Jagir

Bertahan dari Gusuran, Cerita Para Perempuan di Pinggiran Sungai Jagir

Bertahan hidup di tengah upaya penggusuran berulang kali, merupakan situasi sulit yang dialami warga stren kali Surabaya. Saya menemui para perempuan, lansia dan disabilitas, untuk mendengar cerita mereka bertahan hidup dan terus berjuang di tengah kemiskinan dan marjinalisasi.

Jalan Jagir hingga jalan Panjang Jiwo Surabaya, adalah jalanan yang selalu padat oleh kendaraan dan aktivitas. 

Terdapat banyak bangunan megah dan perkantoran besar di jalur tersebut. Namun, karena terlalu sibuknya jalanan ini, sedikit orang yang menoleh ke seberang sungai Jagir. Di seberang sungai itu, terdapat pemukiman yang dihuni oleh puluhan keluarga dengan kondisi yang jauh dari kemegahan bangunan di sekitarnya. 

Konde.co menelusuri bagaimana kehidupan para perempuan di pinggir sungai Jagir, Surabaya.

Melewati gang sempit yang terdapat beberapa gerobak dan karung-karung berisi barang rongsokan, Jumat (7/7), saya memasuki kampung Stren Kali Jagir (pinggir sungai Jagir dalam bahasa Indonesia). 

Saya bertemu dengan Yuliana (60), perempuan paruh baya yang bermukim di pinggiran sungai Jagir. Yuliana ini bisa dibilang sebagai tokoh yang dituakan di kampung ini. Dia jadi penggerak dan inisiator dalam merawat lingkungan sekitar. 

Mereka memiliki organisasi yang disebut Paguyuban Warga Stren Kali Surabaya (PWKS) dengan Yuliana sebagai koordinatornya.

Pandangan pertama yang saya dapati saat mendatangi tempat ini, lingkungan ini cukup bersih. Tidak pula sedikit pun tercium bau tidak sedap. Meskipun, ada karung-karung bekas material yang tertumpuk di sepanjang jalan menjadikan kesan tidak begitu rapi. 

Di kampung Stren Kali ini, Yuliana menjelaskan setidaknya ada sebanyak 30 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal. 

Sepanjang Gang Kampung Stren Kali Jagir doc. Ika/konde.co

Berikut perbincangan saya dengan Yuliana beberapa waktu lalu soal kehidupan warga sekitar sungai Jagir termasuk para perempuannya:

Rata-rata berprofesi sebagai apa warga disini, Bu?

Profesi warga disini rata-rata pengamen, pedagang bakso, pedagang tahu campur, ada yang tukang pijit atau ada yang dikirimi uang oleh anak-anaknya. 

Rata-rata usianya 60 tahun keatas, tergolong lansia dan tinggal sendiri. Bukannya anaknya tidak mau ngurus tapi keadaan anaknya juga susah. 

Ada yang anaknya kerja jadi pekerja rumah tangga (PRT) ikut orang, jadi ngga bisa bawa orang tuanya. Ada juga beberapa yang mencari ikan, ikan di sungai ini jenisnya ada ikan keting, ikan bader, kalau dijual bisa sampai Rp 14.000 sekilo.

Sampan yang digunakan warga mencari ikan doc. Ika/konde.co

Kebanyakan yang tinggal di sini warga Surabaya atau pendatang?

Ada juga warga yang asli Surabaya sudah punya KTP tapi beberapa warga masih ada yang belum punya. Di sini penghuninya rata-rata tinggal di kosan, jadi sebagian ada yang pergi, pulang ke kampung atau ikut anaknya di Surabaya.

“Kalau ada yang anaknya sudah mampu, sudah kerja enak ya ikut anaknya pergi dari sini. Doanya orang sini itu jangan sampailah anak cucu kita di sini juga, ngga papa kita di sini tapi anak-anak kita jangan sampai di sini. Anak saya sendiri sekarang alhamdulilah sudah lebih mapan, tapi saya tetap di sini buat ngurusi warga sini. Karena warga sini itu takut mbak, takutnya seperti takut digusur, takut apa gitu. Kalo ada saya sama suami saya kalo ada apa-apa kita langsung gerak.”

Apa ada upaya penggusuran?

Sering Mbak, dulu kita itu demo menentang penggusuran ada mungkin 50 sampai 60 kali. Kita disuruh pindah ke rusunawa (rumah susun sederhana sewa). Di rusun itu ndak enak Mbak. Harus bayar. Kalau gratis, mungkin sejak dahulu ya orang-orang mau. Kita lebih baik di sini walaupun jelek, walaupun apa, tapi punya sendiri. Ada warga yang misal kerjanya di sini dipindah ke rusun yang jauh kan jadinya jauh buat kerja.

