Han Kang, Perempuan Pertama Asia yang Menangkan Nobel Sastra

Kemenangan Han Kang sebagai perempuan pertama peraih nobel di bidang sastra bisa menjadi pengingat kita untuk lebih banyak membaca dan membicarakan karya perempuan penulis.

Pengumuman pemenang Nobel Sastra biasanya selalu mengejutkan. Masih teringat saat Bob Dylan, seorang musisi Amerika, memenangkan Nobel Sastra tahun 2016? 

Pro kontra kemenangan Dylan pun ramai. Tahun ini, rupanya Akademi Swedia kembali mengejutkan dunia dengan memilih Han Kang sebagai pemenang Nobel Sastra. Melalui siaran persnya, Akademi Swedia memilih Han Kang “for her intense poetic prose that confronts historical traumas and exposes the fragility of human life.”

Han Kang adalah perempuan penulis Asia pertama yang memenangkan penghargaan ini. Dari website nobelprize.org kita bisa melihat data bahwa hanya 18 perempuan penulis yang memenangkan Nobel Sastra dari 121 orang yang sudah menjadi pemenang. Han Kang adalah perempuan pertama dari Asia, betapa langka dan mengejutkan bukan? Apakah 18 dari 121 menunjukkan lebih banyak karya penulis laki-laki yang lebih layak menang Nobel? Belum tentu. Bisa jadi karena penerjemahan karya perempuan penulis masih kurang dibandingkan karya penulis laki-laki.

Saya setuju dengan caption Intan Paramaditha di Instagram pribadinya @sihirperempuan menanggapi kemenangan Han Kang:

Han Kang is the first Asian woman writer to win the Nobel Prize in Literature. Here’s how I see it: (1) Han Kang deserves all the attention and recognition for her powerful body of work. (2) The labour of literary translators deserves even more recognition. (3) I still think that the Nobel Prize has failed women of colour. The fact that Han Kang is the first Asian woman writer to win the prize in 2024 means that there have been many remarkable Asian women writers ignored and excluded by this European institution for decades.

Baca juga: Swifterature, Menggaet Minat Sastra Lewat Karya Taylor Swift

Karya Han Kang tidak akan bisa memenangkan Nobel Sastra jika karya tersebut tidak diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dikenal pembaca dunia. 

Saya sendiri mengenal karya Han Kang sejak ia memenangkan International Booker Prize tahun 2016, mengalahkan penulis Indonesia, Eka Kurniawan yang hanya masuk daftar panjang. Di daftar pendek, Han Kang mengalahkan Orhan Pamuk, pemenang Nobel Sastra tahun 2006. 

The Vegetarian

Jujur saja, motivasi awal saya membaca karya Han Kang hanyalah karena penasaran, karya seperti apa yang mengalahkan karya penulis favorit saya. 

Setelah membaca buku karyanya, The Vegetarian, Han Kang langsung menjadi salah satu penulis favorit saya juga. Novel ini terbit pertama kali tahun 2007 di Korea Selatan, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan terbit di Inggris tahun 2015 serta terbit di Amerika Serikat tahun 2016. Saya membaca terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan penerbit Baca tahun 2017.

Tadinya saya mengira novel ini akan banyak mengeksplorasi kehidupan seorang perempuan yang memutuskan menjadi vegetarian. Rupanya, novel ini jauh mengeksplorasi kondisi psikologis tokoh utama. Ia menjadi vegetarian bukan karena kesadaran penuh, tapi berawal dari mimpi. Itu sebabnya keputusan itu membuat suami dan keluarganya menentang dan terus mempertanyakan kewarasannya.

