Kemandirian perempuan telah menjadi fokus utama dalam banyak diskusi sosial. Termasuk bagi independent woman.
Diskursus itu kerap menyebutkan, jika penurunan tingkat menikah di kalangan pasangan muda sering kali dikaitkan dengan meningkatnya kemandirian perempuan. Tulisan ini akan menjelajahi hubungan antara kemandirian perempuan, perubahan peran gender, dan penurunan tingkat pernikahan.
Akses perempuan untuk menempuh pendidikan tinggi di Indonesia terus mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dengan jumlah mahasiswa perempuan di Indonesia yang lebih banyak daripada mahasiswa laki-laki. Yaitu sekitar 3,25 juta orang dibandingkan 3,09 juta orang pada Maret 2024 (Kompas.id, 2024).
Dengan meningkatnya jumlah perempuan yang menempuh pendidikan tinggi, juga memberikan dampak positif terhadap kemandirian perempuan. Kemandirian perempuan yang mengacu pada kemampuan mereka untuk mengambil keputusan hidup secara mandiri. Terutama dalam hal pendidikan, karier, dan keuangan mempengaruhi keputusan ini. Peningkatan akses pendidikan bagi perempuan telah membuka peluang yang lebih luas dalam dunia kerja. Memungkinkan mereka untuk mencapai posisi yang setara dengan laki-laki. Ketika perempuan memiliki kontrol lebih besar atas kehidupan mereka, harapan mereka terhadap pasangan pun berubah.
Baca Juga: Harus Menikah dan Punya Anak Biar Disebut Sempurna? Stop Budaya Glorifikasi
Dengan meningkatnya kemandirian, banyak perempuan yang kini lebih memilih untuk menemukan pasangan yang sejalan dalam hal tujuan hidup dan stabilitas ekonomi. Mereka lebih cenderung mencari hubungan yang berbasis pada kesetaraan, daripada menikah karena tekanan sosial atau harapan tradisional. Jika laki-laki yang mereka temui tidak membuat aman (secure), perempuan mandiri sering kali memilih untuk tidak melanjutkan ke jenjang pernikahan.
Pernikahan dulu dianggap sebagai tujuan utama bagi banyak perempuan. Kini ia mulai dilihat sebagai salah satu pilihan di antara banyak kemungkinan hidup. Perempuan mandiri juga memprioritaskan pengembangan diri dan pengalaman pribadi sebelum memasuki komitmen jangka panjang. Hal ini berdampak pada penurunan tingkat menikah, terutama di kalangan generasi muda.
Di sisi lain, laki-laki yang belum mapan sering kali menghadapi tantangan tersendiri. Dengan meningkatnya standar yang diharapkan dari pasangan perempuan, laki-laki mungkin merasa tertekan untuk mencapai keberhasilan sebelum memasuki hubungan yang lebih serius. Hal ini dapat menyebabkan stagnasi atau penundaan dalam keputusan untuk menikah, karena mereka merasa belum siap untuk memenuhi harapan tersebut.
Perempuan yang mandiri juga lebih memilih untuk melakukan hubungan yang berkualitas, yang saling mendukung dan mendorong. Mereka tidak mencari pasangan untuk memenuhi norma sosial, tetapi juga ingin membangun kemitraan yang sejajar. Ketika pasangan tidak memenuhi kriteria ini, banyak perempuan yang lebih memilih untuk tetap sendiri daripada terjebak dalam hubungan yang tidak memuaskan.
Tapi, jangan salah! Menurut saya, kemandirian perempuan ini bukan ajang untuk berperang melawan laki-laki, melainkan sebuah langkah menuju bangsa yang lebih berdaya.
Baca Juga: Menikah, Bukan Ajang Balapan Punya Keturunan
Peringatan International Women’s Day 2024 mengusung tema “Investing in Women Accelerates Progress” (UN Women, 2024). Artinya investasi pada perempuan mempercepat kemajuan. Tema tersebut menunjukkan bahwa dengan memberikan dukungan dan peluang kepada perempuan. Perkembangan dalam berbagai aspek masyarakat, seperti ekonomi dan sosial, dapat terjadi lebih cepat. Maka, lahirnya independent woman merupakan langkah awal untuk mempercepat kemajuan pada segala aspek kehidupan, bukan hanya menguntungkan perempuan saja.
Salah satu faktor sosial yang membuat tingginya tingkat kemiskinan pada perempuan adalah pernikahan dini atau menikah di usia anak-anak. Dengan pilihan menikah dini, para perempuan tidak memiliki akses untuk meraih pendidikan formal maupun informal yang cukup memadai untuk mendapatkan akses ekonomi yang lebih baik.
Pengamat sosial, Mansour Fakih menyatakan pengaruh budaya mengakibatkan pembagian peran berdasarkan jenis kelamin. Itu adalah akibat dari perlakuan sosial yang berbeda terhadap perilaku laki-laki dan perempuan yang dikenal dengan gender (Fakih, 2013). Diidentikkan dengan peran domestik, perempuan dianggap tidak penting untuk berpendidikan tinggi. Maka kemudian, pernikahan dini dianggap sebagai solusi bagi remaja perempuan, dengan tujuan segala kebutuhan perempuan dapat dipenuhi oleh pasangan setelah menikah.
Namun, dalam beberapa dekade terakhir, dapat kita saksikan perubahan yang cukup signifikan dalam peran gender dan pilihan perempuan untuk menjadi independent woman.






