Girls can do it all

“Girls Can Do It All!” Narasi yang Membelenggu Perempuan untuk Jadi ‘Sempurna’

“Girls can do it all!” terdengar inspiratif, tapi sesungguhnya menuntut perempuan untuk jadi ‘sempurna’ dan ‘serbabisa’. Ia menciptakan multibeban bagi perempuan.

Kata orang-orang, “Girls can do it all! (Perempuan bisa melakukan segalanya!)” Tapi kenapa pula perempuan harus serbabisa? Nyatanya, narasi tersebut malah bikin perempuan terbelenggu oleh ekspektasi pembuktian diri terhadap masyarakat patriarki.

Narasi ‘perempuan sempurna’ barangkali muncul dari niat baik memberdayakan perempuan. Sebab, selama ini, perempuan selalu dinilai kurang kompeten atau berprestasi saat bekerja dibandingkan dengan laki-laki. Seperti hasil sebuah penelitian dari King’s College, yang menunjukkan stereotipe seputar kemampuan perempuan dalam bermain catur. Konon, perempuan kurang berprestasi saat bertanding catur melawan laki-laki. Hal ini pun diperjelas oleh penelitian lain yang diterbitkan oleh National Bureau of Economic Research. Temuan mereka, perempuan secara konsisten menilai kinerja mereka lebih rendah daripada laki-laki.

Di dunia kerja, kemampuan perempuan masih sering dikatakan jauh dari kemampuan laki-laki. Ini terbukti dengan banyaknya jumlah pemimpin laki-laki di dalam perusahaan jika dibandingkan pemimpin perempuan. Menurut temuan World Economic Forum (WEF) tahun 2020, partisipasi kerja perempuan di Indonesia secara konsisten lebih rendah dibandingkan laki-laki. Representasi perempuan juga semakin menurun di jenjang karier perusahaan. 

Baca Juga: Surga (Tak Cuma) di Bawah Telapak Kaki Ibu, Narasi ‘Ibu Sempurna’ Abaikan Rumitnya Kehidupan Perempuan

Survei ILO pada 416 perusahaan di Indonesia menemukan hal serupa. Sebanyak 61% perusahaan memiliki perempuan sebagai manajer pengawas, 70% perusahaan memiliki perempuan sebagai manajer menengah, 49% perusahaan memiliki perempuan di posisi manajer senior. Lalu hanya 22% perusahaan yang memiliki posisi eksekutif tertinggi yang diduduki oleh perempuan. Serta lebih 1-10% peran eksekutif tertinggi yang dipegang oleh perempuan.

Jumlah partisipasi perempuan yang masih rendah ini pula yang membentuk narasi baru: “girls can do it all.” Tujuannya, mendorong pemberdayaan perempuan agar bisa melakukan apapun untuk mencapai yang diinginkan. Salah satunya menjadi pemimpin dalam dunia profesional.

Terdengar inspiratif? Sekilas memang iya. Perempuan seakan didorong untuk bisa tangguh dan multitasking. Namun, kenyataannya lebih dari itu. Perempuan kadang ‘dipaksa’ menjadi seorang ibu, anak, dan kakak yang tangguh serta dapat melakukan apa pun. Alhasil, mereka bisa mencapai apa yang mereka inginkan walau harus berbagai peran dengan diri sendiri. Ini secara tidak langsung menciptakan tekanan besar bagi perempuan untuk memenuhi standar ‘sempurna’ yang dipaksakan oleh masyarakat.

Di Balik “Girls Can Do It All”: Tantangan yang Dihadapi Perempuan

Sekilas, frasa, “Girls can do it all!” terdengar positif dan memberdayakan. Ini juga menunjukkan bahwa perempuan mampu berprestasi dan melakukan apa pun di berbagai bidang dan peran. Termasuk yang sebelumnya didominasi laki-laki. Dari karier cemerlang, keluarga harmonis, hingga kesehatan mental dan fisik yang prima. Perempuan digambarkan sebagai individu yang ‘serbabisa’.

Namun, masalah muncul ketika narasi ini diartikan sebagai ekspektasi bahwa perempuan harus mampu mengerjakan semuanya sekaligus. Hal ini dapat menciptakan standar yang hampir mustahil dicapai. Hingga mengarah pada fenomena yang dikenal sebagai ‘superwoman syndrome’. Maksudnya, tekanan untuk menjadi sempurna di segala hal tanpa mengakui kebutuhan akan bantuan atau istirahat.

Masyarakat kerap memiliki standar tinggi terhadap perempuan, baik sebagai individu maupun bagian dari keluarga. Jika seorang perempuan memilih untuk fokus pada karier, ia seringkali dianggap ‘egois’ atau ‘kurang peduli pada keluarga’. Sebaliknya, jika ia memprioritaskan keluarga dan meninggalkan karier, ia dianggap ‘kurang ambisius’ atau ‘tidak memanfaatkan potensinya’.

Baca Juga: ‘Perfect Family’, Apakah Keluarga Sempurna Benar-Benar Ada?

Stigma ini membuat perempuan berada dalam posisi sulit. Apa pun pilihannya, selalu ada tekanan untuk memenuhi ekspektasi yang berlawanan. Bahkan perempuan yang mencoba menjalankan keduanya tetap saja rentan terhadap kritik. Contoh sederhana, muncul komentar seperti, “Gimana bisa dia mengurus keluarga kalau sibuk kerja melulu?” Atau, “Sayang banget, kerjaannya ditinggal hanya biar dia bisa di rumah.”