Bagaimana hingga akhirnya warga tidak jadi digusur?

Kita datang ke kantor gubernur Pakde Karwo (Soekarwo, mantan Gubernur Jawa Timur). Kita minta tetep tinggal di sini. Pakde Karwo bilang, ya udah tidak digusur tapi jarak rumahnya tidak terlalu dekat dengan sungai, artinya digeser lebih mundur tidak mepet sungai, jadi ada jalan di antara rumah dan pinggir sungai. 

Dibilang gubernur waktu itu kan kita janji jogo kali (menjaga sungai). Jadi gubernur menyuruh pintu rumah menghadap sungai. Biaya pemindahan pintu rumah menghadap sungai dan renovasi rumah itu biaya warga sendiri, buat tembok penahan tepi sungai ini ya biaya sendiri. 

Setelah kita bangun ini, semua jadi lebih bagus gak ada juga pemerintah yang lihat. Mbaknya kalau lihat di Stren Kali Karang Pilang juga bagus Mbak. Di sana ada 150 KK, sudah masuk rusun Benowo. Sudah terima kunci semua, setelah masuk ternyata harus bayar ini itu, akhirnya coba kita bicarakan dan mereka malah seneng kembali ke rumah sebelumnya di pinggir sungai. Kita sama-sama jaga lingkungan masing-masing.

Kami juga punya musala di sini hasil swadaya masyarakat sendiri tanpa bantuan pemerintah. Dulu  saya mau sholat tapi musala jauh, akhirnya bapak (suaminya) sama warga sini inisiatif bikin musholla. 

Awalnya urunan dapat terkumpul Rp 3 juta. Itu cuma bisa dapat alas dan pondasi saja dari kayu, belum berbentuk bangunan. Akhirnya kena hujan ambruk itu, Mbak. Alhamdulillah ada donatur yang tau. Ada warga sini yang kerja di rumah donatur itu, dibilang kalau warga sini mau bangun musala tapi tidak ada dana. 

Terus ditanya apakah warga sini mau sholat beneran? Dibilang betul, kita mau ibadah cuma tidak ada sarana. Akhirnya, dibantu alhamdulilah sekarang punya musala sendiri.

Apakah warga di sini pernah merasa terkucilkan?

Ada yang bilang kita ini orang liar, kita bukan orang liar mbak, kita cuma tinggal di tempat sini, tidak mengharap pemerintah, cari rezeki sendiri, kalau liar itu hidup di hutan gitu.

Dulu ada kelompok anak kuliah mau bakti sosial di sini tapi diputer-puter sampai saya kasihan. Karena kita dibilang warga liar, mau digusur dan lain-lain. Saya bilang kita ini kalau digusur satu ya digusur semua. 

Kita sama-sama Stren kali dipindahkan tidak mau. Kita ini tidak liar kok, ada yang punya KTP, KK juga. Harusnya kalau pun warga tidak punya KTP itu pemerintah yang bantu bukan dibiarkan saja. Saya sendiri ngurus KTP lama, saya dulu ngurus KTP sama bapak, punya bapak sudah jadi punya saya belum jadi sampai beberapa tahun.

Adakah bantuan dari pemerintah?

Belum pernah, kita tidak punya RT/RW, tidak pernah juga ada petugas pemerintah yang mendatangi kita. Kita ini seperti tidak ada.

Kalau media apakah sering meliput?

Tidak pernah Mbak, belum pernah ada wartawan meliput tempat ini.

Saya lihat sungainya bersih, apakah tidak ada orang yang membuang sampah ke sungai?

Dulu banyak orang yang membuang sampah di sungai sini akhirnya warga sini yang kena tuduh. Akhirnya kita selalu teriakin dan pura-pura rekam kalau ada yang buang sampah. 

Di sini dulu banyak yang buang pampers, popok orang tua, pagi-pagi subuh. Orang sini langsung teriak-teriak mbak dan rekam yang buang sampah, ada juga pedagang yang buang sampah bekas keranjangnya sayur dan lain-lain, di pemukiman sini. Akhirnya kami bergantian jaga agar orang tidak buang sampah.

Kalau Ibu sendiri bagaimana awalnya bisa tinggal di sini?