The Vegetarian ditulis dalam sudut pandang tiga orang: suami tokoh utama, adik tokoh utama (Young Ho) dan suaminya. Masing-masing tokoh memiliki pergulatan batin sendiri namun pembaca bisa melihat bagaimana kuatnya budaya patriarki di Korea Selatan dari kehidupan tokoh utama (Yeong Hye) dan adiknya. Mungkin tidak banyak yang membahas bagaimana Young Ho mengalami kelelahan yang luar biasa sebagai ibu tapi ia harus menghadapi kelakuan suaminya yang mengatasnamakan seni untuk melakukan pelecehan seksual. Ketika Han Kang menggunakan sudut pandang suami Young Ho, saya sebagai pembaca seperti diberi paham bagaimana otak (dan penis) laki-laki bekerja. 

Baca juga: Annie Ernaux Menangkan Nobel Sastra 2022: Pejuang Sastra di Tengah Borjuis Patriarkis

Novel ini benar-benar mindblowing, membuat saya memikirkan kembali tentang kuasa perempuan akan tubuhnya. Bagaimana di kehidupan patriarki perempuan seakan tidak memiliki tubuhnya, melainkan milik suami dan anak, hingga keluarga besar. Novel ini bahkan dibuka dari sudut pandang suami Yeong Hye. POV Yeong Hye sebagai tokoh utama hanya muncul sesekali saja, yang memberi kesan ia tak punya “suara” untuk membela dirinya.

 Human Acts

 Novel Human Acts terbit pertama kali di Korea Selatan tahun 2014 dan saya membaca terjemahan bahasa Indonesia yang terbit tahun 2017 dengan judul Mata Malam. Pembaca Indonesia bisa merasa dekat dengan novel ini karena mengisahkan tentang represi negara. Human Acts bercerita tentang demonstrasi mahasiswa tahun 1980 di Gwangju, Korea Selatan, mengingatkan kita pada era reformasi 1998.

Di novel ini Han Kang lebih mengeksplorasi teknik menulisnya. Ia menggunakan sudut pandang orang pertama, kedua, dan ketiga sekaligus untuk semua karakter dalam novel ini. Semua diberi ruang untuk berbicara, menjadi saksi kekerasan dan kekejaman penguasa, seperti kesaksian yang bisa dilihat dalam film-film dokumenter. Teksnya begitu hidup, membuat pembaca meringis merasakan kepedihan yang dialami tokoh-tokohnya.

Baca juga: ‘Malam Seribu Jahanam’, Novel Horor tentang Pencarian Tak Berujung

Dari dua novel ini saja kita sudah bisa melihat kelihaian seorang Han Kang. Sudahlah temanya begitu penting, teknik menulisnya pun eksploratif. Saya setuju kita harus lebih banyak membaca karya perempuan penulis yang lain, terutama di Asia, tapi saya kurang setuju jika ada yang beranggapan bahwa kita harus membaca karya penulis dalam bahasa aslinya, jika ingin mempelajari karya mereka dengan serius. Penerjemahan adalah salah satu cara menjembatani perbedaan bahasa, dan tentu saja penerjemahan yang baik bisa membantu pembaca menyelami sebuah karya. Sebaliknya, karya perempuan penulis Indonesia, jika banyak diterjemahkan juga bukan tidak mungkin akan sampai ke Akademi Swedia.

Sambil mencari karya-karya perempuan penulis lain yang bisa kita baca, jika teman-teman belum membaca karya Han Kang, mungkin ini saatnya mencari dan membaca karyanya. Minimal dua buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bisa menjadi titik awal. Selanjutnya, saya menyarankan nama-nama seperti Intan Paramaditha (Indonesia), Mieko Kawakami (Jepang), Cho Nam-Joo (Korea Selatan). Silakan lanjutkan karena referensi saya juga terbatas. Kita bisa berbagi bacaan, saling mendukung karya perempuan penulis dan memberi panggung agar mereka terus dibicarakan dan terlihat.

Foto: Getty Images

Tenni Purwanti

Mantan jurnalis yang sedang jeda karier untuk fokus menulis fiksi (dan sesekali esai). Sudah menerbitkan dua buku.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!