Selain itu, stigma juga mencakup standar kecantikan dan kepribadian. Perempuan sering kali dinilai bukan hanya dari pencapaian profesionalnya. Tetapi juga dari penampilan fisik, cara bicara, hingga sikapnya terhadap orang lain. Standar-standar ini menciptakan tekanan tambahan yang semakin menyulitkan perempuan untuk merasa cukup baik.

Perempuan didorong untuk menjadi pemimpin di tempat kerja. Tetapi diharapkan pula menjalankan peran sebagai ibu serta mengurus rumah tangga. Hal ini menjadi beban ganda bagi perempuan.

Baca Juga: Harus Menikah dan Punya Anak Biar Disebut Sempurna? Stop Budaya Glorifikasi

Misalnya, dalam dunia kerja, perempuan diharapkan mampu bersaing secara setara dengan laki-laki untuk menjadi pemimpin. Di sisi lain, dalam lingkup domestik, mereka sering kali tetap menjadi tumpukan utama dalam mengurus rumah tangga. Ketimpangan beban kerja ini tidak hanya membebani fisik, tetapi juga mental perempuan.

Sebuah penelitian menjelaskan, perempuan pada umumnya memiliki tiga peran dalam kehidupan. Yaitu peran domestik, produktif, dan sosial. Peran ini memunculkan peran ganda sebagai pengatur dan pelindung rumah tangga (domestik). Berperan dalam mencari nafkah (produktif), dan berperan dalam kehidupan sosial. Hal inilah yang memperkuat argumen “girls can do it all. Bahwa perempuan bisa melakukan ketiga peran tersebut, bahkan dalam satu waktu. Ini membuat perempuan terbebani dengan hal tersebut. Alhasil, ia berdampak pada penurunan kemampuan perempuan. Sebab mereka dipaksa untuk menanggung beban yang banyak untuk bisa terlihat sempurna di masyarakat.

Girls Can Choose It All!” Pemberdayaan Tak Harus Jadi ‘Sempurna’

Pemberdayaan perempuan seringkali dipandang sebagai upaya untuk mendorong perempuan agar ‘mampu melakukan segalanya’. Sayangnya, konsep ini kerap disalahartikan menjadi dorongan untuk menciptakan kesempurnaan. Baik sebagai individu, profesional, maupun bagian dari keluarga. Padahal, inti pemberdayaan sejati bukanlah tentang menuntut kesempurnaan. Melainkan memberikan kesempatan dan dukungan bagi perempuan untuk menentukan jalan mereka sendiri.

Ada beberapa hal yang harus menjadi fokus dalam pemberdayaan. Pertama, menyadari bahwa perempuan tidak harus ‘melakukan segalanya’. Pemberdayaan tidak berarti perempuan harus mengambil semua peran dan tanggung jawab sekaligus. Perempuan yang memilih untuk fokus pada satu aspek kehidupan, seperti keluarga atau karier, tidak berarti kurang berdaya. Sebaliknya, mereka diberdayakan ketika memiliki kebebasan untuk memilih priotiasnya sendiri.

Kedua, menghancurkan mitos ‘superwoman’. Sosok ‘superwoman’ yang bisa melakukan segalanya sering kali menjadi inspirasi, tetapi juga membebani. Penting untuk mengingatkan bahwa setiap perempuan berhak meminta bantuan. Mereka juga boleh berbagi tanggung jawab dan tidak harus memikul semuanya sendirian.

Baca Juga: Dear Kamu, Tak Harus Glowing dan Punya Tubuh Sempurna untuk Nikmati Hidup

Ketiga, yang harus dirayakan adalah keunikan, bukan kesempurnaan. Setiap perempuan memiliki perjalanan dan kapasitas untuk berbeda. Menghormati keunikan ini lebih penting daripada memaksa mereka masuk dalam standar universal. Contohnya, seorang ibu rumah tangga memiliki kontribusi yang sama berharganya dengan seorang perempuan yang menjadi CEO. Keduanya memberdayakan dengan cara masing-masing.

Mungkin narasi, “Girls can do it all!” dimaksudkan untuk terdengar sebagai slogan pemberdayaan. Namun nyatanya, ia memberdayakan atau justru membebani perempuan dengan tuntutan baru? Dalam realitas yang lebih inklusif dan manusiawi, konsep ini perlu diformulasikan tanpa tekanan untuk memenuhi semua ekspektasi.

Maka perempuan seharusnya diberikan kebebasan untuk memilih. Dengan itu, mereka tidak lagi merasa terpaksa ‘melakukan segalanya’. Sebaliknya, mereka dapat fokus pada hal yang bena-benar penting bagi mereka, tanpa tekanan untuk membuktikan diri.

“Girls can choose it all (perempuan bisa memilih segalanya),jadi narasi yang lebih tepat untuk menuju dunia yang lebih adil dan inklusif. Sebab pada akhirnya, pemberdayaan adalah tentang memberikan perempuan kendali penuh atas hidup mereka sendiri. Bukan membebani mereka dengan ekspektasi dan menjadi segalanya sekaligus. Perempuan tidak hanya mampu memilih; mereka juga berhak untuk melakukannya.

Editor: Salsabila Putri Pertiwi

Ayu Puspita Lestari

Mahasiswa semester akhir jurusan Akuntansi dari Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!