Anyaman bambu

Peran Ibu dalam Pelestarian Anyaman Bambu

Di Desa Brajan, Yogyakarta, Sunar, seorang ibu pengrajin anyaman bambu, telah menjadi pilar utama dalam transmisi pengetahuan dan kebudayaan turun-temurun. Sunar menjadi sonar pengingat betapa pentingnya peran perempuan dalam menjaga budaya tradisional. Dukungan tepat guna dari lembaga kebudayaan yang mandiri amat diperlukan demi menjamin terciptanya ekosistem kebudayaan yang inklusif, partisipatif, dan menyejahterakan.

Sunar (63), perempuan pengrajin anyaman bambu dari Desa Brajan, desa kecil yang terletak di Sendang Arum, Minggir, Sleman, Yogyakarta, adalah contoh nyata dari peran perempuan dalam menjaga dan meneruskan kearifan lokal. 

Sunar menganyam sejak 1973. Selama lebih dari empat dekade, ia telah menjadi salah satu penggerak utama dalam komunitasnya. Di desanya, profesi menganyam bambu, termasuk pembuatan caping, tidak memandang gender, sehingga laki-laki dan perempuan berkolaborasi dalam bidang ini.

“Awalnya menganyam dari cething, terus menerus besek, terus itu mau lain-lain, terus buat macam-macam, caping. Meminta tetangga-tetangga ayo membuat ini, diajak begitu,” kata Sunar. 

Melalui keterampilan menganyam, Sunar tidak hanya menopang kehidupannya tetapi juga mempromosikan pemberdayaan  di desanya. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk terlibat dalam kegiatan menganyam, sehingga keterampilan ini menyebar dan tetap hidup di komunitas mereka.

Sebagai seorang ibu, Sunar memiliki peran yang sangat penting dalam penerusan tradisi anyaman kepada generasi berikutnya. Ia turut membujuk anaknya, Wahyu, untuk kembali ke desa dan meneruskan tradisi anyaman keluarga setelah sebelumnya Wahyu bekerja di Karawang.

Baca Juga: Upaya Mahima Merajut Warisan dan Masa Depan Lewat Singaraja Literary Festival

Keputusan Wahyu untuk pulang ke kampung halamannya dan melanjutkan tradisi lokal tempat kelahirannya  menunjukkan besarnya  peran ibu dalam mendidik dan mengarahkan generasi muda  untuk menghargai dan terus melestarikan warisan budaya sudah yang turun-temurun.

“Anakku tadinya bekerja di Karawang, lalu almarhum suami dan aku meminta untuk kembali ke sini saja, meneruskan anyaman, jadi sekarang diteruskan turun-temurun ke anak saya. Sekarang kalau ada apa-apa juga ke Wahyu,” ungkap Sunar. 

Sunar juga terlibat aktif dalam mengajarkan keterampilan menganyam kepada generasi muda di luar keluarganya. Ia sering mengajar mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan pernah memberikan pelatihan di Semarang. Melalui kegiatan ini, Sunar berkontribusi pada pelestarian dan penyebaran keterampilan tradisional di kalangan generasi muda.

“Saya mengajar menganyam juga, mahasiswa-mahasiswa dari UNY pernah, dulu juga pernah ke Semarang,” ceritanya.

Namun, di balik dedikasinya, Sunar mengungkapkan bahwa tidak pernah ada bantuan langsung dari pemerintah untuk mendukung usahanya dalam menjaga dan mengembangkan tradisi anyaman. Anak laki-lakinya, Wahyu, juga jarang terlibat dalam acara desa yang berkaitan dengan promosi dan pengembangan kerajinan anyaman. 

“Tidak pernah ada bantuan dari pemerintah, sih. Wahyu juga tidak pernah datang ikut kalau ada acara di desa,” kata Sunar. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya kuat dari individu seperti Sunar, dukungan institusional masih sangat diperlukan.

Baca Juga: Putri Merdekawati Memerdekakan Batik dari Pencemaran Lingkungan

Berkaitan dengan dukungan pendanaan di bidang kebudayaan, sejak 2022, pemerintah pusat melalui Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah menghadirkan dana abadi kebudayaan. Dana Indonesiana diberikan kepada individu atau kelompok pelaku seni budaya untuk mendukung penciptaan karya, penyelenggaraan kegiatan budaya, keberlanjutan komunitas, sampai kajian dan riset di bidang budaya. Sejauh ini, Dana Indonesiana telah dirasakan dampak positifnya oleh lebih dari 500 penerima manfaat. 

