bertemu dengan para penyintas yang umurnya sudah semakin menua dalam festival ini. Festival yang diadakan pada 29-31 Agustus 2019 di Gedung Cipta Niaga di kawasan kota tua, Jakarta ini, tidak hanya membahas isu HAM semata, melainkan sebuah ruang untuk melihat masa depan kehidupan berbangsa hingga tahun 2045 sekaligus melihat masa lalu.

Lewat Festival 45-45, kita membuka ruang untuk mengumpulkan kembali ingatan-ingatan, peristiwa, pengalaman yang berserak dan menghadirkannya kembali dalam bentuk pameran foto-foto, instalasi seni, tuturan pengalaman dan kesaksian, teks-teks sastra hingga bait-bait musik. Forum pertemuan lintas generasi akan menjadi ruang keterhubungan, solusi dan hub transformasi tentang peristiwa di masa lalu.

Upaya ini untuk menegaskan bahwa memorialisasi menjadi penting agar generasi muda mengenali sekaligus mengakui sejumlah peristiwa kelam dan luka sejarah bangsanya sendiri. Untuk itulah festival ini diselenggarakan dengan melibatkan seluas mungkin berbagai elemen untuk berpartisipasi, seperti lembaga negara, organisasi korban, pekerja seni, organisasi masyarakat sipil hingga generasi muda.