Film ‘Noktah Merah Perkawinan’: Ada Orang Ketiga Dalam Relasimu

Jika ada orang ketiga dalam perkawinan, apa yang harus kamu lakukan? Film “Noktah Perkawinan” menampilkan tokoh-tokoh yang tak melulu ditampilkan secara hitam dan putih. Film menghadirkan sisi lain yang berbeda

Seorang perempuan disorot dari belakang. Angin sepoi menghembus anak rambutnya yang pendek sebahu. Perempuan itu, kita ketahui kemudian bernama Yuli (Sheila Dara) rupanya sedang menunggu tantenya, seorang konsultan pernikahan, yang baru saja pulang dari Belanda.

Kehadiran sosok Yuli pada pembuka film menggarisbawahi peran sentralnya di dalam film “Noktah Merah Perkawinan”. Disutradarai oleh Sabrina Rochelle Kalangie, film ini diadaptasi dari sebuah sinetron  yang tayang pada tahun 1996 dengan judul yang sama. Film ini bercerita tentang hubungan pernikahan antara Ambar (Marsha Timothy) dan Gilang (Oka Antara) yang nyaris kandas.

Setelah Yuli menemui tantenya, kita akan melihat cerita tentang pernikahan dari sisi perempuan yang nyaris menjadi orang ketiga. Namun film ini tak menghujat perempuan ini sebagai “pelakor” (perebut laki orang) seperti yang sering ramai dan viral, film ini mencoba menghadirkan perspektif yang berbeda. Ia menjadi perempuan yang kehadirannya justru menyelamatkan sebuah hubungan.

Yuli adalah murid workshop keramik yang dimiliki oleh Ambar. Suatu waktu, Ambar, yang hubungannya sedang dingin dengan Gilang, meminta tolong Yuli mengantar kedua anaknya menemui mamanya. Saat itu Ambar juga sedang menghindari dari mamanya sendiri karena suatu hal.

Di situlah Yuli berkenalan dengan Gilang yang seorang landscape designer. Mereka pun terlibat kerja sama untuk mendesain taman sebuah kafe yang dimiliki oleh Kemal, pacar Yuli. Dibumbui lagu-lagu romansa tahun 1990an, rintik hujan dan kopi, mereka kemudian digambarkan menjadi dekat satu sama lain.

Penokohan yang Tak Hitam-Putih

Meskipun diangkat dari sinetron, drama di dalamnya tidak terasa berlebihan. Tokoh-tokoh di dalamnya juga tak terkesan hitam-putih.

Pada mulanya, Yuli digambarkan sebagai perempuan yang mengalihkan Gilang dari 

permasalahan besar yang dihadapinya bersama Ambar. Lewat gestur-gestur dan obrolan kecil, perasaan Yuli berkembang menjadi lebih dari sekadar rekan kerja. Tentu saja bukan tanpa alasan.

Hubungan relasi Yuli dengan Kemal sendiri sebetulnya tidak begitu baik. Bisa dibilang, ia adalah korban kekerasan dalam pacaran, meski karena tak sampai terluka secara fisik, ia sendiri tidak menyadarinya. Kemal selalu berbicara ketus pada Yuli dan menyepelekan pendapat-pendapat Yuli, padahal Yuli senantiasa berusaha menjadi pacar yang baik.

Karena itu, pada tantenya yang juga merupakan konselor pernikahan yang dipilih Ambar, Yuli mengakui bahwa ia memiliki rasa pada Gilang. Tantenya bilang, Yuli sebetulnya tidak salah, ia hanya jatuh cinta pada orang yang tidak tepat.

Tokoh orang ketiga seperti Yuli, kerap kali dijadikan antagonis. Ia akan digambarkan sebagai perempuan yang menggebu-gebu ingin memiliki laki-kaki yang sudah memiliki istri. Namun, di dalam film ini, Yuli tidak sekadar digambarkan sebagai pemicu konflik, sekaligus peredamnya.

Di sisi lain, Gilang sebagai laki-laki juga tidak sepenuhnya hitam. Jadi, jika kamu berpikir kalau semua laki-laki itu brengsek, mungkin juga akan berubah pikiran saat menonton film ini. Gilang juga mematahkan anggapan patriarkis bahwa laki-laki nggak seharusnya menangis. Sikap Gilang juga menjadi pendorong Yuli bertindak sebagai peredam konflik hubungannya dengan Ambar.

Komunikasi yang Terbuka dengan Pasangan

Dalam film ini, perempuan tidak digambarkan sebagai sosok yang cenderung pasif, diam, dan suka menyembunyikan perasaan. Ambar berinisiatif menghubungi penasehat pernikahan saat dirasa hubungan dengan suaminya tak kunjung membaik. Ia mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan hubungannya dengan suaminya merenggang.

Meskipun mulanya konflik di antara keduanya terkesan diada-adakan, tetapi rasanya konflik “kecil” tersebut dekat dengan semua orang yang terlibat dalam hubungan antar dua manusia. Kadang-kadang hubungan yang baik-baik saja menjadi rumit ketika pintu-pintu komunikasi ditutup.

Gilang, berkebalikan dengan anggapan bahwa laki-laki lebih mampu berbicara secara terbuka, cenderung menghindari setiap pembicaraan besar dengan Ambar. Terutama ketika Ambar mulai mempertanyakan mengapa Gilang tidak banyak melibatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu termasuk saat Gilang harus mengambil keputusan-keputusan besar.

Setelah bersikap dingin terhadap satu sama lain, merawat prasangka demi prasangka di dalam kepala, keduanya sampai pada pertengkaran hebat yang diperankan dengan baik oleh Marsha dan Oka. Keduanya berhasil menggambarkan betapa frustasi menghadapi konflik tak berkesudahan. Potongan scene ini agaknya menjadi alasan mengapa penonton tertarik menonton film ini.

Adegan tersebut kerap dibanding-bandingkan oleh netizen dengan pertengkaran antara Nicole Barber (Scarlett Johansson) dan Charlie Barber (Adam Driver) dalam film “Marriage Story” (2019)  yang disutradarai Noah Baumbach. Namun dengan karakteristik yang berbeda, “Noktah Merah Perkawinan” lebih cocok untuk penonton yang menyukai akhir dengan kelegaan. Mungkin pernikahan tidak selalu buruk bagi perempuan yang bertemu dengan laki-laki seperti Gilang.

Sanya Dinda

Sehari-hari bekerja sebagai pekerja media di salah satu media di Jakarta

Let's share!