Dipanggil Tante Girang, Olok-Olokan dan Pembatasan Ekspresi Perempuan

Tante Girang. Seringkali orang memanggil seperti itu dan menyindir dengan nada meledek. Selama ini sebutan tante girang ini selalu memiliki konotasi negatif, seakan-akan masyarakat menganggap tante girang sebagai perempuan jalang yang memiliki kemauan seksual yang menggebu-gebu karena memilih berpasangan dengan laki-laki brondong.

Ravika A. Puspitasari- Konde.co

Dalam dunia patriarkal, tubuh dan ekspresi seksualitas perempuan dikekang. Pembatasan ini berlaku secara massif dan terstruktur sehingga nampaknya akan terlihat alamiah. Padahal tak ada pembuktian untuk itu. Maka banyak perempuan yang kemudian menjadi korban seksisme atau penilaian sepihak ini 

Dalam beberapa kasus misalnya, kita seolah-olah menganggap aneh perempuan yang menjalin relasi dengan laki-laki yang dinilai tidak sesuai dengan aturan umum di masyarakat, maka keluarlah sebutan tante girang ini, yaitu perempuan yang berpasangan dengan laki-laki yang umurnya lebih muda. 

Lantas, mengapa ini menjadi bahan pembicaraan? Bukankah kita boleh memilih dengan siapa kita berpasangan tidak dibatasi apakah ia harus lebih muda atau lebih tua dari kita?

Fenomena demikian menunjukkan bahwa terdapat bahasa, yang para feminis postrukturalis sebut dengan bahasa patriarkal. Teori feminis juga menyatakan bahwa bahasa sebagai simbol dari sikap patriarkis dan distribusi seksual mengenai peran dan status perempuan. 

Sheila Rowbotham menganggap bahasa sebagai kekuatan politik dan ideologi. Teori feminis pertama kali menganalisa beberapa bentuk yang diambil oleh seksisme dalam bahasa. Bentuk-bentuk ini mencakup kata-kata yang secara umum merujuk pada laki-laki yang dijabarkan dalam dominasi bahasa pada perempuan  

Seksualitas perempuan diatur dan dibatasi dengan bahasa laki-laki. Inilah yang disebut: bahasa yang terus melanggengkan superioritas laki-laki. Pilihan perempuan pun juga ditekan melalui bahasa. Olokan ‘tante girang’ dalam bentuk realisasi tersebut.

Manusia digiring dalam ekspresi seksualitasnya, utamanya kelompok perempuan. Bagaimana tidak, dalam kata tante girang misalnya, perempuan menjadi obyek dalam wacana yang terus-terusan diatur dan didefinisikan. 

Perempuan tak hanya didefinisikan, tapi juga diatur. Apabila mereka tidak sesuai dengan norma yang ada, stigma negatif akan dilekatkan padanya. Dalam  keseharian atau sebutan yang ramai disematkan di media sosial, sebutan ‘tante girang’ jelas-jelas merupakan bentuk diskriminasi pilihan perempuan.

Fenomena itu telah menstrukturisasi kesadaran manusia. Lebih lanjut, agama serta norma masyarakat menentukan kesadaran dan pilihan manusia dalam melakukan berbagai hal, tak terkecuali mengenai seksulitas. 

Tubuh, seksualitas manusia diawasi oleh aturan umum di masyarakat. Naasnya, jika hal itu menimpa perempuan maka peminggiran perempuan dalam urusan pilihan hidupnya tidak bisa dijungkir balikkan. 

Jika kita tarik ke wacana perempuan, hal ini menjadi akar opresi bagi perempuan untuk memperoleh kenikmatan seksual. Perempuan harusnya diberi hak untuk memilih sesuai pilihannya. 

Coba kita tengok. Di belahan Dunia Barat, istilah ‘tante girang’ sepadan dengan istilah “Milf”. Istilah yang digunakan untuk menyebut perempuan dewasa –atau tua yang menyukai laki-laki muda. 

Meski serupa, tetapi implikasi keduanya sama. Di dalam masyarakat kita, pilihan seperti itu dianggap aneh, tak lazim. Kita mengafirmasi hubungan dimana laki-laki dewasa dengan perempuan yang lebih muda. Kita memiliki tatanan ideal bahwa normalnya relasi yang seperti itu dianggap lebih absah.

Nah, Milf berasal dari akronim mother I’d like to fuck. Secara istilah ia adalah (A sexually attractive older woman, typically one who has children (Lexico.com), tidak berpretensi meminggirkan perempuan layaknya sebutan ‘ tante girang’. Ia bisa disebut sebagai salah satu narasi kecil untuk menyuarakan hasrat dan seksualitas perempuan.

Para feminis posstrukturalis dalam (Rosemarie Tong, 2006: 217-230) seperti Helena Cixous dan Irigaray memandang betapa pentingnya perempuan berbicara atas nama bahasa dirinya dan kebutuhan seksualnya. Utamanya Irigaray menganalogi labia sebagai ekspresi seksualitas perempuan. Ia mengatakan bahwa perempuan bukan satu saja tetapi plural, sehingga antara masing-masing individu memiliki kebutuhan seksual yang berbeda lagi beragam. Diri perempuan berhak mendapat kenikmatan seksual sesuai dengan kebutuhannya, bukan sesuai norma yang disematkan masyarakat. 

Oleh karenanya, aktivitas mengolok perempuan dengan ‘ tante girang’ adalah bukti bahwa masyarakat kita belum mampu menerapkan keadilan gender. Pilhan perempuan dibungkam secara massif melalui bahasa yang sifatnya mencemooh perempuan. Itulah salah satu kasus kecil diantara banyaknya kasus pembatasan perempuan melalui bahasa. 

Kata ‘tante girang’ sudah seharusnya kita hapus dari bahasa keseharian. Kalau tidak, kita akan terus terjebak dan melanggengkan paradigma dan bahasa patriarkal bahwa berpasangan seharusnya begitu, ditentukan oleh orang lain dan oleh nilai kepantasan.

Ravika Alvin Puspitasari, kesibukan sehari-hari kuliah daring dan mengikuti berbagai diskusi online. Selain itu aktif menulis di Lembaga Institute For Javanese Islam Research. Saya juga tertarik dengan isu-isu gender yang sedang berkembang saat ini

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email