Saya asli Ponorogo, awal datang ke Surabaya saya bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT). Dulu sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia karena tidak pernah mengenyam pendidikan, ijazah yang saya miliki hanya kejar paket A dan sudah sangat senang sekali. 

Saya hanya bisa berbahasa jawa, tapi karena bos saya karyawan bank kerap menggunakan bahasa Indonesia di rumah. Makanya, saya jadi bisa berbahasa Indonesia. 

Kemudian setelah menikah, saya mengontrak rumah namun pemilik rumah memberitahu bahwa saya harus pindah karena anak pemilik rumah akan menempati rumah itu. Sudah keliling mencari rumah kontrakan tetapi tidak ketemu, akhirnya saat menangis di pos kamling ada seorang warga yang memberi tahu ada tanah kosong di pinggir sungai Jagir. Boleh dibangun rumah, asal mengganti sejumlah uang. 

Akhirnya hari itu juga saya membayar tanah tersebut dan pelan-pelan membangun rumah dengan bahan seadanya dulu seperti mencari seng bekas dan lain-lain. Tahun 2000 saya jadi warga sini.

Dulu saat Dolly (lokalisasi di Surabaya) dibubarkan, para pekerja seks dan waria sempat bermukim di sini juga sampai batas rel kereta api, mereka mendirikan bangunan liar, namun tidak lama pihak pemerintah mengetahui hal itu dan menertibkan bangunan liar tersebut. Sekarang ngga tahu lagi mereka tinggal di mana.

Kotek, Perempuan Disabilitas Hidup Sebatang Kara

Saat mengobrol dengan Ibu Yuliana, saya juga mengajak ngobrol seorang perempuan dengan disabilitas keturunan Tionghoa bernama Kotek.

Kotek yang nampak malu-malu ketika ditanya, diwakili oleh Ibu Yuliana.

Kotek ikut makan di saya sejak 2015. Tapi kami kenal dan jadi warga sini sudah lama. Kosnya sekarang Rp 250 ribu, dulu Rp 150 ribu per bulan. Dia kerja jadi tukang bersih-bersih di sekolah itu gajinya Rp 100 ribu. 

Bayangkan gaji cuma Rp 100 ribu, tapi Kotek bilang tidak apa-apa. 

Kotek merasa bersyukur karena meskipun hanya tangan kirinya saja yang bisa digunakan bekerja tapi masih ada orang yang mempekerjakan. 

Pagi-pagi (Kotek) bantuin orang beresin dagangan, motong sayur sama metik tangkai cabai. Kalau bulan puasa dapat uang dari zakat fitrah dari masjid maupun pribadi, uang itu disimpan buat kebutuhan hidup Kotek setahun.

Kotek tidak punya KTP, dulu sempat punya surat nikah tapi dirobek sama mantannya. Sebenarnya Kotek punya anak tapi dirawat oleh saudaranya di Malang. Jadi bisa dibilang Kotek itu sebatang kara, kami di sini yang jadi keluarganya. 

Walau tidak punya BPJS tapi Kotek syukurnya jarang sakit.

Kotek berpose di depan kosnya doc. Ika/konde.co

Kunjungan saya ke pinggiran sungai Jagir Surabaya, rasanya menunjukkan bahwa masih banyak warga yang hidup dengan kemiskinan dan termarjinalkan. Mereka harus hidup ‘berjuang sendiri’ dan minim adanya bantuan pemerintah. 

Baca juga: The Voice: Miskin dan Putus Asa, Para Perempuan Putuskan Jadi Pekerja Migran

Padahal, pemerintah Surabaya mengklaim pihaknya sudah bisa mengentaskan angka kemiskinan secara drastis setahun belakangan ini. Pada website surabaya.go.id, tercatat pada awal tahun 2022 jumlah warga miskin di Surabaya mencapai 1,3 juta jiwa. Sementara, saat ini menjadi 219.427 jiwa atau turun drastis sekitar 83,1 persen. 

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya, Anna Fajriatin menjelaskan faktor turunnya jumlah warga miskin dari 1,3 juta jiwa menjadi 219.427 jiwa. Salah satunya yakni setelah pemkot memberikan intervensi seperti melalui program padat karya. Selain itu, juga diadakan verifikasi data warga miskin ini dilakukan bersama-sama oleh RT/RW, lurah, Kader Surabaya Hebat (KSH) serta masyarakat setempat. 

Tapi, apakah hal tersebut sudah sesuai dengan realitas yang ada? 

Ika Ariyani

Kontributor Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!