Dalam hal ini, peran pemerintah daerah misalnya Dinas Kebudayaan sangatlah penting untuk menjadi jembatan antara seniman dan pelaku budaya di daerah dengan kebijakan dan program dari pemerintah pusat. Penyebaran informasi terkait Dana Indonesiana dan program-program pemajuan kebudayaan perlu terus diupayakan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh komunitas seni budaya di daerah. 

Mendorong Inisiatif Pemberdayaan Pengetahuan dan Promosi Budaya Lokal

Untuk memastikan kebudayaan dan kearifan lokal seperti yang diwariskan oleh Sunar dapat terus lestari dan berkembang, diperlukan lembaga mandiri yang secara khusus berfokus menangani  bidang kebudayaan. Selama ini, bidang kebudayaan selalu disandingkan dengan bidang-bidang lain seperti misalnya pendidikan atau pariwisata.   

Lembaga mandiri berwujud Kementerian Kebudayaan memungkinkan prioritisasi inisiatif Pemberdayaan Pengetahuan Lokal sebagai salah satu dari 10 Program Minimum Kebudayaan. Hal tersebut perlu dilakukan guna memastikan keberlanjutan  upaya pemajuan kebudayaan salah satunya melalui pendukungan dan pemberdayaan komunitas-komunitas lokal.

Inisiatif Pemberdayaan Pengetahuan Lokal harus mencakup berbagai kegiatan yang mendukung komunitas dalam memelihara dan mengembangkan warisan budaya masyarakat. Hal tersebut bisa berupa pelatihan keterampilan tradisional, penyediaan dana untuk usaha mikro yang berfokus pada produk-produk budaya, dan program pendidikan yang mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam kurikulum sekolah. 

Dengan adanya dukungan ini, komunitas-komunitas lokal akan memiliki sumber daya yang diperlukan untuk melestarikan dan mempromosikan budaya di daerah masing-masing di tengah arus modernisasi.

Lembaga mandiri yang fokus menangani bidang kebudayaan tersebut juga diharapkan dapat berperan dalam mempromosikan produk-produk budaya lokal ke pasar yang lebih luas, baik di dalam negeri maupun internasional. Dengan dukungan pemasaran yang efektif, produk-produk seperti anyaman bambu dari desa Brajan dapat dikenal lebih luas dan mendapatkan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Promosi ini juga dapat mencakup pameran budaya, festival seni, dan kolaborasi untuk menjual produk-produk kerajinan tangan.

Baca Juga: Prioritisasi Perempuan Seniman Mulai Dirintis

Ibu-ibu seperti Sunar adalah pilar utama yang memastikan bahwa nilai, keterampilan, dan pengetahuan lokal tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman. Mereka berperan sebagai pendidik utama dalam keluarga dalam mengajarkan kearifan tradisional kepada anak-anak mereka dan memastikan bahwa generasi penerus memiliki pemahaman yang mendalam tentang akar budaya mereka.

Selain itu, perempuan juga seringkali berperan sebagai penghubung antara generasi tua dan muda, memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki tidak hilang dengan berjalannya waktu. Perempuan  juga memainkan peran kunci dalam komunitas dengan menjadi penggerak dalam kegiatan-kegiatan budaya dan ekonomi yang mendukung pelestarian warisan budaya. Perempuan seperti Sunar tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga berinovasi dan mencari cara untuk membuat warisan budaya mereka relevan dengan zaman modern.

Dengan dukungan yang tepat, peran ibu dan perempuan dalam kebudayaan dapat semakin menguat. Program-program pelatihan, pendanaan, dan promosi yang fokus pada pemberdayaan perempuan dalam konteks budaya akan membantu memastikan bahwa keterampilan dan pengetahuan lokal tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi komunitas-komunitas lokal yang pada akhirnya akan berkontribusi pada kekayaan dan keragaman budaya.

(Peliputan ini merupakan kerja sama Konde.co dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)

Luthfi Maulana Adhari

Staf program Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!